Rabu, 13 April 2016

Hakikat Pernikahan Sebagai Sarana Menemui Allah

Dalam Al Qur’an dan hadits, Allah telah menjelaskan secara tersirat tentang metode untuk menemui Allah (Liqa’ Allah) dan melihat Allah (Ru’yatullah) yaitu :
“....... barang siapa yang mengharapkan menemui Tuhannya, maka kerjakanlah amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada-nya”. (QS Al Kahfi 18 : 110)
Pada ayat tersebut di atas terdapat kalimat “amal yang shalih”. Mungkin kita bertanya dalam hati, apakah yang dimaksud dengan “amal yang shalih” itu ? Kata “amal” mempunyai arti perbuatan atau metode atau cara. Sedangkan istilah “shalih” yang seakar dengan kata “shalah” dan “shalat” mempunyai makna hubungan atau penghantar. Jadi istilah “amal shalih” mempunyai arti suatu perbuatan atau metode yang dapat menghantarkan seseorang kepada pengalaman Liqa’ Allah. 
Amal yang shalih pada hakekatnya adalah amal atau perbuatan atau metode yang telah dicontohkan oleh para Utusan Allah (Rasulullah) dalam usahanya untuk mengadakan pertemuan dengan Tuhannya. Dan yang harus diingat adalah bahwa jumlah para Rasul dan Nabi yang diutus oleh Allah adalah sangat banyak, dan tidaklah mungkin semuanya itu diutus hanya di satu daerah tertentu saja. Allah telah menurunkan para Utusan-Nya itu ke berbagai penjuru dunia. Dan tidak tertutup kemungkinan Allah juga pernah menurunkan Utusan-Nya di negeri Cina atau Shindustan, sehingga Nabi Muhammad Saw memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk belajar ilmu di negeri tersebut.

“Dan tiap-tiap umat ada Rasul Allah....”.(QS Yunus 10 : 47)

“Dan berapa banyak Kami telah mengutus Nabi-Nabi pada umat terdahulu... “. (QS Az Zukhruf 43 : 6)

“Ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepada kamu sebelumnya, dan Rasul-Rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu...... “. (QS an Nisa 4 : 164)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu orang-orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari Akhirat dan banyak mengingat Allah”. (QS Al Ahzab 33 : 21)

Untuk mencapai pertemuan dengan Allah diperlukan usaha dari setiap manusia dengan bimbingan seorang Guru Mursyid yang telah mencapai derajat Ma’rifatullah atau yang telah mengalami pengalaman bertemu Allah dengan berpedoman kepada Kitab-Kitab Suci yang telah diturunkan kepada umat manusia. Prosesi Menemui Allah (Liqa’ Allah) yang telah dicontohkan oleh para Rasul, Nabi dan Para Pewaris Nabi, pada intinya mempunyai satu kesamaan yaitu kita harus dapat melakukan prosesi mengulang kembali ke awal mula penciptaan manusia.

“Dan sesungguhnya kamu datang menemui Kami dengan sendirian seperti Kami ciptakan kamu pada awal mula kejadian dan kamu akan meninggalkan dibelakangmu semua apa yang Kami karuniakan kepadamu….. “. (QS Al An ‘am 6 : 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang menemui Kami seperti Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu “. (QS Al Kahfi 18 : 48)

“Perempuan-perempuan kamu (istri-istrimu) adalah seperti ladang bagimu, maka datangilah ladangmu sebagaimana kamu kehendaki dan kerjakanlah kebajikan untuk dirimu, bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan menemui-Nya, dan sampaikanlah berita gembira untuk orang-orang yang beriman “. (QS Al Baqarah 2 : 223)

“Dan mereka menanyakan kepadamu tentang haid. Katakanlah, “itu adalah penyakit atau kotoran”. Sebab itu hindarilah perempuan selama masa haid dan janganlah dekati mereka sebelum suci. Bila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri“. (QS Al Baqarah 2 : 222)

“….. Ketika kami sedang berada disisi Rasulullah, tiba-tiba beliau bertanya : “Adakah orang asing diantara kamu ?”. Kemudian beliau bersabda : Angkat tangan kamu dan tutuplah pintumu”. (HR Al Hakim)

“Tutuplah pintumu dan ingat Allah”. (HR Bukhari)

Dalam memahami proses kembali ke awal mula penciptaan manusia, kita sering terjebak dalam cerita atau kisah-kisah yang bersifat simbolis sehingga terjadi penyimpangan dalam menafsirkan dan menerapkannya. Oleh sebab itu dalam memahami prosesi kembali ke awal mula penciptaan manusia, kita harus berpegang pada pedoman sebagai berikut :

Pertama : Setiap Kitab Suci mempunyai ayat-ayat yang bersifat Mukhamat dan Muthasyabihat.

“Dialah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang mukhamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat......”. (QS Ali Imran 3 : 7)

Kedua : Setiap ayat yang mengisahkan tentang proses kembali ke awal mula penciptaan manusia, selalu mengandung pengertian yang berpasangan baik lahir maupun batin serta mengandung banyak perumpamaan atau amtsal.
“Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan supaya kamu mendapatkan pengajaran”. (Ad Dzariyat 51 : 49)

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan diantara yang tumbuh di bumi dalam pada diri mereka dan dari apa yang mereka yang tidak diketahui” (QS Yasin 36 :36)

“Sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulangkali kepada manusia dalam Al Qur’an ini bermacam perumpamaan tetapi kebanyakan manusia enggan menerimanya kecuali ingkar”. (QS Al Isra 17 : 89)
“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu bukti, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata : “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kebohongan belaka”. (QS Ar Rum 30 : 58)





“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS Al Ankabut 29 : 43)





Ketiga : Setiap Kitab Suci, ditujukan untuk manusia yang masih hidup, sehingga apa yang diperintahkan, dalam Kitab Suci harus bisa dilaksanakan oleh manusia ketika dia masih hidup di atas dunia.





Berdasarkan tiga pedoman tersebut, kita akan coba untuk membahas ayat-ayat yang menjelaskan metode untuk menemui dan melihat Allah. Dalam surat Al-kahfi 18 : 110 telah dijelaskan bahwa apabila seorang manusia ingin berjumpa dengan Allah selagi masih hidup di dunia, maka ia harus melakukan “amal shalih”. Kata amal mempunyai arti : perbuatan, metode, cara atau laku, sedangkan kata shalih mempunyai arti hubungan, sambungan atau antaran. Jadi pengertian amal shalih adalah suatu perbuatan atau metode yang dapat mengantarkan atau menghubungkan kita kepada pengalaman bertemu dan melihat Allah.





Berdasarkan surat Al An”am 6 : 94 Allah telah memberitahukan bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan-Nya adalah seperti ketika manusia diciptakan pada awal mula kejadian. Dengan dalil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa intisari dari metode amal shalih adalah suatu proses pengulangan kembali ke awal mula kejadian penciptaan seorang manusia. Bagaimanakah proses awal mula penciptaan seorang manusia ? Dan apa hubungannya dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah. Untuk membahasnya, marilah kita lihat sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari keberadaan Sang Khaliknya.





Sejak lahir sampai berumur 25 tahun, beliau telah diajarkan dan didoktrin oleh para pemuka agama kaum Quraisy bahwa Tuhan yang harus disembah adalah Tuhan-Tuhan yang berwujud patung-patung yang mempunyai nama antara lain Lata Uza, Manata dan lainnya. Dalam diri Muhammad pada waktu itu tidak mempercayai ajaran tersebut, sehingga beliau meminta ijin kepada istrinya Siti Khodijah untuk bertahanuts atau beruzlah mengasingkan diri ke dalam gua Hira dilereng Gunung Cahaya (Jabal Nur) dengan tujuan untuk mencari Tuhan yang sebenarnya.





Selama berbulan-bulan beliau bertahanuts di Gua Hira, tetapi belum juga menemukan cara untuk bertemu sekaligus mengenal Sang Khalik. Tetapi berkat usaha beliau yang tidak kenal menyerah, akhirnya di usia ke 40 tahun, beliau mendapatkan Wahyu yang pertama kali dari Allah yang isinya adalah perintah untuk membaca, merenungkan dan mempelajari proses awal mula penciptaan diri seorang manusia.





“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari Alaqah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pemurah. Yang mengajari manusia dengan Qalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya”. (QS Al Alaq 96 : 1-5)





Berdasarkan dalil tersebut, marilah kita renungkan, Muhammad pada waktu itu bertahanuts di Gua Hira dengan tujuan untuk mencari, menemui dan mengenal keberadaan Sang Khalik yang sebenarnya, walaupun beliau tidak mengetahui cara atau metode untuk bertemu dengan Sang Khalik. Untuk maksud tersebut, akhirnya Allah memerintahkan agar beliau mempelajari proses awal mula penciptaan seorang manusia dari Al Alaqah. Tentunya Muhammad pada waktu itu bertanya dalam qalbunya, apakah hubungan antara proses awal mula penciptaan manusia dari Al Alaqah dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah ? Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh beliau dan pengajaran yang diajarkan oleh Allah, akhirnya beliau menemukan jawabannya, sehingga akhirnya beliau dapat bertemu dan melihat Allah untuk pertama kalinya di Gua Hira. Kemudian selanjutnya beliau selalu mendapatkan pengajaran dari Allah berupa wahyu-wahyu sampai beliau berusia 63 tahun. Demikianlah sekilas sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dalam mencari Tuhannya.





Dari sejarah Nabi Muhammad Saw tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk bertemu dengan Allah kita harus mempelajari proses awal mula penciptaan diri yang bermula dari Al Alaqah. Kata Alaqah mempunyai dua arti yaitu pertama, cinta kasih yang melekat. Arti yang kedua adalah segumpal darah. Dari dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses penciptaan manusia bermula dari rasa cinta Allah kepada makhluk-Nya. Hal ini sesuai dengan Hadits Qudsi :





“Aku dahulu adalah permata yang tersembunyi. Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar ia mengenal-Ku”. (HR. Bukhari)





Rasa cinta Allah kepada makhluk-Nya itu kemudian diberikan kepada ayah ibu kita sehingga timbullah rasa cinta diantara keduanya, yang kemudian dilekatkan dalam sebuah ikatan perkawinan. Kemudian mereka melakukan persenggamaan sehingga terjadilah penyatuan dua rasa cinta yang dilebur menjadi satu. Dalam persenggamaan tersebut terjadilah pelepasan spermatozoa dari ayah, yang selanjutnya mereka bergerak menuju pasangannya yaitu ovum atau sel telur yang berada di dalam rahim. Setelah mereka bertemu maka sperma akan bergerak mengelilingi sel telur sebanyak tujuh kali mirip gerakan Thawafnya para jamaah haji. Setelah itu barulah sperma berusaha untuk menembus lapisan pelindung sel telur dan jika berhasil maka terjadilah penyatuan antara sel telur dengan sperma (nutfah) yang akan mengakibatkan pembuahan yang selanjutnya membentuk segumpal darah atau Al Alaqah yang merupakan cikal bakal janin bayi manusia.





Selanjutnya Alaqah tersebut berproses menjadi mudghah, izhamah dan lahmah kemudian baru menjadi bayi yang sempurna secara jasmaniyah, kemudian Allah meniupkan Ruh-Nya kedalam janin bayi tersebut. Ketika berada di dalam rahim, sang bayi mengalami keadaan dimana semua aktifitas inderawinya tidak berfungsi secara sempurna. Atau dengan kata lain, lubang-lubang inderawinya masih tertutup karena sang bayi berada dalam air ketuban (omnium water) selama kurang lebih 9 bulan, sampai akhirnya sang bayi lahir ke alam dunia ini.





Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses awal mula penciptaan seorang manusia melalui dua tahapan yaitu tahap pertama berasal dari cinta kasih seorang pria dan wanita yang saling dilekatkan dengan ikatan perkawinan dan persenggamaan. Tahap kedua, yang merupakan lanjutan dari tahap pertama yaitu segumpal darah yang melekat di dinding rahim yang terus berproses menjadi janin bayi yang terendam didalam air ketuban selama 9 bulan.





Dalam surat Al An’am 6 : 94 telah diisyaratkan bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah seperti proses awal mula penciptaan diri manusia itu sendiri, yaitu persenggamaan kedua orang tuanya dan segumpal darah yang kemudian menjadi bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Mungkin timbul dua pertanyaan dalam diri kita, pertama, apa hubungannya antara persenggamaan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah? Pertanyaan kedua, apa hubungannya antara proses penciptaan janin bayi dalam kandungan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah?





Inilah masalah yang selama ini dirahasiakan oleh Nabi Muhammad Saw.





“Janganlah engkau berikan ilmu ini kepada yang tidak membutuhkan, karena itu adalah perbuatan zhalim. Tetapi jangan engkau tidak berikan ilmu ini kepada yang membutuhkan, karena itu juga perbuatan zhalim”. (Al Hadits)





Seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah juga pernah berkata :





“Aku hafal dua karung (kitab) hadits dari Rasulullah Saw. Yang satu karung (kitab) sudah aku siarkan kepada kalian semua. Sedang yang satu lagi kalau aku siarkan, niscaya dipotong orang leherku”. ( HR Bukhari)





Berdasarkan dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada kitab hadits yang disembunyikan oleh Abu Hurairah, yang kemudian diajarkan hanya kepada orang yang terpilih yang terus diwariskan sampai ke generasi sekarang. Sebagian besar isi dari kitab hadits tersebut berkaitan dengan masalah metode untuk melihat Allah dan bertemu dengan-Nya, melalui proses pengulangan awal mula kejadian penciptaan manusia.





Dengan niat yang baik, penulis mencoba menyingkap masalah tersebut dengan dasar Al Qur’an dan Hadits :





“Dan janganlah engkau sembunyikan kebenaran itu, padahal engkau mengetahuinya”. (QS Al Baqarah 2 : 42)





“Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit”. (HR Bukhari)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan atau merahasiakan keterangan-keterangan dan petunjuk-petunjuk yang telah Kami turunkan setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat Alllah dan dilaknat pula oleh mereka yang melaknat kecuali orang-orang yang telah bertaubat, berbuat kebaikan dan menerangkan apa-apa yang mereka sembunyikan, maka mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS Al Baqarah 2 : 159-160)

“Sampaikanlah dariku, walaupun satu ayat”. (Al Hadits)





Di dalam Al Qur’an, Allah telah mengisyaratkan hubungan antara persenggamaan dengan proses bertemunya seorang manusia dengan Allah, yaitu :





“Perempuan-perempuan kamu (istri-istri kamu) adalah seperti tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tempat bercocok tanam milik kamu itu sebagaimana kamu kehendaki. Dan buatlah kebaikan untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah beritai gembiraini untuk orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah 2 : 223)





Sebagian besar mufasirin menafsirkan ayat tersebut termasuk ayat yang bermakna mukhamat artinya jelas dan terang sesuai dengan teksnya. Tetapi apabila kita teliti lebih lanjut, terdapat satu keanehan yang tersirat dalam ayat tersebut, yaitu pada awalnya ayat itu berbicara tentang masalah persenggamaan (berjima’) antara seorang suami dengan istri istrinya, tetapi tiba-tiba diakhir ayat tersebut terdapat kalimat : “dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah berita gembira ini kepada orang-orang beriman” Tentunya kita bertanya, Apa hubungannya antara persenggamaan dengan kabar gembira bahwa kita akan menemui Allah ? Mengapa Allah menggabungkan antara permasalahan tatacara bersenggama (berjima’) dengan masalah proses menemui-Nya dalam satu ayat ? Adakah makna yang tersirat dari ayat tersebut ? Inilah permasalahan yang akan kita coba bahas dengan hati-hati, karena hal ini merupakan masalah yang sangat sensitif yang bisa menimbulkan kesalafahaman dan fitnah, seperti yang terjadi pada penulisan kitab “Darmogandul” dan Kitab “Gatoloco” yang menjadi polemik pada waktu itu sampai sekarang ini.





Proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah melalui suatu proses yang mirip dengan proses awal mula penciptaan manusia (surat Al An’am 6 ayat 94). Kata “mirip” inilah yang harus diperhatikan dan dipahami dengan benar. Kata “mirip” ini merupakan terjemahan dari kata “kamaa”. Kita sering tidak menyadari arti kata “kamaa” ini. Dalam bahasa Arab, kata “kamaa” mempunyai banyak arti yaitu seperti, sebagaimana, bagaikan atau mirip. Dari arti ini dapat disimpulkan, bahwa proses bertemunya seorang manusia dengan Allah adalah seperti proses penciptaan awal mula kejadian manusia yaitu yang diawali dengan persenggamaan antara ayah ibu kita adalah bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi proses tersebut hanya bersifat mirip dengan proses awal mula penciptaan manusia (persenggamaan). Bagaimanakah kemiripannya ?

Untuk memahami permasalahan tersebut, kita harus menyadari bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan (QS 51 : 49) Demikian juga diri kita, juga diciptakan dengan berpasangan

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS Yasin 36 : 36)

Pada bagian akhir ayat tersebut dijelaskan bahwa kita tidak mengetahui secara keseluruhan apa saja yang diciptakan Allah secara berpasangan. Tegasnya, masih banyak yang diciptakan secara berpasangan yang belum diketahui oleh kita, salah satunya adalah tentang diri kita sendiri yang ternyata juga berpasangan.

Diri kita yang bersifat jasmani mempunyai pasangannya yaitu diri yang bersifat ruhani. Diri jasmani kita juga mempunyai pasangan secara jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Dalam pandangan ahli hakikat, pada diri setiap manusia, terdapat syimbol kelakian dan kewanitaan, baik secara genital maupun secara sifat. Secara genital kelakian diberi tanda khusus dengan organ yang berbentuk “huruf alif” atau “lingga” atau “alu”. Sedangkan genital kewanitaan diberi tanda khusus dengan organ vital yang berbentuk “huruf ba” atau “Yoni” atau “lumpang”. Dalam bahasa Arab, organ vital kelakian di sebut Ad Dzakar, sedangkan organ vital kewanitaan disebut Al Untsa. Sifat kelakian disebut dengan istilah Ar Rizal, sedangkan sifat kewanitaan disebut dengan istilah An Nisa.

Setiap diri manusia juga mempunyai dua syimbol kelakian dan kewanitaan sekaligus (aprodite), yaitu tujuh lubang inderawi yang ada di kepala dan tiga lubang yang ada di badan sebagai syimbol kewanitaan, dan sepuluh jari tangan sebagai syimbol kelakian. Inilah makna syimbolis dari hakikat istri, yang di isyaratkan dalam Al Qur’an :

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kamu istri dari anfusmu sendiri........”. (QS Ar Rum 30 : 21)

“Dia menciptakan kamu dari diri yang satu, kemudia Dia menjadikan daripadanya istrinya......”. (QS Az Zumar 39 : 6)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya....”. (QS An Nisa 4 : 1)
Tujuh lubang inderawi yang ada dikepala manusia merupakan tempat berkumpulnya empat rasa inderawi yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman dan pengucapan, oleh ahli hakikat dianggap sebagai syimbol “empat istri” yang harus dinikahi secara keseluruhan atau poligami, agar ke empat hawa nafsu yang ada pada lubang-lubang telinga, mata, hidung dan mulut dapat dipimpin dan dikendalikan oleh sang suami.
“Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim, hendaklah kamu menikahi siapa saja di antara perempuan-perempuan yang kamu sukai dua, tiga, atau empat tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja atau kamu mengambil budak-budak perempuan yang kamu miliki.........”. (QS An Nisa 4 : 3)





Seorang lelaki yang dapat mempunyai empat istri dan dapat mengendalikan dan memimpin ke empat istrinya adalah type seorang muslim yang terbaik, hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad Saw :





“Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata : Ibnu Abbas berkata kepadaku : “Apakah engkau telah menikah?” Aku menjawab : “Belum”. Ia berkata : “Menikahlah, karena sesungguhnya sebaik-baiknya orang Islam adalah yang lebih banyak istrinya”. (HR Bukhari dan Ahmad)





Secara syimbolis dalil tersebut menjelaskan tentang hakikat dari keberadaan hawa nafsu yang berada disetiap lubang telinga, mata, hidung dan mulut. Ke empat inderawi (telinga-mata-hidung-mulut) merupakan syimbol dari perempuan yatim, artinya perempuan yang hidup sendirian (yatim=sendiri, satu-satunya atau tidak berbapak). Aktifitas mendengar, melihat, mencium dan mengucap, mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan sendirinya (yatim), karena mereka sudah diprogram oleh Allah untuk menjalankan fungsinya sesuai dengan perintah-Nya. Telinga hanya berfungsi untuk mendengar, mata hanya berfungsi untuk melihat, hidung hanya berfungsi untuk mencium dan mulut hanya berfungsi untuk mengucap dan mengecap saja. Singkatnya fungsi inderawi mereka tidak akan tertukar diantara mereka. Hal ini yang diisyaratkan dalam firman-Nya :





“Dan sungguh Kami telah mencptakan di atas (kepala) kamu tujuh (lubang) jalan (aktifitas inderawi).Dan tidaklah Kami lalai memelihara (fungsi inderawi) yang Kami ciptakan itu”. (QS Al Mu’minun 23 : 17)

Setiap inderawi mempunyai kebutuhan yang sangat fithrah yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhan itu terpenuhi dengan baik maka ia akan bahagia atau sebaliknya ia akan tidak bahagia apabila kebutuhannya tidak terpenuhi. Kebutuhan mata adalah melihat. Kebutuhan telinga adalah mendengar. Kebutuhan hidung adalah mencium dan kebutuhan mulut adalah mengucap dan mengecap. Semua kebutuhan itu harus dipenuhi dengan adil, tetapi kadang kita tidak bisa berbuat adil, misalnya kita hanya mendahulukan kepentingan salah satu inderawi saja dibandingkan kebutuhan inderawi lainnya atau kita hanya mempercayai salah satu inderawi saja dibandingkan mempercayai inderawi lainnya. Inilah yang diisyaratkan secara syimbolis dalam firman-Nya :





“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istrimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, maka janganlah kamu terlalu cenderung kepada istri yang kamu cintai sehingga engkau biarkan isrtri yang lain seperti tergantung (terlupakan)..........”. (QS An Nisa 4 : 129)





Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, kadang para istri atau wanita menjadi sumber fitnah dan dosa, karena mereka banyak menuntut kebutuhannya secara berlebihan, sehingga Nabi Muhammad Saw pernah bersabda :





“Perempuan adalah perangkap syeitan”. (Al Hadits)





“Aku tidak meninggalkan umatku fitnah yang kebih berbahaya buat lelaki lebih dari fitnah yang dibawa kaum wanita”. (Al Hadits)





“Bumi ini subur dan indah. Dan Tuhan telah menyerahkan amanah kepada kalian di muka bumi ini. Jika muncul godaan di dunia, berhati-hatilah kalian. Dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bangsa Isarail adalah fitnah wanita”. (HR Muslim)





Secara syimbolis, hadits tersebut menjelaskan bahwa keinginan dari hawa nafsu yang ada di lubang inderawi kita, bisa juga menjadi perangkap syeitan (syeitan adalah sifat menjauh atau merenggang dari kebenaran) yang seringkali menimbulkan permasalahan karena kita akan terus mengikuti kemauannya dan selalu memenuhi kebutuhannya, sehingga kita akan menjauh dari nilai-nilai kebenaran. Misalnya, kita selalu menuruti apa saja yang yang diinginkan oleh mulut, sehingga kita makan secara berlebihan tanpa mempedulikan apakah makanan itu halal atau haram, thayib atau tidak.





Untuk mengatasi masalah tersebut Allah telah memberikan jalan keluarnya yaitu agar setiap lelaki atau suami selalu mengendalikan dan memimpin wanita atau istri-istrinya atau hawa nafsunya yang terdapat pada telinga, mata hidung dan mulut.



Lelaki adalah pemimpin atas para wanita karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).....”. (QS An Nisa 4 : 34)



sang suami atau lelaki secara hakikat ? Secara hakikat syimbol “suami atau lelaki” adalah jari-jari tangan kita. Hanya jari-jari tangan kitalah yang dapat mengendalikan hawa nafsu atau keinginan yang berlebihan yang timbul dari ke empat istri kita yaitu telinga, mata, hidung dan mulut, dengan cara mengihramkan (melarang) mereka untuk beraktifitas seperti yang diisyaratkan dalam gerakan takbiratul ihram dalam setiap awal ibadah shalat.





Ketika keinginan untuk mendengar, melihat, mencium dan mungucap atau mengecap sudah sangat berlebihan, maka satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menutup lubang-lubang inderawi tersebut dengan jari-jari tangan kita, dengan gerakan takbiratul ihram (takbir larangan). Dengan tertutupnya lubang-lubang inderawi kita maka secara berangsur-angsur keinginan hawa nafsu dari para istri mulai menghilang.





Gerakan takbiratul ihram secara syimbolis juga mengisyaratkan hubungan antara “pernikahan atau perkawinan” syimbol kelakian yaitu jari-jari tangan, dengan syimbol kewanitaan yaitu lubang-lubang inderawi, dengan proses pertemuan dengan Allah, seperti yang diisyaratkan dalam firman-Nya :





“Istri-istrimu adalah seperti ladang (tempat bercocok tanam) bagimu, maka datangilah ladangmu (tempat bercocok tanammu) sebagaimana kamu sukai dan buatlah kebaikan untuk dirimu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya dan sampaikanlah kabar gembira ini untuk orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah 2 : 223)





Ayat tersebut apabila ditafsirkan secara syimbolis, akan mempunyai arti sebagai berikut :





Pertama : Kata “istri-istri” dalam ayat tersebut mempunyai makna syimbolis tujuh lubang inderawi yang berada di kepala manusia. Sedangkan kata ganti kamu, pada ayat tersebut mempunyai makna syimbolis sepuluh jari tangan manusia.





Kedua : Pada ayat tersebut terdapat kalimat “Perempuan-perempuan (istri-istri) kamu adalah ladang bagi kamu. Maka datangilah ladangmu sebagaimana kamu kehendaki”. Kalimat tersebut mempunyai arti syimbolis bahwa ketujuh lubang inderawi kita adalah ladang bagi sepuluh jari tangan. (Ladang adalah tempat untuk bercocok tanam, apabila tempat itu cocok untuk ditanam dengan satu jenis tanaman tertentu maka ditanamlah tanaman tersebut). Hal ini berarti tujuh lubang inderawi yang ada di kepala adalah tempat yang cocok bagi jari-jari tangan untuk ditanamkan di lubang-lubang tersebut sesuai dengan keinginan kita. Bagaimana mencocokkannya, silahkan tanya kepada ahlinya.

Ketiga : Pada ayat tersebut juga terdapat kalimat “dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui-Nya”. Kalimat ini mempunyai arti simbolis, bahwa ketika jari-jari tangan sudah ditanamkan ke dalam lubang-lubang inderawi maka dalam posisi demikian sesungguhnya kita sedang melakukan prosesi untuk bertemu dengan Allah. Jadi prosesi menemui Allah dapat terjadi ketika simbol kelakian (jari-jari tangan) dipertemukan dengan syimbol kewanitaan yaitu lubang-lubang inderawi. Inilah yang dimaksud dengan hakikat pernikahan “Bil yad” (pernikahan dengan mempergunakan tangan) atau “sirri” atau “rahasia”, yaitu pernikahan yang bersifat rahasia antara jari-jari tangan dengan lubang inderawi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Keempat : Pada akhir ayat tersebut terdapat kalimat “dan sampaikanlah berita gembira ini kepada orang-orang yang beriman”. Kalimat ini mempunyai arti simbolis bahwa prosesi menemui Allah yang diisyaratkan dalam surat tersebut harus disebarluaskan kepada orang-orang yang beriman sebagai kabar gembira, agar mereka dapat mengetahui dan melaksanakan tatacara menemui Allah tersebut selagi mereka masih hidup di atas dunia.

Hakikat Akhirat

Dalam agama Islam, kita mengenal istilah trilogy Iman, Islam dan Ihsan, yang kemudian menjadi pundamen dasar dari Rukun Iman, Rukun Islam dan Rukun Ihsan. Rukun Iman terdiri dari enam keimanan yang tercakup dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yaitu Amantubillahi (percaya kepada Cahaya hidup), wamalaikatihi ( percaya kepada gerak Cahaya hidup), wakutubihi (percaya kepada ketetapan cahaya hidup), warosullihi (percaya kepada rasa Cahaya hidup), walyaumil akhiri (percaya kepada kebangkitan cahaya hidup), wal qodri khoirihi (percaya kepada kuasa cahaya hidup). Makalah ini mencoba membahas apa yang dimaksud dengan konsep Akhirat.
Umumnya kita berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan dengan akhirat itu adalah alam yang keberadaannya di balik kematian. Alam yang baru akan kita masuki setelah kita mati dan dunia ini berakhir. Dengan kata lain, alam akhirat ialah alam yang akan datang yang baru ada setelah dunia ini mengalami pralaya atau “kiamat”.

Mungkin ada yang salah di benak kita. Kita ini berdoa agar dikarunia Tuhan kesejahteraan hidup di akhirat, tapi kita sendiri tidak tahu akhirat. Bagaimana kita meminta yang tidak kita ketahui? Mungkin, kita beranggapan bahwa Tuhan senantiasa mengerti tentang apa yang diminta hamba-hamba-Nya.Tuhan itu memang Maha Mengetahui dan Maha Mendengarkan. 
Tetapi, kalau kita meminta sesuatu yang tidak kita mengerti, maka setelah dikabulkan pun kita tidak akan mengerti apa yang kita terima itu. Bayangkan, kita minta kepada seseorang kamera digital yang kita sendiri tidak mengetahui apa yang kita minta itu. Kita cuma mendengar bahwa ada kamera digital. Lalu, kita diberi. Apakah kita bahagia dengan pemberian itu? Apakah ada gunanya pemberian itu?

Makna Akhirat

Kita perlu menengok kembali kata “akhirat”. Jangan-jangan kita ini salah paham terhadap pengertian akhirat. Di bawah ini akan dikutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata akhirat. Dan, pemahamann berikut ini akan bersesuaian dengan pemahaman hakikat di berbagai macam agama.

“Janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Dia tidak menyalahi janji-Nya. Akan tetapi, sebagian besar manusia tidak mengetahui (janji-Nya). Mereka hanya mengetahui hal-hal yang tampak dari kehidupan dunia ini, sedangkan yang “akhirat” mereka lupakan”. (QS 30 : 6-7).

Pertama, ada janji Allah. Janji adalah pernyataan yang dipakai sebagai pegangan. Tentunya, manusia menerima janji itu langsung dari yang berjanji dengan dirinya. Kalau sudah dari orang lain, itu namanya bukan janji. Ini baru “katanya”. Tentu, Tuhan telah berjanji kepada setiap orang. Tetapi, janji Tuhan itu termasuk alam yang tak-tampak. Janji Tuhan itu tidak dalam bentuk huruf maupun suara.

Pada umumnya manusia, semenjak era kenabian, telah pergi menuju alam lahiriah. Hidup di dalam lingkungan dunia eksternal. Mereka benar-benar telah meninggalkan alam rahim yang tersembunyi itu menuju alam lahiriah yang serba tampak. Padahal, janji Tuhan tanpa huruf dan suara itu ada di dalam alam yang tak-tampak. Janji Tuhan itu ada di alam batin atau inner self. Selama manusia meninggalkan alam batinnya, maka ia tidak akan mengetahui janji tersebut.

Janji Tuhan itu benar adanya. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dari bayi hingga tua renta itu merupakan janji Tuhan. Janji yang ditampakan di alam lahiriah. Di manakah adanya janji Tuhan di alam nyata ini?jawabnya adalah ada di alam proses penciptaan yang dapat kita amati sehari-hari. Bukankah manusia ini tidak sekedar produk penciptaan? Manusia mengalami fase penyempurnaan diri, baik lahiriah maupun batiniah. Ada kadar untuk tumbuh dan berkembang. Ada potensi untuk menyempurnakan diri. Dan, ada arah untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Dalam bahasa agama, ada “petunjuk Tuhan” untuk kehidupan manusia.

Kedua, sebagian manusia hanya “mengetahui” yang tampak saja dari kehidupan dunia. Semenjak manusia terpikat oleh keberadaan dari dunia eksternalnya, indra lahiriah manusia semakin menonjol peranannya. Seiring dengan menguatnya peranan indra lahiriah, semakin melemahnya peranan indra batinnya, seperti naluri dan intuisi. Peranan lahir semakin bertambah, maka peranan batin semakin berkurang atau mungkin malah hilang. Akibatnya, manusia kehilangan arah dalam mengarungi hidupnya.

Manusia merasa bahwa yang menentukan arah hidupnya adalah dunia di luar dirinya. Manusia merasa bahwa keindahan itu di luar dirinya. Bahwa kebahagiaan itu berasal dari dunia luar dirinya. Sehingga, manusia mengejar kebahagiaan yang ada di luar dirinya. Apa salah? Tentu saja, tidak. Tetapi, ini tidak sepenuhnya benar.

Cobalah kita merenungkan orang yang mengalami cacat buta dan tuli semenjak lahir. Meski secara fisik cacat, batinnya belum tentu cacat. Sebagai manusia tentunya ia tetap dapat merasakan kebahagiaan. Karena itu, hampir tidak ada manusia cacat lahir dari bayi yang putus asa dalam mempertahankan eksistensi hidupnya. Justru bunuh diri terjadi pada orang-orang normal yang putus asa dalam menghadapi dunia eksternalnya.

Mengapa terjadi perasaan jenuh, bosan, atau putus asa dalam hidup ini? Karena, pemandu yang ada di dalam diri kita tidak berfungsi. Bila pemandu tersebut ditinggalkan, maka fungsinya akan meredup. Naluri atau insting menjadi tumpul. Intuisi tidak kunjung datang. Sedangkan dunia eksternal menjadi hal yang rutin. Maka, hasilnya adalah kebosanan. Jika dunia luar tak bisa diraih dan menekan kehidupan, maka hasilnya adalah keputusasaan. (lihat surat 49 : 7)

Ketiga, melalaikan akhirat. Kalau kita menyimak dengan seksama ayat tersebut, ternyata “yang tampak” dari dunia ini dilawankan dengan “akhirat”. Sehingga makna akhirat sejatinya adalah keberadaan batin dalam hidup ini. Dan, makna inilah yang terbanyak kita temui di dalam Al-Qur’an. Ternyata, akhirat lebih terkait dengan kenyataan kekinian daripada alam lain yang akan terjadi setelah dunia ini pralaya.

Penutup ayat tersebut jelas, bahwa yang dilalaikan oleh sebagian besar manusia itu adalah “yang tak tampak” dari dunia ini yang disebut “akhirat”. Dan, sifatnya menjadi denititif, yaitu dengan adanya artikel “al” pada ayat tersebut. Disebut pada penutup ayat bahwa, “wa hum ‘ani al-akhirati hum la ghafilun” .Jadi , yang mereka ketahui apa? Yaitu, “Zhahir”-nya dunia. Yang dilalaikan apa? Yang dilalaikan itu “al-akhirah”-nya dunia. Batinnya dunia. Bagian yang tak-tampaknya dunia.

Selama ini kata “akhirat” dalam Al-Qur’an hampir selalu diartikan dunia yang akan datang. Sebuah dunia yang adanya setelah alam raya yang ada sekarang ini mengalami kehancuran yang biasanya tersebut “kiamat”. Baru setelah hancur lebur itu, Tuhan akan menciptakan dunia yang baru lagi. Begitulah kepercayaan yang berkembang selama ini.

Cobalah renungkan, apanya yang perlu dilalaikan kalau akhirat itu adanya setelah hancur leburnya alam semesta ini. Sesuatu yang dilalaikan, tentunya sesuatu yang sudah pernah dialami. Sesuatu itu ialah kebahagiaan, keenakan dan kenyamanan hidup yang berasal dari dalam-diri. Sesuatu itulah yang terwujud pada masa-masa bayi dalam rahim, sampai lahir dan masaa kanak-kanak. Lihatlah kegembiraan, kejenakaan, dan kesenangan pada masa bayi dan kanak-kanak. Itu semua timbul dari dalam-diri mereka sendiri. Makanya, kalau kita melihat mereka yang bermain, kita pasti merasa heran. Banyak hal yang menurut kita menimbulkan keriangan, tapi mereka justru tampak riang gembira.

Apabila akhirat belum pernah ada, belum pernah dialami, tidak mungkin dilalaikan. Mana ada seseorang yang lalai terhadap sesuatu yang belum pernah dirasakan? Pasti tidak mungkin! Orang lalai, tentu lalai terhadap kenyataan. Lalai terhadap perintah. Lalai terhadap tugas. Lalai terhadap kewajiban. Dan, perintah atau tugas itu diberikan, tentu berkaitan dengan hal yang nyata. Kewajiban dibebankan tentu untuk mengerjakan hal-hal yang nyata. Kewajiban tidak mungkin diberikan kepada kita bilamana kewajiban itu tidak dapat direalisasikan.

Kesimpulan

Dunia dan akhirat sebenarnya satu adanya. Yang kelihatan berbeda itu hanyalah penampakannya. Kalau kita lihat itu kulitnya keberadaan atau sisi luar sebuah eksistensi, maka yang kita alami adalah “dunia”. Dengan bahasa QS 30 : 6-7, hanya bagian yang tampak dari dunia. Tapi, bila yang kita saksikan itu sisi batinnya, maka yang ada ialah kehidupan akhirat.

Maka, akhirat sebenarnya ada di sini dan sekarang ini. Akhirat tidak terkungkung oleh waktu. Maka ia senantiasa hadir dalam kekinian. Ia baqa; alias kekal. Kalau nanti baru ada akhirat, maka akhirat itu tidak kekal. Kata “nanti” merujuk pada sebuah kelahiran. Segala sesuatu yang dilahirkan pasti mengalami proses penuaan dan akhirnya punah. Inilah hukum alam. Makanya kita harus paham terhadap makna akhirat, agar kita tidak terjebak ilusi yang diberitakan oleh banyak orang.

Dalam bahasa Al-Qur’an, kalimat “liqa’ Allah” atau berjumpa dengan Allah, sering juga disebut sebagai bertemu dengan akhirat. Dan, untuk berjumpa dengan Allah, jangan ditunggu-tunggu. Jangan ditunggu nanti setelah mati. Kalau masih hidup saja kita tidak dapat bertemu dengan-Nya, jangan harap kalau mati kita bisa beranjang sana ke Hadirat-Nya. Kalau masih hidup kita tidak dapat makan sesuap nasi, maka jangan harap kalau mati kita dapat makan sebutir rimah.

Selamat menjelajah akhirat sewaktu napas masih mengalir di dalam tubuh kita. Dengan menjelajah akhirat kita tak akan terjebak kenikmatan duniawi. Kita justru tahu, sebenarnya kenikmatan ukhrowi itu hadir dari dalam diri kita sendiri. Kenikmatan bukan berasal dari luar diri kita. Di akhir tulisan ini marilah kita renungkan rekaman doa Nabi Ibrahim AS dan berita tentang hasilnya orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang melampaui batas dalam firman Allah dibawah ini :

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
Yaitu, pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna.
Kecuali, orang yang datang kepada Allah dengan hati yang “salim”
Dan, didekatkanlah Taman kebahagiaan kepada orang-orang yang bertakwa.
Dan, ditampakkan dengan jelas Jahim kepada orang-orang yang melampaui batas.
(QS al-Syu’ara [26] : 87-91.

Hakikat Imam Mahdi 2

Ketika kita membahas tentang Imam Mahdi maka pembasan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks “Juru Selamat”. Pembahasan tentang masalah Juru Selamat juga tidak akan berarti banyak jika tidak dikaitkan dengan persoalan Hari Qiyamat, karena sang Juru Selamat diyakini akan menyelamatkan umatnya menjelang Hari Qiyamat.
Oleh karena itu setiap agama selalu mengklaim memiliki juru selamatnya masing-masing sebagai “barang dagangan” yang jitu untuk menarik pengikutnya. Termasuk kaum muslimin, yang ternyata tak bisa melepaskan diri dari persoalan pemaknaan “juru selamat” itu, yang akhirnya membawa mereka pada penafsiran yang berbeda, tergantung pada penafsiran versi kelompoknya.

Hal ini disebabkan karena hadits-hadits yang berbicara soal Imam Mahdi membuka ruang untuk dilakukannya berbagai penafsiran yang berbeda-beda. Akan tetapi ada satu hal yang pasti, yaitu mayoritas kaum muslim meyakini bahwa Imam Mahdi akan datang ke muka bumi pada hari Qiyamat, sebagai salah satu tanda-tanda datangnya hari Qiyamat.

PENGERTIAN HARI KEBANGKITAN

Istilah hari Qiyamat merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang mempunyai arti Bangkit atau berdiri, jadi hari Qiyamat mempunyai arti hari Kebangkitan atau saatnya Berdiri. Dalam pandangan kaum Ma’rifatullah, hari Qiyamat mempunyai empat pengertian, yaitu :

Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh ke dalam jasmani seorang manusia. Hal ini dinamakan dengan istilah Lahir, Natal atau Milad.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh dari Jasmani seorang manusia. Hal ini dinamakan dengan istilah wafat atau mati.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Roh dari jasmani seorang manusia ketika melakukan prosesi Laku Mi’raj.
Hari Qiyamat dalam pengertian Bangkitnya Kesadaran Rohani manusia secara kolektif menuju ke arah dimensi yang lebih tinggi yaitu ke Tatanan Dunia Baru atau Darul Salam atau Kerajaan Tuhan atau Khalifatulah Al Mahdi.


WAKTU KEDATANGAN HARI QIYAMAT

Salah satu ruang yang memicu perdebatan tanpa akhir adalah kapan tepatnya hari Qiyamat itu terjadi, hal ini timbul karena tidak ada satupun dalil yang menjelaskan kapan datangnya hari Qiyamat. Hanya Allahlah yang mengetahui rahasianya.

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Qiyamat itu ada pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia”. (QS Al A’raf 7 : 187)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada Sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Qiyamat”. (QS Luqman 31 : 34)

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Qiyamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Qiyamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus (QS Az Zukhruf 43 : 61)

Di dalam Al Qur’an dan Hadits dapat kita lihat isyarat atau tanda-tanda datangnya hari Qiyamat, yaitu :

(22 ayat 1) (69 ayat 13-18) (75 ayat 1-5) (77 ayat 7-19) (78 ayat 17 - 20 dan 38) (79 ayat 1-9 dan 35 dan 46) (80 ayat 33 – 42) (81 ayat 1-28) (82 ayat 1-19) (84 ayat 1 – 5) (99 ayat 1 – 8) (101 ayat 1 – 10)

“Sungguh, tanda-tanda hari Qiyamat adalah bahwa waktu akan menjadi terasa cepat, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan dan semakin banyak terjadi harj’. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah , apakah hari’ itu ?’ Beliau menjawab, “ Pembunuhan- pembunuhan “. (HR Bukhari Muslim dan Abu Dawud)


HAKIKAT PENGERTIAN IMAM MAHDI

Istilah Imam Mahdi merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Imam yang artinya Pemimpin dan Mahdi yang artinya yang mendapat petunjuk. Jadi secara bebas imam mahdi dapat diartikan pemimpin yang mendapat petunjuk. Di dalam Al Qur’an, tidak satupun ayat yang menjelaskan tentang masalah imam mahdi. Justru dalam Al Qur’an, Allah selalu mengatakan bahwa Diri-Nyalah yang dapat memberi petunjuk, bahkan Allah mempunyai asma Al Hadi. Begitupula Al Qur’an disebut juga Al Huda. Jadi, kesimpulannya, yang dimaksud dengan Imam Mahdi adalah Nur Allah yang selalu memberikan Petunjuk yang harus selalu dibaca (Nurul Qur’an). Dalam beberapa Hadits juga terdapat tentang imam mahdi, yaitu :

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al Mahdi yang diutus Allah ditengah-tengah umatku ketika banyak terjadi perselisihan antar manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kejujuran, sebagaimana bumi ini sebelum itu dipenuhi oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan”. (HR Iman Ahmad)

“Seandainyatidak tersisa dari umur dunia ini kecuali satu hari, maka Allah akan memanjangkan hari itu sampai Dia mengutus seorang laki-laki dariku atau ahlul baitku yang namanya menyerupai namaku dan nama ayahnya menyerupai nama ayahku. Ia memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dunia dipenuhi dengan kezaliman dan kecurangan”. (HR Abu Daud dari Abdullah bin Mas’ud)

“Al Mahdi dari keturunan Fathimah “. ( HR Abu Daud dari Ummu Salamah)

“Al Mahdi adalah dariku. Ia mempunyai dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi kecurangan dan kelaliman dan menguasai bumi selama tujuh tahun”. (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban)

“Al Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

“Ketika kalian melihatnya, maka berbaiatlah dengannya, walaupun dengan merangkak diatas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al Mahdi”. (HR Ibn Majah)

“Isa ibnu Maryam turun, lalu pemimpin kaum mukmin berkata kepadanya : “Mari imami shalat kami”. Tidak , sesungguhnya sebagian umat mukmin adalah pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah terhadap umat ini”. ( HR Al Harits bin Usamah dari Jabir)

“Sungguh bumi ini akan dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila hal tersebut sudah penuh, maka Allah akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia telah dipenuhi sebelum itu oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun atau 8 tahun atau 9 tahun”. (HR Thabrani)

”Pada akhir umatku keluar Al Mahdi. Pada saat itu Allah mencurahkan hujan padanya, lalu bumi mengeluarkan tetumbuhannya, harta dibagikan secara adil, hewan ternak menjadi melimpah ruah dan umat manusia menjadi banyak. Dan, Al Mahdi hidup selama tujuh atau delapan tahun”. (HR Abu Said dari Al Hakim)

Dari penjelasan hadits-hadits tersebut, para ahli ma’rifatullah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Imam Mahdi mengandung 3 pengertian, yaitu :
Imam Mahdi dalam pengertian Nur Allah dan Nur Muhammad yang telah Bangkit dan Tajali dalam setiap diri manusia.
Seorang manusia yang yang telah mengenal Nur Allah dan Nur Muhammad yang bertugas sebagai Guru Mursyid yang telah memberikan Petunjuk berupa Nurul Huda kepada muridnya.
Seorang manusia yang telah mengenal Nur Allah dan Nur Muhammad yang bertugas sebagai Pemimpin Umat Manusia untuk membawa umat manusia menuju Tatanan Dunia Baru atau Darus Salam.
Sistem Kepemimpinan yang berpedoman kepada Petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Nur Allah dan Nur Muhammad.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu Cahaya Yang Terang benderang”. (QS An Nisa 4 : 174)

”Dan apabila firman Allah telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan dabah dari dalam bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayatKami” ( QS An Naml 27 : 82)

”Dan, hanya kepada Allah bersujud apa saja yang berada di langit dan di bumi dan juga Dabah dan malaikat dan mereka tidaklah sombong Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan. Allah berfirman : ”Janganlah kamu adakan dua Tuhan, hanyasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut”. (QS An Nahl 16 : 49-51)

“Dan ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya ditengah-tengah diri kamu ada Rasulullah…. “. (QS Al Hujurot 49 : 7)

Selasa, 15 Maret 2016

Hukum Kausalitas dalam Al-Quran

Hakikat hukum kausalitas adalah hukum keadilan yang menuntut balasan “mata untuk mata, gigi untuk gigi”. Kata kunci dalam hukum kausalitas adalah “ apapun yang orang tanam, itu pula yang akan dipetik”. Pemahaman tentang penderitaan dan hukuman di dunia sebagai balasan perbuatan buruknya di masa lalu atau kebahagiaan dan kegembiraan di dunia sebagai ganjaran amalan baiknya dimasa lalu, belum begitu dikenal oleh umat Islam, padahal dalam Al Qur’an banyak ayat yang mengisyaratkan adanya hukum kausalitas di dunia ini :

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, ia mendapat keuntungan dari apa yang telah diusahakannya dan mendapatkan kerugian dari apa yang dikerjakannya pula”. ( QS Al Baqarah 2 : 286)

“Bencana apapun yang menimpa dirimu semata-mata berasal dari dirimu sendiri”. (QS An Nisa 4 : 79)

“Apapun musibah yang menimpamu adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri”. (QS 42 : 30)

“Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri”. (QS 10 : 44)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, maka Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali”. (QS 30 : 41)

Berdasarkan ayat diatas, kita bisa melihat apa yang kita alami di dunia saat ini bukan semata-mata takdir yang tak berkompromi dengan kita, tetapi merupakan akibat perbuatan kita sendiri yang tak bisa dihindarkan. Perbuatan itu hanya bisa dilacak dalam kehidupan manusia sebelumnya. Seseorang yang lahir ke dunia adalah membawa nasib yang melingkar di lehernya. Nasib manusia tidak lain adalah setumpuk utang yang harus dilunasi dengan cara mengangsur dalam jumlah besar atau kecil sesuai dengan kemampuannya. Dengan begitu, ia bisa mengurangi penderitaannya tanpa harus menyesali diri. Atau, untuk menikmati buah kebajikannya di masa lalu tanpa harus besar kepalanya dan jumawa.

Untuk mengakhiri suka duka dalam menjalani hidup ini, hanya ada satu cara, yaitu agar kita dapat mencapai kematian dalam Dinul Islam,

“Sesungguhnya Din di sisi Allah adalah Islam” (QS 3 : 9)

“Barang siapa yang mencari Din selain Islam, ia nanti di akhirat akan rugi”.(QS 3 : 85)

“ Ya Allah ya Tuhan kami limpahkanlah kesabaran kepada kami dan akhirilah hidup kami ini sebagai muslim”. (QS 7 : 125)

“Ambillah nyawaku sebagai seorang muslim”. (QS 12 : 101)

Islam adalah kata serapan dari bahasa Arab yang artinya menyerah, damai dan yang telah lunas utangnya. Jadi orang muslim adalah orang yang telah mengalami kebebasan kedamaian dan kepasrahan di sisi Allah karena telah melunasi utang karmanya.

“ Kamu akan bebas dari kewajiban di kota ini”. (QS 90 : 2)

Kamis, 10 Maret 2016

Ma'rifatullah Modal Dasarku

Seorang ahli sejarah yang bernama Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “The 100 : ranking of the most influential persons in history revised and updated for the nineties”. (dalam edisi bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul : “Seratus Tokoh Sejarah Yang Paling Berpengaruh di Dunia”), menempatkan Nabi Muhammad Saw diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 
 
Penempatan Nabi Muhammad Saw pada urutan yang pertama, didasari oleh kenyataan sejarah bahwa beliau berhasil mengubah peradaban masyarakat di Jazirah Arab dan sekitarnya, ke arah yang lebih baik, bahkan pengaruhnya juga menyebar ke seluruh dunia. Pengaruh Nabi Muhammad Saw terhadap perubahan dan perkembangan peradaban dunia, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Newton penemu teori gravitasi dan Albert Enstein penemu teori relativitas, bahkan melebihi Nabi Isa atau Yesus Kristus.

Tokoh seperti Newton dan Albert Enstein dipilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di dunia karena mereka mempunyai modal dasar kecerdasan yang sangat jenius dibidang ilmu fisika. Mungkin timbul pertanyaan di dalam diri setiap orang, modal apakah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa dipilih sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi peradaban dunia ? Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, ternyata beliau adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan mayoritas ulama berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang tidak bisa baca tulis atau umi. 
 
Tetapi dibalik kesederhanaannya, beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu beliau adalah seorang yang sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam arti yang sebenarnya. Sesungguhnya, inilah modal dasar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dapat memajukan peradaban masyarakat dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, yaitu :

“Ma’rifatullah itu modal dasarku”. ( Al Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata modal dasar dari Nabi Muhammad Saw adalah pengetahuan mengenal Allah, bukan harta kekayaan, kekuasaan atau pengetahuan lainnya. Bahkan dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw, menegaskan bahwa amal ibadah seseorang sedikit bermanfaat apabila tidak sertai dengan ma’rifatullah.

“Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma’rifatulah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma’rifatullah akan banyak manfaatnya”. (Al Hadits)

Apakah yang dimaksud dengan ma’rifatullah itu? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan ma’rifatullah itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah ,makalah ini mencoba untuk membahas masalah ma’rifatullah

Setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada diseluruh dunia, mempunyai ajaran dan sebutan yang berbeda-beda tentang apa yang diyakininya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh mereka. Orang Islam menyebut-Nya dengan nama Allah, orang Nasrani menyebut-Nya dengan nama Allah Bapa, orang Yahudi menyebut-Nya dengan nama Yehowah dan masih banyak lagi sebutan yang nisbahkan kepada yang dianggapnya sebagai Tuhannya masing-masing. Setiap agama juga mempunyai tata cara masing-masing dalam melakukan penyembahan kepada Tuhannya.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS Al Baqrah 2 : 148)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tiap-tiap umat memiliki arah penunjuknya sendiri-sendiri. Disini Allah dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal masing-masing umat saling berlomba dalam menciptakan kebaikan , menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah . Misalnya menciptakan kedamaian, baik bagi sesama umat manusia dan juga makhluk lainnya serta alam semesta. Sebab apa yang pernah dilakukan di dunia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Hal ini ditunjukkanoleh kalimat “Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”. Ibnu Abbas, salah seorang sahabat terkemuka, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir (1320 – 1370 M) dalam tafsir Al Qur’an Al Adzim, menyatakan bahwa kandungan ayat ini sejalan dengan ayat lain yaitu :

“……. Bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami telah buatkan bagi mereka jalan dan metode…….”. (QS Al Maidah 5 : 48)

Perbedaan dalam doktrin setiap agama dan dalam menyebut nama Tuhan ini, terkadang menyeret umat beragama ke dalam perdebatan tentang kebenaran agamanya masing-masing sehingga pada akhirnya timbul pertengkaran dan permusuhan antar umat beragama. Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah melarang setiap umat untuk saling mencaci maki tentang ajaran agama.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal ibadah mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 108)

“……….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Konsep tentang Tuhan disetiap ajaran agama dan aliran kepercayaan memang terkesan mempunyai perbedaan yang sangat tajam, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam, secara hakikat tersirat ada titik temu diantara perbedaan konsep tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menginformasikan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya masing-masing. Misalnya dalam Al Qur’an (agama Islam), telah dijelaskan bahwa Allah itu adalah Cahaya diatas Cahaya :

“Allah itu adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bntang berkilau. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)

Dalam Kitab Injil (Agama Kristen), juga telah dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah Cahaya.

“Aku adalah Cahaya yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal akan Daku, janganlah tinggal di dalam gelap”. (Injil, Yahya 12 : 46)

“Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja Cahaya-Nya”. (Injil, Yahya 5 : 35)

Begitupula, dalam Kitab Baghawad Gita (agama Hindu), juga dijelaskan bahwa Brahma itu adalah Cahaya :

“Beri santaplah yang bercahaya (Brahma Sang Pencipta), mudah-mudahan engkau akan dikaruniai, dari jalan inilah akan tercapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang bercahaya diberi santapan kurban, akan mengkaruniai segala kenikmatan yang diharap”.

Menurut agama Budha, sebutan bagi Tuhan Yang maha Esa adalah Sanghyang Adi Budha, sebagai sumber dari segala sumber yang memancarkan sinar-Nya dan menciptakan dari Dirinya sendiri lima Dyani Budha yaitu :

1. Vairocana : Sumber Cahaya
2. Aksobya : Sumber Ketenangan
3. Ratna Sambhawa : Permata Alam Semesta
4. Amitabha : Cahaya Tanpa batas
5. Amoasidhi : Maha Jadi Yang Tidak Mengenal Kegelapan.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat isyarat yang sama tentang hakikat dari Sang Maha Pencipta di setiap kitab suci agama, yaitu bahwa Dia adalah Cahaya diatas Cahaya. Mengapa setiap Kitab Suci memberitahukan konsep ketuhanan yang sama ? Jawaban adalah karena isi dari semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

“……Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)

“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi. Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat



“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut. 
 
Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)

Sabtu, 05 Maret 2016

Gunung THUR SINA

Hakikat Gunung THUR SINA

Manusia adalah makhluk Allah yang dikaruniakan Allah dengan satu kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kelebihan itu adalah kemampuan akal yang terdapat di kepala. Kepala manusia yang sangat ditinggikan oleh Allah telah diinformasikan dalam Al Qur’an dengan istilah simbolis “Gunung” atau “Thur sina”.

“Dia telah menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan Dia memberkahinya … “. (QS Fushshilat 41 : 10).

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka ….”. (QS Al Anbiya 21 : 31)

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu …..”. (QS An Nahl 16 : 15)

Istilah “gunung” dalam ayat tersebut mempunyai arti simbolis yaitu “kepala manusia”, sedangkan kata “bumi” mempunyai arti simbolis yaitu “Jasmani” manusia. Fungsi kepala bagi jasmani manusia adalah sebagai penyeimbang jasmani karena di dalam kepala manusia terdapat oragan tubuh yang sangat penting yaitu empat indera berserta alatnya dan segumpal otak yang terdiri dari bermilyar-milyar jaringan sel otak yang disebut Neuron, yang berfungsi sebagai pusat kesadaran, pusat ingatan, pusat keseimbangan tubuh dan masih sangat banyak lagi fungsi lainnya.

Kemampuan yang ada dalam otak dan kepala manusia, sangatlah penting yaitu sebagai alat untuk mengetahui segala sesuatu dengan daya nalar atau berfikir. Kekuatan daya fikir ini mempunyai energi psikis yang sangat besar, apabila dimanfaatkan secara maksimal. Kekuatan daya fikir ini sangat tergantung dengan berfungsinya tujuh lubang atau tujuh pintu yang ada di kepala manusia yaitu dua lubang telingan, dua lubang mata, dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Ketujuh lubang tersebut berfungsi sebagai pintu keluar masuknya rasa penginderaan yaitu penglihatan, pendengaran, pencium dan pengecapan. Secara simbolis ketujuh pintu atau lubang yang ada di kepala tersebut diberitahukan dalam Al Qur’an dengan istilah Tujuh Jalan Di Atas Kita. Hal ini tercantum dalam Firman-Nya :

“Dan sesungguhnya kami menciptakan di atas (kepala) kamu Tujuh Buah Jalan (keluar masuknya empat rasa) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami tersebut”. (QS Al Mu’minun 23 : 17).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan Tujuh Buah Jalan yang menjadi sarana keluar masuknya empat jenis rasa yaitu rasa penglihatan, rada pendengaran, rasa penciuman dan rasa pengecapan. Wujud dari ke empat rasa ini bersifat ghaib dan tidak akan berubah atau bertukar fungsinya karena Allah telah menjaganya dengan hokum-Nya atau Sunnatullah.

Ke empat jenis rasa tersebut hanya dapat dirasakan oleh rasa rohani manusia. Rasa rohani manusia tersebut dalam bahasa atau kamus tasawuf disebut sebagai rasa sejati. Rasa penginderaan dan rasa sejati tersebut tidak dapat diceritakan dengan kata-kata tetapi hanya dapat disimbolkan dalam bentuk bahasa lisan manusia, yang terwujud dalam bentuk rasa kelima yaitu rasa pengucapan yang berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan rasa tersebut kepada orang lain. Tetapi ungkapan dari ucapan itupun jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam kamu Wali Tanah Jawa, ke-empat rasa penginderaan tersebut disimbolkan dengan empat sahabat Rasulullah SAW, yaitu :

1. Abu Bakar disimbolkan sebagai penglihatan
2. Umar bin Khatab disimbolkan sebagai pendengaran
3. Usman bin Affan disimbolkan sebagai pencium
4. Ali bin Abi Thalib disimbolkan sebagai pengucapan

Sedangkan rasa rohani disimbolkan rasa sejati yang merupakan perwujudan dari rasa Allah. Rasa Allah ini oleh Wali Tanah Jawa sering disimbolkan dengan istilah Rasulullah.

Kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk memegang Gunung Thur Sina atau kepada yang telah Allah tinggikan dan dianugerahkan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

“Aku tinggikan atau angkat “Gunung Thursina” di atas kamu, peganglah erat-erat apa yang Aku berikan itu dan pelajarilah apa yang terdapat di dalamnya, agar engkau mengerti dan beriman kepada-Ku”. (QS Al Baqarah 2 : 63)

Berdasarkan ayat tersebut, kita diperintahkan untuk mempergunakan atau memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada kepala kita yaitu potensi inderawi dan potensi akal untuk mempeljari semua pengetahuan lahiriah maupun pengetahuan batiniah sehingga pada akhirnya kita diharapkan agar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Ayat tersebut dapat juga ditafsirkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk memegang teguh suri tauladan Rasulullah Saw dan empat sahabat dalam kehidupan lahir maupun batin.

Perintah untuk memegang gunung atau kepala dengan kuat, juga mempunyai arti bahwa, manusia harus dapat mempergunakan potensi yang ada di kepala yaitu akal dan panca indera, untuk beraktifitas dalam kehidupannya, terutama dalam kehidupan agamanya untuk mengenal rohaninya sekaligus mengenal Tuhannya.

Kemudian arti lain dari kalimat “memegang gunung” adalah manusia diharuskan untuk menutup “tujuh pintu hawa nafsu” yang terdapat di kepala yaitu :

2 lubang atau pintu mata
2 lubang atau pintu telinga
2 lubang atau pintu hidung
1 lubang atau pintu mulut

Cara menutup Tujuh Pintu tersebut, dengan mempergunakan “alat” yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sesuai firman Allah :

“Carilah Akhirat dengan “Alat” yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia”. (QS Al Qashash 28 : 77)

“Tatkala aku berada disisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu? “Lantas beliau memerintahkan supaya pintu ditutup dan bersabda : Angkat tangan kamu” (HR Al Hakim)

“Tutup pintumu dan ingatlah Allah ”. (HR Bukhari)

“Tutuplah semua pintu masjid ini kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

Prosesi menutup tujuh pintu inderawi yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan “Takbiratul Ihram”, (Takbir Larangan) yang mempunyai arti bahwa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali shalat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktifitas inderawi seperti mendengar, melihat mencium dan berbicara, karena kita sedang berhadapan dengan Allah Swt (bertawajuh). Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajah-ku kepada Wajah-Nya yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (QS Al An’am 6 : 79)

Perintah untuk mengingat apa yang terdapat dalam Gunung atau kepala manusia, dapat diartikan bahwa manusia harus terus mengingat atau mengolah dan memgembangkan apa yang terdapat dalam kepala manusia berupa ilmu pengetahuan yang merupakan hasil dari kesatuan olah fikir, oleh dzikir dan olah raga.

Makna lainnya adalah bahwa setelah manusia telah berhasil menutup tujuh pintu hawa nafsunya atau melakukan gerakan “Takbiratul Ihram”, maka ia akan mengalami proses mati dalam hidup dan pada saat itulah indera rohaninya akan hidup dan menyaksikan “Cahaya Allah” yang tampak di dalam “gunung” atau kepalanya, sehingga gunung tersebut hancur lebur, dengan kata lain, bahwa ketika ketujuh pintu hawa nafsu tertutup, maka hawa nafsu secara berangsur-angsur menghilang, yang tinggal hanya jasmani dan pusat kesadaran yang terletak pada qalbu (otak). Kemudian ketika muncul “Cahaya Kilat” atau Nur Allah yang menyambar di dalam kepala dan terpantau oleh indera rohani, pusat kesadaran serta jasmani, maka semuanya itu menjadi hancur atau lenyap secara berangsur-angsur, yang tersisa hanyalah rasa sejati yang “Layu khayafu” dan “Laisa kamislihi syai’un”. Keadaan inilah yang disebut dengan “Mati Syahid” (Mati Saksi).

Peristiwa “Mati Syahid” hanya dapat tercapai ketika fungsi-fungsi inderawi telah mati dan saat kematian fungsi inderawi itulah kita menyaksikan Cahaya Allah yang tajalli dipusat mata batin kita, sehingga kita telah melupakan peristiwa yang terjadi disekitar kita, dan saat itulah terjadi penyerahan diri secara total kepada Allah.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata”.

Cahaya Allah yang disaksikan dan dirasakan pada waktu “Mati Syahid” akan terekam dalam pusat kesadaran rohaninya dan harus diingat sebanyak-banyaknya, baik ketika sedang berjalan, duduk maupun berbaring.

“Cahaya Allah itu ada dalam rumah yang Allah beri izin untuk memuliakan dan mengingat-Nya pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS An Nuur 24 : 36)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapt tanda-tanda bagi golongan ulil albab, yaituorang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata) : “ Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-si, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa An Nar”. (QS Ali Imran 3 190-191)

“ Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung Thur Sina di atasmu (seraya Kami berfirman) : Peganglah dengan kuat apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya (Cahaya Allah) agar kamu bertakwa”. (QS Al Baqarah 2 : 63)

Demikianlah arti simbolis dari ayat-ayat yang berkaitan dengan proses mati syahid untuk mendapatkan pengalaman menemui Tuhannya di Gunung Thur Sin Yang Bercahaya.

Selasa, 01 Maret 2016

Hilangkanlah Sifat Kekafiran

Seluruh umat manusia di muka bumi ini telah menyadari bahwa ada Satu Kekuatan Yang Maha Besar, yang telah menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta ini beserta segala isinya. Tetapi sayangnya, keyakinan itu tidak diteruskan dengan upaya untuk membuktikan sekaligus mengenal kepada keberadaan Dzat yang mempunyai Kekuatan Yang Maha Besar tersebut, sehingga pada akhirnya keyakinan akan adanya Sang Maha Pencipta itu, hanya sekedar menjadi kepercayaan yang bersifat “lipstick” atau sebatas di mulut saja, tanpa mengakar di dalam rohani dan aktivitas kehidupan umat manusia.

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas huruf atau tulisan … “. ( QS Al Hajj 22 : 11 )

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya….,” (QS Al Hajj 22 : 74)

“….. kecuali hanya menyembah Asma-Nya yang kamu dan nenek moyangmu kamu buat-buat….” (QS Yusuf 12 : 40 )

Ketika terlahir di atas dunia, kita sudah dihadapkan oleh nilai-nilai kemasyarakatan, agama, dan moral yang mau tidak mau kita telah berada di dalamnya dan kita dituntut untuk mengambil sikap, apakah sikap menerima, menolak ataupun sikap netral terhadap nilai-nilai tersebut. Tetapi harus diingat, bahwa kita terlahir di atas dunia ini sebagai salah satu dari suku atau ras bangsa tertentu yang ada di dunia ini, yang yang menentukannya adalah bukan diri kita sendiri. Begitu pula tentang kelahiran kita sebagai seorang anak bayi di dalam sebuah keluarga, apakah keluarga itu beragama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha ataupun sebuah keluarga yang tidak beragama, proses itu semuanya yang menentukan bukan diri kita sendiri. Setelah kita lahir dan menginjak usia akhil baligh barulah kita secara perlahan-lahan menyadari bahwa kita telah ditakdirkan menjadi apakah itu orang Eropa, Asia, Amerika, Australia atau orang Afrika. Begitu pula dengan agama orang tua kita. Dan biasanya, orang tua kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai agama yang dianutnya kepada kita (anaknya) sedini mungkin, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar kita telah memeluk agama yang dianut oleh orang tua kita. Inilah yang disebut bahwa kita beragama karena keturunan.


Setelah menginjak dewasa, barulah kita menggunakan akal dan kehendak yang merdeka untuk mencermati kembali agama yang kita anut sejak kecil, sehingga saat itulah kita memulai proses pencarian terhadap kebenaran yang Absolut. Tetapi sayangnya, sebagian besar manusia sudah puas dengan agama yang dianutnya tanpa mau mencermati kebenaran agama yang dianutnya, bahkan yang lebih parah lagi mereka terjebak dalam sikap fanatik buta terhadap agamanya masing-masing, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap saling membenarkan agamanya masing-masing dan menyalahkan agama orang lain, padahal umat manusia itu sebenarnya adalah umat yang satu.


“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (QS Yunus 10 : 19)


“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran, untuk memberikan keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman tentang hal yang mereka perselisihan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada Jalan yang Lurus”. (QS Al Baqarah 2 : 213)


Beda pendapat diantara manusia tentang kebenaran adalah suatu hal yang manusiawi dan wajar, hal ini sesuai dengan firman Allah, yakni :


Sesungguhnya kamu sekalian selalu dalam keadaan berbeda-beda pendapat”. (QS Adz Azariyaat 51 : 8)


Perbedaan pendapat tentang suatu kebenaran, diantara umat manusia sangat dimaklumi oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda :


“Perbedaan pendapat di dalam umatku adalah rahmat”. (Al Hadits)


Tetapi perbedaan pendapat yang menjurus kepada perpecahan dan permusuhan, sangatlah dibenci Allah.


“….…janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar Ruum 30 : 32)


Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat simpulkan bahwa salah satu sifat orang yang menyekutukan Allah adalah orang-orang yang suka memecah belah agamanya dan ia merasa paling benar, paling suci dari golongan lainnya. Seluruh golongan di luar golongannya dianggapnya sebagai golongan batil dan ia bangga atas kebenaran golongannya. Padahal, Yang Paling Haq, Yang Paling Suci adalah Allah Swt sajalah sebagai satu-satunya Dzat yang menjadi sesembahan umat manusia.


“….sesungguhnya Allah adalah kebenaran (Al Haq) dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. (QS Luqman 31 : 30)


“…kebenaran itu datangnya dari Allah….” ( QS Al Baqarah 2 : 147 )


Ayat-ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa Al Haq yang sebenarnya adalah Allah sendiri. Jadi sangatlah keliru apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar, atau mereka mengaku bahwa golongannya yang paling benar. Bahkan berdasarkan ayat tersebut di atas, orang atau golongan yang mengklaim atau mengaku paling benar, sebenarnya justru telah menyekutukan Allah, karena ia atau mereka telah mensejajarkan dirinya atau golongannya setara dengan Allah. Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an :


“….tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS An Najm 53 : 32)


Jadi, janganlah kita mengklaim bahwa diri atau golongan kitalah yang paling benar, haq dan suci, sedangkan orang lain atau golongan lain dianggap batil, salah, tidak suci dan kafir. Sebab, yang paling mengetahui siapa yang haq, benar dan siapa yang termasuk kafir atau batil, adalah hanya Allah Swt sajalah yang dapat mengetahuinya.


“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (QS An Najm 53 : 32)


“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in dan orang-orang musyrik, sesungguhnya Allah akan memberi keputusan antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. (QS Al hajj 22 : 17)


Dalam Al Qur’an banyak ungkapan kata “kafir” yang dapat kita baca. Ungkapan kata tersebut juga sering kita dengar dalam setiap pengajian yang kita ikuti. Dan biasanya kita memahami kata tersebut dengan pengertian orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan biasanya ditujukan kepada golongan non muslim. Atau dengan kata lain, orang kafir adalah orang-orang yang memeluk agama selain agama Islam, yaitu golongan Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Budha dan golongan lainnya. Yang lebih parah, adalah ketika kata kafir itu mulai ditujukan kepada golongan di luar golongan yang diyakininya walaupun masih dalam satu agama Islam. Sehingga tidaklah mengherankan jika dalam agama Islam, satu golongan mengkafirkan golongan yang lainnya, bahkan mereka kadang menghalalkan segala cara untuk dapat menghancurkan golongan yang dianggapnya kafir tersebut. Hal ini dikarenakan mereka keliru dalam memahami apa arti yang sesungguhnya dari kata kafir tersebut. Mereka hanya mengutip ayat-ayat dalam Al Qur’an dan menafsirkannya secara harfiah tanpa mau merenungi apa sesungguhnya hakikat kekafiran itu sendiri.


Dalam Al Qur’an, banyak ayat-ayat yang menyuruh orang beriman untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bahkan orang-orang kafir harus dibunuh di manapun mereka berada. Bahkan kalau perlu kita harus mengorbankan jiwa dan raga untuk memerangi orang-orang kafir tersebut.



“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis ….” (QS At Taubah 9 : 28).


“Hai Nabi, korbankanlah semangat orang-orang yang beriman untuk berperang …. “(QS Al Anfal 8 : 65)


“… Bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap markas mereka ….” (QS At Taubah 9 : 5)


“…. Bunuhlah pemimpin-pemimpin orang kafir, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya ….” (QS At Taubah 9 : 12)


“Bunuhlah (orang-orang kafir), Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu, Dia memberikan kehinaan kepada mereka dan Dia akan menolong kamu terhadap mereka serta Dia melegakan hati kaum yang beriman”. (QS At Taubah 9 : 14)




“Bunuhlah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah….” (QS At Taubah 9 : 29)



‘Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka …..” QS At Taubah 9 : 73)


“Hai sekalian orang-orang yang beriman, bunuhlah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu dan hendaklah mereka merasakan kekerasan daripadamu ….”. (QS At Taubah 9 : 123)


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta benda mereka dengan surga kepada mereka, mereka membunuh di jalan Allah maka mereka membunuh atau terbunuh…. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah 9 : 111)


“Ambillah sebagian dari harta mereka (orang kafir) sebagai sedekah untuk membersihkan dan menyucikan mereka dengannya. Dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu itu menjadi ketentraman bagi mereka ……” (QS At Taubah 9 : 103)

Demikian beberapa ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan agar orang kafir harus dibunuh (qital) sehingga ada beberapa golongan dalam umat Islam yang menghalalkan berbagai cara untuk membunuh orang-orang kafir yang berada di sekitarnya, seperti beberapa kasus bom bunuh diri yang banyak menewaskan orang-orang yang mereka anggap kafir. Padahal, kalau kita kaji lebih dalam lagi, sebenarnya kata “Kafir” itu berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti “Tertutup”. Kata kafir merupakan kata antonim dari kata “Syakir”, yang artinya terbuka. Jadi kata “kufur” lawan kata “syukur”. Dari kata ini orang inggris menyerapnya dalam bahasa mereka dengan kata “Cover” yang artinya “Tutup”. Misalnya kata cover buku artinya tutup buku atau sampul buku. Berdasarkan asal usul kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang kafir adalah orang-orang yang tertutup. Pertanyaan selanjutnya, tertutup dari apa? Dan apanya yang tertutup? Jawabannya cukup sederhana, yaitu mereka tertutup dari melihat kebenaran karena “mata qalbunya” yang tertutup alias buta. Siapakah kebenaran itu? Jawabannya adalah Al Haq atau Allah (annallaha huwal haqqu sesungguhnya Allah Dia-lah yang Haq QS 31 : 30). Jadi orang kafir adalah orang yang tidak melihat kebenaran (Allah) karena mata qalbunya tertutup, karena mata qalbunya tertutup maka orang kafir mengingkari adanya Kebenaran (Allah).


Orang-orang yang mengingkari kebenaran, akan berada di jalan Thagut dan sekaligus menjadikan Thagut sebagai pelindung mereka. Thagut akan mengeluarkan mereka dari Cahaya dan menuju zhulumat (kegelapan). Kata “zhulumat” itu seakar dengan kata zhalim atau lalim. Perbuatan yang menyakitkan atau merugikan baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Karena itu, zhulumat diterjemahkan kegelapan. Dengan demikian, orang yang mengabdi pada Thagut adalah orang yang hidup di area yang gelap atau “dark area”.


Di tempat yang gelap, manusia tidak akan mampu mengetahui arah. Tidak akan bisa membedakan sesuatu yang menguntungkan atau yang merugikan. Tak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Itulah wilayah Thagut. Jadi, di daerah yang gelap, meski mata tidak buta tapi tak akan bisa melihat. Meski telinga tidak tuli, tapi tak akan dapat menuntun ke sumber kebenaran. Akibatnya, orang tersebut ngawur. Kalau akibat perbuatannya yang zhalim itu hanya mengenai dirinya, itu tidak apa-apa. Masalahnya, perbuatan zhalim itu mengenai juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan menghancurkan mereka yang baik-baik yang tinggal di wilayah paket yang tak aman itu. Sehingga yang zhalim saat ini aman-aman saja, tapi mereka yang baik-baik malah terlanda musibah. Oleh karena itu orang yang kafir (tertutup) dan zhalim (kegelapan) haruslah diperangi dan dibunuh di manapun ia berada, agar ia tidak membahayakan dirinya dan orang lain.


Jadi berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat kekafiran adalah tertutupnya mata qalbu setiap manusia dari menyaksikan kebenaran yaitu Allah, sehingga ia terjebak dalam kegelapan (zhulmah) tidak mengetahui (jahil) mana yang benar dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek.


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (keberadaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (kalam Allah). Mereka itu binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lupa diri”. (QS Al A’raf 7 : 179)


“… karena sesungguhnya bukanlah mata jasmani yang buta tetapi yang buta adalah mata qalbu….”. (QS Al Hajj 22 : 46)



“Dan barang siapa yang buta mata qalbunya di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS Al Isra’ 17 : 72)


“… seperti gelap gulita di lautan yang dalam dan diliputi ombak yang berlapis-lapis dan diatasnya lagi ada awan hitam yang gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengangkat tangannya tidaklah ia dapat melihatnya, dan barang siapa yang tiada ditunjuki Cahaya Allah, maka tiadalah dia mempunyai Cahaya sedikitpun”. (QS An Nur 24 : 40)


Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang mata batinnya tertutup alias buta, adalah orang tidak melihat Nur Allah, sehingga ia berada dalam Kekafiran (ketertutupan) dan kegelapan (zhulmah). Karena kekafiran atau ketertutupan mata qalbunya tersebut, membuat dirinya tidak ingat atau tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil, yang pada akhirnya dia akan terjerumus dalam perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain. Untuk membebaskan orang tersebut dari keadaan seperti itu, hanya ada satu cara yang bisa ditempuh yaitu dengan “membunuh kekafiran” yang ada pada orang tersebut, sesuai dengan firman Allah :


“Dan sesungguhnya apabila Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari rumahmu, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau melakukannya kecuali sebagian kecil diantara mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka mau melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka karunia (Cahaya) dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus”. (QS An Nisa 4 : 66 – 68)


“… bertaubatlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu, dan bunuhlah dirimu, hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhanmu…..” (QS Al Baqarah 2 : 54)


“Katakanlah : “malaikat maut (tekad atau karep atau keinginan untuk mati) yang diserahi kepadamu akan mematikan kamu, kemudian (saat itu juga) kamu akan kembali menemui Tuhanmu”. (QS As Sajadah 32 : 11)


“Sesungguhnya kamu (harus mempunyai) keinginan (untuk) mati sebelum kamu menghadapi (mati yang sesungguhnya), sekarang sungguh kamu telah melihatnya dan mengalaminya”. 9QS Ali Imran 3 : 143)


“Matikan dirimu sebelum mati” (Al Hadits)


Berdasarkan ayat tersebut, kita diperintahkan untuk memerangi atau membunuh sifat kekafiran (ketertutupan) mata qalbu kita, agar kita dapat melihat Al Haq atau Allah. Inilah yang disebut dengan jihad di jalan Allah dan mati syahid, yaitu mati dalam menyaksikan Al Haq atau Allah. Bagi orang yang sudah mengalami mati syahid maka ia akan menyaksikan Cahaya Allah dan berjalan serta hidup kembali di atas bumi ini dengan dibimbing oleh Cahaya-Nya.


“Dan apakah orang-orang yang sudah mati (syahid) kemudian Kami beri Cahaya, dan dengan Cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang dalam kegelapan yang tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah orang-orang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 122)


Orang-orang yang telah berhasil membunuh sifat kekafiran yang menutupi mata qalbunya, maka Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada Cahaya-Nya. Tetapi jangan ditafsirkan dulu kata “Cahaya” tersebut. Agar tidak mempersempit ruang untuk cahaya. Kita alami, kita rasakan dulu, proses yang membawa kita dari daerah gelap ke daerah yang bercahaya. Rasa sejuk yang menyeliputi kita, rasa segar dan damai yang membebaskan kekalutan pikiran kita, itulah pekerjaan Allah. Dengan kesejukan batin dan kejernihan pikiran, maka Allah mengeluarkan dari kegelapan dan membawa kita ke Cahaya-Nya.


“Dialah yang mengeluarkan mereka (yang menjadikan Allah sebagai Pelindung) dari kegelapan menuju Cahaya”. (QS Al Baqarah 2 : 257)


“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah itu seolah-olah sebuah ceruk yang berisi lampu. Lampu itu ditudungi kaca, dan kacanya bak bintang yang memancarkan sinar gemerlapan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur maupun di barat. Minyaknyapun bercahaya meski tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah menunjukan Cahaya-Nya kepada orang yang menghendaki Cahaya-Nya. Allah membuat parabel-parabel untuk manusia, karena sesungguhnya Dia memiliki ilmu tentang segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)


Orang-orang yang sudah menyaksikan Cahaya Allah dengan mata qalbunya adalah orang yang sudah terbebas dari kekafiran (ketertutupan), maka dia wajib untuk melakukan jihad atau perjuangan yang sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah untuk memerangi kekafiran yang masih menjerat orang-orang disekitarnya. Inilah yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya , bahwa kita wajib memerangi dan membunuh orang-orang yang masih kafir (tertutup) “mata qalbunya” agar mereka mendapatkan pengalaman mati. Karena untuk membuka “mata qalbu” orang-orang kafir maka ia harus dibunuh atau dimatikan terlebih dahulu dengan suatu metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw, yang dikenal dengan nama metode “Husnul Khotimah”.


Orang yang sudah merasakan “mati syahid”, maka ia akan terus berkeinginan mengulang pengalaman tersebut terus-menerus, hal ini dikarenakan mereka sudah merasakan kenikmatan dan kelebihan yang diterima oleh “para syuhada” atau orang yang sudah mengalami mati syahid.


“Seseorang yang meninggal dunia sedang dia mempunyai kebaikan pada sisi Tuhan, tiada menyukai untuk kembali ke dunia, biarpun diberikan kepadanya dunia dan seisinya, kecuali orang yang mati syahid, karena telah dilihatnya kelebihan mati syahid itu. Sesungguhnya dia suka kembali ke dunia lalu terbunuh sekali lagi”. (HR Bukhari)


“Rasulullah Saw bersabda : “Dan demi Tuhan yang diriku ditangan-Nya, sesungguhnya saya amat ingin terbunuh dalam perang di jalan Allah kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh lagi dan dihidupkan lagi, kemudian terbunuh dan dihidupkan lagi dan akhirnya terbunuh lagi”. (HR Bukhari)


“Tuhan tertawa pada dua orang, yang satu membunuh yang lain dan keduanya masuk surga. Yaitu ketika seorang berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh. Kemudian Tuhan menerima taubat orang yang membunuh lalu ia mati syahid”. (HR Bukhari)


Kedua Hadits tersebut di atas apabila dikaji dengan kajian hakikat akan bermakna dalam sekali bagi orang yang mengerti tetapi akan sangat sulit untuk dimengerti oleh orang yang kafir mata qalbunya.


Kembali ke masalah perbedaan di kalangan umat Islam yang berakibat saling mengkafirkan satu sama lainnya, sebenarnya Allah telah membuatkan solusinya, yaitu agar manusia mengembalikan permasalahan tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya.


“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia (masalah itu) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nissa 4 : 59)


Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa apabila kita berbeda pendapat dalam urusan kebenaran, maka perkara itu diselesaikan dengan cara menelaah kembali Al Qur’an dan Al Hadits. Tetapi anehnya setelah mereka sama-sama menelaah permasalahan tersebut ke dalam Al Qur’an dan Al Hadits, tetap saja tidak ditemukan kata sepakat, bahkan perbedaan pendapat diantara mereka semakin tajam saja, walaupun dalil-dalil atau ayat yang dipedomaninya sama. Hal ini sering terjadi di kalangan umat Islam dan juga di kalangan umat beragama lainnya, sehingga kita sering melihat di kalangan umat beragama terjadi perpecahan dan bergolong-golongan dalam memahami ajaran agamanya. Khusus untuk umat Islam, perpecahan di antara umatnya sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad Saw, sesuai dengan sabda beliau :


“Sepeninggalku nanti, umat Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka, hanya satu golongan yang benar yaitu yang berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Al Hadts)


Seruan untuk kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadits, apabila di kalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat, tidak akan berhasil dengan baik, jika kita belum mendapatkan Petunjuk atau Hidayah dari Allah dalam menelaah dan mengkaji ajaran-ajaran-Nya yang tertuang dalam Kitabullah, karena untuk bisa memahami Kalam Allah di dalam Al Qur’an diperlukan Petunjuk atau Wahyu terlebih dahulu, sesuai dengan firman Allah :


“Dan tidak seorangpun manusia yang dapat memahami Kalimat Allah kecuali dengan bantuan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya siapa yang dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Kitab dan apa iman itu, tetapi Kami jadikan wahyu itu Cahaya, yang dengannya Kami memberi Petunjuk orang-orang yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau menunjuki kepada jalan yang lurus”. (QS Asy Syura 42 51-52)


“Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa menyimpulkan isi Al Qur’an sebelum disempurnakan Wahyu kepadamu, dan katakanlah : “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS Thaha 20 : 114)

“Dan Allah akan menambah Petunjuk kepada mereka yang telah mendapat Petunjuk”. (QS Maryam 19 : 76)

“Dia telah menurunkan para malaikat dan Roh untuk membawa Wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya”. (QS An Nahl 16 : 2)

Berdasarkan ayat tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk membaca wahyu Allah harus dengan wahyu pula, sebab mustahil kita dapat memahami wahyu Allah tanpa menerima petunjuk atau wahyu dari Allah.

“Dan kebanyakan mereka hanyalah mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak dapat mengalahkan kebenaran sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS Yunus 10 : 36)

Untuk mendapatkan wahyu dari Allah, dipelukan usaha yang sungguh-sungguh dari setiap umat manusia untuk mengenal Allah (Ma’rifatullah) dan menemui Allah (Liqa’ Allah), dengan bantuan dan bimbingan dari orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kamu kepada ahli Dzikir jika kamu tidak mengetahui”. (QS An Nahl 16 : 43)