Selasa, 15 Maret 2016

Hukum Kausalitas dalam Al-Quran

Hakikat hukum kausalitas adalah hukum keadilan yang menuntut balasan “mata untuk mata, gigi untuk gigi”. Kata kunci dalam hukum kausalitas adalah “ apapun yang orang tanam, itu pula yang akan dipetik”. Pemahaman tentang penderitaan dan hukuman di dunia sebagai balasan perbuatan buruknya di masa lalu atau kebahagiaan dan kegembiraan di dunia sebagai ganjaran amalan baiknya dimasa lalu, belum begitu dikenal oleh umat Islam, padahal dalam Al Qur’an banyak ayat yang mengisyaratkan adanya hukum kausalitas di dunia ini :

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, ia mendapat keuntungan dari apa yang telah diusahakannya dan mendapatkan kerugian dari apa yang dikerjakannya pula”. ( QS Al Baqarah 2 : 286)

“Bencana apapun yang menimpa dirimu semata-mata berasal dari dirimu sendiri”. (QS An Nisa 4 : 79)

“Apapun musibah yang menimpamu adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri”. (QS 42 : 30)

“Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri”. (QS 10 : 44)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, maka Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali”. (QS 30 : 41)

Berdasarkan ayat diatas, kita bisa melihat apa yang kita alami di dunia saat ini bukan semata-mata takdir yang tak berkompromi dengan kita, tetapi merupakan akibat perbuatan kita sendiri yang tak bisa dihindarkan. Perbuatan itu hanya bisa dilacak dalam kehidupan manusia sebelumnya. Seseorang yang lahir ke dunia adalah membawa nasib yang melingkar di lehernya. Nasib manusia tidak lain adalah setumpuk utang yang harus dilunasi dengan cara mengangsur dalam jumlah besar atau kecil sesuai dengan kemampuannya. Dengan begitu, ia bisa mengurangi penderitaannya tanpa harus menyesali diri. Atau, untuk menikmati buah kebajikannya di masa lalu tanpa harus besar kepalanya dan jumawa.

Untuk mengakhiri suka duka dalam menjalani hidup ini, hanya ada satu cara, yaitu agar kita dapat mencapai kematian dalam Dinul Islam,

“Sesungguhnya Din di sisi Allah adalah Islam” (QS 3 : 9)

“Barang siapa yang mencari Din selain Islam, ia nanti di akhirat akan rugi”.(QS 3 : 85)

“ Ya Allah ya Tuhan kami limpahkanlah kesabaran kepada kami dan akhirilah hidup kami ini sebagai muslim”. (QS 7 : 125)

“Ambillah nyawaku sebagai seorang muslim”. (QS 12 : 101)

Islam adalah kata serapan dari bahasa Arab yang artinya menyerah, damai dan yang telah lunas utangnya. Jadi orang muslim adalah orang yang telah mengalami kebebasan kedamaian dan kepasrahan di sisi Allah karena telah melunasi utang karmanya.

“ Kamu akan bebas dari kewajiban di kota ini”. (QS 90 : 2)

Kamis, 10 Maret 2016

Ma'rifatullah Modal Dasarku

Seorang ahli sejarah yang bernama Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “The 100 : ranking of the most influential persons in history revised and updated for the nineties”. (dalam edisi bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul : “Seratus Tokoh Sejarah Yang Paling Berpengaruh di Dunia”), menempatkan Nabi Muhammad Saw diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 
 
Penempatan Nabi Muhammad Saw pada urutan yang pertama, didasari oleh kenyataan sejarah bahwa beliau berhasil mengubah peradaban masyarakat di Jazirah Arab dan sekitarnya, ke arah yang lebih baik, bahkan pengaruhnya juga menyebar ke seluruh dunia. Pengaruh Nabi Muhammad Saw terhadap perubahan dan perkembangan peradaban dunia, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Newton penemu teori gravitasi dan Albert Enstein penemu teori relativitas, bahkan melebihi Nabi Isa atau Yesus Kristus.

Tokoh seperti Newton dan Albert Enstein dipilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di dunia karena mereka mempunyai modal dasar kecerdasan yang sangat jenius dibidang ilmu fisika. Mungkin timbul pertanyaan di dalam diri setiap orang, modal apakah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa dipilih sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi peradaban dunia ? Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, ternyata beliau adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan mayoritas ulama berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang tidak bisa baca tulis atau umi. 
 
Tetapi dibalik kesederhanaannya, beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu beliau adalah seorang yang sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam arti yang sebenarnya. Sesungguhnya, inilah modal dasar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dapat memajukan peradaban masyarakat dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, yaitu :

“Ma’rifatullah itu modal dasarku”. ( Al Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata modal dasar dari Nabi Muhammad Saw adalah pengetahuan mengenal Allah, bukan harta kekayaan, kekuasaan atau pengetahuan lainnya. Bahkan dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw, menegaskan bahwa amal ibadah seseorang sedikit bermanfaat apabila tidak sertai dengan ma’rifatullah.

“Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma’rifatulah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma’rifatullah akan banyak manfaatnya”. (Al Hadits)

Apakah yang dimaksud dengan ma’rifatullah itu? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan ma’rifatullah itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah ,makalah ini mencoba untuk membahas masalah ma’rifatullah

Setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada diseluruh dunia, mempunyai ajaran dan sebutan yang berbeda-beda tentang apa yang diyakininya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh mereka. Orang Islam menyebut-Nya dengan nama Allah, orang Nasrani menyebut-Nya dengan nama Allah Bapa, orang Yahudi menyebut-Nya dengan nama Yehowah dan masih banyak lagi sebutan yang nisbahkan kepada yang dianggapnya sebagai Tuhannya masing-masing. Setiap agama juga mempunyai tata cara masing-masing dalam melakukan penyembahan kepada Tuhannya.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS Al Baqrah 2 : 148)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tiap-tiap umat memiliki arah penunjuknya sendiri-sendiri. Disini Allah dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal masing-masing umat saling berlomba dalam menciptakan kebaikan , menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah . Misalnya menciptakan kedamaian, baik bagi sesama umat manusia dan juga makhluk lainnya serta alam semesta. Sebab apa yang pernah dilakukan di dunia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Hal ini ditunjukkanoleh kalimat “Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”. Ibnu Abbas, salah seorang sahabat terkemuka, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir (1320 – 1370 M) dalam tafsir Al Qur’an Al Adzim, menyatakan bahwa kandungan ayat ini sejalan dengan ayat lain yaitu :

“……. Bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami telah buatkan bagi mereka jalan dan metode…….”. (QS Al Maidah 5 : 48)

Perbedaan dalam doktrin setiap agama dan dalam menyebut nama Tuhan ini, terkadang menyeret umat beragama ke dalam perdebatan tentang kebenaran agamanya masing-masing sehingga pada akhirnya timbul pertengkaran dan permusuhan antar umat beragama. Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah melarang setiap umat untuk saling mencaci maki tentang ajaran agama.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal ibadah mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 108)

“……….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Konsep tentang Tuhan disetiap ajaran agama dan aliran kepercayaan memang terkesan mempunyai perbedaan yang sangat tajam, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam, secara hakikat tersirat ada titik temu diantara perbedaan konsep tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menginformasikan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya masing-masing. Misalnya dalam Al Qur’an (agama Islam), telah dijelaskan bahwa Allah itu adalah Cahaya diatas Cahaya :

“Allah itu adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bntang berkilau. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)

Dalam Kitab Injil (Agama Kristen), juga telah dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah Cahaya.

“Aku adalah Cahaya yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal akan Daku, janganlah tinggal di dalam gelap”. (Injil, Yahya 12 : 46)

“Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja Cahaya-Nya”. (Injil, Yahya 5 : 35)

Begitupula, dalam Kitab Baghawad Gita (agama Hindu), juga dijelaskan bahwa Brahma itu adalah Cahaya :

“Beri santaplah yang bercahaya (Brahma Sang Pencipta), mudah-mudahan engkau akan dikaruniai, dari jalan inilah akan tercapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang bercahaya diberi santapan kurban, akan mengkaruniai segala kenikmatan yang diharap”.

Menurut agama Budha, sebutan bagi Tuhan Yang maha Esa adalah Sanghyang Adi Budha, sebagai sumber dari segala sumber yang memancarkan sinar-Nya dan menciptakan dari Dirinya sendiri lima Dyani Budha yaitu :

1. Vairocana : Sumber Cahaya
2. Aksobya : Sumber Ketenangan
3. Ratna Sambhawa : Permata Alam Semesta
4. Amitabha : Cahaya Tanpa batas
5. Amoasidhi : Maha Jadi Yang Tidak Mengenal Kegelapan.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat isyarat yang sama tentang hakikat dari Sang Maha Pencipta di setiap kitab suci agama, yaitu bahwa Dia adalah Cahaya diatas Cahaya. Mengapa setiap Kitab Suci memberitahukan konsep ketuhanan yang sama ? Jawaban adalah karena isi dari semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

“……Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)

“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi. Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat



“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut. 
 
Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)

Sabtu, 05 Maret 2016

Gunung THUR SINA

Hakikat Gunung THUR SINA

Manusia adalah makhluk Allah yang dikaruniakan Allah dengan satu kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kelebihan itu adalah kemampuan akal yang terdapat di kepala. Kepala manusia yang sangat ditinggikan oleh Allah telah diinformasikan dalam Al Qur’an dengan istilah simbolis “Gunung” atau “Thur sina”.

“Dia telah menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan Dia memberkahinya … “. (QS Fushshilat 41 : 10).

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka ….”. (QS Al Anbiya 21 : 31)

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu …..”. (QS An Nahl 16 : 15)

Istilah “gunung” dalam ayat tersebut mempunyai arti simbolis yaitu “kepala manusia”, sedangkan kata “bumi” mempunyai arti simbolis yaitu “Jasmani” manusia. Fungsi kepala bagi jasmani manusia adalah sebagai penyeimbang jasmani karena di dalam kepala manusia terdapat oragan tubuh yang sangat penting yaitu empat indera berserta alatnya dan segumpal otak yang terdiri dari bermilyar-milyar jaringan sel otak yang disebut Neuron, yang berfungsi sebagai pusat kesadaran, pusat ingatan, pusat keseimbangan tubuh dan masih sangat banyak lagi fungsi lainnya.

Kemampuan yang ada dalam otak dan kepala manusia, sangatlah penting yaitu sebagai alat untuk mengetahui segala sesuatu dengan daya nalar atau berfikir. Kekuatan daya fikir ini mempunyai energi psikis yang sangat besar, apabila dimanfaatkan secara maksimal. Kekuatan daya fikir ini sangat tergantung dengan berfungsinya tujuh lubang atau tujuh pintu yang ada di kepala manusia yaitu dua lubang telingan, dua lubang mata, dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Ketujuh lubang tersebut berfungsi sebagai pintu keluar masuknya rasa penginderaan yaitu penglihatan, pendengaran, pencium dan pengecapan. Secara simbolis ketujuh pintu atau lubang yang ada di kepala tersebut diberitahukan dalam Al Qur’an dengan istilah Tujuh Jalan Di Atas Kita. Hal ini tercantum dalam Firman-Nya :

“Dan sesungguhnya kami menciptakan di atas (kepala) kamu Tujuh Buah Jalan (keluar masuknya empat rasa) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami tersebut”. (QS Al Mu’minun 23 : 17).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan Tujuh Buah Jalan yang menjadi sarana keluar masuknya empat jenis rasa yaitu rasa penglihatan, rada pendengaran, rasa penciuman dan rasa pengecapan. Wujud dari ke empat rasa ini bersifat ghaib dan tidak akan berubah atau bertukar fungsinya karena Allah telah menjaganya dengan hokum-Nya atau Sunnatullah.

Ke empat jenis rasa tersebut hanya dapat dirasakan oleh rasa rohani manusia. Rasa rohani manusia tersebut dalam bahasa atau kamus tasawuf disebut sebagai rasa sejati. Rasa penginderaan dan rasa sejati tersebut tidak dapat diceritakan dengan kata-kata tetapi hanya dapat disimbolkan dalam bentuk bahasa lisan manusia, yang terwujud dalam bentuk rasa kelima yaitu rasa pengucapan yang berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan rasa tersebut kepada orang lain. Tetapi ungkapan dari ucapan itupun jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kamu Wali Tanah Jawa, ke-empat rasa penginderaan tersebut disimbolkan dengan empat sahabat Rasulullah SAW, yaitu :

1. Abu Bakar disimbolkan sebagai penglihatan
2. Umar bin Khatab disimbolkan sebagai pendengaran
3. Usman bin Affan disimbolkan sebagai pencium
4. Ali bin Abi Thalib disimbolkan sebagai pengucapan

Sedangkan rasa rohani disimbolkan rasa sejati yang merupakan perwujudan dari rasa Allah. Rasa Allah ini oleh Wali Tanah Jawa sering disimbolkan dengan istilah Rasulullah.

Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk memegang Gunung Thur Sina atau kepada yang telah Allah tinggikan dan dianugerahkan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

“Aku tinggikan atau angkat “Gunung Thursina” di atas kamu, peganglah erat-erat apa yang Aku berikan itu dan pelajarilah apa yang terdapat di dalamnya, agar engkau mengerti dan beriman kepada-Ku”. (QS Al Baqarah 2 : 63)

Berdasarkan ayat tersebut, kita diperintahkan untuk mempergunakan atau memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada kepala kita yaitu potensi inderawi dan potensi akal untuk mempeljari semua pengetahuan lahiriah maupun pengetahuan batiniah sehingga pada akhirnya kita diharapkan agar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Ayat tersebut dapat juga ditafsirkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk memegang teguh suri tauladan Rasulullah Saw dan empat sahabat dalam kehidupan lahir maupun batin.

Perintah untuk memegang gunung atau kepala dengan kuat, juga mempunyai arti bahwa, manusia harus dapat mempergunakan potensi yang ada di kepala yaitu akal dan panca indera, untuk beraktifitas dalam kehidupannya, terutama dalam kehidupan agamanya untuk mengenal rohaninya sekaligus mengenal Tuhannya.

Kemudian arti lain dari kalimat “memegang gunung” adalah manusia diharuskan untuk menutup “tujuh pintu hawa nafsu” yang terdapat di kepala yaitu :

2 lubang atau pintu mata
2 lubang atau pintu telinga
2 lubang atau pintu hidung
1 lubang atau pintu mulut

Cara menutup Tujuh Pintu tersebut, dengan mempergunakan “alat” yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sesuai firman Allah :

“Carilah Akhirat dengan “Alat” yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia”. (QS Al Qashash 28 : 77)

“Tatkala aku berada disisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu? “Lantas beliau memerintahkan supaya pintu ditutup dan bersabda : Angkat tangan kamu” (HR Al Hakim)

“Tutup pintumu dan ingatlah Allah ”. (HR Bukhari)

“Tutuplah semua pintu masjid ini kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

Prosesi menutup tujuh pintu inderawi yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan “Takbiratul Ihram”, (Takbir Larangan) yang mempunyai arti bahwa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali shalat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktifitas inderawi seperti mendengar, melihat mencium dan berbicara, karena kita sedang berhadapan dengan Allah Swt (bertawajuh). Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajah-ku kepada Wajah-Nya yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (QS Al An’am 6 : 79)

Perintah untuk mengingat apa yang terdapat dalam Gunung atau kepala manusia, dapat diartikan bahwa manusia harus terus mengingat atau mengolah dan memgembangkan apa yang terdapat dalam kepala manusia berupa ilmu pengetahuan yang merupakan hasil dari kesatuan olah fikir, oleh dzikir dan olah raga.

Makna lainnya adalah bahwa setelah manusia telah berhasil menutup tujuh pintu hawa nafsunya atau melakukan gerakan “Takbiratul Ihram”, maka ia akan mengalami proses mati dalam hidup dan pada saat itulah indera rohaninya akan hidup dan menyaksikan “Cahaya Allah” yang tampak di dalam “gunung” atau kepalanya, sehingga gunung tersebut hancur lebur, dengan kata lain, bahwa ketika ketujuh pintu hawa nafsu tertutup, maka hawa nafsu secara berangsur-angsur menghilang, yang tinggal hanya jasmani dan pusat kesadaran yang terletak pada qalbu (otak). Kemudian ketika muncul “Cahaya Kilat” atau Nur Allah yang menyambar di dalam kepala dan terpantau oleh indera rohani, pusat kesadaran serta jasmani, maka semuanya itu menjadi hancur atau lenyap secara berangsur-angsur, yang tersisa hanyalah rasa sejati yang “Layu khayafu” dan “Laisa kamislihi syai’un”. Keadaan inilah yang disebut dengan “Mati Syahid” (Mati Saksi).

Peristiwa “Mati Syahid” hanya dapat tercapai ketika fungsi-fungsi inderawi telah mati dan saat kematian fungsi inderawi itulah kita menyaksikan Cahaya Allah yang tajalli dipusat mata batin kita, sehingga kita telah melupakan peristiwa yang terjadi disekitar kita, dan saat itulah terjadi penyerahan diri secara total kepada Allah.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata”.

Cahaya Allah yang disaksikan dan dirasakan pada waktu “Mati Syahid” akan terekam dalam pusat kesadaran rohaninya dan harus diingat sebanyak-banyaknya, baik ketika sedang berjalan, duduk maupun berbaring.

“Cahaya Allah itu ada dalam rumah yang Allah beri izin untuk memuliakan dan mengingat-Nya pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS An Nuur 24 : 36)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapt tanda-tanda bagi golongan ulil albab, yaituorang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata) : “ Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-si, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa An Nar”. (QS Ali Imran 3 190-191)

“ Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung Thur Sina di atasmu (seraya Kami berfirman) : Peganglah dengan kuat apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya (Cahaya Allah) agar kamu bertakwa”. (QS Al Baqarah 2 : 63)

Demikianlah arti simbolis dari ayat-ayat yang berkaitan dengan proses mati syahid untuk mendapatkan pengalaman menemui Tuhannya di Gunung Thur Sin Yang Bercahaya.

Selasa, 01 Maret 2016

Hilangkanlah Sifat Kekafiran

Seluruh umat manusia di muka bumi ini telah menyadari bahwa ada Satu Kekuatan Yang Maha Besar, yang telah menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta ini beserta segala isinya. Tetapi sayangnya, keyakinan itu tidak diteruskan dengan upaya untuk membuktikan sekaligus mengenal kepada keberadaan Dzat yang mempunyai Kekuatan Yang Maha Besar tersebut, sehingga pada akhirnya keyakinan akan adanya Sang Maha Pencipta itu, hanya sekedar menjadi kepercayaan yang bersifat “lipstick” atau sebatas di mulut saja, tanpa mengakar di dalam rohani dan aktivitas kehidupan umat manusia.

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas huruf atau tulisan … “. ( QS Al Hajj 22 : 11 )

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya….,” (QS Al Hajj 22 : 74)

“….. kecuali hanya menyembah Asma-Nya yang kamu dan nenek moyangmu kamu buat-buat….” (QS Yusuf 12 : 40 )

Ketika terlahir di atas dunia, kita sudah dihadapkan oleh nilai-nilai kemasyarakatan, agama, dan moral yang mau tidak mau kita telah berada di dalamnya dan kita dituntut untuk mengambil sikap, apakah sikap menerima, menolak ataupun sikap netral terhadap nilai-nilai tersebut. Tetapi harus diingat, bahwa kita terlahir di atas dunia ini sebagai salah satu dari suku atau ras bangsa tertentu yang ada di dunia ini, yang yang menentukannya adalah bukan diri kita sendiri. Begitu pula tentang kelahiran kita sebagai seorang anak bayi di dalam sebuah keluarga, apakah keluarga itu beragama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha ataupun sebuah keluarga yang tidak beragama, proses itu semuanya yang menentukan bukan diri kita sendiri. Setelah kita lahir dan menginjak usia akhil baligh barulah kita secara perlahan-lahan menyadari bahwa kita telah ditakdirkan menjadi apakah itu orang Eropa, Asia, Amerika, Australia atau orang Afrika. Begitu pula dengan agama orang tua kita. Dan biasanya, orang tua kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai agama yang dianutnya kepada kita (anaknya) sedini mungkin, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar kita telah memeluk agama yang dianut oleh orang tua kita. Inilah yang disebut bahwa kita beragama karena keturunan.


Setelah menginjak dewasa, barulah kita menggunakan akal dan kehendak yang merdeka untuk mencermati kembali agama yang kita anut sejak kecil, sehingga saat itulah kita memulai proses pencarian terhadap kebenaran yang Absolut. Tetapi sayangnya, sebagian besar manusia sudah puas dengan agama yang dianutnya tanpa mau mencermati kebenaran agama yang dianutnya, bahkan yang lebih parah lagi mereka terjebak dalam sikap fanatik buta terhadap agamanya masing-masing, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap saling membenarkan agamanya masing-masing dan menyalahkan agama orang lain, padahal umat manusia itu sebenarnya adalah umat yang satu.


“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (QS Yunus 10 : 19)


“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran, untuk memberikan keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman tentang hal yang mereka perselisihan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada Jalan yang Lurus”. (QS Al Baqarah 2 : 213)


Beda pendapat diantara manusia tentang kebenaran adalah suatu hal yang manusiawi dan wajar, hal ini sesuai dengan firman Allah, yakni :


Sesungguhnya kamu sekalian selalu dalam keadaan berbeda-beda pendapat”. (QS Adz Azariyaat 51 : 8)


Perbedaan pendapat tentang suatu kebenaran, diantara umat manusia sangat dimaklumi oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda :


“Perbedaan pendapat di dalam umatku adalah rahmat”. (Al Hadits)


Tetapi perbedaan pendapat yang menjurus kepada perpecahan dan permusuhan, sangatlah dibenci Allah.


“….…janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar Ruum 30 : 32)


Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat simpulkan bahwa salah satu sifat orang yang menyekutukan Allah adalah orang-orang yang suka memecah belah agamanya dan ia merasa paling benar, paling suci dari golongan lainnya. Seluruh golongan di luar golongannya dianggapnya sebagai golongan batil dan ia bangga atas kebenaran golongannya. Padahal, Yang Paling Haq, Yang Paling Suci adalah Allah Swt sajalah sebagai satu-satunya Dzat yang menjadi sesembahan umat manusia.


“….sesungguhnya Allah adalah kebenaran (Al Haq) dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. (QS Luqman 31 : 30)


“…kebenaran itu datangnya dari Allah….” ( QS Al Baqarah 2 : 147 )


Ayat-ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa Al Haq yang sebenarnya adalah Allah sendiri. Jadi sangatlah keliru apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar, atau mereka mengaku bahwa golongannya yang paling benar. Bahkan berdasarkan ayat tersebut di atas, orang atau golongan yang mengklaim atau mengaku paling benar, sebenarnya justru telah menyekutukan Allah, karena ia atau mereka telah mensejajarkan dirinya atau golongannya setara dengan Allah. Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an :


“….tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS An Najm 53 : 32)


Jadi, janganlah kita mengklaim bahwa diri atau golongan kitalah yang paling benar, haq dan suci, sedangkan orang lain atau golongan lain dianggap batil, salah, tidak suci dan kafir. Sebab, yang paling mengetahui siapa yang haq, benar dan siapa yang termasuk kafir atau batil, adalah hanya Allah Swt sajalah yang dapat mengetahuinya.


“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (QS An Najm 53 : 32)


“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in dan orang-orang musyrik, sesungguhnya Allah akan memberi keputusan antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. (QS Al hajj 22 : 17)


Dalam Al Qur’an banyak ungkapan kata “kafir” yang dapat kita baca. Ungkapan kata tersebut juga sering kita dengar dalam setiap pengajian yang kita ikuti. Dan biasanya kita memahami kata tersebut dengan pengertian orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan biasanya ditujukan kepada golongan non muslim. Atau dengan kata lain, orang kafir adalah orang-orang yang memeluk agama selain agama Islam, yaitu golongan Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Budha dan golongan lainnya. Yang lebih parah, adalah ketika kata kafir itu mulai ditujukan kepada golongan di luar golongan yang diyakininya walaupun masih dalam satu agama Islam. Sehingga tidaklah mengherankan jika dalam agama Islam, satu golongan mengkafirkan golongan yang lainnya, bahkan mereka kadang menghalalkan segala cara untuk dapat menghancurkan golongan yang dianggapnya kafir tersebut. Hal ini dikarenakan mereka keliru dalam memahami apa arti yang sesungguhnya dari kata kafir tersebut. Mereka hanya mengutip ayat-ayat dalam Al Qur’an dan menafsirkannya secara harfiah tanpa mau merenungi apa sesungguhnya hakikat kekafiran itu sendiri.


Dalam Al Qur’an, banyak ayat-ayat yang menyuruh orang beriman untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bahkan orang-orang kafir harus dibunuh di manapun mereka berada. Bahkan kalau perlu kita harus mengorbankan jiwa dan raga untuk memerangi orang-orang kafir tersebut.



“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis ….” (QS At Taubah 9 : 28).


“Hai Nabi, korbankanlah semangat orang-orang yang beriman untuk berperang …. “(QS Al Anfal 8 : 65)


“… Bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap markas mereka ….” (QS At Taubah 9 : 5)


“…. Bunuhlah pemimpin-pemimpin orang kafir, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya ….” (QS At Taubah 9 : 12)


“Bunuhlah (orang-orang kafir), Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu, Dia memberikan kehinaan kepada mereka dan Dia akan menolong kamu terhadap mereka serta Dia melegakan hati kaum yang beriman”. (QS At Taubah 9 : 14)




“Bunuhlah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah….” (QS At Taubah 9 : 29)



‘Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka …..” QS At Taubah 9 : 73)


“Hai sekalian orang-orang yang beriman, bunuhlah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu dan hendaklah mereka merasakan kekerasan daripadamu ….”. (QS At Taubah 9 : 123)


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta benda mereka dengan surga kepada mereka, mereka membunuh di jalan Allah maka mereka membunuh atau terbunuh…. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah 9 : 111)


“Ambillah sebagian dari harta mereka (orang kafir) sebagai sedekah untuk membersihkan dan menyucikan mereka dengannya. Dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu itu menjadi ketentraman bagi mereka ……” (QS At Taubah 9 : 103)

Demikian beberapa ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan agar orang kafir harus dibunuh (qital) sehingga ada beberapa golongan dalam umat Islam yang menghalalkan berbagai cara untuk membunuh orang-orang kafir yang berada di sekitarnya, seperti beberapa kasus bom bunuh diri yang banyak menewaskan orang-orang yang mereka anggap kafir. Padahal, kalau kita kaji lebih dalam lagi, sebenarnya kata “Kafir” itu berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti “Tertutup”. Kata kafir merupakan kata antonim dari kata “Syakir”, yang artinya terbuka. Jadi kata “kufur” lawan kata “syukur”. Dari kata ini orang inggris menyerapnya dalam bahasa mereka dengan kata “Cover” yang artinya “Tutup”. Misalnya kata cover buku artinya tutup buku atau sampul buku. Berdasarkan asal usul kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang kafir adalah orang-orang yang tertutup. Pertanyaan selanjutnya, tertutup dari apa? Dan apanya yang tertutup? Jawabannya cukup sederhana, yaitu mereka tertutup dari melihat kebenaran karena “mata qalbunya” yang tertutup alias buta. Siapakah kebenaran itu? Jawabannya adalah Al Haq atau Allah (annallaha huwal haqqu sesungguhnya Allah Dia-lah yang Haq QS 31 : 30). Jadi orang kafir adalah orang yang tidak melihat kebenaran (Allah) karena mata qalbunya tertutup, karena mata qalbunya tertutup maka orang kafir mengingkari adanya Kebenaran (Allah).


Orang-orang yang mengingkari kebenaran, akan berada di jalan Thagut dan sekaligus menjadikan Thagut sebagai pelindung mereka. Thagut akan mengeluarkan mereka dari Cahaya dan menuju zhulumat (kegelapan). Kata “zhulumat” itu seakar dengan kata zhalim atau lalim. Perbuatan yang menyakitkan atau merugikan baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Karena itu, zhulumat diterjemahkan kegelapan. Dengan demikian, orang yang mengabdi pada Thagut adalah orang yang hidup di area yang gelap atau “dark area”.


Di tempat yang gelap, manusia tidak akan mampu mengetahui arah. Tidak akan bisa membedakan sesuatu yang menguntungkan atau yang merugikan. Tak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Itulah wilayah Thagut. Jadi, di daerah yang gelap, meski mata tidak buta tapi tak akan bisa melihat. Meski telinga tidak tuli, tapi tak akan dapat menuntun ke sumber kebenaran. Akibatnya, orang tersebut ngawur. Kalau akibat perbuatannya yang zhalim itu hanya mengenai dirinya, itu tidak apa-apa. Masalahnya, perbuatan zhalim itu mengenai juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan menghancurkan mereka yang baik-baik yang tinggal di wilayah paket yang tak aman itu. Sehingga yang zhalim saat ini aman-aman saja, tapi mereka yang baik-baik malah terlanda musibah. Oleh karena itu orang yang kafir (tertutup) dan zhalim (kegelapan) haruslah diperangi dan dibunuh di manapun ia berada, agar ia tidak membahayakan dirinya dan orang lain.


Jadi berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat kekafiran adalah tertutupnya mata qalbu setiap manusia dari menyaksikan kebenaran yaitu Allah, sehingga ia terjebak dalam kegelapan (zhulmah) tidak mengetahui (jahil) mana yang benar dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek.


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (keberadaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (kalam Allah). Mereka itu binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lupa diri”. (QS Al A’raf 7 : 179)


“… karena sesungguhnya bukanlah mata jasmani yang buta tetapi yang buta adalah mata qalbu….”. (QS Al Hajj 22 : 46)



“Dan barang siapa yang buta mata qalbunya di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS Al Isra’ 17 : 72)


“… seperti gelap gulita di lautan yang dalam dan diliputi ombak yang berlapis-lapis dan diatasnya lagi ada awan hitam yang gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengangkat tangannya tidaklah ia dapat melihatnya, dan barang siapa yang tiada ditunjuki Cahaya Allah, maka tiadalah dia mempunyai Cahaya sedikitpun”. (QS An Nur 24 : 40)


Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang mata batinnya tertutup alias buta, adalah orang tidak melihat Nur Allah, sehingga ia berada dalam Kekafiran (ketertutupan) dan kegelapan (zhulmah). Karena kekafiran atau ketertutupan mata qalbunya tersebut, membuat dirinya tidak ingat atau tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil, yang pada akhirnya dia akan terjerumus dalam perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain. Untuk membebaskan orang tersebut dari keadaan seperti itu, hanya ada satu cara yang bisa ditempuh yaitu dengan “membunuh kekafiran” yang ada pada orang tersebut, sesuai dengan firman Allah :


“Dan sesungguhnya apabila Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari rumahmu, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau melakukannya kecuali sebagian kecil diantara mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka mau melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka karunia (Cahaya) dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus”. (QS An Nisa 4 : 66 – 68)


“… bertaubatlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu, dan bunuhlah dirimu, hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhanmu…..” (QS Al Baqarah 2 : 54)


“Katakanlah : “malaikat maut (tekad atau karep atau keinginan untuk mati) yang diserahi kepadamu akan mematikan kamu, kemudian (saat itu juga) kamu akan kembali menemui Tuhanmu”. (QS As Sajadah 32 : 11)


“Sesungguhnya kamu (harus mempunyai) keinginan (untuk) mati sebelum kamu menghadapi (mati yang sesungguhnya), sekarang sungguh kamu telah melihatnya dan mengalaminya”. 9QS Ali Imran 3 : 143)


“Matikan dirimu sebelum mati” (Al Hadits)


Berdasarkan ayat tersebut, kita diperintahkan untuk memerangi atau membunuh sifat kekafiran (ketertutupan) mata qalbu kita, agar kita dapat melihat Al Haq atau Allah. Inilah yang disebut dengan jihad di jalan Allah dan mati syahid, yaitu mati dalam menyaksikan Al Haq atau Allah. Bagi orang yang sudah mengalami mati syahid maka ia akan menyaksikan Cahaya Allah dan berjalan serta hidup kembali di atas bumi ini dengan dibimbing oleh Cahaya-Nya.


“Dan apakah orang-orang yang sudah mati (syahid) kemudian Kami beri Cahaya, dan dengan Cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang dalam kegelapan yang tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah orang-orang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 122)


Orang-orang yang telah berhasil membunuh sifat kekafiran yang menutupi mata qalbunya, maka Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada Cahaya-Nya. Tetapi jangan ditafsirkan dulu kata “Cahaya” tersebut. Agar tidak mempersempit ruang untuk cahaya. Kita alami, kita rasakan dulu, proses yang membawa kita dari daerah gelap ke daerah yang bercahaya. Rasa sejuk yang menyeliputi kita, rasa segar dan damai yang membebaskan kekalutan pikiran kita, itulah pekerjaan Allah. Dengan kesejukan batin dan kejernihan pikiran, maka Allah mengeluarkan dari kegelapan dan membawa kita ke Cahaya-Nya.


“Dialah yang mengeluarkan mereka (yang menjadikan Allah sebagai Pelindung) dari kegelapan menuju Cahaya”. (QS Al Baqarah 2 : 257)


“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah itu seolah-olah sebuah ceruk yang berisi lampu. Lampu itu ditudungi kaca, dan kacanya bak bintang yang memancarkan sinar gemerlapan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur maupun di barat. Minyaknyapun bercahaya meski tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah menunjukan Cahaya-Nya kepada orang yang menghendaki Cahaya-Nya. Allah membuat parabel-parabel untuk manusia, karena sesungguhnya Dia memiliki ilmu tentang segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)


Orang-orang yang sudah menyaksikan Cahaya Allah dengan mata qalbunya adalah orang yang sudah terbebas dari kekafiran (ketertutupan), maka dia wajib untuk melakukan jihad atau perjuangan yang sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah untuk memerangi kekafiran yang masih menjerat orang-orang disekitarnya. Inilah yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya , bahwa kita wajib memerangi dan membunuh orang-orang yang masih kafir (tertutup) “mata qalbunya” agar mereka mendapatkan pengalaman mati. Karena untuk membuka “mata qalbu” orang-orang kafir maka ia harus dibunuh atau dimatikan terlebih dahulu dengan suatu metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw, yang dikenal dengan nama metode “Husnul Khotimah”.


Orang yang sudah merasakan “mati syahid”, maka ia akan terus berkeinginan mengulang pengalaman tersebut terus-menerus, hal ini dikarenakan mereka sudah merasakan kenikmatan dan kelebihan yang diterima oleh “para syuhada” atau orang yang sudah mengalami mati syahid.


“Seseorang yang meninggal dunia sedang dia mempunyai kebaikan pada sisi Tuhan, tiada menyukai untuk kembali ke dunia, biarpun diberikan kepadanya dunia dan seisinya, kecuali orang yang mati syahid, karena telah dilihatnya kelebihan mati syahid itu. Sesungguhnya dia suka kembali ke dunia lalu terbunuh sekali lagi”. (HR Bukhari)


“Rasulullah Saw bersabda : “Dan demi Tuhan yang diriku ditangan-Nya, sesungguhnya saya amat ingin terbunuh dalam perang di jalan Allah kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh lagi dan dihidupkan lagi, kemudian terbunuh dan dihidupkan lagi dan akhirnya terbunuh lagi”. (HR Bukhari)


“Tuhan tertawa pada dua orang, yang satu membunuh yang lain dan keduanya masuk surga. Yaitu ketika seorang berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh. Kemudian Tuhan menerima taubat orang yang membunuh lalu ia mati syahid”. (HR Bukhari)


Kedua Hadits tersebut di atas apabila dikaji dengan kajian hakikat akan bermakna dalam sekali bagi orang yang mengerti tetapi akan sangat sulit untuk dimengerti oleh orang yang kafir mata qalbunya.


Kembali ke masalah perbedaan di kalangan umat Islam yang berakibat saling mengkafirkan satu sama lainnya, sebenarnya Allah telah membuatkan solusinya, yaitu agar manusia mengembalikan permasalahan tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya.


“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia (masalah itu) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nissa 4 : 59)


Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa apabila kita berbeda pendapat dalam urusan kebenaran, maka perkara itu diselesaikan dengan cara menelaah kembali Al Qur’an dan Al Hadits. Tetapi anehnya setelah mereka sama-sama menelaah permasalahan tersebut ke dalam Al Qur’an dan Al Hadits, tetap saja tidak ditemukan kata sepakat, bahkan perbedaan pendapat diantara mereka semakin tajam saja, walaupun dalil-dalil atau ayat yang dipedomaninya sama. Hal ini sering terjadi di kalangan umat Islam dan juga di kalangan umat beragama lainnya, sehingga kita sering melihat di kalangan umat beragama terjadi perpecahan dan bergolong-golongan dalam memahami ajaran agamanya. Khusus untuk umat Islam, perpecahan di antara umatnya sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad Saw, sesuai dengan sabda beliau :


“Sepeninggalku nanti, umat Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka, hanya satu golongan yang benar yaitu yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Al Hadts)


Seruan untuk kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadits, apabila di kalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat, tidak akan berhasil dengan baik, jika kita belum mendapatkan Petunjuk atau Hidayah dari Allah dalam menelaah dan mengkaji ajaran-ajaran-Nya yang tertuang dalam Kitabullah, karena untuk bisa memahami Kalam Allah di dalam Al Qur’an diperlukan Petunjuk atau Wahyu terlebih dahulu, sesuai dengan firman Allah :


“Dan tidak seorangpun manusia yang dapat memahami Kalimat Allah kecuali dengan bantuan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya siapa yang dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Kitab dan apa iman itu, tetapi Kami jadikan wahyu itu Cahaya, yang dengannya Kami memberi Petunjuk orang-orang yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau menunjuki kepada jalan yang lurus”. (QS Asy Syura 42 51-52)


“Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa menyimpulkan isi Al Qur’an sebelum disempurnakan Wahyu kepadamu, dan katakanlah : “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS Thaha 20 : 114)

“Dan Allah akan menambah Petunjuk kepada mereka yang telah mendapat Petunjuk”. (QS Maryam 19 : 76)

“Dia telah menurunkan para malaikat dan Roh untuk membawa Wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya”. (QS An Nahl 16 : 2)

Berdasarkan ayat tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk membaca wahyu Allah harus dengan wahyu pula, sebab mustahil kita dapat memahami wahyu Allah tanpa menerima petunjuk atau wahyu dari Allah.

“Dan kebanyakan mereka hanyalah mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak dapat mengalahkan kebenaran sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS Yunus 10 : 36)

Untuk mendapatkan wahyu dari Allah, dipelukan usaha yang sungguh-sungguh dari setiap umat manusia untuk mengenal Allah (Ma’rifatullah) dan menemui Allah (Liqa’ Allah), dengan bantuan dan bimbingan dari orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kamu kepada ahli Dzikir jika kamu tidak mengetahui”. (QS An Nahl 16 : 43)