Kamis, 30 Juni 2016

Bersaksi Palsu

"Maukah aku kabarkan kepada kalian sebesar-besarnya dosa besar ? Itulah syirik, durhaka kepada kedua orang tua, dan memberi kesaksian palsu. Rasulullah Saw terus mengulang ucapannya, hingga kami pun berharap agar beliau berhenti mengulang“(HR. Bukhari).

"Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.'' (QS Yusuf 12 : 81)

Yang tidak mengetahui, dilarang bersaksi ya, nanti bisa masuk kategori saksi palsu.


Rabu, 29 Juni 2016

Carilah Satrio Piningit Dalam Diri

"Angkatlah tanganmu dan Tutuplah Pintumu". (HR. Al Hakim dari Ya'la bin Syidad).
Inti dari prosesi Dzikir itu sebenarnya adalah memfokuskan atau menyatukan kesadaran kepada sesuatu. Mendengarkan kuliah itu sebenarnya adalah Dzikir. Membaca buku itu juga Dzikir. Bicara dan menulis juga bagian dari Dzikir. Jadi semua kegiatan yang membutuhkan konsentrasi penuh adalah Dzikir. Dari sekian banyak aktivitas Dzikir itu, yang paling tertinggi tentunya adalah Dzikir kepada Allah (Dzikrullah). Bagaimana supaya kita bisa berdzikrulah dengan benar ? Cara yang paling mudah adalah dengan mengetahui rahasia amtsal/seloka tentang Satria Piningit. Secara hakekat, arti per sub kata dari istilah Satrio Piningit adalah : Sat= 6, Tri =3, Piningit = menyembunyikan. Jadi Secara hakekat, Satrio Piningit itu adalah usaha untuk memfokuskan atau menyatukan kesadaran diri di Pintu Kesepuluh dengan cara menutup Babahan Howo Songo.


Dengan cara membaca dari belakang seperti sandi asmo, (Sat = 6, Tri = 3, Piningit = menutup), maka Satrio Piningit mempunyai arti MENUTUP 9 pintu/lubang = 2 hidung, 2 telinga, 2 mata, 2 lubang di bawah, lubang mulut, ini sebenarnya adalah Prosesi Dzikir Khatami (Dzikir Menutup) yang memfokuskan kesadaran di Lubang ke Sepuluh/Tisra Til/Tenth Door/Netra Shiva/Mata Dewa/'Ainul Bashiroh, dengan tujuan menjadi "Satrio Piningit" yang membuka 'Ainul Bashiroh.
Dalam khasanah Jawa, kalimat di atas sangat akrab diucapkan orang-orang tua. “Kalau kepingin menjadi manusia yang berbudi luhur, harus bisa Njogo Babahan Howo Songo.” Apa yang dimaksud dengan Lubang Hawa Sembilan itu? Itulah jalan keburukan yang ada pada diri kita. Jalan itu berjumlah sembilan.
Lubang yang ada pada tubuh kita yaitu; dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, lubang kelamin dan lubang dubur. Itu adalah lubang jalannya hawa pada tubuh kita. Dari lubang-lubang tersebut kita sering berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Jika kita terlalu memanjakan sembilan lubang tadi, kita akan jauh dari budi luhur. Menjadi manusia yang buruk perangainya.
Di Jawa dan Sunda dikenal dengan "Babakan Hawa Sanga" kesembilan lubang ini dilatih justru untuk tidak sembarangan mengumbar/melepaskan hawa nafsu. Implementasinya, keluarnya tentu baik karena mengajarkan budi pekerti dan laku untuk menjaga mulut, mata, telinga, hidung, kemaluan dan anus untuk tidak menyebabkan keburukan bagi si manusia. Pusat pengendaliannya tentu tidak hanya bersifat fisik tetapi juga kepada yang bersifat batiniah

Selasa, 28 Juni 2016

Memilih Membebek atau Meraja Wali

Konon ada seekor induk burung Raja Wali menitipkan sebutir telur kepada seekor induk Bebek, untuk mengeraminya.
Dengan penuh kasih sayang sang bebek mengerami telur burung Raja Wali bersama dengan telur-telur bebek lainnya. setelah semuanya menetas, maka sang induk bebek mulai mengajari mereka tatacara hidup bebek, mulai dari memakan, berjalan dan berenang dan juga bersuara ala bebek.
Dan setelah mereka dewasa, maka sang induk bebek mengajak anak burung Raja Wali naik ke puncak gunung dan akhirnya mereka berhenti di tepi tebing jurang yang dalam. Kemudian sang induk bebek memberitahu siapa hakekat sebenarnya dari anak burung Raja Wali tersebut. Sang induk Bebek berkata kepada anaknya :

Gambar : Rajawali
"Wahai anakku, selama ini engkau sudah aku besarkan, aku rawat dan aku didik sebagai seekor bebek, tapi sudah tiba saatnya aku memberitahukan kepada engkau siapa engkau sesungguhnya. Engkau sesungguhnya adalah seekor burung Raja Wali yang dapat terbang tinggi, dengan mengepakkan kedua sayapmu oleh karena itu sekaranglah saatnya engkau harus terbang meninggalkan aku dan terbanglah ke langit yang engkau kehendaki".
Sang anak Raja Wali meragukan apa yang dikatakan oleh Sang induk bebek dan tidak mau meninggalkan ibunya, maka dengan berat hati Sang induk bebek mendorong dengan keras Sang Raja Wali ke dalam jurang.
Sang Raja Wali terjatuh, dan ia berprasangka ibunya sangat kejam karena mendorong dirinya sehingga terjatuh ke dalam jurang, tapi dengan nalurinya sebagai seekor burung Raja wali, maka mulailah ia mengepakkan kedua sayapnya dan pada akhirnya ia bisa terbang dengan sempurna. Dan ia sangat berterima kasih atas perlakuan ibunya mendorongnya terjatuh ke jurang, karena dengan itu, ia baru menyadari bahwa dirinya bukanlah seekor bebek....
Tapi sayangnya saat ini banyak burung Raja wali yang hidup sebagai bebek dan mati sebagai bebek.......wek....wek....wek....wek...wek....wek.....wek..wek.

Gambar : Bebek
Sadarilah wahai jasmani, di dalam dirimu terdapat "Roh Allah" yang telah ditiupkan-Nya, sehingga seharusnya engkau dapat mendengar, melihat, dan merasa, tapi sayangnya hanya sedikit sekali yang terbuka........
" Tsumma sawwahu wa nafakho fiihi miruuhihii, waja'ala lakumus sam'a wal abshooro wal af idata qoliilam maa tasykuruun" (QS 32 : 9)

Senin, 27 Juni 2016

Terkabulnya Doa Mengikuti Penggambaran

Saat ini masih banyak yang salah dalam memahami istilah Tahayul. Tahayul itu berasal dari bahasa Arab Ta-Khayul atau Ta-khayal. Diserap ke dalam bahasa Indonesia jadi menghayal atau hayalan. Dalam bahasa Inggrisnya imagination. Jadi takhayul adalah suatu proses rekayasa imajinasi yang melibatkan kemampuan fikiran dn perasaan dalam batin setiap manusia. Hasil dari takhayul ada dua yaitu takhayul yang bersifat positif atau Takhayul yang bersifat negatif. Yang harus dihindari adalah takhayul yang bersifat negatif karena hasilnya pun akan negatif


Hayalan bukanlah lamunanan tetapi rekayasa imajinasi yang melibatkan cipta rasa dan karsa dn juga membutuhkan persyaratan yaitu petunjuk, tujuan dan visualisasi. semua yang tercipta saat ini adalah hasil karya dari tahayul atau imajinering atau rekayasa imajinasi orang orang jenius pada jamannya, yg pada waktu itu hayalannya dianggap gila, tapi faktanya lambat laun terbukti. Kalau lamunan ya semua orang tahu, yang tujuan nggak jelas juntrungannya yang lambat laun bisa jadi gendeng beneran karena kebanyakan melamun.
"Keterkabulan doa mengikuti penggambaran. Barang siapa yang penggambarannya paling terhadap Al Haq, maka doanya akan terkabul" (Hadits)

Jumat, 24 Juni 2016

Kidung Ilir-Ilir

KIDUNG ILIR-ILIR
oleh Sunan Qodli Zaqo (Sunan Kali Jaga).
Ilir-ilir, ilir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar 
Bait di atas secara hakekat menggambarkan hamparan Nur Hayat yang baru Tajali dalam diri seseorang, yang dihiasi oleh tiupan angin yang menimbulkan Gesekan Suara Ilahi yang terdengar lembut. Inilah Tingkat awal bagi orang yang baru di "Nikahkan" sebagai pengantin baru oleh Guru Mursyidnya.
Bocah angon, bocah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodot-iro
Anak gembala, Anak gembala.
Panjatlah buah belimbing itu.
Panjatlah meskipun licin,
karena buah itu
Berguna untuk membersihkan pakaianmu.


Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan pohon Sidrah Al Muntaha yang berbuah Cahaya Bintang Bersegi Lima (An Najm) yang berguna untuk membersihkan Kegelapan diri. Untuk mendapatkan Cahaya ini harus diusahakan, betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi. Anak gembala dapat diartikan sebagai seorang manusia yang telah di anugerahkan Tujuh Ekor Hewan sebagai hewan gembalaanya, yaitu tujuh pintu hawa nafsunya. Tujuh Hewan ini harus digembalakan dengan lima jari tangannya sendiri.
Dodot-iro, dodot-iroKumitir bedah ing pinggirDondomono, jlumatonoKanggo sebo mengko sore
Pakaianmu berkibar tertiup angin,
Robek-robek di pinggirnya.
Jahitlah dan rapikan
Agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore.

"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan atau tata laku 'sowan' atau menghadap Gusti Allah di Istana-Nya.

Makna pakaian adalah tata cara perilaku atau sikap mental kita.Menghadap bermakna menghadap untuk menemui Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita. Sempurna-Nya Tajali Nur Ilahi dalam diri sangat tergantung dari kebersihan diri kita. Seringkali diri ini terpengaruh oleh sandiwara dunia sehingga dalam diri terdapat banyak sampah dan kotoran. Inilah yang dimaksud dengan robeknya pakaian kita, sehingga harus di jahit ketika kita ingin sebo atau menghadap Gusti Allah.
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Manfaatkan Cahaya Terang yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai kematian datang menjemput.

"Hai manusia ! Sesungguhnya engkau harus berjuang dengan perjuangan yang keras untuk menemui Tuhanmu , sampai engkau bertemu dengan-Nya". QS 84 : 6)

Rabu, 22 Juni 2016

Munajat Qolbi

MUNAJAT QOLBI

Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :


“Bismillahirrahmanirrahim(i)” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Allahumma shalli wa salim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin khoiril kholqi shaahibilwajhil Anwar wardlo. Allahumma ‘an kulli shishahaabati ajma’iin......(Aamiin)!!

Yaa nuuran nuuri yaa mudabbirat umuuri baligh’anni ruuha Sayyidina Muhammadin wa arwaaha aali Muhammadin tahiyaatan wa salaaman.

Ya Allah..........,Sumber pancaran Nur.

Ya Allah..........,Tuhan yang mengatur semua perkara. Semoga Engkau menyampaikan daripadaku salam dan tahiyat kepada Ruh Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.


Ya Allah..., Jadikanlah kami di antara orang yang Kau pilih untuk pendamping dan kekasih-Mu. Yang Kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasih-Mu. Yang kau rindukan untuk datang menemui-Mu. Yang kau ridhakan hatinya untuk menerima qadha-Mu. Yang Kau anugrahi kebahagiaan melihat Wajah-Mu. Yang Kau limpahi keridhaan-Mu. Yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencian-Mu. Yang Kau persiapkan baginya kedudukan sidiq di samping-Mu. Yang Kau istimewakan dengan Ma’rifat-Mu. Yang Kau arahkan untuk mengabdi-Mu. Yang Kau tenggelamkan hatinya dalam iradah-Mu. Yang Kau pilih untuk menyaksikan-Mu. Yang Kau kosongkan dirinya untuk-Mu. Yang Kau bersihkan hatinya untuk diisi cinta-Mu. Yang Kau bangkitkan hasratnya akan karunia-Mu. Yang Kau ilhamkan padanya untuk mengingat-Mu. Yang Kau dorongkan padanya kekuatan untuk mensyukuri-Mu. Yang Kau sibukkan dengan ketaatan pada-Mu. Yang Kau jadikan mahluk-Mu yang shalih. Yang Kau putuskan darinya segala sesuatu yang memutuskan hubungan dengan-Mu.


Ya Allah......, Jadikanlah kami di antara orang-orang yang kedambaannya adalah mencintai dan merindukan-Mu. Nasibnya hanya merintih dan menangis, dahi-dahi mereka sujud karena kebesaran-Mu. Mata-mata mereka terjaga dalam mengabdi-Mu. Air mata mereka mengalir karena takut pada-Mu. Hati-hati mereka terikat pada Cinta-Mu. Qalbu-qalbu mereka terpesona dengan kehebatan-Mu. Wahai yang Cahaya kesucian-Nya bersinar dalam pandangan para pencinta-Nya. Wahai yang kesucian wajah-Nya membahagiakan hati para pengenal-Nya.


Wahai kejaran qalbu para perindu. Wahai tujuan para pencinta. Aku memohon cinta-Mu. Dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu. Dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikanlah Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. Jadikanlah cintaku pada-Mu, membimbing pada ridha-Mu. Kerinduanku pada-Mu mencegaku dari maksiat atas-Mu. Anugrahkanlah padaku memandang-Mu. Tataplah diriku dengan tatapan kasih dan sayang-Mu. Jangan palingkan wajah-Mu dariku.


Ya Allah....., Kehausanku takkan terpuaskan kecuali dengan pertemuan-Mu. Kerinduanku takkan teredakan kecuali dengan perjumpaan-Mu. Kedambaanku takkan terpenuhi kecuali dengan memandang wajah-Mu. Ketentraman-ku takkan tenang kecuali dengan mendekati-Mu. Deritaku takkan sirna kecuali dengan kurnia-Mu. Penyakitku hanya dapat disembuhkan dengan obat-Mu. Dukaku hanya dapat dihilangkan dengan kedekatan-Mu. Wahai akhir harapan permohonan para pengharap. Wahai puncak permohonan para pemohon. Wahai ujung pencarian para pencari. Wahai puncak kedambaan para pendamba.Wahai kekasih orang-orang shalih. Wahai penentram orang-orang yang takut. Wahai penyambut seruan orang-orang yang menderita. Wahai tabungan orang-orang yang sengsara. Wahai perbendaharaan orang-orang yang papa. Demi kemuliaan dan keagungan-Mu. Tak berhasrat aku mendurhakai-Mu dengan berpaling dari-Mu.


Ya Allah....., Apakah orang yang telah mencicipi manisnya Cinta-Mu akan meng-inginkan pengganti selain-Mu? Apakah orang yang telah bersanding di samping-Mu akan mencari penukar selain-Mu? Ya Allah, ya Tuhanku, berikanlah kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadku dan kepada ibu-bapakku dan aku dapat berbuat amal kebaikan yang Engkau ridhai. Berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepad-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. 46:15)


Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan juga saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. 59:10)


Ya Allah, jinakkanlah antara hati kami dan perbaikilah sengketa diantara kami. Tunjuk-kanlah kami ke jalan keselamatan. Selamat-kanlah kami dari kegelapan kepada cahaya terang.


Jauhkanlah kami dari segala kejahatan yang tampak dan tersembunyi dari hawa nafsu kami sendiri.


Berilah berkah kami pada pendengaaran kami, penglihatan kami, hati kami, isteri (suami) kami, keturunan kami dan terimalah tobat kami karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Pengasih.


Ya Allah.......,Jadikanlah batinku lebih baik dari lahirku.Dan jadikanlah yang tampak dariku itu baik.


Ya Allah......., Cintakanlah Iman kepada kami.Dan hiaskanlah Iman di dalam hati kami.Dan bencikanlah kami pada kekufuran, kefasikan dan durhaka. Dan jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa dalam petunjuk-Mu.


Ya Tuhanku, jangalah Engkau tinggalkan aku seorang diri, dan Engkaulah waris yang paling baik (QS. 21:89).


Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala (QS. 40:7).


Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS. 20:114).


Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (QS. 18:10).


Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (QS. 17:80).


Wahai Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, maka tulislah kami berserta golongan orang-orang yang menyaksikan (syahid) (QS. 3:53).


Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir (QS. 2:250).


Ya Allah.....,Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, (yang hari turunnya) akan menjadi HARI RAYA bagi kami dan bagi orang-orang yang datang sesudah kami, dan (turunkanlah) tanda kekuasaan-Mu dan berilah rezeki kepada kami, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki (QS. 5:114).


Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki dan berilah kami dari hadirat-Mu rahmat karena Engkau adalah yang Maha Pemberi.


Ya Allah, kokohkanlah aku dari kemungkinan terpelesetnya Iman, dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan sesat.


Ya Allah, sebagimana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku, dan berilah penghalang antara aku dengan setan serta perbuatannya.


Ya Allah, aku memohon pada-Mu jiwa yang tenang dan tenteram, yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas putusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu. Wahai Tuhan yang memalingkan segala hati, mantapkanlah hatiku untuk tetap kepada-Mu.


Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu-Mu, hiaskanlah diriku dengan ketenangan jiwa, muliakanlah diriku dengan taqwa dan elokanlah diriku dengan kesehatan.


Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu suatu rahnat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau beri petunjuk hatiku, Engkau kumpulkan dengan urusanku, Engkau persatukan dengannya segala yang telah cerai berai padaku, Engkau memperbaiki dengannya orang-orang yang jauh dariku, Engkau mengakat dengannya orang yang hadir besertaku, Engkau membersihkan dengannya amalanku, Engkau ilhamkan dengannya kepadaku, Engkau datangkan kepadaku segala yang kusenangi dan Engkau memelihara aku dari segala kejahatan.


Tuhanku, akulah hamba-Mu yang faqir di dalam kekayaanku, maka bagaimana aku tidak menjadi orang faqir di dalam kefaqiranku.


Tuhanku, akulah orang yang bodoh di dalam Ilmuku, maka bagaimanakah aku tidak sangat bodoh di dalam kebodohanku.


Tuhanku, sesungguhnya perubahan pengaturan-Mu dan kecepatan berlangsungnya takdir-takdir Mu, keduanya telah mencegah hamba-hamba Mu yang Ma’rifat kepada-Mu dari ketenangan menerima pemberian dan kebosanan di dalam menerima cobaan-Mu.


Tuhanku, dari padaku keluar apa yang memang patut dengan kejiku dan dari pada-Mu pasti keluar apa yang patut dengan sifat kemurahan-Mu.


Tuhanku, Engkau telah mensifati Dzat-Mu dengan lemah lembut dan belas kasih kepadku sebelum terwujud sifat kelemahanku. Adakah Engkau akan menolakku dari kedua sifat itu setelah benar-benar terwujud kelemahanku.


Tuhanku, jika terlihat kebaikan-kebaiakn dariku, maka itu semua berkat anugrah-Mu dan bagi-Mu lah hak untuk menuntut-Mu. Dan jika terlihat kejahatan-kejahatan dariku, maka semua itu sebab keadilan-Mu dan bagi-Mu lah hak untuk menuntut alasan kepadaku.



Tuhanku, bagaimana Engkau serahkan kembali kepadaku untuk mengurusi diriku, padahal sesungguhnya Engkau telah menyerahkan kepadaku (menjaminku). Dan bagaimana aku dihinakan padahal Engkau adalah penolongku atau abagaimana aku mesti kecewa padahal Engkau adalah Dzat yang belas kasih kepadaku.


Inilah aku yang berperantara kepada-Mu dengan kefaqiranku untuk menuju kepada-Mu. Dan bagaimana aku mesti berperantara kepada-Mu dengan salain-Mu bisa sampai kepada-Mu. Dan bagaimana aku mengadu kepada-Mu mar atas-Mu. Atau bagaimana aku mesti menerangkan kepada-Mu dengan kata-kata padahal kata-kataku itu dari-Mu yang keluar menuju kepada-Mu. Atau bagaimanakah Engkau kecewakan harapanku padahal harapan itu benar-benar telah datang kepada-Mu. Atau bagaimana tidak akan baik keadaanku padahal dengan-Mu lah keadaan itu berasal dan kembali pula kepada-Mu.





Tuhanku alangkah banyaknya kelem-butan-Mu kepadaku padahal aku sangat bodoh. Dan alangkah banyaknya kasih sayang-Mu kepadaku padahal perbuatanku sangat buruk.


Tuhanku, alangkah dekatnya Engkau denganku dan alangkah jauhnya aku dari-Mu.


Tuhanku, alangkah lemah-lembutnya Engkau kepadaku, maka gerangan apakah yang menghalangiku hingga jauh dari-Mu.


Tuhanku. Sesungguhnya aku telah mengerti akan perubahan ini dan silih bergantinya masa, bahwasanya yang Engkau kehendaki dariku adalah Engkau perkenalkan kekuasaan-Mu kepadaku di dalam setiap sesuatu hingga aku tidak boleh alpa pada-Mu di dalam sesuatu itu.


Tuhanku, sewaktu kekejianku membungkamku, maka sifat kemurahan-Mu telah membuka mulutku. Dan sewaktu sifat-sifat celaka memutus-asakan aku, maka karunia-Mu telah membuka harapan kepadaku.


Tuhanku, orang yang sudah banyak kenaikannya itu masih banyak kesalahannya, maka bagaimanakah tidak akan menjadi kesalahan-kesalahan itu sebagai dosa. Dan orang yang ilmu dan pengetahuannya itu hanya sebagai pengakuan-pengakuan, maka bagaimanakah tidak akan menjadi penga-kuannya itu sebagai kepalsuan belaka.


Tuhanku, keputusan-Mu yang mesti berlangsung dan kehendak-Mu yang memaksa, keduanya tidak akan memberi kesempatan untuk berkata-kata bagi orang yang pandai berbicara atau untuk melaksanakan kesak-tiannya bagi orang yang mempunyai kesaktian.


Tuhanku, berapa banyak ketaatan yang aku lakukan dan tingkah laku yang aku perbaiki, namun telah menghancurkan keadilan-Mu terhadapnya bahkan telah membatalkan akan anugrah-Mu dari pada-Nya.


Tuhanku, Engkau mengerti, meskipun perbuatan taat dariku tidak terus menerus, namun sesungguhnya ketaatan itu terus menerus dalam kecintaan dan niat-ku.


Tuhanku, bagaimana aku berniat, sedang Engkaulah yang menentukan dan bagaimana aku tidak berniat, sedang Engkaulah yang memerintahkan.


Tuhanku, hilir mudikku pada keduniaan ini menyebabkan jauhnya perjalanan menuju kepada-Mu, maka kumpulkanlah aku atas-Mu dengan suatu pengabdian yang bisa menyampaikan aku kepada-Mu.


Tuhanku, bagaimana dapat dijadikan dalil atas-Mu sesuatu kejelasan yang tidak ada bagi-Mu, sehingga dia dapat menjelaskan kepad-Mu.


Kapankah Engkau samar sehingga Engkau butuh dalil yang dapat menunjukkan kepada-Mu. Dan kapankah Engkau jauh sehingga adanya alam ini dapat menyam-paikan kepada-Mu.


Tuhanku, sesungguhnya buta mata hati yang tidak dapat melihat penugasan-Mu, dan sungguh rugi dagangan seseorang yang dia tidak menjadikan untuknya bagian cinta kepada-Mu.


Tuhanku, Engkau perintahkan aku untuk kembali ke alam ini, maka kembalikanlah aku kepadanya dengan menyandang cahaya dan petunjuk mata hati sehingga aku bisa kembali kepada-Mu dari alam ini sebagaimana ketika aku masuk kepada-Mu dari alam ini dalam keadaan hati yang terjaga dari melihat-Mu dan dihilangkan kehendaknya dari berpegangan kepada dunia. Sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.


Tuhanku, inilah kehinaanku terlintas dihadapan-Mu, dan inilah perilakuku yang tidak samar lagi atas-Mu. Dari pada-Mu aku memohon untuk supaya sampai kepada-Mu, dan dengan-Mu pula aku mencari petunjuk atas-Mu, maka tunjukanlah aku dengan melalui Cahaya-Mu untuk menuju kepada-Mu dan tegakkanlah aku dengan kesungguhan beribadah di hadapan-Mu.


Tuhanku, ajarkanlah kepadaku secara langsung dari ilmu-Mu untuk sembunyi dalam perbendaharaan-Mu, dan peliharalah aku dengan rahasia nam-Mu yang terpelihara.


Tuhanku, berilah aku kedudukan sebagai orang-orang ahli hakekat yang telah dekat dengan-Mu, dan tuntunlah aku pada tempat (jalan) orang-orang yang tertarik langsung kepada-Mu (orang Mahzub).


Tuhanku, berilah aku dengan pengaturan-Mu dari pengaturanku, dan pilihan-Mu dari pilihanku. Dan tetapkanlah aku pada tempat keburukanku yang mendesak (seperti dalam keadaan faqir, hina lemah dihadapan-Mu).



Tuhanku, keluarkanlah aku dari kehinaan diriku dan bersihkanlah aku dari keragu-raguanku dan kepersekutuanku sebelum aku ke liang kubur. Hanya dengan-Mu lah aku memohon pertolongan, maka tolonglah aku. Dan hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, maka janganlah Engkau serahkan kepadaku. Hanya kepada-Mu lah aku memohon, janganlah Engkau kecewakan aku. Dan hanya kepada-Mu lah aku berharap, maka janganlah Engkau halangi aku. Dan disisi-Mu lah aku mendekat, maka janganlah Engkau jauhkan aku. Dan di pintu-Mu lah aku berdiri, maka jangalah Engkau tolak aku.


Tuhanku, maha suci keridhoan-Mu dari adanya sebab keridhoan itu dari-Mu, maka bagaimana akan ada sebab keridhoan dariku.






Engkau Maha Kaya dengan Dzat-Mu, dari sampainya kemanfaatan kepad-Mu dari-Mu, maka bagaimanakah akan membutuhkan dariku, sedang aku adalah hamba-Mu yang tiada daya.


Tuhanku, sesungguhnya qhada dan qadar telah mengalahkan aku. Dan sesungguhnya hawa nafsu dengan berbagai pengukuhan syahwat telah mengikat aku dan Engkau tolong pula temanku sebab aku, serta kayakanlah aku dengan anugrah-Mu hingga aku merasa kaya hanya dengan-Mu dari pada minta-mintaku dari-Mu.


Tuhanku, Engkau yang memancarkan cahaya-cahaya di dalam hati para kekasih-Mu sehingga mereka Ma’rifat kepada-Mu dan mengesakan-Mu. Dan Engkaulah Dzat yang menghilangkan rasa keduniaan dari hati para pecinta kepada-Mu sehingga mereka tidak senang kepada selain Engkau serta tidak mau bersandar kepada selain Engkau. Engkau Dzat yang menentramkan mereka sekiranya alam-alam ini meresahkan mereka. Dan Engkau satu-satunya Dzat yang mewujudkan mereka sehingga nyata bagi mereka jalan-jalan kebenaran.


Mendapat apakah orang yang kehilangan Engkau dan kehilangan orang yang telah mendapatkan Engkau. Sesungguhnya benar-benar kecewa orang yang rela mendapat ganti selain Engkau. Dan sesungguhnya rugilah orang yang menuntut pindah dari Engkau.





Tuhanku, bagaimanakah bisa diharapkan selain Engkau padahal Engkau tidak pernah memutuskan kebaikan. Dan bagaimana bisa diminta selain Engkau padahal Engkau tidak pernah merubah kebiasaan memberi karunia.


Wahai Dzat yang telah memberi rasa kepada orang-orang yang mencintai-Nya akan kemanisan bermesra-mesraan dengan-Nya maka mereka berdiri di hadapan-Nya dalam kelembutan kasih sayang. Wahai Dzat yang telah memberi pakaian pada kekasih-kekasih-Nya dengan pakaian kebesaran-Nya, maka berdiri mereka dalam keadaan merasa agung sebab karena keagungan-Nya.


Engkaulah satu-satunya Dzat yang selalu ingat kepada hamba-hamba-Mu sebelum hamba-hamba-Mu ingat kepad-Mu. Dan Engkau satu-satunya yang memulai memberi kebaikan sebelum orang-orang ahli ibadah menghadap kepad-Mu. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang Maha Pemurah dengan berbagai pemberian sebelum adanya permohonan orang-orang yang bermohon. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang Maha memberi, kemudian Engkau kepada apa yang Engkau berikan kepada kami itu sebagai orang yang berhutang.


Tuhanku, tuntutlah aku dengan rahmat-Mu sehingga aku bisa sampai kepada-Mu, dan tariklah aku dengan nikmat-Mu sehingga aku bisa menghadap kepada-Mu.


Tuhanku, sesungguhnya pengharapan tidak akan terhenti dari-Mu walau aku telah durhaka kepada-Mu, sebagaimana sesungguh-nya rasa takutku tidak akan memisahkan aku walau aku taat kepada-Mu.


Tuhanku, sesungguhnya telah menolak aku semua alam ini dalam menuju kepada-Mu. Dan sesungguhnya ilmuku telah memberhenti-kan aku dihadapan-Mu sebab adanya kemur-kaan-Mu. Tuhanku, bagaimana mesti aku kecewa padahal Engkaulah dambaanku, atau bagai-mana mesti aku hina padahal hanya kepada Engkaulah aku menyerahkan diri.


Tuhanku, bagaimana aku bisa mencapai kemuliaan padahal Engkau telah menem-patkan aku di dalam kehinaan. Atau bagaimana aku tidak bisa mencapai kemuliaan padahal hanya kepada-Mu lah Engkau telah menolong aku. Atau bagaimanakah aku tidak butuh padahal Engkau telah menempatkan aku di dalam kefaqiran. Atau bagaimanakah aku mesti butuh padahal Engkau dengan sifat kemurahan-Mu telah memberi kekayaan kepadaku.


Engkaulah satu-satunya Dzat yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau. Telah Engkau pertemukan Dzat-Mu pada setiap sesuatu, sehingga tidak ada sesuatupun mahluk yang mengenal-Mu. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang telah memperkenalkan Dzat-Mu kepadaku di dalam setiap sesuatu itu, maka Engkaulah Dzat yang tidak jelas pada setiap sesuatu.


Wahai Dzat yang telah berkuasa dengan sifat kasih sayang-Nya diatas Arsy sehingga jadilah Arsy itu lenyap di dalam kasih sayang-Nya, sebagaimana seluruh alam ini lenyap di dalam Arsy-Nya.


Wahai Tuhan, telah Engkau lenyapkan alam ini dengan Arsy dan Engkau lenyapkan pula Arsy itu dengan diliputi berbagai relung-relung Cahaya Rahmat-Mu.


Wahai Dzat yang terlindung di dalam dinding-dinding Cahaya dari jangkauan penglihatan mata.


Wahai Dzat yang terang dan jelas di dalam hati orang-orang Ma’rifat dengan kesempurnaan dan keridhaan-Nya, sehingga menjadi jelas kebesaran-Nya di dalam hati mereka. Bagaimana Engkau bisa terlindung (samar) padahal Engkau lebih Ghaib padahal Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengawasi lagi selalu hadir.


Wahai Dzat yang selalu awas, sinarilah hatiku dengan Cahaya hidayah-Mu sebagai-mana Engkau telah menyinari bumi dengan Cahaya Matahari-Mu.


Wahai Dzat yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui, bukalah pintu hatiku dalam waktu yang dekat, Wahai Dzat Yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui.


Ya Allah, berilah aku pengertian dan peliharalah aku dari kejahatan diri sendiri.


Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, do’a yang tidak didengar, dan amal yang tidak diterima.


Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan prasangka, muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman, bukakanlah pengertian ilmu kepada kami dan bukakanlah untuk kami pintu-pintu anugrah-Mu, Wahai dzat yang paling penyayang.


Allahummaj ‘al-lii nuuron fii qalbii, wa nuuron fii qodrii, wa nuuron bayna yadayya, wa nuuron min kholfii, wa nuuron ‘an yamiini, wa nuuron ‘an syimalii, wa nuuron min fauqii, wa nuuron min tahtii, wa nuuron fii sam’ii, wa nuuron fii bashari, wa nuuron fii sya’rii, wa nuuron fii basyarii, wa nuuron fii lahmii, wa nuuron fii damii, wa nuuron fii ‘dhamii. Allahumma a’dhim lii nuuron wa a’thinii nuuron, waj’al lii nuuron, wa zidnii nuuron. 3x


Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam Qalbuku, cahaya di dalam kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya disebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di sebelah atasku, cahaya disebelah bawahku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di dalam penglihatanku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku, cahaya di dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya dalam tulangku. Ya Allah, sempurnakanlah cahaya bagiku dan berikanlah aku cahaya dan jadikanlah diriku cahaya dan tambahkanlah padaku Cahaya (3X)


Robbanaa atmim lanaa nuuronaa wagfir lanaa innaka ‘alaa kulli syain qodirun. (QS. At-Tahrim 66:8)


Ya Allah, Ya Tuhanku, sempurnakanlah cahayaku dan ampunilah aku, sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.


Hasbiyallahu laa ilaaha illa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil adhziimi.


Cukuplah Allah sebagai sandaranku, tiada Tuhan melainkan Dia yang kepada-Nya aku berserah diri, dan Dia adalah Tuhan pemilik Arsy yang agung.


Subhaana rabbika rabbil’izzati ‘ammaa yashifuun wa salaamun ‘alalmursaliin wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.


Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan yang mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada Rasul-rasul (Guru mursyid min jaami’il ustadi wa ustadina) Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian Alam (QS. Ash-Shafaat 37:180-182)



Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Dari Jin dan Manusia Telah sempurnalah kalimat Tuhan-Mu

Selasa, 21 Juni 2016

Ujian Hidup Dari Sang Maha Hidup


"Sesungguhnya BERSERTA kesulitan itu ada kemudahan". (QS Al Insyirah 94 :6)
Setiap manusia hidup pasti akan mengalami banyak ujian. Ujian itu bisa berupa kebaikan atau kemudahan, bisa juga berupa keburukan atau kesulitan. Kedua duanya dinamakan ujian, yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan fitnah. Jadi musibah dan anugrah itu selalu bergandengan, ketika diturunkan kepada kita dalam bentuk satu ujian. Ibarat mata uang, ada dua sisi, yang sebenarnya satu.
Kadang kita hanya melihat ujian dari satu sisi saja, sebagai sisi keburukan. Sehingga muncul keluhan bahkan umpatan terhadap Sang Penguji. Padahal dibalik sisi lainnya justru terdapat kebaikan. Akibatnya, kita jadi turun kelas, bukan naik kelas ketika menjalani satu ujian dari Sang Penguji.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS. Al Ankabut 29 : 2)

Dzikir Maut

Gambar : Dzikir

Saat kupandang.
Tubuh itu.
Terbujur kaku.

Seonggok daging.
Tanpa daya dan upaya.
Menggeletak.
Bisu.
Sunyi.
Hanya Allah yang tahu.


Kemanakah perjalanan hidupku.
Bila kurenungkan waktu itu.
Aku akan mengalami.
Seperti itu.


Sudahkah aku menemukan.
Tempat kembaliku.
Karena saat itu pastikan tiba.


Ya Allah.
Hamba-Mu ini penuh dosa.
Yang kian hari kian bertambah.

Entah bagaimana aku menghadap-Mu.

Ya Allah.
Aku butuh Engkau.
Tuk meyakinkan aku.
Dimana tempatku.

Ya Allah.
Sekiranya diri ini tak pantas.
Untuk dekat dengan-Mu.
Maka aku mohon ampunan dan Rahmat-Mu.
Sehingga aku pantas.
Tuk bersanding dengan-Mu.


Ya Allah.
Tunjukkan Cahaya-Mu...
Dantetapkanlah Cahaya-Mu itu dalam hatiku.
Sehingga terpuaskan rasa rindu dalam kalbu...

Jumat, 17 Juni 2016

Hakikat Menutup Aurat

Aurat kerap ditautkan dengan tubuh perempuan; ada sisi pribadi yang harus ditutupi, karena dipandang bakal mengundang syahwat dan fitnah. Apa sebenarnya aurat dan fitnah itu? Dan mana batasan yang mesti ditutupi ? Dan kenapa ?
Aurat kerap dikaitkan dengan fitnah. Perempuan acap dipandang memiliki daya tarik seksual dan daya goda. Sehingga, perempuan dilukiskan sebagai aurat yang karena satu dan lain hal harus disembunyikan. Pakaian saja tidak cukup untuk menutupi aurat perempuan.

Menutup Aurat

Sebagai contoh, diceritakan bahwa ‘Abd Allah ibn Umar menceritakan bahwa nabi pernah bersabda, “perempuan adalah aurat sehingga jika ia pergi keluar, setan akan menjadikannya sebagai sumber godaan.” Riwayat lain, menyebutkan, ” perempuan adalah perangkap setan, andaikata tidak terdapat syahwat niscaya wanita tidak akan dapat mengusai laki-laki.”
Namun, kedua hadis itu, dalam telaah Kitab ‘Uqud al- Lujjayn, dinyatakan hadis dhaif, lemah. Dan, menurut Khaled Abou al Fadl, hadis-hadis tersebut terkait dengan lingkungan pergaulan historis saat itu, dimana perempuan dianggap sebagai sumber bahaya.
Padahal, kalau mau jujur, persoalan fitnah dan sumber godaan itu bersifat empiris. Artinya, apa yang merangsang secara seksual, bagaimana, kapan, dan dimana itu terjadi, adalah pertanyaan yang bisa diukur dalam kenyataan. Benarkah rambut perempuan yang terurai itu akan menimbulkan daya seksual sehingga harus ditutupi? Ataukah sebaliknya, bagaimana bila ada kelompok tertentu justru terpikat dengan perempuan berkerudung, bukankah dengan begitu, ia harus melepaskan kerudunganya demi menghindari fitnah.
Nah, jika alasan utama jilbab karena fitnah, barangkali solusi bagi contoh pertama wajib berkerudung dan solusi yang kedua adalah membuka kerudung. Jadi, fitnah adalah persoalan tambahan. Aurat harus ditutup, mungkin, karena ada perintah yang tegas dan tersendiri tentang aurat, bukan semata karena aurat menyebabkan fitnah.
Lalu, apa itu aurat? Secara harfiah, aurat berarti celah, kekurangan, sesuatu yang memalukan atau sesuatu yang dipandang buruk dari anggota tubuh manusia dan yang membuat malu bila dipandang. Dalam Quran, kata aurat disebut empat kali, dua dalam bentuk tunggal, dan dua kali dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal disebut dalam surat Al-Ahzab (33;13), dan bentuk jamak disebut dalam surat an-Nur (24;31 dan 58).
Kata aurat dalam surat Al-Ahzab (33;13) diartikan oleh mayoritas ulama tafsir dengan celah yang terbuka terhadap musuh, atau celah yang memungkinkan orang lain (musuh) mengambil kesempatan untuk menyerang. Sedangkan aurat dalam surat an-Nur (24;31 dan 58) diartikan sesuatu dari anggota tubuh manusia yang membuat malu bila dipandang. Nah, kata aurat yang sering diperbincangkanadalah arti aurat dalam surat an-Nur ini; bagian pribadi dari tubuh seseorang yang harus ditutupi.
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَايُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَالْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَي جُيُوْبِهِنَّ ( النور : 31 )
“Katakanlah kepada wanita yang beriman:Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tanpak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.s an-Nur 24;31)
Persoalannya, bagian tubuh mana yang dianggap aurat itu? Dalam batasan aurat ini pun, pandangan kalangan ulama tidak ada yang tunggal dan seragam melainkan fleksibel dan beragam. Mazhab-mazhab pemikiran hukum terkemuka menegaskan bahwa aurat laki-laki adalah antara lutut hingga pusar.Tetapi, minoritas pendapat menyebutkan bahwa aurat laki-laki hanyalah pangkal paha dan pantat. Paha sendiri tidak termasuk aurat. Aurat perempuan malah lebih komplek.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa batas aurat perempuan budak atau pelayan perempuan berbeda dengan aurat perempuan merdeka. Aurat perempuan merdeka adalah seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Sementara perempuan budak tidak diwajibkan menutupi rambut, lengan dan betis mereka. Karena, menurut beberapa fukaha, aurat budak itu sama dengan aurat laki-laki, antara lutut hingga pusar, dan ada juga mengatakan antara dada dan lutut. Bahkan, Umar ibn al-Khathtab pernah melarang para budak perempuan meniru perempuan-perempuan merdeka dengan menutupi rambut mereka. Al-Marghinani berkata dalam kitab Al-Hidayah:
وما كان عورة من الرجل فهو عورة من الأمة وبطنها وظهرها عورة وما سوى ذلك من بدنها ليس بعورة لقول عمر رضي الله عنه: ألق عنك الخمار يادقار أتتشبهين بالحرائر؟ ولأنها تخرج لحاجة مولاها في ثياب مهنتها عادة فاعتبر حالها بدوات المحارم في حق جميع الرجال دفعا للحرج ( الحديث )
“Yang menjadi batas aurat lelaki adalah juga menjadi batas aurat perempuan hamba, perut, dan pungungnya adalah aurat, selain itu dari seluruh tubuhnya adalah bukan aurat, karena kata Umar; Lepaskan tutup kepalamu wahai Daffar (nama seorang perempuan hamba),apakah kamu ingin menyerupai perempuan merdeka? Juga karena biasanya dia keluar untuk keperluan tuannya dengan pakian kerjanya, maka (dalam hal aurat) dia dianggap keluarga sedarah (mahram) bagi semua lelaki, untuk menghindari kesulitan.”
Mengapa ada perbedaan pendapat dalam batasan aurat perempuan? Perdebatan pendapat itu muncul karena ada perbedaan dalam menafsirkan kata illa ma zhahara minha (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.s an-Nur;31,” perempuan dianjurkan untuk tidak membuka ziina,(perhiasan, aurat) kecuali yang memang biasa terbuka.
Dan perdebatan itu bermula ketika para fukaha membahas bagian tubuh mana yang harus ditutupi oleh laki-laki dan perempuan ketika shalat. Sehingga, mungkin saja apa yang dianggap sebagai aurat ketika shalat juga menjadi aurat di luar shalat. Artinya, sesuatu yang harus ditutupi dalam shalat juta harus ditutupi ketika di luar shalat.
Namun, dari beragam pandangan batasan aurat tersebut ada yang perlu dicermati. Jika menutup aurat itu untuk menangkis godaan seksual, mengapa batasan aurat budak itu disamakan dengan laki-laki, bukankah pelayan atau budak perempuan itu juga memiliki potensi yang sama dalam hal memicu birahi? Lalu, apa sebenarnya motif utama membeda-bedakan batas aurat perempuan merdeka dan budak?
Pembatasan dan pengecualian dalam pandangan para fukaha itu merujuk pada ada istiadat, karakter, dan kebutuhan. Seperti yang diungkapkan ulama kontemporer Muhammad Ali-ash-Shabuni,”Perempuan hamba sebagai perempuan pekerja banyak yang keluar rumah dan pulang pergi ke pasar untuk melayani dan memenuhi segala keperluan tuanya; apabila diperintahkan untuk berpakaian serba tertutup ketika keluar adalah sesuatu hal yang merepotkan dan memberatkan, lan halnya dengan perempuan merdeka yang memang diperintahkan untuk tetap bertada di dalam rumah dan tidak keluar kecuali karena keperluan, mendesak, maka ia tidak ada kerepotan atau keberatan seperti yang dialami oleh perempuan hamba.”
Dengan alasan itu, kata Khaled Abau El-fadl, perempuan-perempuan budak tidak perlu menutupi rambut, wajah, dan lengan, karena mereka menjalani suatu kehidupan ekonomi yang aktif yang menuntut mobilitas tinggi, dan karena biasanya budak-budak tidak biasa menutupi bagian-bagian tubuh tersebut. Itu berarti, batasan aurat bukan ditentukan oleh teks-teks agama melainkan ditentukan oleh sosial budaya yang sangat relatif, tergantung pada peran dan fungsi sosial.
Nah, mengingat perempuan masa kini juga sarat dengan aktivitas yang tak hanya berkutat dalam rumah tangga tapi juga merambah dunia kerja (publik), maka batas-batas aurat yang telah dimapankan dalam teks hukum Islam, patut ditelah ulang. Dengan kata lain, batasan-batasan aurat bagi perempuan mesti disesuaikan dengan fungsi sosialnya yang kini sudah berubah. Tentu saja, pembatasan tersebut tidak melanggar pada nilai dan batas kesopanan yang lazim pada masyarakat tertentu.
Celah Pintu itu harus dijaga. 
Digunakan sebagaimana mestinya. 
Sesuai dengan tuntunan-Nya. 
Jangan biarkan celah pintu itu terus terbuka. 
Tanpa lupa menutupnya. 
Bila celah pintu itu terus terbuka. 
Akan selalu terlihat dunia. 
Yang penuh canda dan tawa. 
Juga nestapa. 
Oh dunia. 
Engkau hanya panggung sandiwara. 
Yang hanya sementara. 
Bila celah pintu itu terus terbuka. 
Niscaya hawa nafsu setan akan terus masuk. 
Melalui celah pintu yang di telinga. 
Melalui celah pintu yang di mata. 
Melalui celah pintu yang di hidung. 
Melalui celah pintu yang di mulut. 
Dan hawa nafsu setan itu akan membelenggu. 
Hingga manusia lupa. 
Dan mengkhianati perjanjian dengan Tuhannya. 
Yang akan membawa malapetaka. 
Di dunia dan di akherat nanti. 
Karena itu. 
Jangan biarkan celah pintu itu terbuka. 
Tanpa lupa menutupnya. 
Supaya pencuri tidak leluasa masuk ke rumah. 
Yang akan menyekap dan mengganggu si penghuni. 
Sedemikan rupa. 
Sehingga lupa segalanya. 
Khususnya kepada Tuhannya.

Kamis, 16 Juni 2016

Hakikat Syukur

Kata syukur berasal dari bahasa Arab, yang artinya “terbuka”. Jadi orang yang selalu bersyukur adalah orang yang qalbunya selalu terbuka untuk menerima segala macam nikmat yang diturunkan oleh Allah kepada dirinya, apakah nikmat itu bersifat anugrah atau yang bersifat musibah sekalipun.


Rabu, 15 Juni 2016

Rahasia Huruf Bismi Dalam Kalimat Basmallah


1. HURUF ALIF

Huruf Alif didalam lafadz Bismillah sebenarnya adalah Alif Ahadiyah. Dan disebut juga Alif dzatul wahid. Alif sebagai tanda adanya alam Ahadiyah, yaitu tanda adanya dzat sejati. Dan sebagai bukti nyata hanya ada Allah semata tidak ada yang lainnya. Yang mempunyai Cahaya Kehidupan. Yaitu Hidup yang Menghidupi yang disebut Banyu Nur Alif (Air Cahaya Alif) atau disebut juga dengan Banyu sejati (Air Sejati) atau Ratu Ning Banyu (Penguasa Air).


Dan juga dinamakan Allah Yang Hidup atau Satu Rupa Yang merupakan tempat Menyatunya antara Hidup dan Mati. Didalam alam ini masih berupa wujud mahdhi/wujud dzat sejati/wujud tunggal, hidup tunggal, rasa tunggal, belum ada yang lainnya dan disebut LA TA'YUN, yaitu Dzat yang wujud dengan sendirinya tanpa ada yang mewujudkan,hidup sendiri tanpa ada yang menghidupkan.

Dalilnya terdapat didalam kitab suci Al Qur’anul Karim , "Qul huwallahu ahad" artinya “Katakanlah Wahai Muhammad kepada seluruh umat,kalau sebenarnya Allah SWT adalah dzat tunggal, rasa tunggal/Esa yang menjadikan alam dunia dan seisinya .

2. HURUF BA'

Huruf Ba didalam lafadz Bismillah menunjukkan adanya alam Wahdah. Adanya alam wahdah menunjukkan sifat sejati. Dan disebut Sejatinya Muhammad. atau Hakekat Muhammadiyah. Dan juga disebut nyatanya Dzatullah, adanya sejati Nurullah, dan disebut sejatinya Nur Muhammad, dan nyata kenyataannya Allah yang telah menjadikan seluruh alam dunia.

Alif didalam lafadz Bismillah adalah yang menjadikan semua hidup dan semua ruh. Sedangkan huruf Ba' yang menjadikan wujud nyata semua alam. Oleh karena itu hidupnya semua alam dunia dikarenakan adanya Alif (Bathin) dan Ba (Dhohir) didalam lafadz Bismillah. Karena itu Alif dan Ba didalam lafadz bismillah itulah yang menjadi BAPAK dan IBU seluruh Alam dunia. Dan Alif lafadz Bismillah itu disebut Nurullah sedangkan Ba lafadz Bismillah itu disebut sejatinya Nur Muhammad. Kemudian Nurullah dan Nur Muhammad menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisah sehingga tidak dapat lagi dibedakan.

Di dalam kehidupan nyata berkumpulnya Nurullah dan Nur Muhammad disebut sebagai kumpulnya antara pria sejati dan wanita sejati yang disebut sebagai Nur Ma’an.

Dalilnya ada didalam kitab suci Al-Qu’anul Karim surat 24 : 35 : "Nuurun ‘ala nuurin yahdillaahu linuurihi man yasyaau wayadhribullaahul amtsaala linnaasi wallaahu bikulli syaiun ‘aliim."

Dengan adanya Nur tersebut, sebenarnya Allah SWT ingin memberitahukan kepada semua makhluk ciptaan-Nya dan agar manusia mengetahui bahwa sebenarnya DIA maha mengetahui terhadap semua ciptaan-Nya.

3. HURUF SIN

Huruf Sin didalam lafadz Bismillah itu menunjukkan adanya alam wahidiyat, yaitu adanya ilmu yang tiga dan Asma yang tiga pula.

Yang disebut dengan ilmu yang tiga adalah :

- Ahadiyat,

- Wahdat,

- Wahidiyat.

Dan yang disebut Asma yang tiga adalah :

- Allah,

- Muhammad

- Adam.

Sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Sejati, Muhammad adalah Sifat Sejati, dan Adam adalah Asma Sejati, yaitu kenyataannya Rasul.

Rasul adalah Nur yang hidup dari Nurullah yaitu nyatanya Adam. Dan Adam yang menjadi Bapaknya semua manusia dibumi ini

4. HURUF MIM

Huruf Mim di dalam lafadz Bismillah menunjukkan adanya Roh Idhafi. Dan Roh Idhafi menyatakan adanya manusia sejati, dan menunjukkan adanya af’al sejati. Rangkaian Huruf Sin dan Mim menunjukkan adanya Alam Arwah.

Dan disebut jasad Muhammad hidupnya adalah Allah. Dan yang sudah mengerti sejatinya badan dan mengerti sejatinya hidup, yaitu nyata sejatinya bapak dan ibu.

Sifat Jalal itu Nurullah yaitu lanang (Pria) sejati dan sifat Jamal itu Nur Muhammad yaitu wadon (Wanita) sejati. Sifat Jalal itu kuasa mengeluarkan besi. Sifat Jamal itu kuasa mengeluarkan batu.

Bercampurnya besi dan batu menjadi api. Ibaratnya api itu adalah bercampurnya raga dan hidup/jasad dan ruh. Dan tidak akan ada anak kalau tidak ada ibu dan bapak. Dan tidak akan ada Wahidiyat kalau tidak ada Ahadiyat dan Wahdat.

Jadi Ahadiyat melahirkan Wahdat, Wahdat melahirkan Wahidiyat, Wahidiyat melahirkan semua alam yang lainnya. Ahadiyat maqamnya dzat Wahdat maqamnya sifat Wahidiyat maqamnya asma semua yang ada di alam maqamnya Af’al dan tidak mungkin ada af'al bila tidak ada asma. Tidak ada asma kalau tidak ada sifat, sebab semua af'al, Asma, Sifat adalah hakekatnya Dzat.

Jadi apabila hamba sudah bisa fana’ Dzat dan fana’ Sifat serta fana’ Af’al, akan bisa Kamal. Kalau sudah bisa Kamal akan bisa Qohar, yaitu keadaan dhohir dan batin sudah bisa kumpul menjadi satu , Alam Misal, Alam Ajsam dan Alam Insan Kamil, yaitu nyatanya Asma Allah yang merupakan asma dzat mutlak. Nyatanya Muhammad adalah sebagai pengganti dzat yang nyata. Sehingga sejatinya Allah adalah Dzat nyata yang diwujudkan didalam Muhammad. Dan disebut dhohirnya Muhammad tetapi Hakekatnya ALLAH atau Nyatanya Allah Ta’ala. Nyatanya Muhammad yaitu nyatanya Alam Ajsam yaitu nyatanya asma rasul dan rupanya Adam Idlafi yang menjadi badan dan nyawa / Rasa Tunggal. Dan bagi yang mengetahui arti dua kalimat syahadat berarti sudah mengerti sejatinya Allah dan mengerti sejatinya Muhammad, mengerti sejatinya dhahir dan mengerti sejatinya batin, yaitu dhohirnya nabi batin-nya wali, dzhohir-nya Muhammad batin-nya Allah.

Dan disebut jasad Muhammad hidupnya adalah Allah. Dan yang sudah mengerti sejatinya badan dan mengerti sejatinya hidup, yaitu nyata sejatinya bapak dan ibu.

Sifat Jalal itu Nurullah yaitu lanang (Pria) sejati dan sifat Jamal itu Nur Muhammad yaitu wadon (Wanita) sejati. Sifat Jalal itu kuasa mengeluarkan besi. Sifat Jamal itu kuasa mengeluarkan batu.

Bercampurnya besi dan batu menjadi api. Ibaratnya api itu adalah bercampurnya raga dan hidup/jasad dan ruh. Dan tidak akan ada anak kalau tidak ada ibu dan bapak. Dan tidak akan ada Wahidiyat kalau tidak ada Ahadiyat dan Wahdat.

Jadi Ahadiyat melahirkan Wahdat, Wahdat melahirkan Wahidiyat, Wahidiyat melahirkan semua alam yang lainnya. Ahadiyat maqamnya dzat Wahdat maqamnya sifat Wahidiyat maqamnya asma semua yang ada di alam maqamnya Af’al dan tidak mungkin ada af'al bila tidak ada asma. Tidak ada asma kalau tidak ada sifat, sebab semua af'al, Asma, Sifat adalah hakekatnya Dzat.

Jadi apabila hamba sudah bisa fana’ Dzat dan fana’ Sifat serta fana’ Af’al, akan bisa Kamal. Kalau sudah bisa Kamal akan bisa Qohar, yaitu keadaan dhohir dan batin sudah bisa kumpul menjadi satu.

Menyikapi Ujian Hidup Dari Sang Penguji

"Sesungguhnya BERSERTA kesulitan itu ada kemudahan". (QS Al Insyiroh 94 :6)

Setiap manusia hidup pasti akan mengalami banyak ujian. Ujian itu bisa berupa kebaikan atau kemudahan, bisa juga berupa keburukan atau kesulitan. Kedua duanya dinamakan ujian, yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan fitnah. Jadi musibah dan anugrah itu selalu bergandengan, ketika diturunkan kepada kita dalam bentuk satu ujian. Ibarat mata uang, ada dua sisi, yang sebenarnya satu.


Kadang kita hanya melihat ujian dari satu sisi saja, sebagai sisi keburukan. Sehingga muncul keluhan bahkan umpatan terhadap Sang Penguji. Padahal dibalik sisi lainnya terdapat kebaikan. Akibatnya, kita jadi turun kelas, bukan naik kelas ketika menjalani satu ujian dari Sang Penguji.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS. Al Ankabut 29 : 2)

Senin, 13 Juni 2016

Allah Memahami Setiap Doa Dengan Bahasa Jiwa

Kisah ini diceritakan oleh Prof. Mahfud MD pada awal Ramadhan, empat tahun yg lalu pada ceramah malam pertama tarawih yg diberikan beliau ketika masih Ketua MK.
Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yg sanggup menyekolahkan anak2nya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil baginya untuk bisa mengantarkan anak2nya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.
Allah Memahami Setiap Doa Dengan Bahasa Jiwa
Mahfud, yg mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak2?!" kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu.
Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dgn sebaik2nya, Pak."
"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yg disimpan oleh lelaki itu.
Karena didesak, dengan wajah malu malu akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.
"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran.
"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.
"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.
"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan.
Mahfud Md. kontan tercenung. Sbg lulusan pondok, ia tahu bahwa yg dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan 'hauqalah', yg aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah" (tiada daya upaya kecuali karena Allah). Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yg lain, semampu yg didengarnya saja.
Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ujar Mahfud. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.
Memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya?! Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?!
Tapi kita, yg fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati yaitu terbebas dari riya' dan sombong).
Sadar akan Allah diatas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal Ibadah.... yg tidak sesuai dimata kita belum tentu tidak ses uai di mata Allah... bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, sebaiknya kita lebih waspada apakah amalan yg Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum dari pada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.

Menyempurnakan Cahaya Bulan Ramadhan

"Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan Cahaya) al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu berpuasa, (akan) menyaksikan bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu membesarkan (Nur) Allah (yang telah) ditunjukkan-Nya kepadamu, supaya (Nur Allah yang) kamu (saksikan semakin) terbuka.” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun” (HR. Muslim no. 1164, Abu Dawud no. 2433, At-Tirmidzi no. 759)


Puasa itu berasal dari bahasa sankrit dari kata upaviyasa/Viyasa/Vuyasa = menyiksa/mengkebiri.
Sedangkan kata shaum atau shiyam itu artinya mengekang, mengendalikan atau menahan.Yang di tahan atau dikekang atau dikendalikan adalah hawa nafsu atau aliran kesadaran yang ada atau mengalir melalui 9 lubang inderawi yang ada dalam diri. Sedangkan tujuan shiyam itu tergantung dari berapa banyak lubang yang ditahan/dikekang.

Tingkatan Shiyam yang tertinggi adalah menahan ke 9 lubang tersebut secara bersamaan sekaligus, yang bertujuan untuk liqo dengan Allah.
Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw :
"Shaum itu untuk Ku dan Akulah yang berhak memberi ganjarannya".
Apa ganjaran bagi yg bershiyam level seperti itu? Ganjarannya adalah kegembiraan saat bertemu dengan Tuhannya, sesuai dengan hadits : "Setiap orang yang bershaum akan mendapatkan 2 farhat / kegembiraan yaitu saat ifthar/berbuka dan saat liqo robbihi"
Dalam Al Quran di informasikan bahwa Allah itu adalah Nur Langit dn Bumi (QS 24 : 35) yang kalau dihubungkan dengan ganjaran orang yang bershiyam akan menyaksikan dan bertemu dengan Nya, maka didalam surat 2 ayat 185 peristiwa itu di simbolkan dengan kalimat " faman syahida minkumusy syahra falya shumhu = maka barang siapa diantara kamu bershiyam maka kamu akan melihat Syahr (bulan = Cahaya Allah tingkat 2)
Syahrun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 2 . Hilalun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 1 . Qomarun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 3 . Badrun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 4.
Orang yang bershaum harus terus menyempurnakan kadar Cahaya Allah yang terlihat itu sampai tingkat Badrun atau Purnama. Yang dikiaskan dengan berpuasa sebulan penuh. Dalam Al Quran Surat 2 : 185, hal ini di kiaskan dengan kalimat : Wa litukmilul idatta = dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya.
Kalau sudah menyempurnakan Cahaya Allah dengan Cahaya Penuh, maka kita harus meningkatkan lagi kesempurnaannya, yang dikiaskan dengan melakukan Shiyam Syawal selama 1 Ahad (6 hari). Syawal = Meningkat.
Hal ini dikiaskan dalam surat 2 : 185, dengan kalimat : "wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum" = Dan hendaklah kalian membesarkan Nur Allah yang telah ditunjukkan Nya kepadamu.

Kalau itu sudah terlaksana dangan baik, maka Insya Allah kita memasuki peningkatan (Syahrul Syawal) dalam menyaksikan kehadiran Nur Allah saat bershiyam, yang diibaratkan dengan tingkatan yang lebih baik dari shaum selama setahun. Hal ini dikiaskan dengan kalimat : "wa la'alakum tasykurun" = dan semoga (Rahasia Tingkatan Nur Ilahi yang) kalian (saksikan semakin) terbuka. Syukur = Terbuka. Kufur = tertutup.
Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan shiyam kita dengan Shiyamul Syawal agar Cahaya Ilahi yang kita saksikan lebih meningkat lagi tingkat keterangannya dan semakin terbuka rahasia alam keTuhanan dan Ayat ayat Nya yang tergelar di dalam Al Quran (ayat Qauliyah), ayat yang ada di Alam Semesta (ayat Kauniyah) dan ayat yang ada dalam diri (ayat nafsiyah)

Minggu, 12 Juni 2016

Pada Hari Ini, Aku Cukupkan Nikmatku Kepada-Mu


Isilah *titik-titik di bawah ini* dan mohon dijawab dengan jujur dan Cepat.
1. Allah *menciptakan tertawa* dan
(..........??)
2. Allah itu *mematikan* dan
(............??)
3. Allah itu *menciptakan laki-laki* dan
(............??)
4. Allah itu memberikan *kekayaan* dan
(...........??)
*_Bagaimana jawabanya ?_*
Gampang kan ?
Sebagian besar jawaban ternyata memang benar, tapi hanya untuk point 1-3 saja.
Sedang untuk jawaban No.4
Ternyata mayoritas salah.
*KENAPA ???*
Sekarang mari kita bahas.
Mayoritas kita tentu akan dengan mudah menjawab :
1. Tertawa dan (Menangis)
2. Mematikan dan (Menghidupkan)
3. Laki laki dan (Perempuan)
Tapi bagaimana dengan no.4 ?
Apakah benar jawabannya adalah Kemiskinan..?
Nah untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat rangkaian firman Allah dalam Surah An-Najm ayat 43-45, dan 48, sbb:
*Jawaban no 1*
:ﻭَﺃَﻧَّﻪ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ
"dan Dia-lah yang menjadikan orang *tertawa dan menangis.*"
(QS. An-Najm:43)
👍👍👍
*Jawaban no 2*
:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
"dan Dia-lah yang *mematikan dan menghidupkan.*"
(QS. An-Najm:44)
👍👍👍
*Jawaban no 3*
:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan *laki-laki dan perempuan*. "
(QS. An-Najm:45)
👍👍👍
*Jawaban no 4*
:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
"dan Dia-lah yang memberikan *kekayaan dan kecukupan.*"
(QS. An-Najm:48)
Ternyata jawaban yang no 4 kita sdh berburuk sangka kpd Allah
Sesungguhnya Allah hanya memberikan _*kekayaan dan kecukupan*_ kepada hamba-hamba Nya bukan kemiskinan seperti yang telah kita sangkakan.
استغفرالله العظيم
Ternyata yang *menciptakan kemiskinan* adalah diri kita sendiri. *Kemiskinan itu selalu kita bentuk dalam pola pikir kita*.
Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang pandai bersyukur walaupun hidup cuma pas-pasan tapi ia tetap bisa tersenyum😊?
Karena ia merasa cukup, bukan merasa miskin seperti kebanyakan orang lainnya.
*Semoga kita termasuk dari golongan orang-orang yang selalu merasa cukup dan selalu bersyukur dalam segala hal*.
Aamiin aamiin Ya Robbal Aalamiin...
Semoga bermanfaat.