Minggu, 22 Mei 2016

Menjalani Islam Secara Kafah

Kita mengenal istilah Iman, Islam dan Ihsan, yang pada hakekatnya adalah suatu proses perjalanan pengalaman keberagamaan kita yang berjenjang dari tingkat Iman, terus ke tingkat Islam dan mencapai puncaknya ke Tingkat Ihsan.
 
 
Tingkat pertama yang harus dijalani adalah Tingkat Iman, yaitu dimana seseorang harus mengimani apa yang termaktub dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat-Nya dan Takdir-Nya. Iman artinya percaya. Logikanya, keimanan atau kepercayaan itu akan tumbuh dalam diri seseorang, kalau dia sudah membuktikan apa yang di imaninya, inilah yang dinamakan Isbatul Yakin = Keyakinan berdasarkan bukti secara langsung.
Diantara kita kadang mengimani keberadaan rukun Iman itu, hanya berdasarkan kata-kata yang didengar melalui telinga, misalnya dari kecil kita sudah mendengar kata “Allah”, “Malaikat”, “Rasul” dan lain sebagainya, kemudian hal tersebut diyakini keberadaannya, padahal kita selama ini belum pernah melihat Allah, Malaikat-Nya dan Rasul-Nya. Inilah yang disebut dengan iman berdasarkan pendengaran. Sehingga pengalaman keberagamaan kita hanya sebatas pendengaran saja atau yang disebut dengan Agama Samawi. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan iman kita dari hanya sebatas mendengar ke tingkatan Iman berdasarkan Isbat, sehingga kita menjadi orang yang shaleh dalam bidang Spiritual.

”Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas Harf..” (QS 22 : 11)

Tingkat kedua yang harus dijalani adalah Tingkat Islam, yaitu dimana seseorang yang telah beriman kepada apa yang termaktub dalam rukun Iman berdasarkan Isbat, mulai menjalankan rukun Islam, yang termaktub dalam rukun Islam yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Shaum dan Haji. Islam mempunyai arti Damai, Pasrah dan Lunas Hutang. Semua ritual Islam itu pada hakekatnya adalah simbol-simbol yang menjembatani antara dunia spiritual/keimanan (Keshalehan Spiritual) dengan dunia Sosial/keihsanan (Keshalehan Sosial).

Diantara kita kadang ada yang melakukan ritual Islam yang termaktub dalam rukun Islam, hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja, sehingga hakekat tujuan akhir dari simbol-simbol ritual Islam tersebut, tidak tercapai. Misalkan, kita sering bersyahadat tapi bersyahadat palsu, bersholat tapi tidak terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, berzakat, tapi tidak membersihkan (menzakatkan) diri dari sifat2 tidak terpuji. Bershaum, tapi tidak bisa menahan diri dari perilku negatif. Berhaji, tapi tidak berbuat kemabruran (Kebajikan). Sehingga akhirnya walaupun kita sering melakukan ritual rukun Islam dengan baik dan teratur, tetapi kita tidak juga menjadi orang yang baik (Ihsan). Oleh karena itu marilah kita, tingkatkan KeIslaman kita ketingkat yang lebih tinggi yaitu ke Tingkan Ihsan.

”Hai sekalian orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kafah……” (QS 2 : 208)

Tingkat ke tiga yang harus dijalani adalah Tingkat Ihsan, yaitu dimana seseorang yang telah beriman dan berislam yang termaktub dalam rukun iman dan rukun islam, mulai mengaplikasikan nilai-nilai keimanan dan keislamannya itu dalam hidup bersosial kemasyarakatan, dimana ia selalu berperilaku sebagai orang yang baik (muhsin) dengan mengikuti norma-norma yang berlaku dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, dengan di dasari bahwa semua perilakunya selalu merasa seolah-olah di lihat Allah, sehingga ia malu kalau perilakunya melanggar hukum-hukum Allah. Orang yang sudah menjalani jenjang Iman, Islam dan Ihsan dengan sempurna, disebut dengan orang yang telah menjalani kehidupan agamanya dengan sempurna.

”….Pada hari ini telah Aku sempurnakan Ad Din-mu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhoi Islam (Sejati) ini sebagai agamamu…” QS 4 : 3)

Hakikat Malam Nishfu Sya'ban

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ
أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Jika MALAM NISHFU SYA’BAN tiba, maka BERIBADAHLAH DI MALAM HARINYA dan BERPUASALAH DI SIANG HARINYA, karena sesungguhnya ketika matahari terbenam di MALAM NISHFU SYA’BAN Allah turun ke langit dunia dan berkata, “ADAKAH YANG MEMINTA AMPUN KEPADAKU SEHINGGA AKU MENGAMPUNINYA, ADAKAH YANG MEMINTA REZEKI (KARUNIA) KEPADAKU SEHINGGA AKU MEMBERINYA REZEKI, ADAKAH YANG SEDANG MENGALAMI MUSIBAH SEHINGGA AKU MENYEMBUHKANNYA (MENYELAMATKANNYA), ADAKAH…ADAKAH.., (Demikian Allah terus memberikan tawaran kepada hambaNYA) hingga tiba waktu Fajar. (HR Ibnu Majah)
Rasulullah saw bersabda:
إنَّ الله ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ إلى السَّماءِ الدُّنْيا فَيَغْفِرُ لأكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعرِ غَنَمِ كَلْبٍ
Di malam NISHFU SYA’BAN, ALLAH ‘Azza Wa Jalla turun ke langit dunia dan memberikan ampunan sebanyak bulu domba yang dimiliki oleh suku Kalb. (HR Tirmidzi Dan Ibnu Majah)
Apakah hakekat malam Nishfu Sya'ban ?
Nisfhu artinya tengah atau pertengahan. Sedangkan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Islam. Dinamakan Sya’ban, karena orang-orang Arab pada bulan-bulan tersebut yatasya’abun = berpencar untuk mencari sumber mata air.
Dikatakan juga karena mereka tasya’ub = berpisah-pisah di gua-gua.
Dan dikatakan juga sebagai bulan Sya’ban karena bulan ini muncul = sya’aba di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan.
Sya'ban diambil kosa kata bahasa Arab yang berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas gunung.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka secara hakekat nisfu sya'ban adalah suatu proses menyatukan perjalanan kesadaran, (yang selama ini berjalan mengalir dan berpencar melalui tujuh gua di atas gunung) di tengah pusat sujud, untuk menyaksikan turunnya Nur Ilahi ke bumi diri.

Selasa, 03 Mei 2016

Pelatihan "BISMILLAH" Angkatan 553, 5 Mei 2016 di Citra Indah Jonggol

PELATIHAN BIMBINGAN SINGKAT MENEMUI ALLAH (BISMILLAH) ANGKATAN 553, TANGGAL 5 MEI 2016 DI CITRA INDAH JONGGOL
Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya" (QS Al Insyqaq 84 : 6)
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi “. (QS Az Zumar 39 : 54)
“Maka segeralah kamu kembali kepada Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50)
"Barang siapa yang mengharapkan bertemu dengan Allah, sesungguhnya waktu yang dijanjikan oleh Allah akan tiba. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS Al Ankabut 29 : 5)
"Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya" (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
"Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekati-Nya sehasta dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa dan jika ia datang menemui-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang menemui-Nya dengan berlari" (HR Bukhari dari Salman ra)
“Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah, sehingga apabila datang Hari Kebangkitan dengan tiba-tiba mereka berkata:“ Aduhai, penyesalan kami atas kelengahan kami di dunia “. Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu “. (QS Al An’am 6 : 31)
“Katakanlah : “ Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi amal perbuatannya ? yaitu orang yang telah sia-sia amalnya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka beramal sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan ingkar terhadap perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka. Dan Kami tidaklah menilai amal mereka pada hari Kiamat “. (QS Al Kahfi 18 : 103 – 105)
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami, sedang mereka senang dengan kehidupan dunia serta puas hatinya terhadap yang demikian, begitu pula orang-orang yang lalai dari berita-berita Kami. Mereka itu tempatnya dalam Neraka, disebabkan apa yang telah mereka usahakan “. (QS Yunus 10 : 8)
“Dan orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, mereka itu terputus dengan Rahmat-Ku dan mereka itu mendapat azab yang pedih “. (QS Al Ankabut 29 : 23)
“….. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu bingung di dalam kesesatannya “. ( QS Yunus 10 : 11)
“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tapi tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telingan (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (Qalam Allah). Mereka itu adalah binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raaf 7 : 179).
“….karena sesungguhnya bukanlah mata jasmani yang buta tetapi mereka buta adalah mata hati yang ada di dalam dada”. (QS Al Isra’ 17 : 72).
“….seperti gelap gulita di lautan yang dalam dan awan hitam yang gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengeluarkan tangannya, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya Allah, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya sedikitpun”. (QS An Nur 24 : 40).
PUSAT KAJIAN TASAWUF "NURUL KHATAMI"
MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN SINGKAT MENGENAL ALLAH DENGAN " DZIKIR KHATAMI " SEBUAH TEKNIK YANG SANGAT EFEKTIF UNTUK MERAIH PENCERAHAN CAHAYA ILAHI DENGAN SEKETIKA.
"Dzikir Khatami" adalah sebuah teknik kunci yang terdapat di dalam Al Qur'an. Teknik ini memungkinkan praktisinya mencapai ma'rifatullah dengan seketika. Tidak peduli sebatas apa pengetahuan anda, dengan mempraktekkan metode yang kami ajarkan, pengalaman menakjubkan yang selama ini hanya bisa anda baca dari buku-buku spiritual akan anda alami sendiri.
PEMBIMBING : KUSWANTO ABU IRSYAD
Hari : Kamis
Tanggal : 5 Mei 2016
Waktu : Jam 10.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Cluster Bougenville blok Ai 2 no 9 Citra Indah Jonggol Bogor.
Pendaftaran : Kirimkan nama lengkap anda melalui sms di no 081219812496
MANFAAT PELATIHAN :
* Mengalami Ma'rifatullah dengan Metode Dzikir Khatami, tanpa perlu laku tarikat bertahun-tahun.
* Melejitkan kecerdasan Spiritual (SQ) dengan membuka akses langsung ke CAHAYA ILAHI yang tidak lain adalah sumber dari kecerdasan spiritual (SQ) manusia.
* Tersingkapnya 70 ribu hijab antara manusia dan Tuhan.
* Dapat mengetahui datangnya tanda-tanda kematian setahun sebelum wafat.
* Melatih jiwa menyusuri jalan pulangnya menuju Allah kelak dengan mengenalinya sedari kita masih hidup di dunia.
* Menghemat investasi yang perlu anda keluarkan untuk membeli buku-buku spiritual dan "berburu" Guru Ruhani tanpa sebuah kepastian hasil.
Apakah setiap orang bisa mengalami ma'rifatullah, dan setelah berapa lama ?
Tentu setiap orang bisa mengalami. Umumnya peserta akan langsung mengalami ma'rifatullah sejak kali pertama praktek, sampai seterusnya kapanpun ia mempraktekkan teknik ini.
Apakah teknik Dzikir Khatami tidak bertentangan dengan syariat agama ?
Sama sekali tidak. Teknik ini bersumber dari Al-Qur'an yang didukung temuan sains mutakhir dan tidak mengandung satu unsurpun yang bertentangan dengan syariat agama.
MARI.........RAIHLAH PENGALAMAN MA'RIFATULLAH ANDA SEKARANG JUGA