Senin, 03 Oktober 2016

Sejarah Perumusan Kalender Hijriah

Penanggalan Hijriyah yang banyak dikenal oleh kaum muslim itu adalah produk politik yang dikeluarkan semasa Sayyidina Umar menjabat khalifah. Dikatakan demikian karena memang motivasi terbentuknya penanggalan tersebut guna kelancaran system kenagaraan ketika itu.

Dalam kitabnya Fathul-Baari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan secara detail runutan kejadian lahirnya penanggalan hijriyah tersebut. Dan perlu diketahui bahwa nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah itu bukanlah wahyu, tapi justru bangsa Arab sejak zaman jahiliyah pun sudah memakai nama-nama itu; seperti Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan yang lainnya.

Jadi, orang-orang sebelum Nabi lahir pun sudah mengenal nama Rabi’ al-Awwal dan juga Rabi’ al-Tsani atau juga Rajab serta Dzul-Hijjah. Intinya bahwa nama-nama itu telah ada dan dipakai oleh orang Jahiliyah. Jadi bukan hanya khusus orang Islam saja. Kecuali nama bulan Muharram, karena sejatinya itu adalah nama pemberian wahyu, bukan dari kebiasaan jahiliyah.


Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menceritakan bahwa setelah 2 tahun setengah menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada tahun ke 17 Hijrah, sayyidina Umar mendapat kiriman surat dari salah satu gubernurnya, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang mengadu kalau beliau kebingungan, karena banyak surat sayyidina Umar yang datang ke beliau tapi tidak ada tanggalnya.

Dalam rak gubernur terdapat banyak surat yang membuat beliau (Abu Musa al-Asy’ari) bingung untuk menentukan surat mana yang baru dan mana surat yang lama, mana perintah terbaru dan mana perintah sudah usang. Karena itu beliau menyarankan kepada sayyidina Umar untuk membuat sebuah penanggalan agar tidak terjadi lagi kebingungan di antara gubernur-gubernurnya.

Mendapat aduan dan tersebut, akhirnya sayydina Umar memanggil semua staf dan orang penting-nya untuk berdiskusi merumuskan dan memformulasikan sebuah penanggalan agar tidak lagi ada yang kebingungan. Selain itu juga, penanggalan pastinya, akan sangat membantu kinerja para staf dan gubernur serta masyarakat luas.

Setelah berdiskusi dan sepakat bahwa mereka harus memilik standarisasi penanggalan demi kemaslahatan, mereka berselisih dalam menentukan kapan tahun pertama itu dimulai dalam penanggalan mereka ? Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah, dimana Nabi lahir. Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi. Dan tidak sedikit yang mengusulkan di tahun Nabi diangkat menjadi Rasul dimana wahyu pertama turun. Dan juga opsi di tahun hijrahnya Nabi ke Madinah.

Dari 4 opsi ini, akhirnya sayyidina Umar memutuskan untuk memulai tahun di tahun hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi sayyidina Utsman dan juga sayyidina Ali. Beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir, dan kapan wahyu pertama turun.

Sedangkan tahun wafatnya, sayyidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi Saw, selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu. Dan menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijriyah, karena yang menjadi acuan awalnya ialah Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Padahal sejatinya orang-orang terdahulu menamakannya at-Taqwim al-Qamari (Kalender Bulan), dinamakan Qamar (bulan) karena hitungan harinya berdasarkan putaran bulan, dan itu yang dilakukan oleh para bangsa Arab sejak ratusan dekade.

Setelah bersepakat bahwa awal tahun itu terhitung sejak tahun Nabi Hijrah, perdebatan kembali memanas tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan hijriyah ini?

Tentu saja ada yang menawarkan bulan Rabi’ al-Awwal sebagai bulan pertama tahun Hijriyah karena bulan itu ialah bulan Hijrahnya Rasul (tepatnya Rasul Saw memulai berangkat ke madinah sejak tanggal 27 shafar dan tiba di madinah tanggal 11 Rabi’ al-Awwal). Akan tetapi sayyidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriyah.

Selain karena rekomendasi sayyidina Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabi’ al-Awwal, akan tetapi muqadimah (permulaan) Hijrah terjadi sejak di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi, dan Baiat itu terjadi di penghujung bulan dzul-hijjah, semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum muslim untuk berhijrah. Dan bulan yang muncul setelah dzul-hijjah ialah bulan Muharram. Karena itu beliau memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah.

Yang perlu diketahui bahwa memang nama-nama bulan pada kalender Hijriyah itu bukanlah wahyu yang turun kepada umat Islam. Justru nama-nama itu telah ada sebelumnya dan digunakan berabad-abad lamanya oleh bangsa Arab. Hanya nama Muharam yang bersumber dari wahyu.

Mereka terbiasa menggunakan bulan sebagai media untuk menentukan waktu karena itu penaggalan mereka disebut dengan al-Taqwim al-Qamari (kalender Bulan), karena memang basis perhitungannya bergantung pada bulan. Walaupun ada beberapa suku, khususnya di selatan Jazirah Arab (Yaman) yang menggunakan matahari sebagai media menentukan hari.

Kemudian, nama-nama bulan mereka memberi nama sesuai dengan keadaan alam atau keadaan sosiologi dan budaya yang mereka lakukan pada bulan-bulan tersebut. Hanya nama bulan muharram saja yang bukan warisan dari jahiliyah; ia merupakan nama yang bersumber dari wahyu lewat lisan Nabi Saw.

Orang Jahiliyah dulu tidak mengenal nama Muharram/tidak ada nama muharram dalam penaggalan mereka. Mereka hanya tahu Shafar al-Awwal, ini nama sebelum adanya nama Muharram. Nama Muharram itu muncul setelah adanya wahyu dari Allah melalui lisan Nabi Saw. yang mana ketika itu Nabi Saw menjelaskan tentang puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan, beliau katakana : “Syahrullah al-Muharram”, yakni : bulannya Allah, bulan Muharram. Setelah muncul hadits ini kemudian nama muharram menjadi popular di kalangan umat Islam.

*Dikompilasi dari berbagai sumber.

Minggu, 02 Oktober 2016

Kema'rifatan Nabi ISA Al-Masih

Dalam Injil dikisahkan tentang proses perjalanan Nabi Isa Al Masih dalam mencapai Pencerahan Rohani, yaitu ketika ia di baptis oleh Yohanes dengan cara ditengelamkan ke dalam sungai Yordan. Kisah ini diabadikan dalam Injil.

“Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat itu ia ditenggelamkan dalam air, ia melihat Langit terdekat terkoyak dan Roh Kudus seperti burung merpati putih turun di atas kepalanya. (Injil, Markus 1 : 9 – 10)

Di dalam Injil juga dijelaskan secara simbolis metode Pencerahan Rohani yang dipraktekan oleh Nabi Isa dan para pengikutnya :

“Apabila kamu hendak bersembahyang, masuklah ke kamar dalammu dan pintu-pintumu hendaknya dikunci, bersembahlah kepada Tuhanmu yang terlihat dan tersembunyi itu, kepadamu akan meluluskan (mensyahkan sembayangmu)”. (Injil, Matius 6 : 6)

“Tatkala mereka turun dari atas “Gunung” itu berpesanlah Yesus kepada mereka (para pewarisnya yang baru dibaptis) : Janganlah kamu mengatakan “Penglihatannmu” itu kepada seorang juapun sebelum manusia itu bangkit dari mati”. (Injil Matius 17 : 6)

“Yesus berkata : “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, kalau kamu tiada berbalik seperti “bayi”, sekali-kali tiada kamu mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah”. (Injil, Matius 18 : 3)

Sampai saat ini, di dalam ajaran Kristiani terdapat metode Pencerahan Rohani yang disebut Pembaptisan (dalam Islam disimbolkan dengan teknik "Shibghatullah" = "Celupan Allah" ) dengan cara diselamkan ke dalam kolam yang berisi air, yang dibimbing oleh seorang Pendeta di dalam sebuah gereja.

Di dalam Al Qur’an juga dikisahkan secara simbolis proses Pencerahan Rohani dari seorang wanita Suci yang bernama Siti Maryam ibu kandung dari Nabi Isa Al Masih :

Dan tersebutlah kisah Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebalah Timur”. (QS Maryam 19 : 16)

“Ketika akan melahirkan kandungannya ia merasa sakit dan memaksa ia bersandar pada Pangkal Pohon Korma, ia berkata : “Alangkah baiknya jika aku dapat mati saat ini sehingga aku dapat melupakan dan dilupakan seperti barang yang tidak berarti”.

“Maka Jibril menyerunya dari tempat rendah : “Jangalah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu akan menjadikan Anak Sungai di bawahmu”.

“Dan dekatkanlah pangkal Pohon Korma itu ke arah mukamu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu”.

“Maka makanlah dan minumlah dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu bertemu dengan seorang manusia (dan bertanya tentang hal ini), katakanlah : “Sesungguhnya, aku telah berjanji kepada Tuhan Yang Maha Pemurah untuk berpuasa serta tidak akan berbicara pada hari ini dengan seorang manusiapun”. (QS Maryam 19 : 23 – 26).

Demikianlah kisah nabi Isa Al Masih dan Siti Maryam dalam mendapatkan pengalaman Pencerahan Rohani menemui Cahaya Allah yang diabadikan dalam Al Qur’an dan Injil yang difirmankan dalam bentuk kalimat Mutasyabihat. Oleh para Sahabat Nabi Isa Al Masih, ayat-ayat tersebut kemudian di visualisasikan dalam Simbol Yesus Yang Sedang Di Salib, yang hakekatnya merupakan perlambang orang yang menjalani metode Mati Dalam Hidup, dimana dia harus "menyalib" dirinya sendiri. Yang di salib itu adalah 4 nafsu, yaitu :

1. Amarah, yang bersumber di dua lubang telinga.
2. Lawamah, yang bersumber di satu lubang mulut.
3. Sufiah, yang bersumber di dua lubang mata.
4. Mutmainah, bersumber di dua lubang hidung.

Berikut ini penggambaran Penyaliban Yesus, yang dikaitkan dengan proses pengendalian Hawa Nafsu untuk mencapai Pencerahan Ruhani oleh Nur Ilahi :

1. Kaki Yesus di salib dimana terlihat bahwa kaki Yesus dipaku sampai tembus ke kayu salib, ini bermakna nafsu Lauwamah, posisi paling rendah, sebuah nafsu yang cenderung ke arah hewaniyah, mengajak manusia untuk berbuat buruk, serakah, tamak, dan loba. Bila ingin menuju Ilahiah, nafsu ini wajib dipaku atau dikendalikan (bukan dibunuh).

2. Tangan kiri yesus di salib, dimana terlihat tangan kiri Yesus yang dipaku diatas kayu salib merupakan perlambang nafsu Amarah, nafsu yang mengajak manusia untuk bersifat iri dan dengki, yang dapat memacu manusia untuk mencari gemerlap dunia dan kekayaan tanpa aturan. Jika nafsu ini berlebihan dan tidak dikendalikan maka manusia akan menjadi serakah. Jadi nafsu ini wajib "dipaku" juga.

3. Tangan kanan Yesus disalib, dimana terlihat tangan kanan Yesus yang dipaku, hal ini merupakan perlambang nafsu Sufiah. Nafsu yang mengajak manusia untuk mencintai dan dicintai, menghormati dan dihormati, berkuasa dan lain-lain. Jika nafsu ini berlebihan dan tidak dikendalikan maka dapat memacu manusia untuk bersifat serakah, dan melupakan Tuhannya. Jadi nafsu ini juga harus dipaku.

4. Kepala Yesus, dimana terlihat bahwa kepala Yesus tidak dipaku, inilah perlambang Nafsu Mutmainah, nafsu yang bersifat tenang dan mengajak manusia untuk ingat kepada Tuhannya dan selalu rindu untuk Liqa' Allah, sehingga dilambangkan Kepala Yesus yang tidak dipaku. Nafsu Mutmainah adalah Nafsu yang dapat memimpin ketiga nafsu lainnya, yaitu Amarah, Lawamah dan Sufiah, agar terarah ke Jalan Menuju Allah.

5. Duri di kepala Yesus, hal ini merupakan perlambang, bahwa Ilmu Makrifat atau Ilmu Ruhaniah, itu tidak hanya mengandalkan akal saja. Kata Akal berasal dari kata serapan bahasa Arab, yaitu kata "Iqal" yang artinya mengikat atau belenggu. Jadi akal adalah ikatan dari tiga daya Cipta, Rasa dan Karsa. Dalam mengenal Allah jangan hanya mengandalkan akal saja, karena ketiganya mempunyai keterbatasan. Akal tidak akan dapat memahami masalah Ilahiah. Keterbatasan akal ini, digambarkan dengan tali duri yang mengikat kepala. Tegasnya, akal harus diikat dengan duri. Dalam memahami masalah Ketuhanan, kita harus menggunakan Kemampuan Rahsa Rohani.

6. "Cahaya" bersinar dikepala Yesus yang juga membias sampai dada Yesus merupakan perlambang Qolbu atau Thur Sin Yang Sudah Tercerahi Oleh Cahaya Ilahi.

"Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkatmu kepada-Ku..." (QS 3 : 55)

"Dan keselamatan atasnya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia diwafatkan dan pada hari di dibangkitkan hidup kembali" (QS 19 : 15)

"Apakah orang-orang yang sudah mati (dalam hidup) kemudian Kami membangkitkannya hidup kembali, dan Kami berikan kepadanya Cahaya, yang dengan Cahaya itu dia dapat berjalan-jalan di tengah manusia, sama dengan orang yang dalam Kegelapan, yang tidak dapat keluar dari Kegelapan tersebut ? Demikianlah orang-orang Tertutup itu memandang baik apa yang mereka kerjakan" (QS Al An'am 6 : 122)

"Tubuh itu seperti Maryam, dan masing-masing diri kita mempunyai Isa di dalam.
Apabila derita (karena cinta) muncul dalam diri kita,
Isa akan lahir"

(Jalaluddin Ar Rumi, dalam Kitab Fihi ma fihi)

"Cahaya Allah itu berada dalam rumah, yang dizinkan oleh Allah untuk di luhurkan, yang di sana diingat Nama-Nya, di sana juga (orang) memahasucikan Dia pada pagi dan petang hari" (QS 24 : 36)

"Cahaya Allah itu berada dalam rumah, yang dizinkan oleh Allah untuk di luhurkan, yang di sana diingat Nama-Nya, di sana juga (orang) memahasucikan Dia pada pagi dan petang hari" (QS 24 : 36)

Membaca Tanda-Tanda Kematian

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”.

Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang kebangkitan (ruh dari jasad)……….”. (QS Luqman 31 : 34)

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu…….. “. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :

“Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)


 Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.

“Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2 : 180)

“Dan orang-orang yang akan meninggalkan dunia diantaramu dan meninggalkan istri-istrinya hendaklah ia berwasiat untuk istri-istrinya ……….. “. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

“Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

“Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : ”Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : “Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.

3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.

5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.

7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.

9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.

11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.

13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.

15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang bersama Nur Muhammad menyatu dengan Nur Allah.

Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)

Jumat, 30 September 2016

Selamat Berhijrah dari Zhulmani Menuju ke Nurani

Hakekat Hijrah Sosial dan Spiritual*

Hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa historis yang sangat bermakna bagi umat Islam. Hijrah menandai babak baru sekaligus titik balik perjuangan iman menuju terwujudnya peradaban Islam yang bervisi rahmatan lil 'alamin. Berdasarkan peristiwa hijrah, Umar bin al-Khattab menetapkan kalender Islam yang berlaku hingga kini, yaitu kalender hijriyah.

Secara bahasa, hijrah berarti meninggalkan, berpindah atau bermigrasi secara fisik maupun nonfisik. Berpindah menunjukkan adanya dinamika, transformasi, dan perubahan. Manusia memang ditakdirkan Allah SWT menjadi makhluk yang harus berhijrah karena perbaikan kualitas hidup menuntut transformasi mental spiritual, yaitu menghijrahkan hati dan pikiran, dari hati dan pikiran (mindset) jahiliyah (kebiadaban, kesewenang-wenangan, kezaliman, dan kebobrokan moral) menuju hati dan pikiran yang diterangi cahaya iman, Islam, ihsan, dan ilmu sehingga membuahkan amal saleh, amal kemanusiaan yang memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas kehidupan.

Di antara ayat Alquran yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi SAW pada masa awal kenabiannya adalah perintah hijrah dari perbuatan dosa. "Dan hendaklah engkau hijrah (tinggalkan) dosa besar." (QS al-Mudatstsir [74]: 5).

Meninggalkan dosa merupakan pangkal hijrah mental spiritual karena jika dosa sudah ditinggalkan berarti hati dan pikirannya akan senantiasa didasari akidah (tauhid) yang benar, dipandu oleh syariah yang jelas, dan dihiasi akhlak mulia. Jika dosa-dosa sudah dihijrahi, perubahan menuju kebenaran, kebaikan, kemuliaan, dan kemasalahatan akan menjadi orientasi kehidupan.

Pada malam hijrah ke Madinah, Abu Jahal dan komplotannya telah merencanakan menangkap hidup-hidup atau membunuh Muhammad. Berdasarkan hasil "permufakan jahat" di Darun Nadwah--tempat berkumpulnya para petinggi Quraisy, di dekat pintu Darun Nadwah Masjidil Haram sekarang--Abu Jahal mengerahkan ratusan pasukan pemburu dan penyergap untuk mengepung rumah Nabi SAW. Rencana jahat itu disampaikan malaikat Jibril AS kepada Nabi SAW agar pada malam hijrah itu Ali bin Abi Thalib RA menempati tempat tidur Nabi SAW dan beliau diizinkan untuk berhijrah.

Kata Nabi kepada Ali, "Tidurlah di atas ranjangku, dan berselimutlah dengan selimutku yang berwarna hijau ini!" Pada saat itu, Allah juga menurunkan ayat kepada Nabi SAW. (QS al-Anfal [8]:30).

Ketika menerima ayat ini, Nabi SAW sama sekali tidak panik. Di saat itu, Allah menurunkan mukjizat-Nya. Semua pasukan penyerbu itu tertidur lelap sehingga tidak mengetahui keluarnya Nabi SAW. (QS Yasin [36]: 9).

Beliau meninggalkan kota kelahirannya (Makkah) menuju Yatsrib (Madinah) dengan transit tiga hari di dalam Gua Tsur, sekitar tujuh kilometer arah selatan Makkah, padahal Madinah itu berlokasi di utara Makkah. Ini salah satu bentuk kecerdasan strategis Nabi SAW dalam membaca pergerakan lawan dan memenangi "pertarungan taktis".

Dengan transit beliau dapat melakukan apa yang dalam bahasa militer disebut "operasi intelijen". Melalui Asma' binti Abu Bakar dan Abdullah bin Abu Bakar, beliau mendapat informasi pergerakan musuh, sekaligus pasokan logistik karena perjalanan yang akan ditempuh menuju Madinah masih jauh, sekitar 454 kilometer dari Makkah, sementara alat transportasi hanyalah unta dan kuda atau berjalan kaki.

Nabi SAW berhijrah tidak untuk melarikan diri, tetapi menyelamatkan visi dan misi Islam sebagai rahmat untuk semua. Pesan moral hijrah adalah penguatan mental spiritual dengan memurnikan tauhid kepada Allah. Selama prosesi hijrah, Nabi SAW menampilkan figur teladan dalam mengawal dan menyelamatkan visi dan misi suci Islam dengan penuh amanah dan kecerdasan intelektual, emosional, ataupun spiritual.

Sejumlah gagasan besar dan langkah strategis diambil Nabi SAW begitu sampai di Yatsrib. Pertama, mendirikan masjid Quba' dan Masjid Nabawi. Masjid bukan sekadar tempat ibadah dan dakwah, melainkan juga dioptimalkan fungsinya sebagai pusat pendidikan, pusat konsolidasi, spiritualisasi, pemersatuan umat (kaum Muhajirin dan Anshar), dan pembangunan peradaban kemanusiaan.

Bahkan di saat peperangan, masjid juga sebagai latihan bela diri dan militer, perencanaan strategi perang, perawatan korban luka, dan penyiapan logistik. Trilogi integrasi masjid, pasar (baca: pusat-pusat ekonomi dan perdagangan), dan istana (baca: pusat kekuasaan) yang mewarnai dunia Islam, seperti Masjidil Haram, istana raja, pusat-pusat perekomian dan perdagangan di sekitarnya, Blue Mosque, Grand Bazar, dan Istana Ottoman di Turki, Masjid, Keraton, Alun-alun dan Malioboro di Yogyakarta, merupakan aktualisasi fungsi multidimensi masjid.

Kedua, deklarasi rekonsiliasi dua suku besar Madinah yang selama ini terlibat konflik sosial berkepanjangan, yaitu suku Aus dan Khazraj. Nabi tidak hanya berhasil mendamaikan dua kubu, juga sukses mempersaudarakan mereka dengan kaum muhajirin (para sahabat Nabi yang berhijrah dari Makkah).

Nabi SAW juga menggalang persatuan dan persaudaraan umat beragama dengan menyiapkan Piagam Madinah yang berisi perjanjian hidup bersama secara damai, rukun, dan saling menghargai perbedaan agama antara umat Islam dan non-Muslim, seperti Yahudi dan Nashrani (Kristen). Piagam Madinah ini merupakan dokumen kontrak sosial politik dan kemanusiaan pertama yang luar biasa berharga bagi masa depan umat manusia.

Ketiga, penegakan supremasi hukum yang benar dan adil melalui pemerintahan yang amanah, bersih, berwibawa, adil, sejahtera, dan bermartabat. Hukum ditegakkan, tidak membela yang bayar, tetapi membela yang benar. Nabi SAW menegaskan, "Seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku sendirilah yang akan memotong tangannya!" Penegakan hukum oleh Nabi SAW terbukti memberikan rasa aman, kepastian, dan keadilan hukum bagi semua, tanpa diskriminasi dan kriminalisasi.

Keempat, perubahan nama kota dari Yatsrib menjadi al-Madinah al-Munawwarah (kota berperadaban yang tercerahkan). Perubahan nama ini mengindikasikan hijrah Nabi itu hakikatnya hijrah pencerahan dan pemajuan umat manusia. Sebagai pemimpin umat, Nabi SAW memberi nama baru, tentu dengan maksud memberi harapan baru dan masa depan peradaban kemanusiaan yang berkemajuan.


Seperti yang sudah diuraikan diatas, dari sejarah Hijrahnya Nabi Saw itulah para sahabat pada jaman Khalifah Umar bin Khatab sepakat menetapkannya sebagai tonggak awal Kalender penanggalan Hijriyah Islam. Yang selanjutnya selalu diperingati setiap pergantian tahun baru Hijtiyah. Di antara hikmah Allah mengantarkan kita pada pergantian tahun adalah agar hati serta pikiran kita terbuka, agar kesadaran jiwa kita tersentak, bahwa ada batas waktu pendek yang tersedia di hadapan kita. Sangat boleh jadi kita tidak sempat mencapai tujuan hidup seperti yang kita inginkan, karena waktu pendek itu tidak kita gunakan dengan baik untuk liqa' menuju Allah, padahal Allah swt. telah menyeru kita dengan fiman-Nya melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad saw :

“Maka segeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz Dzariyat : 50)

Perintah berhijrah adalah suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Swt bagi setiap hamba-Nya yang ingin tetap istiqomah di Jalan-Nya. Kata hijrah berasal dari kata hajaruhu, yahjaruhu, hijran yang artinya, meninggalkan, memutuskan, memindahkan atau keluar. Secara harfiyah pengertian hijrah adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi hijrah secara hakekat bukanlah berpindahnya tempat tinggal seseorang ke tempat tinggal yang baru. Dan juga bukan berarti perpindahan tempat seorang pegawai dari satu tempat ke tempat yang baru. Juga bukan berarti perpindahan para transmigran ke tempat yang baru dan bukan pula perpindahan seorang petani dari daerah gersang ke daerah subur.

“Tidak ada hijrah setelah Futuh Mekah, yang ada adalah hijrah dengan Jihad dan Niat” (HR Bukhari)

Hijrah bagi orang beriman (ma’rifat) adalah suatu proses perpindahan kesadaran dari alam jasmani ke alam ruhani. Hijrah juga merupakan suatu proses untuk meninggalkan berbagai hal yang tidak ada manfaatnya, yaitu meninggalkan berbagai dosa (kegelapan rohani), meninggalkan kesalahan dan kemalasan diri sendiri, menuju ketaatan, kedisiplinan serta kemauan yang kuat untuk tetap istiqomah di Jalan Allah. Hijrah juga bermakna pindah dari kegelapan ruhani ke alam pencerahan ruhani (Minadzdzulumai ila An Nur). Hijrah juga berarti proses perpindahan tahapan keyakinan yang berkesinambungan seorang pencari Tuhan dari Wajibul Yaqin ke Ilmul Yaqin, terus ke ‘Ainul Yaqin dan Haqul Yaqin, dan akhirnya sampai ke Isbatul Yaqin.

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya (jasad) dengan maksud berhijrah menuju (liqa') Allah dan Rasul-Nya, kemudian (mengalami) mati (dalam hidup) , maka ganjarannya adalah (liqa') Allah” (QS 4 : 100)

“Hijrah yang paling sempurna adalah jihad” (HR Ahmad)

“Seorang Muhajir adalah siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah” (HR Bukhari)

Hijrah wajib bagi orang-orang yang tertindas di negerinya sendiri (Makah=Bakkah). Al Qur’an menyebut Makkah dengan “Al Bakkah” berasal dari kata “Tabbak” yang artinya berjubel, memotong leher, tempat untuk menangis, taubat, shalat, haji, tempat yang diberkahi atau disucikan) sesuai dengan firman Allah :

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun(tempat peribadatan) manusia adalah Bait Allah (Baitullah) yang terletak di Bakkah yang diberkahi dan diberi petunjuk bagi manusia” (Ali Imran 3 : 96)

“Baitullah berada di Qalbu orang mukmin” (Hadits Qudsi)

“Sesungguhnya langit dan bumi tidak berdaya menampung-Ku, namun Aku telah ditampung oleh Qalbu seorang mukmin” (HR Ahmad)

Dari pengertian ini, negeri yang sering terjajah adalah negeri qalbu atau ruhani, sehingga mengalami kesempitan dan kegelapan. Bagi mereka yang mengalami ketertindasan seperti ini, wajib berhijrah dengan jihad akbar sehingga diperoleh keluasan dan kelapangan ruhani.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (zhalim, jahil, kufur, nifaq = kegelapan) kepada mereka malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri Makkah”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalau kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”.Orang-orang itu tempatnya di neraka jahanam dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali”.(QS An Nisaa 4 : 97)

Syarat berhijrah harus dengan mengimunisasi hawa nafsu, menambatkan unta yang disimbolkan dengan “membunuh diri” sehingga dapat keluar dari kampung jasmani menuju kampung ruhani (dari kampung tanah tumpah darah, menuju kampung Cahaya Suci dan Kesucian = Hadirat Qudsiah). Hal ini sedikit yang mau dan mampu (ingat piramid kemakrifatan) bahwa yang sampai dan mampu hanya mereka yang mempunyai niat dan tekad yang sangat kuat dalam berjihad sehingga karunia Allah diperolehnya.

“Dan sesungguhnya apabila Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari kampungmu” Niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS An Nisaa 4 : 66)

Sehingga bagi mereka yang berkenan memperoleh hasil dari berhijrah itu, mampu berkata : “Inilah Jalan (agama=Cahaya)-Ku.

“Katakanlah : “inilah Jalan-Ku. Aku dan orang-orang yang mengikuti aku mengajak manusia beriman (bermakrifat) kepada Allah dengan Hujjah (bukti) yang terang (bukan iman-imanan). Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allah”. (QS Yusuf 12 : 108)

Bagi mereka ini telah berdiri di ‘Aqabah pertama yaitu mampu meyakini dengan keyakinan yang Isbatul Yaqin, bukan yakin-yakinan atau iman-imanan. Dan dikategorikan dalam ayat-ayat Madinah sebagai orang-orang yang ”beriman atau bermakrifat” kepada Allah dan terhindar dari perilaku dan perbuatan syirik, baik syirik samar atau khafi maupun syirik yang nyata atau jali.

Syeikh Jalaluddn Ar Rumi mengatakan : "Apabila engkau ikut serta dalam barisan mereka yang mengadakan pendakian. Ketiadaan akan membawamu ke atas bagaikan Buroq. Itu bukanlah seperti naiknya makhluk hidup ke bulan, bukan, melainkan seperti naiknya pohon tebu ke gula. Itu bukanlah seperti naiknya asap ke langit, bukan itu, melainkan seperti naiknya embrio ke realitas".

Perjalanan menuju Allah adalah sebuah aktivitas peralihan atau perpindahan yang terus-menerus. Syaikh Ibnu 'Atha`illah rahimahullah menyebutnya dengan kata "hijrah", yang artinya "perpindahan dari apa pun selain Allah, menuju kepada Allah swt.; peralihan dari apa saja yang tidak diridai Allah kepada yang diridai-Nya; perubahan dari segala yang mengundang murka Allah kepada yang dicintai-Nya".

Di dalam kitab Al-Hikam, beliau mengutip perkataan seorang salih bernama Ibnu 'Ibad. Ibnu 'Ibad berkata, "Seorang hamba yang lari dari Allah menuju syahwatnya dan menuruti hawa nafsunya disebabkan oleh kebutaan hatinya dan kebodohannya terhadap Rabb-nya, (pada hakikatnya) telah mengganti sesuatu yang baik dengan yang buruk. Ia telah menukar yang abadi dengan yang fana. Padahal, dirinya tidak mungkin lepas darinya."

Ibnu 'Atha'illah lantas mengatakan : "Sungguh mengherankan orang yang lari dari Dzat yang ia tidak dapat berpisah dengan-Nya, lantas mencari sesuatu yang ia tidak menjadi kekal bersamanya, karena sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada".

Ibnu Qayyim al- Jawziyyah juga pernah mengatakan : "Jika ada seorang hamba yang lari kepada Allah, pada hakikatnya dia telah lari dari sesuatu menuju kepada sesuatu yang keberadaannya atas kehendak dan takdir Allah Ta'ala. Jadi, sebenarnya sama saja, ia lari dari Allah menuju kepada Allah (firar min Allah ila Allah)". Itulah makna sabda Rasulullah saw :

"Aku memohon perlindungan dengan-Mu dari-Mu."

Begitu pula sabda beliau yang lain :

"Tidak ada tempat kembali dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu."

Apabila jiwa manusia dapat memahami makna hijrah spiritual ini, di dalam hatinya pun tidak ada ketergantungan lagi kepada selain Allah. Dia tidak akan pernah lagi merasa takut (khawf), berharap (raja`) maupun mencintai sesuatu (mahabbah) selain Allah. Hal itu berarti secara tidak langsung, ia telah mengesakan Allah dalam khawf, raja`, dan mahabbah-nya. Dari pancainderanya, akan memancari ihsan atau kebajikan. Tutur katanya baik, sehingga orang lain akan selamat dari umpatan, makian, serta fitnahnya yang menyakitkan hati. Pekerjaannya pun akan selalu bernilai ihsan (baik), dalam pengertian, tidak pernah merugikan siapa pun. Ia tidak akan melakukan tindakan manipulasi, korupsi, serta tindakan mark up, betapa pun ringan atau kecilnya, karena ia sangat yakin bahwa Allah selalu mengawasi dan "membersamai"-nya. Itulah buah dari proses hijrah yang terhunjam kuat di dalam jiwanya.

Proses hijrah kita—berlari dan berlomba menuju liqa' Allah—hendaknya sebagaimana sikap para tukang sihir Firaun, sesaat setelah mereka menyatakan beriman kepada Allah swt. Ketika itu, mereka tidak peduli dengan tawaran "kebaikan", negosiasi, posisi empuk, dan "kemuliaan" yang dijanjikan Firaun kepada mereka. Mereka juga tidak menghiraukan intimidasi, ancaman pembantaian dan pembunuhan, hingga penyaliban tubuh mereka yang disampaikan Firaun. Dengan tegas, mereka menyatakan, seperti yang diabadikan oleh al-Qur`an al- Karim :

“Mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja’.”

Demikian kuat dan tangguhnya sikap orang-orang yang pernah menjadi tukang sihir Firaun itu. Kekufuran yang pernah menjadi bagian masa lalu mereka, ternyata tidak membuat mereka buta melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Kejahatan yang pernah mereka lakukan dahulu, ternyata tidak membutakan mata hati mereka dari sinar hidayah Allah. Mereka diancam, tetapi mereka tetap teguh memegang hidayah itu. 

Mereka dibunuh, bahkan disalib, tetapi mereka tidak pernah bergeming—apa lagi surut—dari proses hijrah yang mereka lakukan menuju Allah swt. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Ibnu 'Atha`illah, "Jangan engkau berpindah dari satu alam ke alam lain, karena engkau (dengan demikian) akan mirip dengan keledai yang berputar di penggilingan. Ia berjalan, dan tempat yang ditujunya ternyata tempat ia berangkat (berjalan dari situ ke situ saja). Akan tetapi, beralihlah dari segenap alam kepada Pencipta Alam, Allah swt."

*Dikompilasi dari beberapa sumber

Munajatku Dipergantian Tahun

Hari Sabtu ini merupakan akhir bulan Dzul Hijjah (akhir tahun 1437 H). Kemudian nanti ba'da maghrib (malam minggu) adalah malam 1 Muharram Tahun Baru Islam 1438 H, jangan lupa bermunajat kepada Sang Maha Cahaya Diatas Cahaya.

Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang : “Bismillahirrah manirrahim(i)” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Allahumma shalli wa salim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin khoiril kholqi shaahibilwajhil Anwar wardlo. Allahumma ‘an kulli shishahaabati ajma’iin......( Aamiin)!!

Yaa nuuran nuuri yaa mudabbirat umuuri baligh’anni ruuha Sayyidina Muhammadin wa arwaaha aali Muhammadin tahiyaatan wa salaaman.

Ya Allah.......... ,Sumber pancaran Nur. Ya Allah.......... ,Tuhan yang mengatur semua perkara. Semoga Engkau menyampaikan daripadaku salam dan tahiyat kepada Ruh Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Ya Allah..., Jadikanlah kami di antara orang yang Kau pilih untuk pendamping dan kekasih-Mu. Yang Kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasih-Mu. Yang kau rindukan untuk datang menemui-Mu. Yang kau ridhakan hatinya untuk menerima qadha-Mu. Yang Kau anugrahi kebahagiaan melihat Wajah-Mu. Yang Kau limpahi keridhaan-Mu. Yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencian-Mu. Yang Kau persiapkan baginya kedudukan sidiq di samping-Mu. Yang Kau istimewakan dengan Ma’rifat-Mu. 

Yang Kau arahkan untuk mengabdi-Mu. Yang Kau tenggelamkan hatinya dalam iradah-Mu. Yang Kau pilih untuk menyaksikan-Mu. Yang Kau kosongkan dirinya untuk-Mu. Yang Kau bersihkan hatinya untuk diisi cinta-Mu. Yang Kau bangkitkan hasratnya akan karunia-Mu. Yang Kau ilhamkan padanya untuk mengingat-Mu. Yang Kau dorongkan padanya kekuatan untuk mensyukuri-Mu. Yang Kau sibukkan dengan ketaatan pada-Mu. Yang Kau jadikan mahluk-Mu yang shalih. Yang Kau putuskan darinya segala sesuatu yang memutuskan hubungan dengan-Mu.

Ya Allah......, Jadikanlah kami di antara orang-orang yang kedambaannya adalah mencintai dan merindukan-Mu. Nasibnya hanya merintih dan menangis, dahi-dahi mereka sujud karena kebesaran-Mu. Mata-mata mereka terjaga dalam mengabdi-Mu. Air mata mereka mengalir karena takut pada-Mu. Hati-hati mereka terikat pada Cinta-Mu. Qalbu-qalbu mereka terpesona dengan kehebatan-Mu. Wahai yang Cahaya kesucian-Nya bersinar dalam pandangan para pencinta-Nya. Wahai yang kesucian wajah-Nya membahagiakan hati para pengenal-Nya. 


Wahai kejaran qalbu para perindu. Wahai tujuan para pencinta. Aku memohon cinta-Mu. Dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu. Dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikanlah Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. Jadikanlah cintaku pada-Mu, membimbing pada ridha-Mu. Kerinduanku pada-Mu mencegaku dari maksiat atas-Mu. Anugrahkanlah padaku memandang-Mu. Tataplah diriku dengan tatapan kasih dan sayang-Mu. Jangan palingkan wajah-Mu dariku.

Ya Allah....., Kehausanku takkan terpuaskan kecuali dengan pertemuan-Mu. Kerinduanku takkan teredakan kecuali dengan perjumpaan-Mu. Kedambaanku takkan terpenuhi kecuali dengan memandang wajah-Mu. Ketentraman-ku takkan tenang kecuali dengan mendekati-Mu. Deritaku takkan sirna kecuali dengan kurnia-Mu. Penyakitku hanya dapat disembuhkan dengan obat-Mu. Dukaku hanya dapat dihilangkan dengan kedekatan-Mu. Wahai akhir harapan permohonan para pengharap. Wahai puncak permohonan para pemohon. 

Wahai ujung pencarian para pencari. Wahai puncak kedambaan para pendamba.Wahai kekasih orang-orang shalih. Wahai penentram orang-orang yang takut. Wahai penyambut seruan orang-orang yang menderita. Wahai tabungan orang-orang yang sengsara. Wahai perbendaharaan orang-orang yang papa. Demi kemuliaan dan keagungan-Mu. Tak berhasrat aku mendurhakai-Mu dengan berpaling dari-Mu.

Ya Allah....., Apakah orang yang telah mencicipi manisnya Cinta-Mu akan meng-inginkan pengganti selain-Mu? Apakah orang yang telah bersanding di samping-Mu akan mencari penukar selain-Mu? Ya Allah, ya Tuhanku, berikanlah kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Eangkau berikan kepadku dan kepada ibu-bapakku dan aku dapat berbuat amal kebaikan yang Engkau ridhai. Berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. 

Sesungguhnya aku bertobat kepad-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. 46:15) Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan dan juga saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. 59:10)

Ya Allah, jinakkanlah antara hati kami dan perbaikilah sengketa diantara kami. Tunjuk-kanlah kami ke jalan keselamatan. Selamat-kanlah kami dari kegelapan kepada cahaya terang. Jauhkanlah kami dari segala kejahatan yang tampak dan tersembunyi dari hawa nafsu kami sendiri. Berilah berkah kami pada pendengaaran kami, penglihatan kami, hati kami, isteri (suami) kami, keturunan kami dan terimalah tobat kami karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Pengasih.

Ya Allah.......,Ja dikanlah batinku lebih baik dari lahirku.Dan jadikanlah yang tampak dariku itu baik. Ya Allah......., Cintakanlah Iman kepada kami.Dan hiaskanlah Iman di dalam hati kami.Dan bencikanlah kami pada kekufuran, kefasikan dan durhaka. Dan jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa dalam petunjuk-Mu.

Ya Tuhanku, jangalah Engkau tinggalkan aku seorang diri, dan Engkaulah waris yang paling baik (QS. 21:89).

Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala (QS. 40:7).

Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS. 20:114). Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (QS. 18:10).

Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (QS. 17:80).

Wahai Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, maka tulislah kami berserta golongan orang-orang yang menyaksikan (syahid) (QS. 3:53). Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir (QS. 2:250).

Ya Allah.....,Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, (yang hari turunnya) akan menjadi HARI RAYA bagi kami dan bagi orang-orang yang datang sesudah kami, dan (turunkanlah) tanda kekuasaan-Mu dan berilah rezeki kepada kami, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki (QS. 5:114).

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki dan berilah kami dari hadirat-Mu rahmat karena Engkau adalah yang Maha Pemberi. Ya Allah, kokohkanlah aku dari kemungkinan terpelesetnya Iman, dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan sesat. Ya Allah, sebagimana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku, dan berilah penghalang antara aku dengan setan serta perbuatannya. Ya Allah, aku memohon pada-Mu jiwa yang tenang dan tenteram, yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas putusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu. Wahai Tuhan yang memalingkan segala hati, mantapkanlah hatiku untuk tetap kepada-Mu. Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu-Mu, hiaskanlah diriku dengan ketenangan jiwa, muliakanlah diriku dengan taqwa dan elokanlah diriku dengan kesehatan.

Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu suatu rahnat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau beri petunjuk hatiku, Engkau kumpulkan dengan urusanku, Engkau persatukan dengannya segala yang telah cerai berai padaku, Engkau memperbaiki dengannya orang-orang yang jauh dariku, Engkau mengakat dengannya orang yang hadir besertaku, Engkau membersihkan dengannya amalanku, Engkau ilhamkan dengannya kepadaku, Engkau datangkan kepadakun segala yang kusenangi dan Engkau memelihara aku dari segala kejahatan.

Tuhanku, akulah hamba-Mu yang faqir di dalam kekayaanku, maka bagaimana aku tidak menjadi orang faqir di dalam kefaqiranku. Tuhanku, akulah orang yang bodoh di dalam Ilmuku, maka bagaimanakah aku tidak sangat bodoh di dalam kebodohanku.

Tuhanku, sesungguhnya perubahan pengaturan-Mu dan kecepatan berlangsungnya takdir-takdir Mu, keduanya telah mencegah hamba-hamba Mu yang Ma’rifat kepada-Mu dari ketenangan menerima pemberian dan kebosanan di dalam menerima cobaan-Mu. Tuhanku, dari padaku keluar apa yang memang patut dengan kejiku dan dari pada-Mu pasti keluar apa yang patut dengan sifat kemurahan-Mu.

Tuhanku, Engkau telah mensifati Dzat-Mu dengan lemah lembut dan belas kasih kepadku sebelum terwujud sifat kelemahanku. Adakah Engkau akan menolakku dari kedua sifat itu setelah benar-benar terwujud kelemahanku.

Tuhanku, jika terlihat kebaikan-kebaia kn dariku, maka itu semua berkat anugrah-Mu dan bagi-Mu lah hak untuk menuntut-Mu. Dan jika terlihat kejahatan-kejah atan dariku, maka semua itu sebab keadilan-Mu dan bagi-Mu lah hak untuk menuntut alasan kepadaku.

Tuhanku, bagaimana Engkau serahkan kembali kepadaku untuk mengurusi diriku, padahal sesungguhnya Engkau telah menyerahkan kepadaku (menjaminku). Dan bagaimana aku dihinakan padahal Engkau adalah penolongku atau abagaimana aku mesti kecewa padahal Engkau adalah Dzat yang belas kasih kepadaku.

Inilah aku yang berperantara kepada-Mu dengan kefaqiranku untuk menuju kepada-Mu. Dan bagaimana aku mesti berperantara kepada-Mu dengan salain-Mu bisa sampai kepada-Mu. Dan bagaimana aku mengadu kepada-Mu mar atas-Mu. Atau bagaimana aku mesti menerangkan kepada-Mu dengan kata-kata padahal kata-kataku itu dari-Mu yang keluar menuju kepada-Mu. Atau bagaimanakah Engkau kecewakan harapanku padahal harapan itu benar-benar telah datang kepada-Mu. Atau bagaimana tidak akan baik keadaanku padahal dengan-Mu lah keadaan itu berasal dan kembali pula kepada-Mu. Tuhanku alangkah banyaknya kelem-butan-Mu kepadaku padahal aku sangat bodoh. Dan alangkah banyaknya kasih sayang-Mu kepadaku padahal perbuatanku sangat buruk.

Tuhanku, alangkah dekatnya Engkau denganku dan alangkah jauhnya aku dari-Mu. Tuhanku, alangkah lemah-lembutnya Engkau kepadaku, maka gerangan apakah yang menghalangiku hingga jauh dari-Mu.

Tuhanku. Sesungguhnya aku telah mengerti akan perubahan ini dan silih bergantinya masa, bahwasanya yang Engkau kehendaki dariku adalah Engkau perkenalkan kekuasaan-Mu kepadaku di dalam setiap sesuatu hingga aku tidak boleh alpa pada-Mu di dalam sesuatu itu. Tuhanku, sewaktu kekejianku membungkamku, maka sifat kemurahan-Mu telah membuka mulutku. Dan sewaktu sifat-sifat celaka memutus-asakan aku, maka karunia-Mu telah membuka harapan kepadaku. Tuhanku, orang yang sudah banyak kenaikannya itu masih banyak kesalahannya, maka bagaimanakah tidak akan menjadi kesalahan-kesal ahan itu sebagai dosa. Dan orang yang ilmu dan pengetahuannya itu hanya sebagai pengakuan-penga kuan, maka bagaimanakah tidak akan menjadi penga-kuannya itu sebagai kepalsuan belaka.

Tuhanku, keputusan-Mu yang mesti berlangsung dan kehendak-Mu yang memaksa, keduanya tidak akan memberi kesempatan untuk berkata-kata bagi orang yang pandai berbicara atau untuk melaksanakan kesak-tiannya bagi orang yang mempunyai kesaktian.

Tuhanku, berapa banyak ketaatan yang aku lakukan dan tingkah laku yang aku perbaiki, namun telah menghancurkan keadilan-Mu terhadapnya bahkan telah membatalkan akan anugrah-Mu dari pada-Nya. Tuhanku, Engkau mengerti, meskipun perbuatan taat dariku tidak terus menerus, namun sesungguhnya ketaatan itu terus menerus dalam kecintaan dan niat-ku.

Tuhanku, bagaimana aku berniat, sedang Engkaulah yang menentukan dan bagaimana aku tidak berniat, sedang Engkaulah yang memerintahkan.

Tuhanku, hilir mudikku pada keduniaan ini menyebabkan jauhnya perjalanan menuju kepada-Mu, maka kumpulkanlah aku atas-Mu dengan suatu pengabdian yang bisa menyampaikan aku kepada-Mu. Tuhanku, bagaimana dapat dijadikan dalil atas-Mu sesuatu kejelasan yang tidak ada bagi-Mu, sehingga dia dapat menjelaskan kepad-Mu. Kapankah Engkau samar sehingga Engkau butuh dalil yang dapat menunjukkan kepada-Mu. Dan kapankah Engkau jauh sehingga adanya alam ini dapat menyam-paikan kepada-Mu.

Tuhanku, sesungguhnya buta mata hati yang tidak dapat melihat penugasan-Mu, dan sungguh rugi dagangan seseorang yang dia tidak menjadikan untuknya bagian cinta kepada-Mu.

Tuhanku, Engkau perintahkan aku untuk kembali ke alam ini, maka kembalikanlah aku kepadanya dengan menyandang cahaya dan petunjuk mata hati sehingga aku bisa kembali kepada-Mu dari alam ini sebagaimana ketika aku masuk kepada-Mu dari alam ini dalam keadaan hati yang terjaga dari melihat-Mu dan dihilangkan kehendaknya dari berpegangan kepada dunia. Sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.

Tuhanku, inilah kehinaanku terlintas dihadapan-Mu, dan inilah perilakuku yang tidak samar lagi atas-Mu. Dari pada-Mu aku memohon untuk supaya sampai kepada-Mu, dan dengan-Mu pula aku mencari petunjuk atas-Mu, maka tunjukanlah aku dengan melalui Cahaya-Mu untuk menuju kepada-Mu dan tegakkanlah aku dengan kesungguhan beribadah di hadapan-Mu.

Tuhanku, ajarkanlah kepadaku secara langsung dari ilmu-Mu untuk sembunyi dalam perbendaharaan- Mu, dan peliharalah aku dengan rahasia nama-Mu yang terpelihara. Tuhanku, berilah aku kedudukan sebagai orang-orang ahli hakekat yang telah dekat dengan-Mu, dan tuntunlah aku pada tempat (jalan) orang-orang yang tertarik langsung kepada-Mu (orang Mahzub). Tuhanku, berilah aku dengan pengaturan-Mu dari pengaturanku, dan pilihan-Mu dari pilihanku. Dan tetapkanlah aku pada tempat keburukanku yang mendesak (seperti dalam keadaan faqir, hina lemah dihadapan-Mu).

Tuhanku, keluarkanlah aku dari kehinaan diriku dan bersihkanlah aku dari keragu-raguanku dan kepersekutuanku sebelum aku ke liang kubur. Hanya dengan-Mu lah aku memohon pertolongan, maka tolonglah aku. Dan hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, maka janganlah Engkau serahkan kepadaku. Hanya kepada-Mu lah aku memohon, janganlah Engkau kecewakan aku. Dan hanya kepada-Mu lah aku berharap, maka janganlah Engkau halangi aku. Dan disisi-Mu lah aku mendekat, maka janganlah Engkau jauhkan aku. Dan di pintu-Mu lah aku berdiri, maka jangalah Engkau tolak aku.

Tuhanku, maha suci keridhoan-Mu dari adanya sebab keridhoan itu dari-Mu, maka bagaimana akan ada sebab keridhoan dariku. Engkau Maha Kaya dengan Dzat-Mu, dari sampainya kemanfaatan kepad-Mu dari-Mu, maka bagaimanakah akan membutuhkan dariku, sedang aku adalah hamba-Mu yang tiada daya.

Tuhanku, sesungguhnya qhada dan qadar telah mengalahkan aku. Dan sesungguhnya hawa nafsu dengan berbagai pengukuhan syahwat telah mengikat aku dan Engkau tolong pula temanku sebab aku, serta kayakanlah aku dengan anugrah-Mu hingga aku merasa kaya hanya dengan-Mu dari pada minta-mintaku dari-Mu.

Tuhanku, Engkau yang memancarkan cahaya-cahaya di dalam hati para kekasih-Mu sehingga mereka Ma’rifat kepada-Mu dan mengesakan-Mu. Dan Engkaulah Dzat yang menghilangkan rasa keduniaan dari hati para pecinta kepada-Mu sehingga mereka tidak senang kepada selain Engkau serta tidak mau bersandar kepada selain Engkau. Engkau Dzat yang menentramkan mereka sekiranya alam-alam ini meresahkan mereka. Dan Engkau satu-satunya Dzat yang mewujudkan mereka sehingga nyata bagi mereka jalan-jalan kebenaran.

Mendapat apakah orang yang kehilangan Engkau dan kehilangan orang yang telah mendapatkan Engkau. Sesungguhnya benar-benar kecewa orang yang rela mendapat ganti selain Engkau. Dan sesungguhnya rugilah orang yang menuntut pindah dari Engkau.

Tuhanku, bagaimanakah bisa diharapkan selain Engkau padahal Engkau tidak pernah memutuskan kebaikan. Dan bagaimana bisa diminta selain Engkau padahal Engkau tidak pernah merubah kebiasaan memberi karunia.

Wahai Dzat yang telah memberi rasa kepada orang-orang yang mencintai-Nya akan kemanisan bermesra-mesraa n dengan-Nya maka mereka berdiri di hadapan-Nya dalam kelembutan kasih sayang. Wahai Dzat yang telah memberi pakaian pada kekasih-kekasih -Nya dengan pakaian kebesaran-Nya, maka berdiri mereka dalam keadaan merasa agung sebab karena keagungan-Nya. Engkaulah satu-satunya Dzat yang selalu ingat kepada hamba-hamba-Mu sebelum hamba-hamba-Mu ingat kepad-Mu. Dan Engkau satu-satunya yang memulai memberi kebaikan sebelum orang-orang ahli ibadah menghadap kepad-Mu. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang Maha Pemurah dengan berbagai pemberian sebelum adanya permohonan orang-orang yang bermohon. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang Maha memberi, kemudian Engkau kepada apa yang Engkau berikan kepada kami itu sebagai orang yang berhutang.

Tuhanku, tuntutlah aku dengan rahmat-Mu sehingga aku bisa sampai kepada-Mu, dan tariklah aku dengan nikmat-Mu sehingga aku bisa menghadap kepada-Mu.

Tuhanku, sesungguhnya pengharapan tidak akan terhenti dari-Mu walau aku telah durhaka kepada-Mu, sebagaimana sesungguh-nya rasa takutku tidak akan memisahkan aku walau aku taat kepada-Mu. Tuhanku, sesungguhnya telah menolak aku semua alam ini dalam menuju kepada-Mu. Dan sesungguhnya ilmuku telah memberhenti-kan aku dihadapan-Mu sebab adanya kemur-kaan-Mu. Tuhanku, bagaimana mesti aku kecewa padahal Engkaulah dambaanku, atau bagai-mana mesti aku hina padahal hanya kepada Engkaulah aku menyerahkan diri.

Tuhanku, bagaimana aku bisa mencapai kemuliaan padahal Engkau telah menem-patkan aku di dalam kehinaan. Atau bagaimana aku tidak bisa mencapai kemuliaan padahal hanya kepada-Mu lah Engkau telah menolong aku. Atau bagaimanakah aku tidak butuh padahal Engkau telah menempatkan aku di dalam kefaqiran. Atau bagaimanakah aku mesti butuh padahal Engkau dengan sifat kemurahan-Mu telah memberi kekayaan kepadaku.

Engkaulah satu-satunya Dzat yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau. Telah Engkau pertemukan Dzat-Mu pada setiap sesuatu, sehingga tidak ada sesuatupun mahluk yang mengenal-Mu. Dan Engkaulah satu-satunya Dzat yang telah memperkenalkan Dzat-Mu kepadaku di dalam setiap sesuatu itu, maka Engkaulah Dzat yang tidak jelas pada setiap sesuatu.

Wahai Dzat yang telah berkuasa dengan sifat kasih sayang-Nya diatas Arsy sehingga jadilah Arsy itu lenyap di dalam kasih sayang-Nya, sebagaimana seluruh alam ini lenyap di dalam Arsy-Nya. Wahai Tuhan, telah Engkau lenyapkan alam ini dengan Arsy dan Engkau lenyapkan pula Arsy itu dengan diliputi berbagai relung-relung Cahaya Rahmat-Mu.

Wahai Dzat yang terlindung di dalam dinding-dinding Cahaya dari jangkauan penglihatan mata. Wahai Dzat yang terang dan jelas di dalam hati orang-orang Ma’rifat dengan kesempurnaan dan keridhaan-Nya, sehingga menjadi jelas kebesaran-Nya di dalam hati mereka. Bagaimana Engkau bisa terlindung (samar) padahal Engkau lebih Ghaib padahal Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengawasi lagi selalu hadir.

Wahai Dzat yang selalu awas, sinarilah hatiku dengan Cahaya hidayah-Mu sebagai-mana Engkau telah menyinari bumi dengan Cahaya Matahari-Mu. Wahai Dzat yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui, bukalah pintu hatiku dalam waktu yang dekat, Wahai Dzat Yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui. Ya Allah, berilah aku pengertian dan peliharalah aku dari kejahatan diri sendiri.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, do’a yang tidak didengar, dan amal yang tidak diterima. Ya Allah, keluarkanlah kami dari kegelapan prasangka, muliakanlah kami dengan cahaya kepahaman, bukakanlah pengertian ilmu kepada kami dan bukakanlah untuk kami pintu-pintu anugrah-Mu, Wahai dzat yang paling penyayang.

Allahummaj ‘al-lii nuuron fii qalbii, wa nuuron fii qobrii, wa nuuron bayna yadayya, wa nuuron min kholfii, wa nuuron ‘an yamiini, wa nuuron ‘an syimalii, wa nuuron min fauqii, wa nuuron min tahtii, wa nuuron fii sam’ii, wa nuuron fii bashari, wa nuuron fii sya’rii, wa nuuron fii basyarii, wa nuuron fii lahmii, wa nuuron fii damii, wa nuuron fii ‘dhamii. Allahumma a’dhim lii nuuron wa a’thinii nuuron, waj’al lii nuuron, wa zidnii nuuron. 3x

Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam Qalbuku, cahaya di dalam kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya disebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di sebelah atasku, cahaya disebelah bawahku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di dalam penglihatanku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku, cahaya di dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya dalam tulangku. Ya Allah, sempurnakanlah cahaya bagiku dan berikanlah aku cahaya dan jadikanlah diriku cahaya dan tambahkanlah padaku Cahaya (3X)

Robbanaa atmim lanaa nuuronaa wagfir lanaa innaka ‘alaa kulli syain qodirun. (QS. At-Tahrim 66:8)

Ya Allah, Ya Tuhanku, sempurnakanlah cahayaku dan ampunilah aku, sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.

Hasbiyallahu laa ilaaha illa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil adhziimi.

Cukuplah Allah sebagai sandaranku, tiada Tuhan melainkan Dia yang kepada-Nya aku berserah diri, dan Dia adalah Tuhan pemilik Arsy yang agung.

Subhaana rabbika rabbil’izzati ‘ammaa yashifuun wa salaamun ‘alalmursaliin wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan yang mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada Rasul-rasul (Guru mursyid min jaami’il ustadi wa ustadina) Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian Alam (QS. Ash-Shafaat 37:180-182)

Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Dari Jin dan Manusia Telah sempurnalah kalimat Tuhan-Mu

Amin amin Ya Robbal 'alamin

Kamis, 29 September 2016

Nyalakan Nur Allah Dalam Tidurmu

“Janganlah biarkan api (dunia) di rumah kalian (menyala) ketika kalian sedang tidur.” (Hr. Bukhari - Muslim )

Secara biologi tubuh manusia bisa memproduksi zat melotonin secara alami, adapun waktu produksi dari hormon ini sangat berlainan dengan beberapa hormon lain yang ada di dalam tubuh manusia. Biasanya pada pukul 02 : 00 sampai dengan 04 : 00 dini hari baru bisa berproduksi sebanyak banyaknya. Hormon ini di kenal sebagai hormon yang paling sensitif terhadap rangsangan cahaya.

Itulah alasannnya mengapa hormon ini hanya bisa di produksi pada malam hari saja. Pada jam tersebut, seseorang yang tidur dalam keadaan gelap, tanpa cahaya dunia sedikit pun, serta tidur dalam keadaan nyenyak. Maka orang tersebut dalam keadaan non aktif yang paling sempurna. Saat itulah kelenjar pineal mampu memproduksi hormon melatonin. Ini merupakan proses produksi paling maksimal. Namun bisa tiba tiba berhenti, jika ada sedikit cahaya dunia yang masuk merusak produksinya.

Di samping itu proses pembentukan zat melatonin secara alami dalam tubuh, juga bersamaan waktunya dengan pelaksanaan sholat tahajud yang waktunya dikerjakan antara jam 2 malam sampai dengan jam 4 subuh, dengan tujuan untuk menyalakan Cahaya Langit (Nur Allah) dalam diri.



CAHAYA DI ATAS CAHAYA

"Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu". (QS. An Nuur 24 : 35)

"(Cahaya Allah itu) ada dalam rumah rumah yang di sana telah diperintahkan Allah memuliakan dan mengingat Nama Nya, serta bertasbih padaNya pada waktu pagi dan petang". (QS An Nur 24 : 36)

Nurullah atau Cahaya Allah, dalam diri insan itulah Cahaya Petunjuk-Nya (Nurul Hidayah), itulah yang disebut Iman Sejati (Nurul Iman), itu pula yang disebut sebagai Cahaya Muhammad, yaitu Cahaya Insan Kamil, insan yang sempurna.

Pelita itu terdapat dalam misykat (lubang yang tak tembus). Yang dimaksud misykat itu adalah jasad ragawi, yang menjadi dinding pembatas bagi cahaya itu dengan dunia luar, dinding dari sifat keagungan Allah, dinding Al-Jalal.

Pelita itu didalam kaca yang seakan bintang seperti mutiara. Yang dimaksud kaca itu adalah cermin hati (qolbu), cermin diri. Keindahan dari qolbu orang yang benar benar beriman, itu diibaratkan mengkilap laksana mutiara. Ia menjadi cermin yang memantulkan Wajah Ketuhanan. Yang dinyalakan dengan minyak zaitun terbaik, seakan sudah bercahaya meski belum dibakar api.

Minyak zaitun itu maksudnya adalah sifat-sifat keelokan dalam qolbu sebagai pancaran dari keindahan Cahaya Allah. Dimana sifat-sifat itu saja sudah seolah-olah menerangi, meski belum lagi dinyalakan/dinampakkan. Pelita/nyala api sebagai sumber dari Cahaya Allah.

Itulah Cahaya Petunjuk-Nya, Cahaya Iman Sejati, Cahaya Muhammad dalam diri seorang hamba yang benar-benar beriman.

Pelita itu menyala tegak seolah seperti huruf alif, sebagai simbol Ketuhanan, yang berdiri sendiri, tiada bersekutu, memberi suluh terang di seluruh alam semesta. Dibalik alif itulah hayat, adanya hidup, dibalik hayat itulah Dzat Laisa Kamislihi Syai'un. Dzat Allah, yang tiada ada umpamanya lagi, tak terjabarkan lagi.

Itulah Cahaya Allah. Cahaya diatas Cahaya. Dan Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.

Beruntunglah orang-orang yang dibimbing-Nya kepada Cahaya-Nya yang berada di dalam rumah, saat mereka menidurkan "Ashabul Kahfi" yang ada dalam diri.

Dari ‘Amr bin ‘Abasah bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waktu yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah pada tengah malam terakhir, maka apabila kamu mampu menjadi golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allâh pada waktu itu, lakukanlah!”. (HR Tarmidzi).

Rabu, 28 September 2016

Ilmu Arah Rezeki

ILMU SEBAGAI ARAH REZEKI



Dalam ajaran Ilmu Kejawen, terdapat cara mencari rezeki berdasarkan cara tidur istri di pagi hari. Ilmu ini merupakan Ilmu Kasepuhan Jawa, Intisari ilmu ini adalah sbb :

Kalau pagi hari istri tidur miring ke kiri, maka carilah rejeki ke arah barat.

Kalau pagi hari istri tidur miring ke kanan, maka carilah rejeki ke arah timur.

Kalau pagi hari istri tidur tengkurap, maka carilah rejeki ke arah utara atau selatan.

Kalau pagi hari istri tidur terlentang, maka jangan dulu kemana-mana, karena rejeki ada di depan mata !

Salam dari Kanjeng Dhimas Mukidi