Rabu, 27 April 2016

Sastra Sufi

Bagi umat Islam, syair atau puisi diyakini sebagai sebagai sarana untuk mengungkapkan berbagai pengalaman dalam berhubungan dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan alam semesta. Pada zaman Rasulullah SAW, banyak sahabat yang piawai dalam membuat syair untuk membela Islam dan Nabi-Nya dalam menghadapi para penyair yang mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad SAW pada waktu itu. Bahkan keberadaan para penyair tersebut diabadikan dalam Al Qur’an dengan Surat Asy Syu’ara ( Penyair-Penyair ).
Sampai saat ini dalam Islam, terjadi perdebatan yang tidak kunjung habis mengenai haram dan halalnya keberadaan syair dalam mengungkapkan pengalaman beragamanya. Tetapi fakta sejarah membuktikan bahwa para sahabat yang piawai dalam bersyair, sering membela Nabi Muhammad SAW dengan menciptakan syair-syair yang indah, untuk membantah tuduhan para penyair-penyair kafir Qurais yang mendiskreditkan ajaran Islam dan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Bahkan, Imam Muslim dalam kitab haditsnya meriwayatkan, ketika pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW memasuki kota Mekkah pada peristiwa Futuh Makiyah, para penduduk kota Mekah naik ke atas atap rumahnya masing-masing sambil memukul rebana, mereka bersyair :

Telah datang Sang Rembulan
Dari gunung Tsaniyatil Wada
Dan kami berterima kasih
Kepada seruan dari sang penyeru
( HR Muslim )

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, dapat kita simpulkan bahwa fungsi serta tujuan pembuatan syair-syair itulah yang membedakan mana syair yang termasuk kategori syair yang positif dan syair yang negatif. Ketika syair itu dibuat dengan tujuan untuk menyesatkan manusia dari kebenaran, maka syair tersebut masuk dalam kategori syair yang negatif, tetapi sebaliknya, ketika syair itu ditulis dengan bahasa yang indah dan bermakna d serta bertujuan untuk mengajak manusia mengenal kebenaran maka syair tersebut masuk dalam syair yang positif. Jadi syair merupakan alat yang dapat dipergunakan untuk kebaikan atau sebaliknya dipergunakan untuk keburukan, yang semua tergantung dari niat dan tujuan si penyair tersebut.

Ketika seorang sufi menceritakan pengalaman rohaninya saat bertemu dengan Tuhannya, seringkali ia mengisahkannya dengan memakai syair yang penuh kata penuh tamsil. Tanpa disadari ia telah menjadi sastrawan, yang dalam dunia Islam karyanya sering disebut dengan nama Sastra Sufi. Dan biasanya buah karya sastrawan sufi tersebut sulit untuk dipahami maknanya oleh orang awam, oleh karena itu perlu pembimbing yang ahli dalam bidang tersebut untuk memahami puisi-puisi karya sastrwan sufi tersebut. Begitupula, buah karya Masridrani Wjayakusuma yang sedang akan anda baca ini, penuh dengan kata-kata kalam ibarat, yang merupakan buah dari olah batin selama pengembaraan menjumpai Tuhannya di Lembah Suci Thuwa setelah ia menanggalkan kedua terompahnya.

Syair, sajak atau puisi yang tersusun dari rangkaian kata yang penuh tamsilan dan kalam ibarat memang seringkali menjadi sarana yang efektif untuk melukiskan sebuah pengalaman. Tak terkecuali pengalaman rohani seorang Masridrani Wijayakusuma dalam pengembaraan menemui Tuhannya, yang bisanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata biasa. Karena pengalaman spiritual atau rohani adalah pengalaman dalam pengembaraan di dunia simbol, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah dewasa akalnya ( jiwanya ), hal ini tercermin puisinya yang berjudul : Dewasa Akal.

Dunia benda (kenyataan)
Hanya diperuntukkan bagi mereka
Yang belum dewasa akalnya (anak-anak)

Dunia syimbol (perumpamaan),
Hanya diperuntukkan bagi mereka
Yang sudah dewasa akalnya (jiwanya)

Yaitu mereka yang berpikiran progresif’
Oleh karena itu gapailah
Dan fahamilah dunia syimbol (perumpamaan)
Untuk mencapai dunia nyata yang sejati

Dalam puisinya tersebut, seorang Masridrani Wijayakusuma, mengajak para pembaca dan kita semua, menggapai dunia syimbol dan sekaligus memahaminya, agar kita dapat mencapai dunia nyata yang sejati. Karena dunia benda adalah bayangan atau zhilah dari dunia nyata yang sejati. Allah-pun dalam menyampaikan pesan-pesannya dalam Al Qur’an sering menggunakan bahasa simbol :

“ Sungguh Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan, lalu kebanyakan manusia enggan menerimanya kecuali ingkar “. ( QS Al Isra 17 : 89 )

“ Dan sungguh telah Kami adakan bagi manusia di dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan jika engkau datang kepada mereka dengan membawa bukti, niscaya orang-orang kafir berkata, “ Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang merusak “. ( QS Ar Rum 30 : 58 )

Orang yang sudah mengembara di dalam dunia nyata yang sejati, ingin sekali membagi pengalamannya tersebut kepada orang lain. Tetapi untuk mengungkapkan dunia nyata yang sejati itu tidaklah mudah, oleh karena itu mereka para pengembara rohani, memilih kata-kata perumpamaan dalam bentuk rangkaian puisi sebagai sarana menyampaikan dan sekaligus mengajak para pembaca untuk mendapatkan pengalaman dunia sejati tersebut, yang harus didahului dengan perjumpaan dengan Ilahi Rabbi.

Mungkinkah kita dapat berjumpa dengan Ilahi Robbi diatas dunia ini ? Inilah pertanyaan yang menjadi perdebatan umat manusia sepanjang zaman. Tetapi seorang Masridrani Wijayakusuma mengungkapkannya dengan lugas dalam sebait syair : Tuhanku Dalam Jubah Terdalamku.

Tuhanku
Aku bisa menyaksikan-Mu
Karena karunia-Mu
Kasih dan sayang-Mu
Sungguh ingin aku menemui-Mu
Dalam jubah terdalamku

Dalam syair tersebut, ia ingin memberitahukan kita, bahwa sebuah pengalaman menemui dan menyaksikan Tuhan adalah sebuah keniscayaan apabila Tuhan menghendaki hal itu kepada seorang hamba-Nya yang dikasihi dan disayangi-Nya. Dan dalam Al Qur’an Allah memberikan peluang tersebut

“ Kembalilah kamu kepada Tuham-mu dan berserah dirilah kamu kepada-Nya sebelum datang kepada kamu azab kemudian kamu tidak tertolong lagi “. ( QS Az Zumar 39 : 54 )

‘ Dan segeralah kamu kembali kepada Tuhanmu…. “ ( QS Adz Dzariyat 51 : 50 )

“…barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka kerjakanlah amal yang sholeh … “. ( QS Al Kahfi 18 : 110 )

Akan tetapi sebagai sebuah karya sastra, bait-bait puisi yang ditorehkan oleh para sufi, tidak terkecuali karya Masridrani Wijayakusuma ini, seringkali tak mudah dipahami maksudnya oleh para pembaca dan pendengarnya, sehingga kadang melahirkan tuduhan sesat atau zindik seperti yang telah terjadi pada Al Hallaj. Untuk itu dalam menyimak syair mereka harus terlebih dahulu menyelami makna batinnya, jangan hanya melihat pada makna lahirnya. Ibarat kerang mutiara, puisi mereka harus terlebih dahulu dibuka kulitnya untuk dapat mengetahui isinya. Jangan terlena dengan keindahan bahasa, karena biasanya itu cuma ungkapan simbolik, Masridrani Wijayakusuma mengingatkan hal ini dalam syairnya yang berjudul : Bahasa Kata

Bahasa kata, manusia yang membuatnya
Bahasa kata, aneka ragam sulit dicerna
Bahasa Tuhan hanya sedikit yang menerima
Bahasa Tuhan sembunyi tidak nyata

Kalimat terurai menjadi kata-kata
Kata-kata terurai menjadi huruf
Huruf terurai menjadi titik
Titik menerangkan bahasa Tuhan

Janganlah terbelit dengan bahasa
Janganlah melihat figur yang berkata
Cerna yang disampaikan, saring dalam ketenangan
Lihatlah dirimu dalam keheningan batin
Pilih dan bijaklah agar jadi sang arifin

Titik mencercahkan pandangan batin
Membesar menjadi megah bak sinar rembulan
Tercapai kurnia dengan tekat dan kesungguhan

Dengan syair tersebut, sekali lagi, Masridrani Wijayakusuma, mengajak kita untuk tidak terbelit dengan bahasa. Tetapi carilah Titik yang akan menerang bahasa Tuhan, kata beliau. Karena, meminjam kata seorang filosof : “ Small is Beautiful “, Titik Kecil itu Indah maka carilah Keindahan dan Keagungan itu dalam Titik, itulah Titik ba.

Hanya kepada Allah semata kita memohon bimbingan dan pertolongan-Nya, agar supaya upaya sebesar dzarrah ini dapat memberikan Setitik Cahaya Terang bagi umat Islam dalam menggali Rahasia Tuhannya. Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Kuasa memberi Petunjuk dan Kuasa mengabulkan segala harapan hamba-Nya.

“ Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami Cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu “

Rabu, 13 April 2016

Hakikat Pernikahan Sebagai Sarana Menemui Allah

Dalam Al Qur’an dan hadits, Allah telah menjelaskan secara tersirat tentang metode untuk menemui Allah (Liqa’ Allah) dan melihat Allah (Ru’yatullah) yaitu :
“....... barang siapa yang mengharapkan menemui Tuhannya, maka kerjakanlah amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada-nya”. (QS Al Kahfi 18 : 110)
Pada ayat tersebut di atas terdapat kalimat “amal yang shalih”. Mungkin kita bertanya dalam hati, apakah yang dimaksud dengan “amal yang shalih” itu ? Kata “amal” mempunyai arti perbuatan atau metode atau cara. Sedangkan istilah “shalih” yang seakar dengan kata “shalah” dan “shalat” mempunyai makna hubungan atau penghantar. Jadi istilah “amal shalih” mempunyai arti suatu perbuatan atau metode yang dapat menghantarkan seseorang kepada pengalaman Liqa’ Allah. 
Amal yang shalih pada hakekatnya adalah amal atau perbuatan atau metode yang telah dicontohkan oleh para Utusan Allah (Rasulullah) dalam usahanya untuk mengadakan pertemuan dengan Tuhannya. Dan yang harus diingat adalah bahwa jumlah para Rasul dan Nabi yang diutus oleh Allah adalah sangat banyak, dan tidaklah mungkin semuanya itu diutus hanya di satu daerah tertentu saja. Allah telah menurunkan para Utusan-Nya itu ke berbagai penjuru dunia. Dan tidak tertutup kemungkinan Allah juga pernah menurunkan Utusan-Nya di negeri Cina atau Shindustan, sehingga Nabi Muhammad Saw memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk belajar ilmu di negeri tersebut.

“Dan tiap-tiap umat ada Rasul Allah....”.(QS Yunus 10 : 47)

“Dan berapa banyak Kami telah mengutus Nabi-Nabi pada umat terdahulu... “. (QS Az Zukhruf 43 : 6)

“Ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepada kamu sebelumnya, dan Rasul-Rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu...... “. (QS an Nisa 4 : 164)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu orang-orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari Akhirat dan banyak mengingat Allah”. (QS Al Ahzab 33 : 21)

Untuk mencapai pertemuan dengan Allah diperlukan usaha dari setiap manusia dengan bimbingan seorang Guru Mursyid yang telah mencapai derajat Ma’rifatullah atau yang telah mengalami pengalaman bertemu Allah dengan berpedoman kepada Kitab-Kitab Suci yang telah diturunkan kepada umat manusia. Prosesi Menemui Allah (Liqa’ Allah) yang telah dicontohkan oleh para Rasul, Nabi dan Para Pewaris Nabi, pada intinya mempunyai satu kesamaan yaitu kita harus dapat melakukan prosesi mengulang kembali ke awal mula penciptaan manusia.

“Dan sesungguhnya kamu datang menemui Kami dengan sendirian seperti Kami ciptakan kamu pada awal mula kejadian dan kamu akan meninggalkan dibelakangmu semua apa yang Kami karuniakan kepadamu….. “. (QS Al An ‘am 6 : 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang menemui Kami seperti Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu “. (QS Al Kahfi 18 : 48)

“Perempuan-perempuan kamu (istri-istrimu) adalah seperti ladang bagimu, maka datangilah ladangmu sebagaimana kamu kehendaki dan kerjakanlah kebajikan untuk dirimu, bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan menemui-Nya, dan sampaikanlah berita gembira untuk orang-orang yang beriman “. (QS Al Baqarah 2 : 223)

“Dan mereka menanyakan kepadamu tentang haid. Katakanlah, “itu adalah penyakit atau kotoran”. Sebab itu hindarilah perempuan selama masa haid dan janganlah dekati mereka sebelum suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri“. (QS Al Baqarah 2 : 222)

“….. Ketika kami sedang berada disisi Rasulullah, tiba-tiba beliau bertanya : “Adakah orang asing diantara kamu ?”. Kemudian beliau bersabda : Angkat tangan kamu dan tutuplah pintumu”. (HR Al Hakim)

“Tutuplah pintumu dan ingat Allah”. (HR Bukhari)

Dalam memahami proses kembali ke awal mula penciptaan manusia, kita sering terjebak dalam cerita atau kisah-kisah yang bersifat simbolis sehingga terjadi penyimpangan dalam menafsirkan dan menerapkannya. Oleh sebab itu dalam memahami prosesi kembali ke awal mula penciptaan manusia, kita harus berpegang pada pedoman sebagai berikut :

Pertama : Setiap Kitab Suci mempunyai ayat-ayat yang bersifat Mukhamat dan Muthasyabihat.

“Dialah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang mukhamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat......”. (QS Ali Imran 3 : 7)

Kedua : Setiap ayat yang mengisahkan tentang proses kembali ke awal mula penciptaan manusia, selalu mengandung pengertian yang berpasangan baik lahir maupun batin serta mengandung banyak perumpamaan atau amtsal.
“Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan supaya kamu mendapatkan pengajaran”. (Ad Dzariyat 51 : 49)

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan diantara yang tumbuh di bumi dalam pada diri mereka dan dari apa yang mereka yang tidak diketahui” (QS Yasin 36 :36)

“Sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulangkali kepada manusia dalam Al Qur’an ini bermacam perumpamaan tetapi kebanyakan manusia enggan menerimanya kecuali ingkar”. (QS Al Isra 17 : 89)
“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu bukti, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata : “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kebohongan belaka”. (QS Ar Rum 30 : 58)





“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS Al Ankabut 29 : 43)





Ketiga : Setiap Kitab Suci, ditujukan untuk manusia yang masih hidup, sehingga apa yang diperintahkan, dalam Kitab Suci harus bisa dilaksanakan oleh manusia ketika dia masih hidup di atas dunia.





Berdasarkan tiga pedoman tersebut, kita akan coba untuk membahas ayat-ayat yang menjelaskan metode untuk menemui dan melihat Allah. Dalam surat Al-kahfi 18 : 110 telah dijelaskan bahwa apabila seorang manusia ingin berjumpa dengan Allah selagi masih hidup di dunia, maka ia harus melakukan “amal shalih”. Kata amal mempunyai arti : perbuatan, metode, cara atau laku, sedangkan kata shalih mempunyai arti hubungan, sambungan atau antaran. Jadi pengertian amal shalih adalah suatu perbuatan atau metode yang dapat mengantarkan atau menghubungkan kita kepada pengalaman bertemu dan melihat Allah.





Berdasarkan surat Al An”am 6 : 94 Allah telah memberitahukan bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan-Nya adalah seperti ketika manusia diciptakan pada awal mula kejadian. Dengan dalil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa intisari dari metode amal shalih adalah suatu proses pengulangan kembali ke awal mula kejadian penciptaan seorang manusia. Bagaimanakah proses awal mula penciptaan seorang manusia ? Dan apa hubungannya dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah. Untuk membahasnya, marilah kita lihat sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari keberadaan Sang Khaliknya.





Sejak lahir sampai berumur 25 tahun, beliau telah diajarkan dan didoktrin oleh para pemuka agama kaum Quraisy bahwa Tuhan yang harus disembah adalah Tuhan-Tuhan yang berwujud patung-patung yang mempunyai nama antara lain Lata Uza, Manata dan lainnya. Dalam diri Muhammad pada waktu itu tidak mempercayai ajaran tersebut, sehingga beliau meminta ijin kepada istrinya Siti Khodijah untuk bertahanuts atau beruzlah mengasingkan diri ke dalam gua Hira dilereng Gunung Cahaya (Jabal Nur) dengan tujuan untuk mencari Tuhan yang sebenarnya.





Selama berbulan-bulan beliau bertahanuts di Gua Hira, tetapi belum juga menemukan cara untuk bertemu sekaligus mengenal Sang Khalik. Tetapi berkat usaha beliau yang tidak kenal menyerah, akhirnya di usia ke 40 tahun, beliau mendapatkan Wahyu yang pertama kali dari Allah yang isinya adalah perintah untuk membaca, merenungkan dan mempelajari proses awal mula penciptaan diri seorang manusia.





“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari Alaqah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pemurah. Yang mengajari manusia dengan Qalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya”. (QS Al Alaq 96 : 1-5)





Berdasarkan dalil tersebut, marilah kita renungkan, Muhammad pada waktu itu bertahanuts di Gua Hira dengan tujuan untuk mencari, menemui dan mengenal keberadaan Sang Khalik yang sebenarnya, walaupun beliau tidak mengetahui cara atau metode untuk bertemu dengan Sang Khalik. Untuk maksud tersebut, akhirnya Allah memerintahkan agar beliau mempelajari proses awal mula penciptaan seorang manusia dari Al Alaqah. Tentunya Muhammad pada waktu itu bertanya dalam qalbunya, apakah hubungan antara proses awal mula penciptaan manusia dari Al Alaqah dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah ? Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh beliau dan pengajaran yang diajarkan oleh Allah, akhirnya beliau menemukan jawabannya, sehingga akhirnya beliau dapat bertemu dan melihat Allah untuk pertama kalinya di Gua Hira. Kemudian selanjutnya beliau selalu mendapatkan pengajaran dari Allah berupa wahyu-wahyu sampai beliau berusia 63 tahun. Demikianlah sekilas sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari Tuhannya.





Dari sejarah Nabi Muhammad Saw tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk bertemu dengan Allah kita harus mempelajari proses awal mula penciptaan diri yang bermula dari Al Alaqah. Kata Alaqah mempunyai dua arti yaitu pertama, cinta kasih yang melekat. Arti yang kedua adalah segumpal darah. Dari dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses penciptaan manusia bermula dari rasa cinta Allah kepada makhluk-Nya. Hal ini sesuai dengan Hadits Qudsi :





“Aku dahulu adalah permata yang tersembunyi. Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar ia mengenal-Ku”. (HR. Bukhari)





Rasa cinta Allah kepada makhluk-Nya itu kemudian diberikan kepada ayah ibu kita sehingga timbullah rasa cinta diantara keduanya, yang kemudian dilekatkan dalam sebuah ikatan perkawinan. Kemudian mereka melakukan persenggamaan sehingga terjadilah penyatuan dua rasa cinta yang dilebur menjadi satu. Dalam persenggamaan tersebut terjadilah pelepasan spermatozoa dari ayah, yang selanjutnya mereka bergerak menuju pasangannya yaitu ovum atau sel telur yang berada di dalam rahim. Setelah mereka bertemu maka sperma akan bergerak mengelilingi sel telur sebanyak tujuh kali mirip gerakan Thawafnya para jamaah haji. Setelah itu barulah sperma berusaha untuk menembus lapisan pelindung sel telur dan jika berhasil maka terjadilah penyatuan antara sel telur dengan sperma (nutfah) yang akan mengakibatkan pembuahan yang selanjutnya membentuk segumpal darah atau Al Alaqah yang merupakan cikal bakal janin bayi manusia.





Selanjutnya Alaqah tersebut berproses menjadi mudghah, izhamah dan lahmah kemudian baru menjadi bayi yang sempurna secara jasmaniyah, kemudian Allah meniupkan Ruh-Nya kedalam janin bayi tersebut. Ketika berada di dalam rahim, sang bayi mengalami keadaan dimana semua aktifitas inderawinya tidak berfungsi secara sempurna. Atau dengan kata lain, lubang-lubang inderawinya masih tertutup karena sang bayi berada dalam air ketuban (omnium water) selama kurang lebih 9 bulan, sampai akhirnya sang bayi lahir ke alam dunia ini.





Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses awal mula penciptaan seorang manusia melalui dua tahapan yaitu tahap pertama berasal dari cinta kasih seorang pria dan wanita yang saling dilekatkan dengan ikatan perkawinan dan persenggamaan. Tahap kedua, yang merupakan lanjutan dari tahap pertama yaitu segumpal darah yang melekat di dinding rahim yang terus berproses menjadi janin bayi yang terendam didalam air ketuban selama 9 bulan.





Dalam surat Al An’am 6 : 94 telah diisyaratkan bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah seperti proses awal mula penciptaan diri manusia itu sendiri, yaitu persenggamaan kedua orang tuanya dan segumpal darah yang kemudian menjadi bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Mungkin timbul dua pertanyaan dalam diri kita, pertama, apa hubungannya antara persenggamaan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah? Pertanyaan kedua, apa hubungannya antara proses penciptaan janin bayi dalam kandungan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah?





Inilah masalah yang selama ini dirahasiakan oleh Nabi Muhammad Saw.





“Janganlah engkau berikan ilmu ini kepada yang tidak membutuhkan, karena itu adalah perbuatan zhalim. Tetapi jangan engkau tidak berikan ilmu ini kepada yang membutuhkan, karena itu juga perbuatan zhalim”. (Al Hadits)





Seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah juga pernah berkata :





“Aku hafal dua karung (kitab) hadits dari Rasulullah Saw. Yang satu karung (kitab) sudah aku siarkan kepada kalian semua. Sedang yang satu lagi kalau aku siarkan, niscaya dipotong orang leherku”. ( HR Bukhari)





Berdasarkan dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada kitab hadits yang disembunyikan oleh Abu Hurairah, yang kemudian diajarkan hanya kepada orang yang terpilih yang terus diwariskan sampai ke generasi sekarang. Sebagian besar isi dari kitab hadits tersebut berkaitan dengan masalah metode untuk melihat Allah dan bertemu dengan-Nya, melalui proses pengulangan awal mula kejadian penciptaan manusia.





Dengan niat yang baik, penulis mencoba menyingkap masalah tersebut dengan dasar Al Qur’an dan Hadits :





“Dan janganlah engkau sembunyikan kebenaran itu, padahal engkau mengetahuinya”. (QS Al Baqarah 2 : 42)





“Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit”. (HR Bukhari)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan atau merahasiakan keterangan-keterangan dan petunjuk-petunjuk yang telah Kami turunkan setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat Alllah dan dilaknat pula oleh mereka yang melaknat kecuali orang-orang yang telah bertaubat, berbuat kebaikan dan menerangkan apa-apa yang mereka sembunyikan, maka mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS Al Baqarah 2 : 159-160)

“Sampaikanlah dariku, walaupun satu ayat”. (Al Hadits)





Di dalam Al Qur’an, Allah telah mengisyaratkan hubungan antara persenggamaan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah, yaitu :





“Perempuan-perempuan kamu (istri-istri kamu) adalah seperti tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tempat bercocok tanam milik kamu itu sebagaimana kamu kehendaki. Dan buatlah kebaikan untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah beritai gembiraini untuk orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah 2 : 223)





Sebagian besar mufasirin menafsirkan ayat tersebut termasuk ayat yang bermakna mukhamat artinya jelas dan terang sesuai dengan teksnya. Tetapi apabila kita teliti lebih lanjut, terdapat satu keanehan yang tersirat dalam ayat tersebut, yaitu pada awalnya ayat itu berbicara tentang masalah persenggamaan (berjima’) antara seorang suami dengan istri istrinya, tetapi tiba-tiba diakhir ayat tersebut terdapat kalimat : “dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah berita gembira ini kepada orang-orang beriman” Tentunya kita bertanya, Apa hubungannya antara persenggamaan dengan kabar gembira bahwa kita akan menemui Allah ? Mengapa Allah menggabungkan antara permasalahan tatacara bersenggama (berjima’) dengan masalah proses menemui-Nya dalam satu ayat ? Adakah makna yang tersirat dari ayat tersebut ? Inilah permasalahan yang akan kita coba bahas dengan hati-hati, karena hal ini merupakan masalah yang sangat sensitif yang bisa menimbulkan kesalafahaman dan fitnah, seperti yang terjadi pada penulisan kitab “Darmogandul” dan Kitab “Gatoloco” yang menjadi polemik pada waktu itu sampai sekarang ini.





Proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah melalui suatu proses yang mirip dengan proses awal mula penciptaan manusia (surat Al An’am 6 ayat 94). Kata “mirip” inilah yang harus diperhatikan dan dipahami dengan benar. Kata “mirip” ini merupakan terjemahan dari kata “kamaa”. Kita sering tidak menyadari arti kata “kamaa” ini. Dalam bahasa Arab, kata “kamaa” mempunyai banyak arti yaitu seperti, sebagaimana, bagaikan atau mirip. Dari arti ini dapat disimpulkan, bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah seperti proses penciptaan awal mula kejadian manusia yaitu yang diawali dengan persenggamaan antara ayah ibu kita adalah bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi proses tersebut hanya bersifat mirip dengan proses awal mula penciptaan manusia (persenggamaan). Bagaimanakah kemiripannya ?

Untuk memahami permasalahan tersebut, kita harus menyadari bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan (QS 51 : 49) Demikian juga diri kita, juga diciptakan dengan berpasangan

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS Yasin 36 : 36)

Pada bagian akhir ayat tersebut dijelaskan bahwa kita tidak mengetahui secara keseluruhan apa saja yang diciptakan Allah secara berpasangan. Tegasnya, masih banyak yang diciptakan secara berpasangan yang belum diketahui oleh kita, salah satunya adalah tentang diri kita sendiri yang ternyata juga berpasangan.

Diri kita yang bersifat jasmani mempunyai pasangannya yaitu diri yang bersifat ruhani. Diri jasmani kita juga mempunyai pasangan secara jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Dalam pandangan ahli hakikat, pada diri setiap manusia, terdapat syimbol kelakian dan kewanitaan, baik secara genital maupun secara sifat. Secara genital kelakian diberi tanda khusus dengan organ yang berbentuk “huruf alif” atau “lingga” atau “alu”. Sedangkan genital kewanitaan diberi tanda khusus dengan organ vital yang berbentuk “huruf ba” atau “Yoni” atau “lumpang”. Dalam bahasa Arab, organ vital kelakian di sebut Ad Dzakar, sedangkan organ vital kewanitaan disebut Al Untsa. Sifat kelakian disebut dengan istilah Ar Rizal, sedangkan sifat kewanitaan disebut dengan istilah An Nisa.

Setiap diri manusia juga mempunyai dua syimbol kelakian dan kewanitaan sekaligus (aprodite), yaitu tujuh lubang inderawi yang ada di kepala dan tiga lubang yang ada di badan sebagai syimbol kewanitaan, dan sepuluh jari tangan sebagai syimbol kelakian. Inilah makna syimbolis dari hakikat istri, yang di isyaratkan dalam Al Qur’an :

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kamu istri dari anfusmu sendiri........”. (QS Ar Rum 30 : 21)

“Dia menciptakan kamu dari diri yang satu, kemudia Dia menjadikan daripadanya istrinya......”. (QS Az Zumar 39 : 6)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya....”. (QS An Nisa 4 : 1)
Tujuh lubang inderawi yang ada dikepala manusia merupakan tempat berkumpulnya empat rasa inderawi yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman dan pengucapan, oleh ahli hakikat dianggap sebagai syimbol “empat istri” yang harus dinikahi secara keseluruhan atau poligami, agar ke empat hawa nafsu yang ada pada lubang-lubang telinga, mata, hidung dan mulut dapat dipimpin dan dikendalikan oleh sang suami.
“Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim, hendaklah kamu menikahi siapa saja di antara perempuan-perempuan yang kamu sukai dua, tiga, atau empat tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja atau kamu mengambil budak-budak perempuan yang kamu miliki.........”. (QS An Nisa 4 : 3)





Seorang lelaki yang dapat mempunyai empat istri dan dapat mengendalikan dan memimpin ke empat istrinya adalah type seorang muslim yang terbaik, hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad Saw :





“Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata : Ibnu Abbas berkata kepadaku : “Apakah engkau telah menikah?” Aku menjawab : “Belum”. Ia berkata : “Menikahlah, karena sesungguhnya sebaik-baiknya orang Islam adalah yang lebih banyak istrinya”. (HR Bukhari dan Ahmad)





Secara syimbolis dalil tersebut menjelaskan tentang hakikat dari keberadaan hawa nafsu yang berada disetiap lubang telinga, mata, hidung dan mulut. Ke empat inderawi (telinga-mata-hidung-mulut) merupakan syimbol dari perempuan yatim, artinya perempuan yang hidup sendirian (yatim=sendiri, satu-satunya atau tidak berbapak). Aktifitas mendengar, melihat, mencium dan mengucap, mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan sendirinya (yatim), karena mereka sudah diprogram oleh Allah untuk menjalankan fungsinya sesuai dengan perintah-Nya. Telinga hanya berfungsi untuk mendengar, mata hanya berfungsi untuk melihat, hidung hanya berfungsi untuk mencium dan mulut hanya berfungsi untuk mengucap dan mengecap saja. Singkatnya fungsi inderawi mereka tidak akan tertukar diantara mereka. Hal ini yang diisyaratkan dalam firman-Nya :





“Dan sungguh Kami telah mencptakan di atas (kepala) kamu tujuh (lubang) jalan (aktifitas inderawi).Dan tidaklah Kami lalai memelihara (fungsi inderawi) yang Kami ciptakan itu”. (QS Al Mu’minun 23 : 17)

Setiap inderawi mempunyai kebutuhan yang sangat fithrah yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhan itu terpenuhi dengan baik maka ia akan bahagia atau sebaliknya ia akan tidak bahagia apabila kebutuhannya tidak terpenuhi. Kebutuhan mata adalah melihat. Kebutuhan telinga adalah mendengar. Kebutuhan hidung adalah mencium dan kebutuhan mulut adalah mengucap dan mengecap. Semua kebutuhan itu harus dipenuhi dengan adil, tetapi kadang kita tidak bisa berbuat adil, misalnya kita hanya mendahulukan kepentingan salah satu inderawi saja dibandingkan kebutuhan inderawi lainnya atau kita hanya mempercayai salah satu inderawi saja dibandingkan mempercayai inderawi lainnya. Inilah yang diisyaratkan secara syimbolis dalam firman-Nya :





“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istrimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, maka janganlah kamu terlalu cenderung kepada istri yang kamu cintai sehingga engkau biarkan isrtri yang lain seperti tergantung (terlupakan)..........”. (QS An Nisa 4 : 129)





Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, kadang para istri atau wanita menjadi sumber fitnah dan dosa, karena mereka banyak menuntut kebutuhannya secara berlebihan, sehingga Nabi Muhammad Saw pernah bersabda :





“Perempuan adalah perangkap syeitan”. (Al Hadits)





“Aku tidak meninggalkan umatku fitnah yang kebih berbahaya buat lelaki lebih dari fitnah yang dibawa kaum wanita”. (Al Hadits)





“Bumi ini subur dan indah. Dan Tuhan telah menyerahkan amanah kepada kalian di muka bumi ini. Jika muncul godaan di dunia, berhati-hatilah kalian. Dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bangsa Isarail adalah fitnah wanita”. (HR Muslim)





Secara syimbolis, hadits tersebut menjelaskan bahwa keinginan dari hawa nafsu yang ada di lubang inderawi kita, bisa juga menjadi perangkap syeitan (syeitan adalah sifat menjauh atau merenggang dari kebenaran) yang seringkali menimbulkan permasalahan karena kita akan terus mengikuti kemauannya dan selalu memenuhi kebutuhannya, sehingga kita akan menjauh dari nilai-nilai kebenaran. Misalnya, kita selalu menuruti apa saja yang yang diinginkan oleh mulut, sehingga kita makan secara berlebihan tanpa mempedulikan apakah makanan itu halal atau haram, thayib atau tidak.





Untuk mengatasi masalah tersebut Allah telah memberikan jalan keluarnya yaitu agar setiap lelaki atau suami selalu mengendalikan dan memimpin wanita atau istri-istrinya atau hawa nafsunya yang terdapat pada telinga, mata hidung dan mulut.



Lelaki adalah pemimpin atas para wanita karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).....”. (QS An Nisa 4 : 34)



sang suami atau lelaki secara hakikat ? Secara hakikat syimbol “suami atau lelaki” adalah jari-jari tangan kita. Hanya jari-jari tangan kitalah yang dapat mengendalikan hawa nafsu atau keinginan yang berlebihan yang timbul dari ke empat istri kita yaitu telinga, mata, hidung dan mulut, dengan cara mengihramkan (melarang) mereka untuk beraktifitas seperti yang diisyaratkan dalam gerakan takbiratul ihram dalam setiap awal ibadah shalat.





Ketika keinginan untuk mendengar, melihat, mencium dan mungucap atau mengecap sudah sangat berlebihan, maka satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menutup lubang-lubang inderawi tersebut dengan jari-jari tangan kita, dengan gerakan takbiratul ihram (takbir larangan). Dengan tertutupnya lubang-lubang inderawi kita maka secara berangsur-angsur keinginan hawa nafsu dari para istri mulai menghilang.





Gerakan takbiratul ihram secara syimbolis juga mengisyaratkan hubungan antara “pernikahan atau perkawinan” syimbol kelakian yaitu jari-jari tangan, dengan syimbol kewanitaan yaitu lubang-lubang inderawi, dengan proses pertemuan dengan Allah, seperti yang diisyaratkan dalam firman-Nya :





“Istri-istrimu adalah seperti ladang (tempat bercocok tanam) bagimu, maka datangilah ladangmu (tempat bercocok tanammu) sebagaimana kamu sukai dan buatlah kebaikan untuk dirimu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah kabar gembira ini untuk orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah 2 : 223)





Ayat tersebut apabila ditafsirkan secara syimbolis, akan mempunyai arti sebagai berikut :





Pertama : Kata “istri-istri” dalam ayat tersebut mempunyai makna syimbolis tujuh lubang inderawi yang berada di kepala manusia. Sedangkan kata ganti kamu, pada ayat tersebut mempunyai makna syimbolis sepuluh jari tangan manusia.





Kedua : Pada ayat tersebut terdapat kalimat “Perempuan-perempuan (istri-istri) kamu adalah ladang bagi kamu. Maka datangilah ladangmu sebagaimana kamu kehendaki”. Kalimat tersebut mempunyai arti syimbolis bahwa ketujuh lubang inderawi kita adalah ladang bagi sepuluh jari tangan. (Ladang adalah tempat untuk bercocok tanam, apabila tempat itu cocok untuk ditanam dengan satu jenis tanaman tertentu maka ditanamlah tanaman tersebut). Hal ini berarti tujuh lubang inderawi yang ada di kepala adalah tempat yang cocok bagi jari-jari tangan untuk ditanamkan di lubang-lubang tersebut sesuai dengan keinginan kita. Bagaimana mencocokkannya, silahkan tanya kepada ahlinya.

Ketiga : Pada ayat tersebut juga terdapat kalimat “dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya”. Kalimat ini mempunyai arti simbolis, bahwa ketika jari-jari tangan sudah ditanamkan ke dalam lubang-lubang inderawi maka dalam posisi demikian sesungguhnya kita sedang melakukan prosesi untuk bertemu dengan Allah. Jadi prosesi menemui Allah dapat terjadi ketika simbol kelakian (jari-jari tangan) dipertemukan dengan syimbol kewanitaan yaitu lubang-lubang inderawi. Inilah yang dimaksud dengan hakikat pernikahan “Bil yad” (pernikahan dengan mempergunakan tangan) atau “sirri” atau “rahasia”, yaitu pernikahan yang bersifat rahasia antara jari-jari tangan dengan lubang inderawi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Keempat : Pada akhir ayat tersebut terdapat kalimat “dan sampaikanlah berita gembira ini kepada orang-orang yang beriman”. Kalimat ini mempunyai arti simbolis bahwa prosesi menemui Allah yang diisyaratkan dalam surat tersebut harus disebarluaskan kepada orang-orang yang beriman sebagai kabar gembira, agar mereka dapat mengetahui dan melaksanakan tatacara menemui Allah tersebut selagi mereka masih hidup di atas dunia.

Hakikat Akhirat

Dalam agama Islam, kita mengenal istilah trilogy Iman, Islam dan Ihsan, yang kemudian menjadi pundamen dasar dari Rukun Iman, Rukun Islam dan Rukun Ihsan. Rukun Iman terdiri dari enam keimanan yang tercakup dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yaitu Amantubillahi (percaya kepada Cahaya hidup), wamalaikatihi ( percaya kepada gerak Cahaya hidup), wakutubihi (percaya kepada ketetapan cahaya hidup), warosullihi (percaya kepada rasa Cahaya hidup), walyaumil akhiri (percaya kepada kebangkitan cahaya hidup), wal qodri khoirihi (percaya kepada kuasa cahaya hidup). Makalah ini mencoba membahas apa yang dimaksud dengan konsep Akhirat.
Umumnya kita berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan dengan akhirat itu adalah alam yang keberadaannya di balik kematian. Alam yang baru akan kita masuki setelah kita mati dan dunia ini berakhir. Dengan kata lain, alam akhirat ialah alam yang akan datang yang baru ada setelah dunia ini mengalami pralaya atau “kiamat”.

Mungkin ada yang salah di benak kita. Kita ini berdoa agar dikarunia Tuhan kesejahteraan hidup di akhirat, tapi kita sendiri tidak tahu akhirat. Bagaimana kita meminta yang tidak kita ketahui? Mungkin, kita beranggapan bahwa Tuhan senantiasa mengerti tentang apa yang diminta hamba-hamba-Nya.Tuhan itu memang Maha Mengetahui dan Maha Mendengarkan. 
Tetapi, kalau kita meminta sesuatu yang tidak kita mengerti, maka setelah dikabulkan pun kita tidak akan mengerti apa yang kita terima itu. Bayangkan, kita minta kepada seseorang kamera digital yang kita sendiri tidak mengetahui apa yang kita minta itu. Kita cuma mendengar bahwa ada kamera digital. Lalu, kita diberi. Apakah kita bahagia dengan pemberian itu? Apakah ada gunanya pemberian itu?

Makna Akhirat

Kita perlu menengok kembali kata “akhirat”. Jangan-jangan kita ini salah paham terhadap pengertian akhirat. Di bawah ini akan dikutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata akhirat. Dan, pemahamann berikut ini akan bersesuaian dengan pemahaman hakikat di berbagai macam agama.

“Janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Dia tidak menyalahi janji-Nya. Akan tetapi, sebagian besar manusia tidak mengetahui (janji-Nya). Mereka hanya mengetahui hal-hal yang tampak dari kehidupan dunia ini, sedangkan yang “akhirat” mereka lupakan”. (QS 30 : 6-7).

Pertama, ada janji Allah. Janji adalah pernyataan yang dipakai sebagai pegangan. Tentunya, manusia menerima janji itu langsung dari yang berjanji dengan dirinya. Kalau sudah dari orang lain, itu namanya bukan janji. Ini baru “katanya”. Tentu, Tuhan telah berjanji kepada setiap orang. Tetapi, janji Tuhan itu termasuk alam yang tak-tampak. Janji Tuhan itu tidak dalam bentuk huruf maupun suara.

Pada umumnya manusia, semenjak era kenabian, telah pergi menuju alam lahiriah. Hidup di dalam lingkungan dunia eksternal. Mereka benar-benar telah meninggalkan alam rahim yang tersembunyi itu menuju alam lahiriah yang serba tampak. Padahal, janji Tuhan tanpa huruf dan suara itu ada di dalam alam yang tak-tampak. Janji Tuhan itu ada di alam batin atau inner self. Selama manusia meninggalkan alam batinnya, maka ia tidak akan mengetahui janji tersebut.

Janji Tuhan itu benar adanya. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dari bayi hingga tua renta itu merupakan janji Tuhan. Janji yang ditampakan di alam lahiriah. Di manakah adanya janji Tuhan di alam nyata ini?jawabnya adalah ada di alam proses penciptaan yang dapat kita amati sehari-hari. Bukankah manusia ini tidak sekedar produk penciptaan? Manusia mengalami fase penyempurnaan diri, baik lahiriah maupun batiniah. Ada kadar untuk tumbuh dan berkembang. Ada potensi untuk menyempurnakan diri. Dan, ada arah untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Dalam bahasa agama, ada “petunjuk Tuhan” untuk kehidupan manusia.

Kedua, sebagian manusia hanya “mengetahui” yang tampak saja dari kehidupan dunia. Semenjak manusia terpikat oleh keberadaan dari dunia eksternalnya, indra lahiriah manusia semakin menonjol peranannya. Seiring dengan menguatnya peranan indra lahiriah, semakin melemahnya peranan indra batinnya, seperti naluri dan intuisi. Peranan lahir semakin bertambah, maka peranan batin semakin berkurang atau mungkin malah hilang. Akibatnya, manusia kehilangan arah dalam mengarungi hidupnya.

Manusia merasa bahwa yang menentukan arah hidupnya adalah dunia di luar dirinya. Manusia merasa bahwa keindahan itu di luar dirinya. Bahwa kebahagiaan itu berasal dari dunia luar dirinya. Sehingga, manusia mengejar kebahagiaan yang ada di luar dirinya. Apa salah? Tentu saja, tidak. Tetapi, ini tidak sepenuhnya benar.

Cobalah kita merenungkan orang yang mengalami cacat buta dan tuli semenjak lahir. Meski secara fisik cacat, batinnya belum tentu cacat. Sebagai manusia tentunya ia tetap dapat merasakan kebahagiaan. Karena itu, hampir tidak ada manusia cacat lahir dari bayi yang putus asa dalam mempertahankan eksistensi hidupnya. Justru bunuh diri terjadi pada orang-orang normal yang putus asa dalam menghadapi dunia eksternalnya.

Mengapa terjadi perasaan jenuh, bosan, atau putus asa dalam hidup ini? Karena, pemandu yang ada di dalam diri kita tidak berfungsi. Bila pemandu tersebut ditinggalkan, maka fungsinya akan meredup. Naluri atau insting menjadi tumpul. Intuisi tidak kunjung datang. Sedangkan dunia eksternal menjadi hal yang rutin. Maka, hasilnya adalah kebosanan. Jika dunia luar tak bisa diraih dan menekan kehidupan, maka hasilnya adalah keputusasaan. (lihat surat 49 : 7)

Ketiga, melalaikan akhirat. Kalau kita menyimak dengan seksama ayat tersebut, ternyata “yang tampak” dari dunia ini dilawankan dengan “akhirat”. Sehingga makna akhirat sejatinya adalah keberadaan batin dalam hidup ini. Dan, makna inilah yang terbanyak kita temui di dalam Al-Qur’an. Ternyata, akhirat lebih terkait dengan kenyataan kekinian daripada alam lain yang akan terjadi setelah dunia ini pralaya.

Penutup ayat tersebut jelas, bahwa yang dilalaikan oleh sebagian besar manusia itu adalah “yang tak tampak” dari dunia ini yang disebut “akhirat”. Dan, sifatnya menjadi denititif, yaitu dengan adanya artikel “al” pada ayat tersebut. Disebut pada penutup ayat bahwa, “wa hum ‘ani al-akhirati hum la ghafilun” .Jadi , yang mereka ketahui apa? Yaitu, “Zhahir”-nya dunia. Yang dilalaikan apa? Yang dilalaikan itu “al-akhirah”-nya dunia. Batinnya dunia. Bagian yang tak-tampaknya dunia.

Selama ini kata “akhirat” dalam Al-Qur’an hampir selalu diartikan dunia yang akan datang. Sebuah dunia yang adanya setelah alam raya yang ada sekarang ini mengalami kehancuran yang biasanya tersebut “kiamat”. Baru setelah hancur lebur itu, Tuhan akan menciptakan dunia yang baru lagi. Begitulah kepercayaan yang berkembang selama ini.

Cobalah renungkan, apanya yang perlu dilalaikan kalau akhirat itu adanya setelah hancur leburnya alam semesta ini. Sesuatu yang dilalaikan, tentunya sesuatu yang sudah pernah dialami. Sesuatu itu ialah kebahagiaan, keenakan dan kenyamanan hidup yang berasal dari dalam-diri. Sesuatu itulah yang terwujud pada masa-masa bayi dalam rahim, sampai lahir dan masaa kanak-kanak. Lihatlah kegembiraan, kejenakaan, dan kesenangan pada masa bayi dan kanak-kanak. Itu semua timbul dari dalam-diri mereka sendiri. Makanya, kalau kita melihat mereka yang bermain, kita pasti merasa heran. Banyak hal yang menurut kita menimbulkan keriangan, tapi mereka justru tampak riang gembira.

Apabila akhirat belum pernah ada, belum pernah dialami, tidak mungkin dilalaikan. Mana ada seseorang yang lalai terhadap sesuatu yang belum pernah dirasakan? Pasti tidak mungkin! Orang lalai, tentu lalai terhadap kenyataan. Lalai terhadap perintah. Lalai terhadap tugas. Lalai terhadap kewajiban. Dan, perintah atau tugas itu diberikan, tentu berkaitan dengan hal yang nyata. Kewajiban dibebankan tentu untuk mengerjakan hal-hal yang nyata. Kewajiban tidak mungkin diberikan kepada kita bilamana kewajiban itu tidak dapat direalisasikan.

Kesimpulan

Dunia dan akhirat sebenarnya satu adanya. Yang kelihatan berbeda itu hanyalah penampakannya. Kalau kita lihat itu kulitnya keberadaan atau sisi luar sebuah eksistensi, maka yang kita alami adalah “dunia”. Dengan bahasa QS 30 : 6-7, hanya bagian yang tampak dari dunia. Tapi, bila yang kita saksikan itu sisi batinnya, maka yang ada ialah kehidupan akhirat.

Maka, akhirat sebenarnya ada di sini dan sekarang ini. Akhirat tidak terkungkung oleh waktu. Maka ia senantiasa hadir dalam kekinian. Ia baqa; alias kekal. Kalau nanti baru ada akhirat, maka akhirat itu tidak kekal. Kata “nanti” merujuk pada sebuah kelahiran. Segala sesuatu yang dilahirkan pasti mengalami proses penuaan dan akhirnya punah. Inilah hukum alam. Makanya kita harus paham terhadap makna akhirat, agar kita tidak terjebak ilusi yang diberitakan oleh banyak orang.

Dalam bahasa Al-Qur’an, kalimat “liqa’ Allah” atau berjumpa dengan Allah, sering juga disebut sebagai bertemu dengan akhirat. Dan, untuk berjumpa dengan Allah, jangan ditunggu-tunggu. Jangan ditunggu nanti setelah mati. Kalau masih hidup saja kita tidak dapat bertemu dengan-Nya, jangan harap kalau mati kita bisa beranjang sana ke Hadirat-Nya. Kalau masih hidup kita tidak dapat makan sesuap nasi, maka jangan harap kalau mati kita dapat makan sebutir rimah.

Selamat menjelajah akhirat sewaktu napas masih mengalir di dalam tubuh kita. Dengan menjelajah akhirat kita tak akan terjebak kenikmatan duniawi. Kita justru tahu, sebenarnya kenikmatan ukhrowi itu hadir dari dalam diri kita sendiri. Kenikmatan bukan berasal dari luar diri kita. Di akhir tulisan ini marilah kita renungkan rekaman doa Nabi Ibrahim AS dan berita tentang hasilnya orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang melampaui batas dalam firman Allah dibawah ini :

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
Yaitu, pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna.
Kecuali, orang yang datang kepada Allah dengan hati yang “salim”
Dan, didekatkanlah Taman kebahagiaan kepada orang-orang yang bertakwa.
Dan, ditampakkan dengan jelas Jahim kepada orang-orang yang melampaui batas.
(QS al-Syu’ara [26] : 87-91.

Hakikat Imam Mahdi 2

Ketika kita membahas tentang Imam Mahdi maka pembasan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks “Juru Selamat”. Pembahasan tentang masalah Juru Selamat juga tidak akan berarti banyak jika tidak dikaitkan dengan persoalan Hari Qiyamat, karena sang Juru Selamat diyakini akan menyelamatkan umatnya menjelang Hari Qiyamat.
Oleh karena itu setiap agama selalu mengklaim memiliki juru selamatnya masing-masing sebagai “barang dagangan” yang jitu untuk menarik pengikutnya. Termasuk kaum muslimin, yang ternyata tak bisa melepaskan diri dari persoalan pemaknaan “juru selamat” itu, yang akhirnya membawa mereka pada penafsiran yang berbeda, tergantung pada penafsiran versi kelompoknya.

Hal ini disebabkan karena hadits-hadits yang berbicara soal Imam Mahdi membuka ruang untuk dilakukannya berbagai penafsiran yang berbeda-beda. Akan tetapi ada satu hal yang pasti, yaitu mayoritas kaum muslim meyakini bahwa Imam Mahdi akan datang ke muka bumi pada hari Qiyamat, sebagai salah satu tanda-tanda datangnya hari Qiyamat.

PENGERTIAN HARI KEBANGKITAN

Istilah hari Qiyamat merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang mempunyai arti Bangkit atau berdiri, jadi hari Qiyamat mempunyai arti hari Kebangkitan atau saatnya Berdiri. Dalam pandangan kaum Ma’rifatullah, hari Qiyamat mempunyai empat pengertian, yaitu :

Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh ke dalam jasmani seorang manusia. Hal ini dinamakan dengan istilah Lahir, Natal atau Milad.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh dari Jasmani seorang manusia. Hal ini dinamakan dengan istilah wafat atau mati.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh dari jasmani seorang manusia ketika melakukan prosesi Laku Mi’raj.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Kesadaran Rohani manusia secara kolektif menuju ke arah dimensi yang lebih tinggi yaitu ke Tatanan Dunia Baru atau Darul Salam atau Kerajaan Tuhan atau Khalifatulah Al Mahdi.


WAKTU KEDATANGAN HARI QIYAMAT

Salah satu ruang yang memicu perdebatan tanpa akhir adalah kapan tepatnya hari Qiyamat itu terjadi, hal ini timbul karena tidak ada satupun dalil yang menjelaskan kapan datangnya hari Qiyamat. Hanya Allahlah yang mengetahui rahasianya.

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Qiyamat itu ada pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia”. (QS Al A’raf 7 : 187)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada Sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Qiyamat”. (QS Luqman 31 : 34)

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Qiyamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Qiyamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus (QS Az Zukhruf 43 : 61)

Di dalam Al Qur’an dan Hadits dapat kita lihat isyarat atau tanda-tanda datangnya hari Qiyamat, yaitu :

(22 ayat 1) (69 ayat 13-18) (75 ayat 1-5) (77 ayat 7-19) (78 ayat 17 - 20 dan 38) (79 ayat 1-9 dan 35 dan 46) (80 ayat 33 – 42) (81 ayat 1-28) (82 ayat 1-19) (84 ayat 1 – 5) (99 ayat 1 – 8) (101 ayat 1 – 10)

“Sungguh, tanda-tanda hari Qiyamat adalah bahwa waktu akan menjadi terasa cepat, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan dan semakin banyak terjadi harj’. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah , apakah hari’ itu ?’ Beliau menjawab, “ Pembunuhan- pembunuhan “. (HR Bukhari Muslim dan Abu Dawud)


HAKIKAT PENGERTIAN IMAM MAHDI

Istilah Imam Mahdi merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Imam yang artinya Pemimpin dan Mahdi yang artinya yang mendapat petunjuk. Jadi secara bebas imam mahdi dapat diartikan pemimpin yang mendapat petunjuk. Di dalam Al Qur’an, tidak satupun ayat yang menjelaskan tentang masalah imam mahdi. Justru dalam Al Qur’an, Allah selalu mengatakan bahwa Diri-Nyalah yang dapat memberi petunjuk, bahkan Allah mempunyai asma Al Hadi. Begitupula Al Qur’an disebut juga Al Huda. Jadi, kesimpulannya, yang dimaksud dengan Imam Mahdi adalah Nur Allah yang selalu memberikan Petunjuk yang harus selalu dibaca (Nurul Qur’an). Dalam beberapa Hadits juga terdapat tentang imam mahdi, yaitu :

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al Mahdi yang diutus Allah ditengah-tengah umatku ketika banyak terjadi perselisihan antar manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kejujuran, sebagaimana bumi ini sebelum itu dipenuhi oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan”. (HR Iman Ahmad)

“Seandainyatidak tersisa dari umur dunia ini kecuali satu hari, maka Allah akan memanjangkan hari itu sampai Dia mengutus seorang laki-laki dariku atau ahlul baitku yang namanya menyerupai namaku dan nama ayahnya menyerupai nama ayahku. Ia memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dunia dipenuhi dengan kezaliman dan kecurangan”. (HR Abu Daud dari Abdullah bin Mas’ud)

“Al Mahdi dari keturunan Fathimah “. ( HR Abu Daud dari Ummu Salamah)

“Al Mahdi adalah dariku. Ia mempunyai dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi kecurangan dan kelaliman dan menguasai bumi selama tujuh tahun”. (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban)

“Al Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

“Ketika kalian melihatnya, maka berbaiatlah dengannya, walaupun dengan merangkak diatas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al Mahdi”. (HR Ibn Majah)

“Isa ibnu Maryam turun, lalu pemimpin kaum mukmin berkata kepadanya : “Mari imami shalat kami”. Tidak , sesungguhnya sebagian umat mukmin adalah pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah terhadap umat ini”. ( HR Al Harits bin Usamah dari Jabir)

“Sungguh bumi ini akan dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila hal tersebut sudah penuh, maka Allah akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia telah dipenuhi sebelum itu oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun atau 8 tahun atau 9 tahun”. (HR Thabrani)

”Pada akhir umatku keluar Al Mahdi. Pada saat itu Allah mencurahkan hujan padanya, lalu bumi mengeluarkan tetumbuhannya, harta dibagikan secara adil, hewan ternak menjadi melimpah ruah dan umat manusia menjadi banyak. Dan, Al Mahdi hidup selama tujuh atau delapan tahun”. (HR Abu Said dari Al Hakim)

Dari penjelasan hadits-hadits tersebut, para ahli ma’rifatullah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Imam Mahdi mengandung 3 pengertian, yaitu :
Imam Mahdi dalam pengertian Nur Allah dan Nur Muhammad yang telah Bangkit dan Tajali dalam setiap diri manusia.
Seorang manusia yang yang telah mengenal Nur Allah dan Nur Muhammad yang bertugas sebagai Guru Mursyid yang telah memberikan Petunjuk berupa Nurul Huda kepada muridnya.
Seorang manusia yang telah mengenal Nur Allah dan Nur Muhammad yang bertugas sebagai Pemimpin Umat Manusia untuk membawa umat manusia menuju Tatanan Dunia Baru atau Darus Salam.
Sistem Kepemimpinan yang berpedoman kepada Petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Nur Allah dan Nur Muhammad.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu Cahaya Yang Terang benderang”. (QS An Nisa 4 : 174)

”Dan apabila firman Allah telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan dabah dari dalam bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayatKami” ( QS An Naml 27 : 82)

”Dan, hanya kepada Allah bersujud apa saja yang berada di langit dan di bumi dan juga Dabah dan malaikat dan mereka tidaklah sombong Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan. Allah berfirman : ”Janganlah kamu adakan dua Tuhan, hanyasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut”. (QS An Nahl 16 : 49-51)

“Dan ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya ditengah-tengah diri kamu ada Rasulullah…. “. (QS Al Hujurot 49 : 7)