Jumat, 24 April 2009

MEMBACA TANDA-TANDA KEMATIAN


Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”. Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang kebangkitan (ruh dari jasad)……….”. (QS Luqman 31 : 34)

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu…….. “. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :

“Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)

Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.

“Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2 : 180)

“Dan orang-orang yang akan meninggalkan dunia diantaramu dan meninggalkan istri-istrinya hendaklah ia berwasiat untuk istri-istrinya ……….. “. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

“Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

“Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : ”Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan. Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : “Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.


3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.


5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.


7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.


9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.


11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.


13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.


15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang oleh Nur Muhammad ke hadirat Ilahi Rabbi.

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperoleh tanda-tanda ini sehingga beliau menyiapkan dirinya untuk menghadapi datangnya kematian. Beliau menyiapkan dirinya dengan mandi dan berwuduk serta mengkafani tubuhnya, kecuali bagian kepalanya. Kemudian Imam Ghozali meminta kakaknya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk meneruskan mengkafani kepala beliau. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafani bahagian mukanya.



Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)

Jumat, 10 April 2009


MENEMUI ALLAH MELALUI PUASA


Oleh : Abu Irsyad


“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya”. (HR Bukhari)

‘Suatu hari Nabi saw. mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw. Segera memanggilnya. Lalu beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini!” Keruan saja, wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa.” Nabi saw. Berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu? Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan banyaknya orang yang lapar”. ( HR Bukhari)

Dengan hadits tersebut, sebenarnya Rasulullah saw. ingin menyadarkan kaum Muslim tentang hakikat puasa yang sebenarnya.

Istilah “shaum” merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang mempunyai arti “menahan, mengekang atau mengendalikan (al-imsak) sedang istilah puasa adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta yang mempunyai arti menyiksa.
Dari pengertian tersebut, terlihat dengan jelas perbedaan arti dari kedua istilah itu. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia, kedua istilah itu mempunyai arti yang sama. Yaitu menahan diri atau mengendalikan dari apa saja, termasuk dari aktivitas inderawi, salah satu contohnya adalah puasa berbicara. Hal ini dapat disimak dari ucapan wanita suci, Maryam a.s., tatkala dirinya diberondong pertanyaan perihal kelahiran putranya, ‘Isa al – Masih a.s., yang tanpa ayah itu

“ …. Sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun hari ini (QS Maryam 19 : 26)

Dalam ayat ini, Maryam a.s. menggunakan kata puasa (shaum) untuk sikap yang diambilnya, yakni tidak mau berbicara dengan siapa pun. Sementara itu, menurut istilah fiqih, puasa berarti “menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sepanjang hari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.”

Tampaknya puasa dalam pengertian seperti itulah yang dipahami sahabat wanita yang ditegur nabi Saw. Dalam riwayat di awal bab ini. Memang, tidak terlalu salah bila hal itu didasarkan pada ukuran fiqih. Sebab, sebagaimana diketahui, fiqih hanya mengatur persoalan-persoalan lahiriah atau esoteris semata. Menurut fiqih, puasa yang demikian itu sah, sekalipun hanya dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Dengn demikian, kewajiban puasa seseorang pun telah tertunaikan. Namun, ini terang saja tidak memadai bila diukur dengan menggunakan parameter Sunnah Nabi. Oleh karena itu, kaum arif (‘urafa’) membagi puasa dalam beberapa tingkatan, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini.

Menurut A. Hajar Sanusi, kaum arif memilah puasa dalam tiga kategori : puasa perut, puasa lisan, dan puasa qalbui. Puasa perut adalah puasa dalam pengertian para ulama fiqih (fuqaha). Puasa jenis ini hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dan tidak lebih dari itu, sementara mata, telinga, lidah, dan anggota tubuh lainnya tetap bebas tanpa kendali. Dalam terminologi Imam Al Ghazali, puasa seperti ini disebut puasa awam.

Dalam khutbah menjelang bulan Ramadhan, Nabi Saw. dengan jelas mengatakan : “Peliharalah lidahmu, tundukan pandanganmu dari sesuatu yang matamu tidak dihalalkan melihatnya, dan palingkan pendengaran dari sesuatu yang haram untuk didengar telingamu” (HR Bukhari).

Karena itu, puasa tentu saja tidak bernilai di mata Allah dan tidak akan menghasilkan apa pun. Paling banter, yang dihasilkannya hanyalah lapar dan dahaga saja. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Saw :

“Alangkah banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga semata” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Tingkatan puasa yang lebih tinggi dari puasa perut adalah puasa lisan. Imam Abi Thalib menegaskan, “Puasa lisan lebih baik dari pada puasa perut”. Puasa lisan adalah puasa seperti yang didefinisikan para ulama fiqih, dibarengi dengan upaya mengendalikan mata, telinga, lidah, dan dan seluruh anggota tubuh dari segala yang diharamkan Allah. Dalam sebuah riwayat, misalnya disebutkan, bahwa Abu Abdillah r.a. (Imam Ja’far ash-Shadiq) berkata, “Jika engkau berpuasa, maka puasakan pula pendengaran, penglihatan, san kulitmu. Janganlah samakan hari puasamu dengan hari berbukamu”.

Dalam riwayat lain, Imam Ja’far ash-Shadiq r.a mengatakan, “Jika engkau berpuasa, maka kendalikan pendengaran dan penglihatanmu dari segala sesuatu yang diharamkan. Tahanlah seluruh anggota tubuhmu dari segala keburukan. Tinggalkan perilaku yang dapat melukai perasaan pelayanmu, dan bila mampu, diamlah dari segala pembicaraan, kecuali untuk mengingat Allah (dzikrullah). Jangan jadikan hari-hari puasamu seperti hari-hari fitrahmu”.

Puasa lisan (Imam Al Ghazali menyebutnya puasa khusus) memang bukan pekerjaan mudah. Untuk menjalankan puasa itu, selain niat dan tekat yang kuat, diperlukan juga pertolongan dari Allah. Agaknya, tidak terlalu mengherankan bila mana Imam Ali Zainal ‘Abidin senantiasa memanjatkan permohonan agar Allah berkenan menyertainya dalam menjalankan ibadah yang satu ini setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Simak, misalnya doa beliau berikut ini : “Ya Allah, ilhamkan kepada kami untuk mengenal karunianya, mengagungkan kesuciannya, dan menjaga apa yang dilarangnya. Bantulah kami untuk menjalankan puasanya, dengan menahan anggota badan dari maksiat kepada-Mu dan menggunakannya untuk apa yang diridhai-Mu, agar telinga kami tidak kami arahkan kepada kesia-siaan, dan mata kami tidak kami pusatkan pada kealpaan; tangan kami tidak kami ulurkan pada larangan dan kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan, agar perut kami tidak kami isi kecuali yang Kau-halalkan dan lidah kami tidak berbicara kecuali yang Kau contohkan. Demikian rintihan Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin. Beliau yakin betul bahwa, untuk mencapai puasa tingkatan ini, diperlukan bantuan dan pertolongan dari Allah. (A. Hajar Sanusi 2001)

Tingkatan puasa terakhir adalah puasa qalbu. Inilah tingkatan puasa paling tinggi. Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Puasa qalbu dari segala pikiran yang menyebabkan terjatuh pada dosa jauh lebih baik dari puasa lisan. Sementara itu, puasa lisan lebih baik daripada puasa perut”. Puasa qalbu dalam pandangan Sayidina Ali identik dengan puasa khushush al-khushush menurut Imam Al Ghazali. Inilah gabungan puasa jenis pertama dan puasa jenis kedua plus “puasa dari segala kecenderungan yang rendah dan pikiran yang bersifat duniawi, serta memalingkan diri dari segala sesuatu selain Allah: (Ihya’ ‘Ulumiddin, 1 : 277). Dalam tingkatan ini, puasa sudah dianggap batal hanya lantaran pikiran tertuju kepada sesuatu selain Allah seperti, misalnya, memikirkan perihal dunia bila hal itu tidak dimaksudkan sebagai wasilah untuk mencapai kehidupan di kampung akhirat nanti.

Demikianlah tingkatan-tingkatan puasa dalam pandangan kaum arif. Sebuah pertanyaan menarik segera mengemuka : Puasa tingkat manakah yang mempunyai kemungkinan besar mencapai tujuannya seperti dinyatakan Al Qur’an? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan puasa.

Puasa bertujuan untuk manusia yang bertakwa. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya dan juga Hadits :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. (QS Al Baqarah 2 : 183)

“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya “. ( HR Bukhari)

“Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badan mu telanjang, mudah-mudahanan qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini”. ( HR Bukhari)

Berdasarkan dalil tersebut, terlihat dengan jelas bahwa puasa yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan kewajiban yang juga diperintahkan oleh Allah kepada umat sebelum Nabi Muhammad Saw. menjadi Rasul. Hal ini berarti ada persamaan antara puasa umat Islam dengan puasa umat sebelumnya, tetapi pertanyaannya, puasa yang seperti apa ? Kemudian, dalil tersebut juga menjelaskan bahwa tujuan orang berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa. Apakah yang dimaksud dengan takwa ? Dalam dalil tersebut juga dijelaskan bahwa orang berpuasa akan mendapat kenikmatan yaitu kenikmatan saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya. Puasa yang bagaimanakah yang dapat menghantarkan kita bertemu dengan Tuhan kita ?

Kata takwa merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang arti sebenarnya adalah memelihara atau menjaga. Tujuan dari orang yang berpuasa adalah agar ia bisa memelihara iman yang telah ditanam oleh Allah dalam qalbunya agar ketika ia meninggal dunia tetap dalam keadaan beriman kepada Allah. Apakah iman itu ? Pada hakikatnya iman itu adalah Nur Allah yang telah disaksikan oleh setiap orang yang beriman ketika ia bertemu dengan Allah untuk pertamakalinya. Pertemuan dengan Allah itu dapat terjadi lantaran ia melakukan ibadah puasa. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. bahwa ibadah puasa dapat digunakan sebagai sarana untuk bertemu dengan Allah, dan pertemuan tersebut merupakan pengalaman yang sangat menggembirakan bagi para pelaku puasa.

Banyak ulama yang berpendapat bahwa kegembiraan bertemu dengan Tuhan karena melakukan ibadah puasa, didapatkan nanti ketika kita berada di akhirat kelak, sehingga banyak umat Islam tidak peduli lagi dengan puasanya apakah dapat menghantarkan kepada pertemuan dengan Tuhan atau tidak. Padahal hadits tersebut tidak menjelaskan pertemuan dengan Allah itu nanti. Akan tetapi pertemuan dengan Allah itu terjadi ketika orang itu berpuasa. Maka merugilah orang yang berpuasa tetapi tidak merasakan kegembiraan dan kenikmatan bertemu dengan Tuhannya.

“Berapa banyak orang melakukan puasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga semata”. (HR An Nasai dan Ibnu Majah)

Dengan tegas Al Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyaful Mahjub mengatakan : “ Buah lapar adalah menyaksikan Allah (musyahadah), sedangkan caranya adalah penundukan hawa nafsu. (mujahadah). Kenyang yang dipadu dengan menyaksikan Allah (musyahadah) lebih baik daripada lapar yang terpadu dengan mujahadah, karena menyaksikan Allah adalah medan perang manusia sementara mujahadah adalah tempat bermain anak-anak. Kemudian beliau menceritakan bahwa dirinya telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. dan memohon kepada beliau untuk memberikan nasihat dan Rasulullah Saw. menjawab : Tahanlah lidahmu dan indera-inderamu”.

Menurut Al Hujwiri, menahan indera-indera adalah mujahadat yang sempurna, karena semua pengetahuan diperoleh melalui panca indera : penglihatan,pendengaran, pengecapan, penciuman dan perabaan. Empat dari indera-indera itu mempunyai suatu tempat yang khusus, tetapi yang kelima, yakni perabaan, tersebar ke seluruh badan. Segala sesuatu yang diketahui oleh manusia melewati pintu ini, kecuali pengetahuaan intuitif dan ilham Tuhan, dan pada masing-masing terdapat kesucian dan ketidaksucian. Karena, sebagaimana terbuka bagi pengetahuan, akal dan ruh, demikaian pula mereka terbuka bagi imajinasi dan hawa nafsu yang merupakan organ-organ yang berperan dalam ketaatan dan dosa, juga berperan dalam kebahagiaan dan penderitaan. Karena itu, bagi orang yang melakukan puasa untuk memenjarakan semua indera itu agar mereka biasa berpaling dari ketidaktaatan kepada ketaatan. Berpantang hanya dari makanan dan minuman adalah permainan anak-anak. Orang harus berpantang dari kesenangan-kesenangan yang tidak berguna dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan, bukan dari makanan yang halal
.

Senin, 23 Maret 2009

MILIKILAH............! BUKU KARYA ABU IRSYAD : JALAN MENUJU MA'RIFATULLAH


JUDUL BUKU :
JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH AJARAN RAHASIA SUNAN KUDUS TENTANG TANDA-TANDA KEMATIAN

PENULIS :
ABU IRSYAD

PENERBIT :
PUSTAKA ALADDIN

HARGA :
Rp.30.000.

Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma'rifatullah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma'rifatullah akan banyak manfaatnya". (Al Hadits)

"Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu melihat tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan kerabatnya, jika ia meninggalkan harta. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa". (QS Al Baqarah 2:180)

Salah satu ajaran Sunan Kudus adalah ajaran tentang ma'rifatullah dan kematian. Menurut Sunan Kudus, orang yang akan meninggal dunia harus mengetahui tanda-tanda kematian yang datang pada dirinya. Tanda-tanda kematian itu akan deketahui jika orang tersebut telah mencapai derajat ma'rifatullah. Sudahkah kita mengetahui kapan akan meninggal dunia? Inilah rangkaian pertanyaan yang harus dijawab dengan hati nurani yang penuh kejujuran.

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan diatas, milikilah buku ini. Inilah sebuah buku yang pertama kali membuka rahasia ajaran Sunan Kudus tentang tanda-tanda kematian yang akan diketahui oleh diri kita. Selamat membaca!
PEMESANAN HUBUNGI :
PUSAT KAJIAN TASAWUF
NURUL KHATAMI
JL. DELIMA III/9/179 RT 011/03 MALAKASARI PERUMNAS KLENDER JAKARTA TIMUR
TELP : 44263370 - 93448685 - 081585246371
Cara Pemesanan : Kirimkan via sms, nama dan alamat lengkap serta buku yang akan dipesan. Paket buku akan kami kirim via Pos. Biaya kirim dan uang buku, dapat ditransfer ke BCA norek 6330413563 a.n. Kuswanto atau Bank Mandiri norek 1250006488068 a.n. Kuswanto.

MILIKILAH.......! BUKU KARYA ABU IRSYAD : MENYINGKAP RAHASIA SHOLAT DAN PUASA SEBAGAI SARANA MENEMUI ALLAH



JUDUL BUKU :

MENYINGKAP RAHASIA SHOLAT DAN PUASA SEBAGAI SARANA MENEMUI ALLAH


PENULIS :
ABU IRSYAD


PENERBIT :
PUSTAKA ALADDIN


HARGA :
Rp. 40.000.

"Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka kerjakanlah amal shalih". (Al Kahfi 18:110)

"Shalat itu Mi'rajnya orang Mu'min". (Al Hadits)

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka, dan kegembiraan ketika menemui Tuhannya". (HR Bukhari)

Bagaimana agar keyakinan kita kepada Allah semakin kuat dan semakin kokoh tak tergoyahkan. Hanya dengan pembukitan dalam pengalaman spriritual-lah keyakinan itu tak tergoyahkan. Pengalaman dalam penyaksian, pengalaman untuk bertatapan langsung dengan Allah Yang Maha Indah. Yang menjadi pertanyaan banyak orang saat ini adalah apakah Allah dapat disaksiakn? Apakah umat manusia saat ini mampu bertemu dengan Allah Sang Kekasih? Bagaimanakah caranya? Bagaimanakah peranan shalat dan puasa sebagai sarana untuk menemui Allah? Apakah pertemuan itu terjadi saat di dunia ini ataukah nanti setelah meninggal dunia?

Temukan jawaban semua pertanyaan diatas, pastinya dengan membaca dan menggali buku ini. Insya Allah semua pertanyaan tersebut dengan gamblang terungkap dengan dalil-dalil yang dikupas dalam buku ini. Simak pula ulasan pengalaman spiritual para pendahulu kita, para Nabi dan Salafus Shalih serta para bijak yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Disertai juga kupasan mengenai teknik efektif untuk mengakses energi Nur Illahi untuk penyembuhan. Selamat membaca!


PEMESANAN HUBUNGI :


PUSAT KAJIAN TASAWUF NURUL KHATAMI

JL. DELIMA II GG 9 NO 179 RT 011/03 PERUMNAS KLENDER JAKARTA TIMUR
TELP : 44263370 - 93448685 - 081585246371

MILIKILAH ......! BUKU KARYA ABU IRSYAD : " CARA MUDAH MELIHAT ALLAH DI DUNIA


Judul Buku :
Cara Mudah Melihat Allah di dunia.

Penulis :
Abu Irsyad

Penerbit :
Pustaka Aladdin

Harga :
Rp. 30.000.


Wajah-wajah (orang mu'min) pada hari itu bercahaya. Kepada Tuhannya mereka melihat". (QS Al Qiyamah 75:22-23)


"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti melihat cahaya bulan purnama. Kalian tidak akan merasa ragu-ragu dalam melihat-Nya. (HR Bukhari dan Jabir bin Abdillah)


Sudahkah kita melihat Allah, ketika ita bersyahadat? ketika kita mengerjakan ibadah shalat? ketika kita mengerjakan ibadah puasa? ketika kita berzakat? ketika kita mengerjakan ibadah haji?


Inilah rangkaian pertanyaan yang harus kita renungkan dan kita jawab sendiri dengan hati nurani yang penuh kejujuran. jika kita selama ini belum pernah melihat Allah, ketika mengerjakan ibadah yang terangkum dalam rukun islam tersebut, dan kita rindu untuk bertemu dengan Allah dan ingin melihat Allah di dunia ini, maka cari tahulah dengan menggali dan memiliki buku ini.


Inilah sebuah buku yang pertama kali membuka rahasia metode yang sangat praktis dan sederhana untuk melihat Allah, selagi kita masih hidup di atas dunia ini, yang selama ini metode tersebut disembunyikan. Simak pula kupasan tentang rahasia hakikat "Poligami" dalam pandangan kaum Sufi. Selamat membaca!


PEMESANAN HUBUNGI :


PUSAT KAJIAN TASAWUF NURUL KHATAMI

NO TELP 44263370 - 93448685 - 081585246371

BIMBINGAN SINGKAT MENEMUI ALLAH


TEKNIK EFEKTIF
UNTUK MERAIH PENCERAHAN CAHAYA ILAHI SEKETIKA

“ DZIKIR KHATAMI “

“Dzikir Khatami” adalah sebuah teknik kunci yang terdapat di dalam Al Qur’an. Teknik ini memungkinkan praktisinya mencapai ma’rifatullah dengan seketika. Tidak peduli sebatas apa pengetahuan Anda, dengan mempraktekkan metode yang kami ajarkan, pengalaman menakjubkan yang selama ini hanya bisa anda baca dari buku-buku spiritual akan Anda alami sendiri. Kami jamin!

INSTRUKTUR :
ABU IRSYAD

Setiap hari Sabtu,
14.00 s/d 22.00 WIB

Sekretariat Pusat Kajian Tasawuf Nurul Khatami
Jl Delima III Gg 9 No 179 Rt 011 Rw 03
Kelurahan Malakasari Perumnas Klender Jakarta Timur
Telp. 44263370 – 93448685 - 081585246371

INVESTASI :
Rp. 250.000,- / orang
(termasuk Buku dan hidangan berbuka)


MANFAAT LOKAKARYA :

· Mengalami ma’rifatullah tanpa perlu laku tarikat bertahun-tahun.

· Melejitkan kecerdasan spiritual (SQ) dengan membuka akses langsung ke Cahaya Ilahi yang tidak lain adalah sumber dari kecerdasan spiritual (SQ) manusia.

· Tersingkapnya 70 ribu hijab antara manusia dan Tuhan

· Melatih jiwa menyusuri jalan pulangnya menuju Allah kelak dengan mengenalinya sedari kita masih hidup.

· Dapat mengetahui datangnya tanda-tanda kematian setahun sebelum wafat.

· Menghemat investasi yang perlu anda keluarkan untuk membeli buku-buku spiritual dan “berburu” Guru Ruhani tanpa sebuah kepastian hasil.

Apakah setiap orang bisa mengalami ma’rifatullah, dan setelah berapa lama ?
Tentu setiap orang bisa mengalami. Umumnya peserta akan langsung mengalami ma’rifatullah sejak kali pertama praktek sampai seterusnya kapanpun ia mempraktekkan teknik ini.

Apakah teknik Dzikir Khatami tidak bertentangan dengan syariat agama?
Sama sekali tidak. Teknik ini bersumber dari Al-Qur’an yang didukung temuan sains mutakhir dan tidak mengandung satu unsurpun yang bertentangan dengan syariat agama.


RAIH PENGALAMAN MA’RIFATULLAH ANDA SEKARANG JUGA !

Selasa, 17 Maret 2009


MENGENALI KEBENARAN YANG HAKIKI

Oleh : Abu Irsyad

Seluruh umat manusia di muka bumi ini telah menyadari bahwa ada Satu Kekuatan Yang Maha Besar, yang telah menciptakan, mengatur dan memelihara Alam semesta ini beserta segala isinya. Tetapi sayangnya, keyakinan itu tidak diteruskan dengan upaya untuk membuktikan sekaligus mengenal kepada Keberadaan Dzat yang mempunyai Kekuatan Yang Maha Besar tersebut, sehingga pada akhirnya keyakinan akan adanya Sang Maha Pencipta itu, hanya sekedar menjadi kepercayaan yang bersifat “lipstick” atau sebatas di mulut saja, tanpa mengakar di dalam Rohani dan aktivitas kehidupan umat manusia.

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya….,” (QS Al Hajj 22 : 74)

“….. kecuali hanya menyembah Asma-Nya yang kamu dan nenek moyangmu kamu buat-buat….” (QS Yusuf 12 : 40 ).

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas huruf atau tulisan … “. ( QS Al Hajj 22 : 11 )

Ketika terlahir di atas dunia, kita sudah dihadapkan oleh nilai-nilai kemasyarakatan, agama, dan moral yang mau tidak mau kita telah berada di dalamnya dan kita dituntut untuk mengambil sikap, apakah sikap menerima, menolak ataupun sikap netral terhadap nilai-nilai tersebut. Tetapi harus diingat, bahwa kita terlahir di atas dunia ini sebagai salah satu dari suku atau ras bangsa tertentu yang ada di dunia ini, yang yang menentukannya adalah bukan diri kita sendiri. Begitu pula tentang kelahiran kita sebagai seorang anak bayi di dalam sebuah keluarga, apakah keluarga itu beragama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha ataupun sebuah keluarga yang tidak beragama, proses itu semuanya yang menentukan bukan diri kita sendiri. Setelah kita lahir dan menginjak usia akhil baligh barulah kita secara perlahan-lahan menyadari bahwa kita telah ditakdirkan menjadi apakah itu orang Eropa, Asia, Amerika, Australia atau orang Afrika. Begitu pula dengan agama orang tua kita. Dan biasanya, orang tua kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai agama yang dianutnya kepada kita (anaknya) sendini mungkin, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar kita telah memeluk agama yang dianut oleh orang tua kita. Inilah yang disebut bahwa kita beragama karena keturunan.

Setelah menginjak dewasa, barulah kita menggunakan akal dan kehendak yang merdeka untuk mencermati kembali agama yang kita anut sejak kecil, sehingga saat itulah kita memulai proses pencarian terhadap kebenaran yang Absolut. Tetapi sayangnya, sebagian besar manusia sudah puas dengan agama yang dianutnya tanpa mau mencermati kebenaran agama yang dianutnya, bahkan yang lebih parah lagi mereka terjebak dalam sikap fanatik buta terhadap agamanya masing-masing, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap saling membenarkan agamanya masing-masing dan menyalahkan agama orang lain,padahal umat manusia itu sebenarnya adalah umat yang satu.

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (QS Yunus 10 : 19)

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran, untuk memberikan keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman tentang hal yang mereka perselisihan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada Jalan yang Lurus”. (QS Al Baqarah 2 : 213)

Beda pendapat diantara manusia tentang kebenaran adalah suatu hal yang manusiawi dan wajar, hal ini sesuai dengan firman Allah, yakni :

Sesungguhnya kamu sekalian selalu dalam keadaan berbeda-beda pendapat”. (QS Adz Azariyaat 51 : 8)

Perbedaan pendapat tentang suatu kebenaran, diantara umat manusia sangat dimaklumi oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :

“Perbedaan pendapat didalam umatku adalah rahmat”. (Al Hadits)

Tetapi perbedaan pendapat yang menjurus kepada perpecahan dan permusuhan, sangatlah dibenci Allah.

“…janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar Ruum 30 : 32 – 32).

Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat simpulkan bahwa salah satu sifat orang yang menyekutukan Allah adalah orang-orang yang suka memecah belah agamanya dan ia merasa paling benar, paling suci dari golongan lainnya. Seluruh golongan di luar golongannya dianggapnya sebagai golongan batil dan ia bangga atas kebenaran golongannya. Padahal, Yang Paling Haq, Yang Paling Suci adalah Allah SWT sajalah sebagai satu-satunya Dzat yang menjadi sesembahan umat manusia.

“….sesungguhnya Allah adalah kebenaran (Al Haq) dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. (QS Luqman 31 : 30).

“…kebenaran itu datangnya dari Allah….” ( QS Al Baqarah 2 : 147 ).
Ayat-ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa Al Haq yang sebenarnya adalah Allah sendiri. Jadi sangatlah keliru apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar, atau mereka mengaku bahwa golongannya yang paling benar. Bahkan berdasarkan ayat tersebut di atas, orang atau golongan yang mengklaim atau mengaku paling benar, sebenarnya justru telah menyekutukan Allah, karena ia atau mereka telah mensejajarkan dirinya atau golongannya setara dengan Allah. Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an :

“….tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS An Najm 53 : 32)

Jadi, janganlah kita mengklaim bahwa diri atau golongan kitalah yang paling benar, haq dan suci, sedangkan orang lain atau golongan lain dianggap batil, salah, tidak suci dan kafir. Sebab, yang paling mengetahui siapa yang haq, benar dan siapa yang termasuk kafir atau batil, adalah hanya Allah SWT sajalah yang dapat mengetahuinya.

“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Kembali ke masalah perbedaan di kalangan umat manusia, sebenarnya Allah telah membuatkan solusinya, yaitu agar manusia mengembalikan permasalahan tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia (masalah itu) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nissa 4 : 59)

Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa apabila kita berbeda pendapat dalam urusan kebenaran, maka perkara itu diselesaikan dengan cara menelaah kembali Al Qur’an dan Al Hadits. Tetapi anehnya setelah mereka sama-sama menelaah permasalahan tersebut ke dalam Al Qur’an dan Al hadits , tetap saja tidak ditemukan kata sepakat, bahkan perbedaan pendapat diantara mereka semakin tajam saja, walaupun dalil yang dipedomaninya sama. Hal ini sering terjadi di kalangan umat Islam dan juga di kalangan umat beragama lainnya, sehingga kita sering melihat di kalangan umat beragama terjadi perpecahan dan bergolongan dalam memahami ajaran agamanya. Khusus untuk umat Islam, perpecahan di antara umatnya sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan sabda beliau :

“Sepeninggalku nanti, umat Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka, hanya satu golongan yang benar yaitu yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Al Hadts)

Seruan untuk kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadits, apbila di kalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat, tidak akan berhasil dengan baik, jika kita belum mendapatkan Petunjuk dari Allah dalam menelaah dan mengkaji ajara-ajaran-Nya yang tertuang dalam Kitabullah, karena untuk bisa memahami Kalam Allah di dalam Al Qur’an diperlukan Petunjuk atau Wahyu terlebih dahulu, sesuai dengan firman Allah :

‘Dan tidak seorangpun manusia yang dapat memahami Kalimat Allah kecuali dengan bantuan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya siapa yang dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Kitab dan apa iman itu, tetapi Kami jadikan wahyu itu Cahaya, yang dengannya Kami memberi Petunjuk orang-orang yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau menunjuki kepada jalan yang lurus”. (QS Asy Syura 42 51-52)

“Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa menyimpulkan isi Al Qur’an sebelum disempurnakan Wahyu kepadamu, dan katakanlah : “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS Thaha 20 114)

“Dan Allah akan menambah Petunjuk kepada mereka yang telah mendapat Petunjuk”. (QS Maryam 19 : 76)

“Dia telah menurunkan para malaikat dan Roh untuk membawa Wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya”. (QS An Nahl 16 : 2)

Berdasarkan ayat tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk membaca wahyu Allah harus dengan wahyu pula, sebab mustahil kita dapat memahami wahyu Allah tanpa menerima petunjuk atau wahyu dari Allah.

“Dan kebanyakan mereka hanyalah mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak dapat mengalahkan kebenaran sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS Yunus 10 : 36)

Untuk mendapatkan wahyu dari Allah, dipelukan usaha yang sungguh-sungguh dari setiap umat manusia untuk mengenal dan menemui Allah, dengan bantuan dan bimbingan dari orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kamu kepada ahli Dzikir jika kamu tidak mengetahui”. (QS An Nahl 16 : 43)