Tampilkan postingan dengan label MA'RIFATULLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MA'RIFATULLAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2016

Pelatihan "BISMILLAH" Angkatan 553, 5 Mei 2016 di Citra Indah Jonggol

PELATIHAN BIMBINGAN SINGKAT MENEMUI ALLAH (BISMILLAH) ANGKATAN 553, TANGGAL 5 MEI 2016 DI CITRA INDAH JONGGOL
Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya" (QS Al Insyqaq 84 : 6)
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi “. (QS Az Zumar 39 : 54)
“Maka segeralah kamu kembali kepada Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50)
"Barang siapa yang mengharapkan bertemu dengan Allah, sesungguhnya waktu yang dijanjikan oleh Allah akan tiba. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS Al Ankabut 29 : 5)
"Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya" (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
"Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekati-Nya sehasta dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa dan jika ia datang menemui-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang menemui-Nya dengan berlari" (HR Bukhari dari Salman ra)
“Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah, sehingga apabila datang Hari Kebangkitan dengan tiba-tiba mereka berkata:“ Aduhai, penyesalan kami atas kelengahan kami di dunia “. Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu “. (QS Al An’am 6 : 31)
“Katakanlah : “ Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi amal perbuatannya ? yaitu orang yang telah sia-sia amalnya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka beramal sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan ingkar terhadap perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka. Dan Kami tidaklah menilai amal mereka pada hari Kiamat “. (QS Al Kahfi 18 : 103 – 105)
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami, sedang mereka senang dengan kehidupan dunia serta puas hatinya terhadap yang demikian, begitu pula orang-orang yang lalai dari berita-berita Kami. Mereka itu tempatnya dalam Neraka, disebabkan apa yang telah mereka usahakan “. (QS Yunus 10 : 8)
“Dan orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, mereka itu terputus dengan Rahmat-Ku dan mereka itu mendapat azab yang pedih “. (QS Al Ankabut 29 : 23)
“….. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu bingung di dalam kesesatannya “. ( QS Yunus 10 : 11)
“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tapi tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telingan (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (Qalam Allah). Mereka itu adalah binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raaf 7 : 179).
“….karena sesungguhnya bukanlah mata jasmani yang buta tetapi mereka buta adalah mata hati yang ada di dalam dada”. (QS Al Isra’ 17 : 72).
“….seperti gelap gulita di lautan yang dalam dan awan hitam yang gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengeluarkan tangannya, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya Allah, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya sedikitpun”. (QS An Nur 24 : 40).
PUSAT KAJIAN TASAWUF "NURUL KHATAMI"
MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN SINGKAT MENGENAL ALLAH DENGAN " DZIKIR KHATAMI " SEBUAH TEKNIK YANG SANGAT EFEKTIF UNTUK MERAIH PENCERAHAN CAHAYA ILAHI DENGAN SEKETIKA.
"Dzikir Khatami" adalah sebuah teknik kunci yang terdapat di dalam Al Qur'an. Teknik ini memungkinkan praktisinya mencapai ma'rifatullah dengan seketika. Tidak peduli sebatas apa pengetahuan anda, dengan mempraktekkan metode yang kami ajarkan, pengalaman menakjubkan yang selama ini hanya bisa anda baca dari buku-buku spiritual akan anda alami sendiri.
PEMBIMBING : KUSWANTO ABU IRSYAD
Hari : Kamis
Tanggal : 5 Mei 2016
Waktu : Jam 10.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Cluster Bougenville blok Ai 2 no 9 Citra Indah Jonggol Bogor.
Pendaftaran : Kirimkan nama lengkap anda melalui sms di no 081219812496
MANFAAT PELATIHAN :
* Mengalami Ma'rifatullah dengan Metode Dzikir Khatami, tanpa perlu laku tarikat bertahun-tahun.
* Melejitkan kecerdasan Spiritual (SQ) dengan membuka akses langsung ke CAHAYA ILAHI yang tidak lain adalah sumber dari kecerdasan spiritual (SQ) manusia.
* Tersingkapnya 70 ribu hijab antara manusia dan Tuhan.
* Dapat mengetahui datangnya tanda-tanda kematian setahun sebelum wafat.
* Melatih jiwa menyusuri jalan pulangnya menuju Allah kelak dengan mengenalinya sedari kita masih hidup di dunia.
* Menghemat investasi yang perlu anda keluarkan untuk membeli buku-buku spiritual dan "berburu" Guru Ruhani tanpa sebuah kepastian hasil.
Apakah setiap orang bisa mengalami ma'rifatullah, dan setelah berapa lama ?
Tentu setiap orang bisa mengalami. Umumnya peserta akan langsung mengalami ma'rifatullah sejak kali pertama praktek, sampai seterusnya kapanpun ia mempraktekkan teknik ini.
Apakah teknik Dzikir Khatami tidak bertentangan dengan syariat agama ?
Sama sekali tidak. Teknik ini bersumber dari Al-Qur'an yang didukung temuan sains mutakhir dan tidak mengandung satu unsurpun yang bertentangan dengan syariat agama.
MARI.........RAIHLAH PENGALAMAN MA'RIFATULLAH ANDA SEKARANG JUGA

Kamis, 10 Maret 2016

Ma'rifatullah Modal Dasarku

Seorang ahli sejarah yang bernama Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “The 100 : ranking of the most influential persons in history revised and updated for the nineties”. (dalam edisi bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul : “Seratus Tokoh Sejarah Yang Paling Berpengaruh di Dunia”), menempatkan Nabi Muhammad Saw diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 
 
Penempatan Nabi Muhammad Saw pada urutan yang pertama, didasari oleh kenyataan sejarah bahwa beliau berhasil mengubah peradaban masyarakat di Jazirah Arab dan sekitarnya, ke arah yang lebih baik, bahkan pengaruhnya juga menyebar ke seluruh dunia. Pengaruh Nabi Muhammad Saw terhadap perubahan dan perkembangan peradaban dunia, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Newton penemu teori gravitasi dan Albert Enstein penemu teori relativitas, bahkan melebihi Nabi Isa atau Yesus Kristus.

Tokoh seperti Newton dan Albert Enstein dipilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di dunia karena mereka mempunyai modal dasar kecerdasan yang sangat jenius dibidang ilmu fisika. Mungkin timbul pertanyaan di dalam diri setiap orang, modal apakah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa dipilih sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi peradaban dunia ? Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, ternyata beliau adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan mayoritas ulama berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang tidak bisa baca tulis atau umi. 
 
Tetapi dibalik kesederhanaannya, beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu beliau adalah seorang yang sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam arti yang sebenarnya. Sesungguhnya, inilah modal dasar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dapat memajukan peradaban masyarakat dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, yaitu :

“Ma’rifatullah itu modal dasarku”. ( Al Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata modal dasar dari Nabi Muhammad Saw adalah pengetahuan mengenal Allah, bukan harta kekayaan, kekuasaan atau pengetahuan lainnya. Bahkan dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw, menegaskan bahwa amal ibadah seseorang sedikit bermanfaat apabila tidak sertai dengan ma’rifatullah.

“Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma’rifatulah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma’rifatullah akan banyak manfaatnya”. (Al Hadits)

Apakah yang dimaksud dengan ma’rifatullah itu? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan ma’rifatullah itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah ,makalah ini mencoba untuk membahas masalah ma’rifatullah

Setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada diseluruh dunia, mempunyai ajaran dan sebutan yang berbeda-beda tentang apa yang diyakininya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh mereka. Orang Islam menyebut-Nya dengan nama Allah, orang Nasrani menyebut-Nya dengan nama Allah Bapa, orang Yahudi menyebut-Nya dengan nama Yehowah dan masih banyak lagi sebutan yang nisbahkan kepada yang dianggapnya sebagai Tuhannya masing-masing. Setiap agama juga mempunyai tata cara masing-masing dalam melakukan penyembahan kepada Tuhannya.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS Al Baqrah 2 : 148)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tiap-tiap umat memiliki arah penunjuknya sendiri-sendiri. Disini Allah dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal masing-masing umat saling berlomba dalam menciptakan kebaikan , menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah . Misalnya menciptakan kedamaian, baik bagi sesama umat manusia dan juga makhluk lainnya serta alam semesta. Sebab apa yang pernah dilakukan di dunia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Hal ini ditunjukkanoleh kalimat “Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”. Ibnu Abbas, salah seorang sahabat terkemuka, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir (1320 – 1370 M) dalam tafsir Al Qur’an Al Adzim, menyatakan bahwa kandungan ayat ini sejalan dengan ayat lain yaitu :

“……. Bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami telah buatkan bagi mereka jalan dan metode…….”. (QS Al Maidah 5 : 48)

Perbedaan dalam doktrin setiap agama dan dalam menyebut nama Tuhan ini, terkadang menyeret umat beragama ke dalam perdebatan tentang kebenaran agamanya masing-masing sehingga pada akhirnya timbul pertengkaran dan permusuhan antar umat beragama. Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah melarang setiap umat untuk saling mencaci maki tentang ajaran agama.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal ibadah mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 108)

“……….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Konsep tentang Tuhan disetiap ajaran agama dan aliran kepercayaan memang terkesan mempunyai perbedaan yang sangat tajam, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam, secara hakikat tersirat ada titik temu diantara perbedaan konsep tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menginformasikan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya masing-masing. Misalnya dalam Al Qur’an (agama Islam), telah dijelaskan bahwa Allah itu adalah Cahaya diatas Cahaya :

“Allah itu adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bntang berkilau. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)

Dalam Kitab Injil (Agama Kristen), juga telah dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah Cahaya.

“Aku adalah Cahaya yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal akan Daku, janganlah tinggal di dalam gelap”. (Injil, Yahya 12 : 46)

“Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja Cahaya-Nya”. (Injil, Yahya 5 : 35)

Begitupula, dalam Kitab Baghawad Gita (agama Hindu), juga dijelaskan bahwa Brahma itu adalah Cahaya :

“Beri santaplah yang bercahaya (Brahma Sang Pencipta), mudah-mudahan engkau akan dikaruniai, dari jalan inilah akan tercapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang bercahaya diberi santapan kurban, akan mengkaruniai segala kenikmatan yang diharap”.

Menurut agama Budha, sebutan bagi Tuhan Yang maha Esa adalah Sanghyang Adi Budha, sebagai sumber dari segala sumber yang memancarkan sinar-Nya dan menciptakan dari Dirinya sendiri lima Dyani Budha yaitu :

1. Vairocana : Sumber Cahaya
2. Aksobya : Sumber Ketenangan
3. Ratna Sambhawa : Permata Alam Semesta
4. Amitabha : Cahaya Tanpa batas
5. Amoasidhi : Maha Jadi Yang Tidak Mengenal Kegelapan.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat isyarat yang sama tentang hakikat dari Sang Maha Pencipta di setiap kitab suci agama, yaitu bahwa Dia adalah Cahaya diatas Cahaya. Mengapa setiap Kitab Suci memberitahukan konsep ketuhanan yang sama ? Jawaban adalah karena isi dari semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

“……Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)

“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi. Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat



“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut. 
 
Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)

Jumat, 24 April 2009

Membaca Tanda-Tanda Kematian

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”.

Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang kebangkitan (ruh dari jasad)……….”. (QS Luqman 31 : 34)

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu…….. “. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :

“Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)

Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.

“Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2 : 180)

“Dan orang-orang yang akan meninggalkan dunia diantaramu dan meninggalkan istri-istrinya hendaklah ia berwasiat untuk istri-istrinya ……….. “. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

“Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

“Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : ”Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan. Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : “Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.


3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.


5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.


7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.


9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.


11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.


13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.


15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang oleh Nur Muhammad ke hadirat Ilahi Rabbi.

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperoleh tanda-tanda ini sehingga beliau menyiapkan dirinya untuk menghadapi datangnya kematian. Beliau menyiapkan dirinya dengan mandi dan berwuduk serta mengkafani tubuhnya, kecuali bagian kepalanya. Kemudian Imam Ghozali meminta kakaknya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk meneruskan mengkafani kepala beliau. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafani bahagian mukanya.



Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)

Senin, 16 Maret 2009

Ma'rifatullah adalah Modal Dasarku

Oleh : Abu Irsyad

Seorang ahli sejarah yang bernama Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “The 100 : ranking of the most influential persons in history revised and updated for the nineties”. (dalam edisi bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul : “Seratus Tokoh Sejarah Yang Paling Berpengaruh di Dunia”), menempatkan Nabi Muhammad Saw diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Penempatan Nabi Muhammad Saw pada urutan yang pertama, didasari oleh kenyataan sejarah bahwa beliau berhasil mengubah peradaban masyarakat di Jazirah Arab dan sekitarnya, ke arah yang lebih baik, bahkan pengaruhnya juga menyebar ke seluruh dunia. Pengaruh Nabi Muhammad Saw terhadap perubahan dan perkembangan peradaban dunia, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Newton penemu teori gravitasi dan Albert Enstein penemu teori relativitas, bahkan melebihi Nabi Isa atau Yesus Kristus.

Tokoh seperti Newton dan Albert Enstein dipilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di dunia karena mereka mempunyai modal dasar kecerdasan yang sangat jenius dibidang ilmu fisika. Mungkin timbul pertanyaan di dalam diri setiap orang, modal apakah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa dipilih sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi peradaban dunia ? Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, ternyata beliau adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan mayoritas ulama berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang tidak bisa baca tulis atau umi.

Tetapi dibalik kesederhanaannya, beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu beliau adalah seorang yang sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam arti yang sebenarnya. Sesungguhnya, inilah modal dasar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dapat memajukan peradaban masyarakat dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, yaitu :

“Ma’rifatullah itu modal dasarku”. ( Al Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata modal dasar dari Nabi Muhammad Saw adalah pengetahuan mengenal Allah, bukan harta kekayaan, kekuasaan atau pengetahuan lainnya. Bahkan dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw, menegaskan bahwa amal ibadah seseorang sedikit bermanfaat apabila tidak sertai dengan ma’rifatullah.

“Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma’rifatulah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma’rifatullah akan banyak manfaatnya”. (Al Hadits)

Apakah yang dimaksud dengan ma’rifatullah itu? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan ma’rifatullah itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah ,makalah ini mencoba untuk membahas masalah ma’rifatullah

Setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada diseluruh dunia, mempunyai ajaran dan sebutan yang berbeda-beda tentang apa yang diyakininya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh mereka. Orang Islam menyebut-Nya dengan nama Allah, orang Nasrani menyebut-Nya dengan nama Allah Bapa, orang Yahudi menyebut-Nya dengan nama Yehowah dan masih banyak lagi sebutan yang nisbahkan kepada yang dianggapnya sebagai Tuhannya masing-masing. Setiap agama juga mempunyai tata cara masing-masing dalam melakukan penyembahan kepada Tuhannya.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS Al Baqrah 2 : 148)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tiap-tiap umat memiliki arah penunjuknya sendiri-sendiri. Disini Allah dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal masing-masing umat saling berlomba dalam menciptakan kebaikan , menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah . Misalnya menciptakan kedamaian, baik bagi sesama umat manusia dan juga makhluk lainnya serta alam semesta.

Sebab apa yang pernah dilakukan di dunia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Hal ini ditunjukkanoleh kalimat “Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”. Ibnu Abbas, salah seorang sahabat terkemuka, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir (1320 – 1370 M) dalam tafsir Al Qur’an Al Adzim, menyatakan bahwa kandungan ayat ini sejalan dengan ayat lain yaitu :

“……. Bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami telah buatkan bagi mereka jalan dan metode…….”. (QS Al Maidah 5 : 48)

Perbedaan dalam doktrin setiap agama dan dalam menyebut nama Tuhan ini, terkadang menyeret umat beragama ke dalam perdebatan tentang kebenaran agamanya masing-masing sehingga pada akhirnya timbul pertengkaran dan permusuhan antar umat beragama. Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah melarang setiap umat untuk saling mencaci maki tentang ajaran agama.
 
“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal ibadah mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 108)

“……….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Konsep tentang Tuhan disetiap ajaran agama dan aliran kepercayaan memang terkesan mempunyai perbedaan yang sangat tajam, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam, secara hakikat tersirat ada titik temu diantara perbedaan konsep tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menginformasikan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya masing-masing. Misalnya dalam Al Qur’an (agama Islam), telah dijelaskan bahwa Allah itu adalah Cahaya diatas Cahaya :

“Allah itu adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bntang berkilau. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)

Dalam Kitab Injil (Agama Kristen), juga telah dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah Cahaya.

“Aku adalah Cahaya yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal akan Daku, janganlah tinggal di dalam gelap”. (Injil, Yahya 12 : 46)

“Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja Cahaya-Nya”. (Injil, Yahya 5 : 35)

Begitupula, dalam Kitab Baghawad Gita (agama Hindu), juga dijelaskan bahwa Brahma itu adalah Cahaya :

“Beri santaplah yang bercahaya (Brahma Sang Pencipta), mudah-mudahan engkau akan dikaruniai, dari jalan inilah akan tercapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang bercahaya diberi santapan kurban, akan mengkaruniai segala kenikmatan yang diharap”.

Menurut agama Budha, sebutan bagi Tuhan Yang maha Esa adalah Sanghyang Adi Budha, sebagai sumber dari segala sumber yang memancarkan sinar-Nya dan menciptakan dari Dirinya sendiri lima Dyani Budha yaitu :

1. Vairocana : Sumber Cahaya

2. Aksobya : Sumber Ketenangan

3. Ratna Sambhawa : Permata Alam Semesta

4. Amitabha : Cahaya Tanpa batas

5. Amoasidhi : Maha Jadi Yang Tidak Mengenal Kegelapan.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat isyarat yang sama tentang hakikat dari Sang Maha Pencipta di setiap kitab suci agama, yaitu bahwa Dia adalah Cahaya diatas Cahaya. Mengapa setiap Kitab Suci memberitahukan konsep ketuhanan yang sama ? Jawaban adalah karena isi dari semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

"Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)

“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi.

Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.
 
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat

“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut.

Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)