Jumat, 10 Juni 2016

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Mengapa kita sering kecewa, sedih dan marah, jika apa yg kita inginkan tidak selalu dikabulkan ?
Bila kehidupan ini dipandang dari sisi sulitnya, maka sesungguhnya kita tak kan pernah menemukan kemudahan-kemudahan, namun jika kita dapat memaknai kehidupan ini secara proporsional, maka sesungguhnya Tuhan itu telah menganugrahi kita sebuah nikmat yang luar biasa.
Gambar : Ilustrasi Antara Kebutuhan dan Keinginan
Tuhan tak pernah salah dalam memberi. Kita meminta apa yang kita inginkan, Dia memberi apa yang kita butuhkan. Kita meminta kekuatan, maka Tuhan memberi kita kesulitan agar menjadi tegar. Kita meminta kebijaksanaan, maka Tuhan memberi kita masalah untuk diselesaikan. Kita meminta kekayaan, maka Tuhan memberi kita tenaga dan pikiran untuk bekerja.
Banyak orang yang terhenyak dan sedikit meneteskan airmata setelah menyadarinya…..Ya Tuhan, kadang aku menuntut Mu terlalu banyak....jadi, pertanyaan “Maka nikmat yang manalagikah dari Tuhanmu yang kamu dustakan?” ditanyakan oleh Dia Sang Pemberi Nikmat setiap hari kepada makhluk-makhluknya.
Seakan-akan setiap hari kita ditanya oleh-Nya, “Nikmat manalagikah dari-Ku yang engkau ingkari?”
“Ada tidak kondisi dalam sehari saja, yang saat itu Aku tidak memberikan nikmat kepadamu?”
Pikirkanlah, nikmat-nikmat yang telah Ku-berikan pada tiap jengkal tubuhmu, pada tiap tarikan nafasmu. Maka, mengapa engkau masih ingkar kepada-Ku?
Mengapa engkau masih lalai untuk bersyukur kepada-Ku?”.
Akhirnya dapat di simpulkan :
Tuhan itu memberikan yang terbaik untuk hambanya maka ikhlaslah untuk menerima segalanya sebagai jalan yang dipertunjukkan dan dipilihkan untukmu. jangan pernah menuntut keadilan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan itu maha adil dan bijaksana.
Ternyata Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Yakinlah bahwa semua ada hikmahnya. Jangan hanya terpacu dengan keinginan kita, tapi ingatlah ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan berarti Tuhan mau membawa kita jauh dari kebaikan.

Kamis, 09 Juni 2016

Kembalilah Pulang Kepada Tuhan-Mu

Setiap manusia yang dilahirkan diatas dunia ini, membawa sifat dasar yang disebut dengan sifat fithrah. Salah satu sifat fithrah tersebut adalah hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali ke tempat dimana ia berasal. Ketika kita bertanya ke dalam diri, dari manakah aku berasal ? Maka kita diperintahkan untuk mengenal diri, Siapakah aku ini ? Hal ini sesuai dengan firman Allah:



Wa fil ardhi aayaatul lil muuqiniin. Wa fi anfusikum afala tubshiruun.

Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan ? ( QS Adz Dzariyat 51 : 20-21 )

Barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya ( Al Hadits )

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dengan berpasang-pasangan. Misalnya adalah alam lahir dan alam bathin, lelaki dan perempuan, siang dan malam, baik dan buruk, negatif dan positif dan sebagainya.


Wa min kulli syai-in kholaqnaa zaujaini la’allakum tadzakkarun


Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kamu mendapat pengajaran. ( QS Adz Dzariyat 51 : 49 )

Dalam ajaran Islam, diri kita dibagi menjadi minimal dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bagunan rohani. Hasil interaksi antara jasmani dan rohani akan menimbulkan gejala kejiwaan. Dengan kata lain, dari hasil perkawinan antara rohani dan jasmani maka lahirlah “ anak” yang bernama jiwa atau nafsani. Jika dilihat dari asalnya, maka jasmani berasal dari bapak ibu kandungnya, yang juga berasal dari garis keturunannya sampai ke asal nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Sedangkan rohani manusia berasal dari Allah dan Nabi Muhammad.


Tsumma sawwaahu wa nafakho fiihi ruhihi wa ja’ala lakumus sam’a wal abshooro wal af idata qoliilam maa tasykuruun

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya Roh-Nya dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur (QS. As Sajadah 32 : 9).

Anna minnallohi wal mu’minu minni

Aku adalah yang dijadikan pertama kali oleh Allah dan seluruh orang mu’min itu dijadikan dari padaku. (Al-Hadits)

Awalu ma kholaqollohu ta’ala nuuri

Pertama-tama yang dijadikan Allah adalah Cahayaku. (Al Hadits)

Dalam diri jasmani dan rohani, masing-masing mempunyai hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali menemui asalnya masing-masing. Tetapi keinginan yang kuat untuk kembali menemui asal tersebut tidak semuanya terpenuhi dengan baik dan benar. Oleh karena itu agama Islam memberikan tuntunan bagaimana keinginan atau hasrat untuk kembali menemui asal kita dapat terpenuhi dengan cara yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu dengan diperintahkannya umat Islam untuk merayakan dua hari raya besar, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha lengkap dengan ritual keagamaan yang mendahuluinya, sesuai dengan hadits Nabi :

Jabir ra. Berkata: Rasulullah saw datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan. Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah hari yang dua ini? Penduduk Madinah menjawab adalah kami di masa jahiliah bergemberi ria padanya. Kemudian Rasulullah bersabda : Allah telah menukar dua hari ini dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. (HR. Abu Dawud).

Sebelum merayakan hari raya Idul Fithri, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan yang ke sembilan yaitu Ramadhan dan pada tanggal 1 syawal kita merayakan hari raya Idul Fithri dengan penuh kegembiraan. Di negara kita hari raya Idul Fithri dirayakan dengan tradisi mudik atau pulang kembali ke asalnya masing-masing untuk bertemu dengan bapak dan ibunya di tempat tinggalnya masing-masing. Dan saat bertemu dengan bapak dan ibunya tersebut kita melaksanakan tradisi sungkem atau salim atau salaman untuk memohon ampunan atas segala dosa yang kita perbuat. Dalam tradisi tersebut, kita melihat bahwa umat Islam di Indonesia telah mempunyai tradisi untuk memenuhi hasrat atau keinginan setiap manusia untuk kembali ke asal jasmaninya, yaitu untuk kembali menemui kedua orang tuanya dan bersalim kepada keduanya.

Untuk memenuhi hasrat atau keinginan rohani untuk kembali kepada asalnya, Allah memerintahkan setiap umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Pada hakikatnya proses ritual ibadah haji merupakan proses perjalanan setiap manusia untuk pulang kembali ke asalnya baik secara jasmani maupun secara rohani. Jasmani manusia jika ditelusuri asalnya, semuanya berasal dari nenek moyang yang satu yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa, sedangkan semua rohani manusia berasal dari Allah. Dalam ritual ibadah haji yang menjadi puncaknya adalah wuquf di padang Arafah yang merupakan tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa ketika diturunkan di atas dunia. Dari pertemuan itu maka lahirlah keturunan dari mereka berdua, yang sekarang jumlahnya telah mencapai kurang lebih 5 milyar. Setiap umat Islam mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat untuk kembali menapaktilasi atau menulusuri asalnya yaitu dengan berkunjung ke padang Arafah untuk merenungkan proses terjadinya pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa tepatnya di Jabal Rahmah.

Sedangkan secara rohani setiap manusia juga mempunyai hasrat atau keinginan untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah SWT. Keinginan ini disalurkan melalui proses ibadah haji dengan cara Wuquf di padang Arafah untuk mengenal dan bertemu dengan Allah. ( wuquf = menghentikan. Sedang arafah = mengenal. Jadi hakekat wuquf dipadang arafah adalah proses ritual untuk menghentikan aktifitas jasmani untuk mengenal dan bertemu dengan Asal kita yaitu Allah SWT ). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :


Wa adzdzin fin naasi bil hajji ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli dhaamiriy ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq

Dan serulah manusia untuk melaksanakan haji, niscaya mereka datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengendarai unta-unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj 22 : 27).

Secara jasmani tujuan melaksanakan ibadah haji, adalah melaksanakan rukun haji dengan sempurna, yang merupakan simbol dari gerak kembali ke asal-usul kejadian jasmani kita. Sedangkan secara rohani bertujuan untuk kembali menemui asalnya yaitu Allah. Hal ini berarti bahwa setiap umat Islam yang melakukan ibadah haji harus kembali menemui asal rohaninya yaitu Allah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

Wa aniibuu ilaa robbikum wa aslimuu lahu min qobli ay ya’tiyakumul ‘adzaabu tsumma la tunshoruun

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. (QS Az-Zumar 39 : 54)



Maka segeralah kamu kembali menghadap kepada Allah , sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50 )


Yaa ayyuhal insaanu innaka kaadihun illa ribbika kadhan fa mulaaqiih

Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan usaha yang keras untuk menemui Tuhan dikau, sampai engkau bertemu dengannya. (QS Al-Insyiqaq 84 : 6)


Qul innamaa a’izhukum bi waahidatin an taquumuu lillahi matsnaawa furoodaa tsuma tatafakkaru maa bi shoohibikum min jinnatin in huwa illa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabin syadiid

Katakanlah : sesungguhnya aku hanya mengajarkan kepada kamu satu ajaran saja yaitu bahwa kamu menghadap Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi peringatan kepada kamu sebelum datang azab yang sangat keras ( QS Saba 34 : 46 )

Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk mengadakan pertemuan atau perjumpaan dengan Allah sewaktu masih hidup di dunia, dengan melaksanakan ibadah haji. Jadi Idul Adha merupakan sarana untuk merayakan kembalinya seorang manusia yang berhasil bertemu dengan Tuhannya. Kata Id berasal dari bahasa Arab, yang artinya kembali, sedangkan kata Adha seakar dengan kata Dhuha yang artinya Terangnya Cahaya Siang, sehingga Idul Adha dapat diartikan sebagai proses kembalinya seorang manusia yang pulang ke asalnya yaitu Cahaya Allah Yang Terang Benderang dengan melakukan prosesi Wuquf di padang Arafah. Wukuf artinya berhenti atau menghentikan segala aktifitas jasmani dan inderawi dalam rangka mengenal (Arafah) Allah Yang Padang (Terang), sesuai dengan hadits Nabi SAW : “Al Hajju arofah” = Bukti itu adalah mengenal. Mengenal siapa ? tentunya adalah mengenal Allah atau Ma’rifatullah.




AKU INGIN PULANG

Oleh : Ebit G.Ade


Kemana pun aku pergi
Bayang-bayangmu selalu mengejar
Bersembunyi dimana pun
Selalu engkau temukan

Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada

Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Ku seret langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan menghentikan petualangan

Kemana pun aku pergi selalu ku bawa-bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantui ku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dan dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang
Aku harus pulang
Aku ingin pulang
Aku harus pulang

Hubungan Shalat dan Puasa Sebagai Sarana Menemui Allah

Dalam agama Islam, kita mengenal istilah Rukun Islam, yang terdiri dari lima perkara yaitu : syahadat, shalat, puasa. zakat dan haji. Kelima perkara itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan, makanya perkara tersebut dinamakan rukun, yang artinya satu kesatuan atau tidak terpisah. Sebenarnya kata “rukun” berasal dari serapan bahasa Arab, yaitu ruku’ yang artinya sudut atau siku. Sedangkan Islam berarti damai. 

Berdasarkan arti ini, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kedamaian (Islam) dapat ditempuh dengan lima sudut jalan dimana kelima sudut tersebut saling berhubungan. Dari gambaran tersebut, terlihat bahwa sudut puasa merupakan pusat dari empat sudut rukun Islam lainnya. Kalau dikaitkan dengan jari tangan kita, rukun Islam dapat diumpamakan jari tengah adalah simbol puasa, sedangkan jari jempol simbol dari syahadat, jari telunjuk simbol dari shalat, jari manis simbol dari zakat dan jari kelingking simbol dari haji. Kelima jari tangan kita merupakan satu kesatuan yang utuh dan sempurna.


Mengapa ibadah puasa menjadi pusat dari rukun Islam ? Inilah misteri yang akan kita bahas. Kita sudah mengetahui bahwa hanya ibadah puasalah yang bersifat sangat rahasia kerena untuk mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak hanya dirinya dan Allah-lah yang mengetahuinya. Sehingga ibadah puasa menjadi rahasia bagi seorang hamba dengan Tuhannya.
“Setiap amal anak Adam adalah untuk anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberi ganjaran atas puasanya itu”. (HR Bukhari)

Dari Hadits tersebut, ternyata hanya ibadah puasalah yang amalnya diperuntukkan Allah. Kemudian hanya Allah yang berhak memberi ganjaran atas puasanya itu. Apakah ganjaran bagi orang yang berpuasa itu ? terlihat dengan jelas bahwa ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah kegembiraan ketika berbuka dan bertemu dengan Allah. Selama ini kita sudah berpuasa sekian tahun, akan tetapi, sudahkah kita mendapat pengalaman spiritual yang sangat mengembirakan yaitu bertemu dengan Allah Yang Maha Indah ? Kalau kita sudah berpuasa tapi belum pernah bertemu dengan Allah, lalu bagaimana caranya agar puasa kita dapat mengantarkan diri kita mencapai pengalaman bertemu dengan Allah ?
Intisari dari amal ibadah puasa adalah menahan, mengekang dan mengendalikan diri kita dari makan dan minum serta dorongan hawa nafsu kita yang keluar dari sembilan lubang kehidupan yang ada dikepala dan tubuh kita. Proses menahan aktivitas inderawi ini, sebenarnya sudah pernah kita alami dan lakukan, tetapi sayangnya kita telah melupakan peristiwa tersebut. Pengalaman berpuasa itu adalah ketika diri kita masih berupa janin bayi yang berada dalam kandungan seorang ibu. Di dalam kandungan tersebut, kita sebagai bayi, tidak melakukan aktivitas inderawi, karena kita sedang berendam dalam air ketuban yang mengalir dan bersirkulasi. Dengan kata lain, saat itu kita tidak makan dan minum melalui lubang mulut, kita juga tidak melakukan buang air besar dan kecil, tidak berbicara kotor, tidak melihat dan mendengar hal-hal yang berbau maksiat. Singkatnya kita memang sedang melakukan ibadah puasa secara kafah atau total selama sembilan bulan. Saat itulah kita sedang menerima dan menikmati kegembiraan yang luar biasa, yaitu kita sedang mendapat curahan kasih dan sayang dari Allah di alam rahim. Kita saat itu tidak merasakan bahagia atau sedih, panas atau dingin, manis atau pahit dan sebagainya. Mengapa hal itu bisa kita alami ? karena kita saat itu sedang bertatap muka (tawajuh) dengan Allah di alam rahim-Nya. Sesuai dengan firman-Nya :
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Wajah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kehanifan dan aku tidak termasuk orang musyrik” (QS Al An’am 6 :179)
Setelah lahir, pintu indera jasmani kita terbuka dan mulai menikmati keindahan duniawi, disisi lain pintu-pintu indera batin kita perlahan mulai tertutup, sehingga lambat laun kita melupakan pengalaman bertemu dengan Allah ketika berpuasa di dalam kandungan tersebut.
Untuk mendapatkan kembali pengalaman bertemu dengan Allah itu dengan berpuasa, di utuslah para Nabi dan Rasul dengan membawa Kitab-Kitab Suci-Nya, yang isinya adalah Peringatan (Adz Dzikra) yang mengingatkan kita, karena kita telah lupa ingatan terhadap asal mula kejadian kita dalam kandungan. Para Juru Ingat tersebut menyeru dengan satu seruan agar kita kembali menghadap dan menemui asal kita yaitu Allah dengan cara mengulang kembali ke awal mula kejadian diri kita dahulu. Seruan itu di isyaratkan dalam Al Qur’an dan Injil :
“Katakanlah : “Sesungguhnya aku mengajarkan kepada kamu dengan satu ajaran saja, yaitu bahwa kamu harus bangkit untuk menghadap Allah , berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan , tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi Peringatan kepada kamu, sebelum datang azab yang sangat keras”. ( QS Saba’ 34 : 46)
“Sesungguhnya kamu akan datang kembali menemui Kami dengan sendiran seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula penciptaan, dan pada saat itu kamu akan meninggalkan dibelakangmu semua apa yang dianugerahkan Allah kepadamu.........”. (QS Al An’am 6 : 94)
“Yesus berkata : Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Jika kamu tidak kembali seperti bayi dalamkandungan, sekali-kali kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajan Allah”. (Injil, Matius 18 : 3)
Jika kita ingin bertemu dengan Allah, kita harus menggingat dan mengulang kembali perjalanan dan pengalaman diri kita, ketika diciptakan oleh Allah pada pertama kali, yaitu ketika diri kita terendam dalam air ketuban dan ketika inderawi kita sedang tidak berfungsi.
Untuk mengulang kembali peristiwa itu Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah puasa seperti yang pernah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Inilah perintah puasa yang diisyaratkan oleh Allah dalam Al Qur’an :
“Wahai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan atas kamu berpuasa seperti telah ditetapkan kepada orang-orang terdahulu dari kamu supaya kamu terpelihara”. (QS Al Baqarah 2 : 183)
Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan agar kita berpuasa kembali seperti puasa yang per nah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita, bagaimana caranya kita kembali ke dalam kandungan atau alam rahim ?
Kita sering tidak menyadari arti kata “kamaa”. Dalam ayat-ayat diatas. Dalam bahasa Arab, kata “kamaa” artinya adalah “seperti, sebagaimana atau bagaikan”. Dari arti ini dapat disimpulkan bahwa perintah untuk kembali ke awal kejadian adalah bukan dalam arti sesungguhnya, tetapi mirip dengan kejadian awal. Jadi kita harus mengkondisikan diri kita seperti kondisi yang mirip dengan suasana di dalam kandungan. Suasana dalam kandungan adalah penuh kedamaian, karena indera kita sedang tidak berfungsi. Begitupula jika kita melakukan ibadah puasa, kita bukan saja manahan diri dari makan dan minum saja tetapi juga harus menahan diri dari mendengar, melihat, dan mencium aroma yang ada di luar diri kita. Pada saat itu yang kita lakukan hanyalah berdzikrullah sampai kita bertemu dengan Allah, yang dikiaskan dengan munculnya “Asy Syamsu”(matahari) atau “Asy Syahru” (bulan).
“....Barang siapa diantara kamu menyaksikan “syahra”, maka hendaklah ia berpuasa....”.(QS Al Baqarah 2 : 185)
Kata “syahra” merupakan kata simbolis dari Nur Allah yang tajalli dalam diri orang yang berpuasa. Pada saat Nur Allah tajalli dalam diri dan tersaksikan, maka orang tersebut harus berpuasa dengan menahan diri untuk tidak makan, minum, mendengar, melihat, berbicara dan berfikir yang negatif. Inilah yang dikatakan dalam bahasa agama, bahwa kita mengawali berpuasa dengan sistem ru’yat. Apakah yang diru’yat oleh orang yang berpuasa ? tentunya adalah Ru’yatullah (melihat Allah).
Ada juga yang melakukan ibadah puasa dahulu baru kemudian nanti melihat “syahra”, inilah yang disebut dengan mengawali puasa dengan sistem “hisab”. Artinya seseorang menahan diri dulu dari aktifitas inderawi, baru kemudian secara perlahan dia akan melihat “syahra” atau Nur Allah.
Berapa lama kita melakukan ibadah puasa, tergantung dari seberapa lama “Asy Syamsu” tersaksikan oleh pelaku puasa. Dengan kata lain lamanya puasa kita tergantung dari seberapa lama Nur Allah yang tajalli dan tersaksikan oleh mata batin kita. Inilah, yang dalam bahasa syariat, bahwa orang berpuasa dimulai dari terbitnya sinar matahari sampai terbenamnya sinar matahari. Peristiwa inilah yang diisyaratkan dalam Al Qur’an.
“Apakah engkau mengira sesungguhnya penghuni gua dan raqim itu adalah termasuk tanda-tanda Kami yang mengagumkan? Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berkata : “ Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah petunjuk dalam urusan kami”. Lalu Kami menutup telinga mereka di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian Kami bangunkan mereka untuk Kami buktikan siapa yang lebih dapat menghitung masa mereka tinggal”. (QS Al Kahfi 18 : 9-12)
“Dan engkau mengira mereka bangun padahal mereka tidur. Kami balikkan mereka ke kanan dan ke kiri sedang anjing mereka terbentang kedua lengannya di muka pintu gua...”. (QS Al Kahfi 18 : 18)
Secara simbolis, ayat tersebut diatas sebenarnya mengisahkan peristiwa seorang yang sedang melakukan puasa dalam rangka bertemu dengan Allah, yang dilakukan oleh “ tujuh penghuni gua”.
Ash Habul Kahfi artinya penghuni gua yang berjumlah tujuh. Ini adalah simbol dari tujuh rasa kesadaran yang menghuni tujuh lubang inderawi yang ada di kepala manusia. Sedang raqim (batu tulis) adalah simbol dari petunjuk yang telah ditanamkan dengan kuat dalam qalbu penghuni gua. Sedangkan anjing simbol dari struktur bangunan tubuh manusia.
Ketika pengaruh kenikmatan duniawi yang tercerap oleh tujuh lubang inderawi kita, sudah sedemikian kuat. Maka kita harus secepatnya melindungi diri kita dari pengaruh kenikmatan duniawi tersebut dengan cara “berpuasa” menahan aliran kesadaran yang mengarah keluar menjadi ke arah dalam diri dengan cara menutup “pintu gua inderawi”. Setelah pintu gua inderawi tertutup, maka kita bermohon kepada Allah agar diberikan Rahmat dan Rahim serta Nur Hidayah. Munculnya Rahmat dan Hidayah ini dikiaskan dengan terlihatnya sinar matahari yang terbit dari kanan gua ke arah kiri gua. Dengan munculnya Nur Allah yang dikiaskan dengan “Sinar matahari” yang tersaksikan oleh mata batin kita, maka lambat laun kesadaran jasmani kita akan menghilang secara berangsur-angsur, sehingga kita tidak lagi mengingat lintasan peristiwa yang terjadi diluar diri kita, sampai kita terbangun kembali dengan kesadaran yang baru.
Selama pintu gua tertutup, maka selama itu pula hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita tidak dapat masuk kedalam gua, inilah yang dikiaskan dengan “anjing”nya menunggu diluar dengan membentangkan kedua lengannya ke arah pintu gua. Arti simbolis dari membentangkan atau menjulurkan kedua lengan ke arah muka pintu gua adalah bahwa, agar kita terbebas dari cengkeram dan kejaran hawa nafsu yang ganas, maka kita harus berlindung ke dalam gua dengan cara menutup pintu gua dengan tangan kita. Agar rangsangan nafsu yang tercerap oleh inderawi akan mati secara perlahan. Ketika hal ini terjadi, barulah kita akan melihat kehadiran Nur Allah dengan mata batin kita.
Menutup pintu gua inderawi dengan kedua lengan “anjing” kita, inilah yang disebut dengan mengangkat kedua tangan kita mendekat ke arah pintu inderawi yang ada dikepala, ketika kita melakukan gerakan “Takbirat al Ihram”(Takbir Larangan). Di saat inilah, kita mengharamkan telinga kita untuk mendengarkan suara apapun kecuali Suara Allah, mengharamkan mata kita untuk melihat apapun kecuali melihat obyek sujud kita yaitu Nur Allah, mengharamkan hidung kita kecuali untuk mencium aroma Nur Ilahi dan mengharamkan mulut kita mengucap sesuatu kecuali mengucapkan kalam Ilahi.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa puasa pada hakikat adalah cikal bakal dari semua peribadatan dalam rukun Islam, karena dengan berpuasa sesungguhnya kita juga telah terhubung (shalat,shilah) dengan Allah (shalatullah). Dengan berpuasa kita juga telah menyaksikan kehadiran Allah(syahadatullah). Dengan berpuasa, kita juga telah melakukan zakat (menyucikan) tujuh penghuni gua inderawi. Dan terakhir, ketika kita berpuasa, sesungguhnya kita sedang bertamu untuk ketemu dengan Allah dengan wuquf (menghentikan) jalannya aktifitas inderawi dalam rangka untuk ‘Arafah (mengenal) Cahaya Allah Yang Sangat Padang (ma’rifatullah) di padang ‘Arafah.

Selasa, 07 Juni 2016

Derita An Nar Akibat Hati Yang Membatu

"Hai orang yang beriman, peliharalah diri kamu dari derita An Nar yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang dijaga oleh Malaikat yang Kasar dan Keras..........". (QS 66: 6)
An Naar = Cahaya Kegelapan, yang menimbulkan derita, yang disebabkan oleh mem-BATU-nya Qalbu manusia, yang selalu bertindak Kasar dan Keras.

Minggu, 22 Mei 2016

Menjalani Islam Secara Kafah

Kita mengenal istilah Iman, Islam dan Ihsan, yang pada hakekatnya adalah suatu proses perjalanan pengalaman keberagamaan kita yang berjenjang dari tingkat Iman, terus ke tingkat Islam dan mencapai puncaknya ke Tingkat Ihsan.
 
 
Tingkat pertama yang harus dijalani adalah Tingkat Iman, yaitu dimana seseorang harus mengimani apa yang termaktub dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat-Nya dan Takdir-Nya. Iman artinya percaya. Logikanya, keimanan atau kepercayaan itu akan tumbuh dalam diri seseorang, kalau dia sudah membuktikan apa yang di imaninya, inilah yang dinamakan Isbatul Yakin = Keyakinan berdasarkan bukti secara langsung.
Diantara kita kadang mengimani keberadaan rukun Iman itu, hanya berdasarkan kata-kata yang didengar melalui telinga, misalnya dari kecil kita sudah mendengar kata “Allah”, “Malaikat”, “Rasul” dan lain sebagainya, kemudian hal tersebut diyakini keberadaannya, padahal kita selama ini belum pernah melihat Allah, Malaikat-Nya dan Rasul-Nya. Inilah yang disebut dengan iman berdasarkan pendengaran. Sehingga pengalaman keberagamaan kita hanya sebatas pendengaran saja atau yang disebut dengan Agama Samawi. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan iman kita dari hanya sebatas mendengar ke tingkatan Iman berdasarkan Isbat, sehingga kita menjadi orang yang shaleh dalam bidang Spiritual.

”Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas Harf..” (QS 22 : 11)

Tingkat kedua yang harus dijalani adalah Tingkat Islam, yaitu dimana seseorang yang telah beriman kepada apa yang termaktub dalam rukun Iman berdasarkan Isbat, mulai menjalankan rukun Islam, yang termaktub dalam rukun Islam yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Shaum dan Haji. Islam mempunyai arti Damai, Pasrah dan Lunas Hutang. Semua ritual Islam itu pada hakekatnya adalah simbol-simbol yang menjembatani antara dunia spiritual/keimanan (Keshalehan Spiritual) dengan dunia Sosial/keihsanan (Keshalehan Sosial).

Diantara kita kadang ada yang melakukan ritual Islam yang termaktub dalam rukun Islam, hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja, sehingga hakekat tujuan akhir dari simbol-simbol ritual Islam tersebut, tidak tercapai. Misalkan, kita sering bersyahadat tapi bersyahadat palsu, bersholat tapi tidak terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, berzakat, tapi tidak membersihkan (menzakatkan) diri dari sifat2 tidak terpuji. Bershaum, tapi tidak bisa menahan diri dari perilku negatif. Berhaji, tapi tidak berbuat kemabruran (Kebajikan). Sehingga akhirnya walaupun kita sering melakukan ritual rukun Islam dengan baik dan teratur, tetapi kita tidak juga menjadi orang yang baik (Ihsan). Oleh karena itu marilah kita, tingkatkan KeIslaman kita ketingkat yang lebih tinggi yaitu ke Tingkan Ihsan.

”Hai sekalian orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kafah……” (QS 2 : 208)

Tingkat ke tiga yang harus dijalani adalah Tingkat Ihsan, yaitu dimana seseorang yang telah beriman dan berislam yang termaktub dalam rukun iman dan rukun islam, mulai mengaplikasikan nilai-nilai keimanan dan keislamannya itu dalam hidup bersosial kemasyarakatan, dimana ia selalu berperilaku sebagai orang yang baik (muhsin) dengan mengikuti norma-norma yang berlaku dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, dengan di dasari bahwa semua perilakunya selalu merasa seolah-olah di lihat Allah, sehingga ia malu kalau perilakunya melanggar hukum-hukum Allah. Orang yang sudah menjalani jenjang Iman, Islam dan Ihsan dengan sempurna, disebut dengan orang yang telah menjalani kehidupan agamanya dengan sempurna.

”….Pada hari ini telah Aku sempurnakan Ad Din-mu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhoi Islam (Sejati) ini sebagai agamamu…” QS 4 : 3)

Hakikat Malam Nishfu Sya'ban

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ
أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Jika MALAM NISHFU SYA’BAN tiba, maka BERIBADAHLAH DI MALAM HARINYA dan BERPUASALAH DI SIANG HARINYA, karena sesungguhnya ketika matahari terbenam di MALAM NISHFU SYA’BAN Allah turun ke langit dunia dan berkata, “ADAKAH YANG MEMINTA AMPUN KEPADAKU SEHINGGA AKU MENGAMPUNINYA, ADAKAH YANG MEMINTA REZEKI (KARUNIA) KEPADAKU SEHINGGA AKU MEMBERINYA REZEKI, ADAKAH YANG SEDANG MENGALAMI MUSIBAH SEHINGGA AKU MENYEMBUHKANNYA (MENYELAMATKANNYA), ADAKAH…ADAKAH.., (Demikian Allah terus memberikan tawaran kepada hambaNYA) hingga tiba waktu Fajar. (HR Ibnu Majah)
Rasulullah saw bersabda:
إنَّ الله ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ إلى السَّماءِ الدُّنْيا فَيَغْفِرُ لأكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعرِ غَنَمِ كَلْبٍ
Di malam NISHFU SYA’BAN, ALLAH ‘Azza Wa Jalla turun ke langit dunia dan memberikan ampunan sebanyak bulu domba yang dimiliki oleh suku Kalb. (HR Tirmidzi Dan Ibnu Majah)
Apakah hakekat malam Nishfu Sya'ban ?
Nisfhu artinya tengah atau pertengahan. Sedangkan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Islam. Dinamakan Sya’ban, karena orang-orang Arab pada bulan-bulan tersebut yatasya’abun = berpencar untuk mencari sumber mata air.
Dikatakan juga karena mereka tasya’ub = berpisah-pisah di gua-gua.
Dan dikatakan juga sebagai bulan Sya’ban karena bulan ini muncul = sya’aba di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan.
Sya'ban diambil kosa kata bahasa Arab yang berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas gunung.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka secara hakekat nisfu sya'ban adalah suatu proses menyatukan perjalanan kesadaran, (yang selama ini berjalan mengalir dan berpencar melalui tujuh gua di atas gunung) di tengah pusat sujud, untuk menyaksikan turunnya Nur Ilahi ke bumi diri.

Selasa, 03 Mei 2016

Pelatihan "BISMILLAH" Angkatan 553, 5 Mei 2016 di Citra Indah Jonggol

PELATIHAN BIMBINGAN SINGKAT MENEMUI ALLAH (BISMILLAH) ANGKATAN 553, TANGGAL 5 MEI 2016 DI CITRA INDAH JONGGOL
Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya" (QS Al Insyqaq 84 : 6)
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi “. (QS Az Zumar 39 : 54)
“Maka segeralah kamu kembali kepada Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50)
"Barang siapa yang mengharapkan bertemu dengan Allah, sesungguhnya waktu yang dijanjikan oleh Allah akan tiba. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS Al Ankabut 29 : 5)
"Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya" (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
"Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekati-Nya sehasta dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa dan jika ia datang menemui-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang menemui-Nya dengan berlari" (HR Bukhari dari Salman ra)
“Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah, sehingga apabila datang Hari Kebangkitan dengan tiba-tiba mereka berkata:“ Aduhai, penyesalan kami atas kelengahan kami di dunia “. Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu “. (QS Al An’am 6 : 31)
“Katakanlah : “ Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi amal perbuatannya ? yaitu orang yang telah sia-sia amalnya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka beramal sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan ingkar terhadap perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka. Dan Kami tidaklah menilai amal mereka pada hari Kiamat “. (QS Al Kahfi 18 : 103 – 105)
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami, sedang mereka senang dengan kehidupan dunia serta puas hatinya terhadap yang demikian, begitu pula orang-orang yang lalai dari berita-berita Kami. Mereka itu tempatnya dalam Neraka, disebabkan apa yang telah mereka usahakan “. (QS Yunus 10 : 8)
“Dan orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, mereka itu terputus dengan Rahmat-Ku dan mereka itu mendapat azab yang pedih “. (QS Al Ankabut 29 : 23)
“….. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami itu bingung di dalam kesesatannya “. ( QS Yunus 10 : 11)
“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tapi tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telingan (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (Qalam Allah). Mereka itu adalah binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raaf 7 : 179).
“….karena sesungguhnya bukanlah mata jasmani yang buta tetapi mereka buta adalah mata hati yang ada di dalam dada”. (QS Al Isra’ 17 : 72).
“….seperti gelap gulita di lautan yang dalam dan awan hitam yang gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengeluarkan tangannya, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya Allah, maka tidaklah dia mempunyai Cahaya sedikitpun”. (QS An Nur 24 : 40).
PUSAT KAJIAN TASAWUF "NURUL KHATAMI"
MENYELENGGARAKAN BIMBINGAN SINGKAT MENGENAL ALLAH DENGAN " DZIKIR KHATAMI " SEBUAH TEKNIK YANG SANGAT EFEKTIF UNTUK MERAIH PENCERAHAN CAHAYA ILAHI DENGAN SEKETIKA.
"Dzikir Khatami" adalah sebuah teknik kunci yang terdapat di dalam Al Qur'an. Teknik ini memungkinkan praktisinya mencapai ma'rifatullah dengan seketika. Tidak peduli sebatas apa pengetahuan anda, dengan mempraktekkan metode yang kami ajarkan, pengalaman menakjubkan yang selama ini hanya bisa anda baca dari buku-buku spiritual akan anda alami sendiri.
PEMBIMBING : KUSWANTO ABU IRSYAD
Hari : Kamis
Tanggal : 5 Mei 2016
Waktu : Jam 10.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Cluster Bougenville blok Ai 2 no 9 Citra Indah Jonggol Bogor.
Pendaftaran : Kirimkan nama lengkap anda melalui sms di no 081219812496
MANFAAT PELATIHAN :
* Mengalami Ma'rifatullah dengan Metode Dzikir Khatami, tanpa perlu laku tarikat bertahun-tahun.
* Melejitkan kecerdasan Spiritual (SQ) dengan membuka akses langsung ke CAHAYA ILAHI yang tidak lain adalah sumber dari kecerdasan spiritual (SQ) manusia.
* Tersingkapnya 70 ribu hijab antara manusia dan Tuhan.
* Dapat mengetahui datangnya tanda-tanda kematian setahun sebelum wafat.
* Melatih jiwa menyusuri jalan pulangnya menuju Allah kelak dengan mengenalinya sedari kita masih hidup di dunia.
* Menghemat investasi yang perlu anda keluarkan untuk membeli buku-buku spiritual dan "berburu" Guru Ruhani tanpa sebuah kepastian hasil.
Apakah setiap orang bisa mengalami ma'rifatullah, dan setelah berapa lama ?
Tentu setiap orang bisa mengalami. Umumnya peserta akan langsung mengalami ma'rifatullah sejak kali pertama praktek, sampai seterusnya kapanpun ia mempraktekkan teknik ini.
Apakah teknik Dzikir Khatami tidak bertentangan dengan syariat agama ?
Sama sekali tidak. Teknik ini bersumber dari Al-Qur'an yang didukung temuan sains mutakhir dan tidak mengandung satu unsurpun yang bertentangan dengan syariat agama.
MARI.........RAIHLAH PENGALAMAN MA'RIFATULLAH ANDA SEKARANG JUGA