Minggu, 17 Juli 2016

Membagi Kehormatan

Ada beberapa saat sebaiknya kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dalam hal ini adalah agar waktu yang sedikit ini memberi manfaat kepada kita sebagai muslim untuk merenung, dan Insya Allah, dalam perenungan itu ada nilai-nilai yang mempertajam Tauhid kita hanya kepada Allah SWT. Marilah kita lihat kembali sejarah Islam yaitu ketika masyarakat kota Mekah bergotong royong membangun kembali Baitullah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Mekah. 
 
Pada permulaannya mereka nampak bersatu dan bergotong royong mengerjakan pembaharuan Baitullah itu. Tetapi ketika sampai kepada soal peletakkan Batu Hajar Aswad ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan sengit antara pemuka-pemuka Quraisy itu. Pada saat yang kritis itu tercetuslah ide dari Muhammad SAW untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga mereka bersepakat untuk memutuskan bahwa siapapun yang datang dari arah tertentu dan orang itu merupakan orang yang pertama datang, maka dialah yang mempunyai kewajiban untuk mengangkat Batu Hajar Aswad ketempatnya semula.

Orang-orang mengatakan kebetulan tetapi menurut Allah dalam Al Qur’an “tidak ada yang sia-sia dan kebetulan”, tetapi semua yang terjadi sudah dirancang oleh Allah dengan sempurna. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia" ( QS Ali Imran 3 : 191)

Bukanlah suatu kebetulan jika yang pertama kali datang dari arah tertentu itu adalah Muhammad SAW. Maka kaum Quraisy menghimbau agar beliau mengangkat Batu Hajar Aswad ke tempatnya semula, namun demikian bijaksananya Rasulullah SAW dalam mensikapi himbauan tersebut. Beliau mengajak empat orang Pemuka Kabilah untuk mengangkat bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Jadi ada lima orang yang mengangkat Batu Hajar ke tempatnya semula dengan cara menggunakan sorban Rasulullah SAW sebagai tempat untuk mengangkatnya. Mestinya ada suatu kebanggaan bagi Muhammad SAW, karena mendapatkan kesempatan mengangkat Batu Hajar Aswad tersebut dengan kedua belah tangannya tanpa memerlukan bantuan orang lain. 
 
Tetapi bagi Rasulullah SAW, suatu yang terhormat itu ingin dibagi kepada orang lain, agar mereka juga merasa terhormat. Tugas yang mulia itu tidak ingin dimiliki oleh Muhammad SAW sendiri, tetapi beliau juga menghendaki agar semua orang bisa memiliki tanggung jawab yang sama atas satu tugas yang begitu terhormat. Ini nampaknya suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi kalau kita masuk kepada esensi kejadian tersebut, maka barulah kita paham bahawa itulah ciri jiwa besar seorang Muslim, seorang Muhammad SAW yang telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT.

Marilah kita tengok di kanan-kiri kita, seorang Muslim yang demi mendapatkan suatu kesempatan terhormat dan disangkanya hal itu sebagai kehormatan, maka dia akan melakukan segalanya, kalau perlu teman-temannya disingkirkan dan lawan-lawannya dibantai agar tidak memperoleh kesempatan melakukan pekerjaan yang terhormat tersebut. Inilah yang harus kita pertanyakan dari diri kita sendiri. Peristiwa yang mensejarah dan mengambarkan, bawa kehormatan harus dibagi kepada orang-orang yang terdekat, bahkan untuk semua umat manusia. Karena kita tahu bahwa ke empat orang tersebut, mewakili Kabilah yang terdiri dari berbagai macam suku dan kemudian kita bisa baca dari peristiwa tersebut, agar setiap orang merasa terhormat karena merasa memiliki suatu pekerjaan besar.

Marilah kita renungkan ke dalam diri masing-masing, mestinya kita bersikap egois, kita tidak perlu bersikap individualis dan primordialis dalam menyelesaikan masalah-masalah keagamaan, maslah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan dan masalah apapun juga. Bahkan marilah kita tengok kembali, tak jarang orang harus menyinggkirkan teman-temannya. Kalau perlu dengan fitnah, hanya untuk memegang suatu jabatan tertentu yang disangkanya jabatan itu memberikan kehormatan ketika dia pegang sendiri.Marilah dalam Islam ini, kita praktekkan bahwa sesungguhnya kehormatan yang kita pegang mestinya juga memberikan kehormatan kepada seluruh umat Islam, dimana semuanya memiliki tanggung jawab, rasa kepemilikan, melu handar benih. Dengan demikian Insya Allah, hati seluruh umat Islam akan tetap menyatu di tangan orang-orang bijak di bawah naungan Cahaya Illahi Rabbi.

Sebagai penutup tulisan ini marilah kita renungkan firman Allah dalam Kitab Suci Al Qur’an berikut ini :

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari orang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal….” (QS Al Hujurot 49 : 90).

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi bantuan kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan ….” (QS An nahl 16 : 90)

“Dan tolong menolong kamu dalam kebajikan dan taqwa dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung “(QS Ali Imran 3 : 104).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh untuk ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah ….” (QS Ali Imran 3 : 110).

‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amrimu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan masalah itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, sebab yang demikian itu lebih utama bagimudan lebih baik akibatnya…….” (QS An Nisa 4 : 59).

“Dan Dia-lah Allah yang dapat mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun kamu belanjakan semua kekayaan yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang dapat mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al Anfal 8 : 63).

Sabtu, 16 Juli 2016

Telah KU-Cukupkan Nikmat-Ku kepadamu

Dalam Al Qur’an diceritakan tentang kekhawatiran para malaikat, karena mereka mensinyalir bahwa apabila manusia diturunkan ke muka bumi, maka ia akan banyak melakukan kerusakan dan kemungkaran, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya. Oleh sebab itu, Allah telah membekali setiap Khalifah-Nya dengan ilmu pengetahuan agar ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang dapat dipelajari dari dirinya, Kitab-Kitab Suci-Nya maupun dari alam semesta. Kecenderungan sifat baik dan sifat buruk tersebut, pada hakikatnya adalah fitrah dari setiap manusia yang terlahir di dunia ini sesuai dengan firman Allah :
“…….. Allah telah mengilhamkan kepada setiap jiwa itu kefasikan dan ketakwaan”. (QS As Syam 91 : 8)

Berdasarkan firman Allah tersebut, setiap manusia yang lahir telah mempunyai potensi untuk berbuat fujur (sifat merusak) maupun berbuat ketakwaan (sifat memelihara). Dua potensi tersebut haruslah diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar dalam perjalanan hidupnya, setiap manusia terhindar dari kerusakan dan kemungkaran. Setiap manusia diharapkan menumbuhkan dan mengembangkan potensi atau sifat-sifat kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam setiap aktivitas kehidupannya, hal ini sesuai dengan firman Allah :

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS As Syam 91 : 9-10)

Kebersihan dan kekotoran jiwa seseorang memang sulit dicari tolak ukurnya, tetapi minimal dapat dilihat dan tercermin dari tingkah laku yang selalu mengandung nilai-nilai keterpujian atau nilai-nilai ke-muhammad-an, baik lahir maupun batin. Kekotoran jiwa biasanya disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap apa yang diterimanya. Dengan adanya rasa ketidakpuasan tersebut , membuat orang akan berusaha untuk mendapatkan yang lebih, yang kadang tanpa adanya pengendalian diri sehingga menimbulkan adanya sikap dan sifat yang kurang terpuji. Padahal Allah telah memberikan sedemikian banyak nikmat kepada setiap umat manusia dengan kadarnya masing-masing dan apa yang telah ditetapkan-Nyaitu adalah cukup, untuk setiap manusia secara individu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :

“…..pada hari, telah Ku sempurnakan untuk kamu Ad-Din mud an telah Ku cukupkan nikmat-Ku kepadamu…..”. (QS Al Maidah 5 : 3)

Berdasarkan ayat tersebut, dapat kita simpulkan bahwa Allah telah mencukupkan nikmat-Nya setiap hari kepada setiap umat manusia, baik berupa nikmat sehat, nikmat rezeki, nikmat prestasi, nikmat kerohanian dan banyak lagi nikmat-nikmat Allah lainnya. Dan yang harus disadari oleh setiap manusia adalah bahwa kadar atau besarnya nikmat dari Allah yang didapatkan oleh setiap manusia itu adalah berbeda-beda dan kita harus mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah pada hari ini, karena hal itu adalah cukup bagi kita.

Kata syukur berasal dari bahasa Arab, yang artinya “terbuka”. Jadi orang yang selalu bersyukur adalah orang yang qalbunya selalu terbuka untuk menerima segala macam nikmat yang diturunkan oleh Allah kepada dirinya, apakah nikmat itu bersifat anugrah atau yang bersifat musibah sekalipun. Orang yang bersyukur adalah orang legowo atau orang yang berlapang dada dalam menerima berbagai macam nikmat, apapun bentuknya. Mendapat nikmat sehat, dia bersyukur, mendapat nikmat sakit, diapun selalu bersyukur. Karena semuanya itu adalah nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya.

Terkadang kita berharap atau menginginkan mendapat nikmat rezeki yang besar pada hari ini, tetapi ternyata justru mendapatkannya sangat sedikit sehingga kita menjadi kecewa atau melakukan tindakan yang tercela untuk mendapatkan nikmat rezeki yang lebih besar lagi, dengan anggapan bahwa rezeki yang banyak lebih baik daripada rezeki yang sedikit. Padahal belum tentu apa yang dianggap baik oleh kita, akan baik dimata Allah, atau sebaliknya, apa yang kita anggap tidak baik, belum tentu tidak baik dimata Allah.

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS Al Baqarah 2 : 216)

Ayat tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu, sedang umat manusia kebanyakan tidak mengetahui. Oleh sebab itu manusia diharapkan untuk bersabar dengan apa yang terjadi pada dirinya, dan yang lebih penting lagi adalah kita harus berprasangka baik kepada Allah apabila sekiranya kita diberi ujian atau musibah, sebab hal itu bisa jadi adalah hal yang terbaik buat kita, di akhir dari proses ujian tersebut, sesuai dengan firman-Nya :

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Al Nasyrah 94 : 5-6)

Di akhir tulisan ini, marilah kita renungkan firman Allah dalam surat Ad Dhuha 93 : 1-5 :

“Demi waktu terang Cahaya Matahari yang naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci kepadamu. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga hati kamu menjadi bahagia”.
WAHDATUL ADDIN

Kamis, 14 Juli 2016

I'Tikaf

HAKEKAT I'TIKAF

I'tikaf , berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Orang yang sedang beriktikaf disebut juga mutakif.
“Janganlah kalian mencampuri mereka (istri), sedang kalian sedang i’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah: 187)
Ayat tersebut menjadi pembatas bahwa I’tikaf itu hanya disyariatkan dilakukan di (dalam) masjid dan tidaklah dikatakan i’tikaf menurut syara’ jika dilakukan di balai, surau, mushalla dan lainnya.
Hal-hal yang diharus dijauhi oleh mu’takifin (orang-orang yang I’tikaf)
“Dan menjadi sunnah bagi orang yang I’tikaf bahwa hendaknya ia tidak keluar kecuali karena hajat yang diperlukan, dan janganlah ia pergi untuk menjenguk orang sakit dan janganlah menyentuh wanita (istrinya) dan bermesraan dengannya dan tidak sah I’tikaf kecuali di masjid dan termasuk sunnah bagi siapa yang I’tikaf hendaknya ia berpuasa” (HR. Al-Baihaqi)
Syeikh Shalih al-Utsaimin berkata :
“Keluarnya orang yang I’tikaf, yakni keluar dengan alasan/maksud yang tidak syar’i maka ini membatalkan I’tikafnya baik disyaratkan ataupun tidak seperti keluarnya untuk berjual-beli, bermain, mengunjungi dan berkumpul dengan keluarganya dan sebagainya.” (Syarh al-Mumthi’, 6/25)
Istilah masjid dalam bahasa Arab berasal dari sajada yang berarti bersujud (menyembah). Kata sajada yang mendapat awalan ma sehingga membentuk kata masjid mengandung arti tempat sujud, tempat ber-Ibadah kepada Allah.
Hadits yang diriwayatkan Turmudzi dari Abi Sa’id al-khudri yang berbunyi bahwa “TIap potong tanah itu adalah masjid.” Selain itu dalam hadits yang lain Nabi Muhammad saw menerangkan bahwa “telah dijadikan tanah itu masjid bagiku tempat sujud.”
Dari keterangan kedua hadits tersebut jelas bahwa arti masjid itu sebenarnya adalah tempat sujud, bukan hanya sebatas sebuah gedung atau bangunan atau tempat ibadat yang tertentu seperti yang digunakan pada umumnya dewasa ini. Masjid dewasa ini digunakan dalam arti khusus yang menunjuk pada suatu bangunan, perumahan, atau gedung yang digunakan untuk tempat mengerjakan sembahyang atau solat.
“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu: diantaranya : “.....dan seorang yang Hatinya terikat dengan Masjid…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Qalbu adalah masjid, tempat sujud, tempat mengingat Allah. Jadi ber i'tikaf lah di dalam Qalbu, dan tutuplah pintunya, jangan lah keluar dari Qalbu, untuk memikirkan jual beli, main-main, memikirkan wanita, keluarga dan sebagainya.
“Yaitu orang-orang yang beriman dan Qalbu mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah lah Hati menjadi tentram.” (QS Ar-Ra’d: 28)
Tempat beribadah kepada Allah yang sesungguhnya bukanlah di sebuah bangunan fisik yang terbatas, karena Allah tidaklah ber-bentuk fisik yang terbatas. Jadi untuk berhubungan dengan Allah yang tak terbatas, kita harus mengunakan tempat yang tak terbatas pula, tempat itu adalah Qalbu, dan pintu-pintu Hati adalah panca inderawi kita. Maka masuklah menuju Masjid (tempat sujud) Qalbu dengan cara menutup panca inderawi kita, masuklah ke dalam Qalbu lalu ber-Iktikaf-lah, raihlah Cahaya Lailatul Qodar, Cahaya Seribu Bulan, Cahaya diatas Cahaya.
QS Al-Qadr ayat 1-5 : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit Cahaya fajar. ”
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ‘itikaf secara hakekat adalah suatu proses menghalangi diri dari beraktivitas mulai dari aktifitas mendengar, melihat, mengucap, dan mengecap, sehingga aliran kesadaran yang mengalir melalui lubang inderawi terkumpul di pusat sujud dengan tujuan mendapatkan Cahaya Lailatul Qadar yang lebih Terang dari Cahaya Seribu Bulan.

Hakikat Muhammad Sebagai Nabi Yang Ummi

Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai Nabi yang ummi. Kata “ ummi” itu tidak saja mempunyai pengertian seperti yang selama ini dikenal umum, yaitu tidak bisa membaca, menulis, atau buta huruf, tetapi kata ummi juga mengandung banyak sekali penafsiran. Antara lain : seperti orang yang baru keluar dari perut seorang ibu yang belum tahu apa-apa alias polos, suci bersih ( ummi: ibu), penduduk lokal yang belum bersentuhan dengan skrip, tidak seperti keluarga Yahudi atau Nasrani, Nabi untuk seluruh umat, atau bukan orang yang pernah masuk sekolah ( belajar dan diajar).
Jika kita menggunakan standar yang umum, kata yang dipilih oleh Al-Qur’an atau yang dipilih oleh Nabi itu sangat khas ( ingat bahwa para Nabi berkata tidak dengan hawa nafsunya akan tetapi dengan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya). ( mungkin ) , karena akan berimplikasi pada hukum atau akan dijadikan sebagai pedoman/penilaian terhadap skala perilaku manusia. Terkadang ada yang disebut muhkamat ( pengertian definitive) dan terkadang ada yang mutasyabihat (mengandung banyak penafsiran).
Satu dari sekian banyak kelebihan Al-Qur’an dari sisi bahasa, adalah adanya kata yang memiliki kapasitas untuk mengakomodasi sekian penafsiran ( hammalatul wujuh). Takwa bisa diartikan takut, taat, atau terjaga. Syukur bisa diartikan terbuka, rindang dan berterima kasih. Shalat bisa diartikan doa, hubungan dan bisa juga komunikasi.
Dari penjelasan sejumlah pakar agama yang dapat kita ikuti karya-karyanya , ternyata keragaman arti itu juga memiliki korelasi, baik sebab akibat atau lainnya, yang kemudian menawarkan kesimpulan tak terbatas juga. Dengan hati yang terbuka, kita dapat selalu berterima kasih (pandai bersyukur), maka keberadaan kita seperti pohon yang rindang, misalnya begitu.
Demikian juga kata ummi. Setiap arti yang dikandung sepertinya sudah dirancang untuk membuka sekian perspektif, makna, alasan, dan tujuan. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang mengatakan beliau tidak bisa membaca atau menulis karena ummi. Bisa jadi itu mengandung kebenaran juga untuk meng-counter tuduhan bahwa Al-Qur’an itu bukan rekayasa Nabi Muhammad SAW.
Tapi, disisi lain, tak bisa juga kita membangun kesimpulan bahwa mentang-mentang Nabi ummi, lantas itu kita tafsirkan bahwa beliau bodoh. Ini bertentangan dengan kenyataan. Sekafir-kafirnya orang, tak akan punya alasan yang valid untuk mengatakan Muhammad itu bodoh ( julukan untuk orang yang tak bisa membaca/menulis).
Apa yang bisa kita maknai dari ke ummi an Nabi di sini adalah pentingnya kita menciptakan perasaan secara sadar bahwa kita belum tahu apa-apa/belum tahu seluruhnya, membebaskan diri dari opini/keyakinan yang membatasi langkah, menahan diri jangan sampai otak kita dipenuhi penilaian.
Ummi adalah pondasi memotivasi diri. Sadar belum tahu seluruhnya, akan membuat kita menambah pengetahuan dengan ber-iqro, belajar dari orang, objek, atau keadaan. Begitu kita sudah merasa tahu seluruhnya, pintu ber- iqro akan tertutup. Kita tidak tahu apa yang dilakukan Malaikat Jibril seandainya Nabi berposisi seolah –olah lebih tahu atau sudah tahu seluruhnya mengenai isi wahyu itu.
Membebaskan diri dari opini dan keyakinan yang membatasi itulah maknanya mengosongkan diri sehingga ketika kosong akan di isi oleh hikmah-hikmah dari-NYA. Dengan demikian akan mendorong kita untuk bereksplorasi, bereksperimentasi, dan beraktualisasi diri. Begitu kita yakin bahwa kita pasti tidak bisa meraih apa yang kita inginkan, keyakinan itulah yang membuat kita gagal. Semua pakar pendidikan sepakat bahwa manusia yang paling kreatif adalah bayi yang tidak punya opini atau keyakinan apa apa ( ummi).
Mengosongkan hati, pikiran dari menilai keadaan, objek, atau orang secara berlebihan, akan membuat hati dan pikiran kita bisa fokus pada apa yang bisa kita lakukan dan apa yang perlu kita hindari. Begitu hati banyak keinginan dan otak pikiran banyak menilai, kita hanya cenderung akan membahas, menimbang, membicarakan, mendebatkan, tetapi tidak mengamalkan atua melakukan.
Jadi, marilah kita menjadi “ ummi” , supaya Allah Tuhan yang Maha berpengetahuan memberikan “ wahyu“ berupa pengetahuan, solusi, kreativitas, keberanian, diri yang baru, nasib dan seterusnya. Seperti kata para ahli , yang membuat kita tidak maju maju bukanlah karena kita tidak mampu, tapi karena kita terbelenggu oleh opini, penilaian, dan keyakinan. Masukilah wilayah-wilayah pengetahuan segar ke dalam diri, karena gurunya, muridnya, sekolahnya, kurikulumnya, semua ada di sebuah tempat rahasia : di dalam ”Gua Hira Diri Pribadi Yang Sejati”

Rabu, 13 Juli 2016

Hakekat Bidadari

HAKEKAT BIDADARI

Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isisnya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memeberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya." (HR. Ibnu Majah dan Thirmizdi)
Banyak jihadis yang melakukan bunuh diri dengan bom, berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu sebagai bentuk jihad untuk menjadi seorang syuhada yang mati syahid, dengan harapan kelak mendapat ganjaran bertemu dengan 72 bidadari di syurga. Yang menjadi pertanyaan apakah yang dimaksud dengan bidadari itu ?
Melalui terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia kita menemukan sekurang-kurangnya 8 kelompok ayat yang memuat kata tentang bidadari di surga. Dari 8 kelompok ayat tersebut hanya 3 ayat yang menyebut secara jelas tentang bidadari, yaitu kata ‘huurin ‘iin’ :
Kadzaalika wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin
"demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari". (QS 44 : 54)
Muttaki-iina ‘alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin
"mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli". (QS 52 : 20)
Wahuurun ‘iinun, ka-amtsaali allu/lui almaknuuni
"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik". (QS 56 : 22-23)
Apabila ditelusuri, kata bidadari melalui kata ganti, termuat dalam 5 kelompok ayat Al-Qur’an :
1. wa’indahum qaasiraatu alththharfi ‘iinun, ka-annahunna baydhun maknuunun
"Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik". (QS 37 : 48-49)
qaasiraatu = tidak liar pandangan
atthafri = ujung/mata
‘inun = mata
2. wa’indahum qaasiraatu alththharfi atraabun
"Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya". (QS 38 : 52)
wa’indahum = dan disisi mereka
qaasiraatu = tidak liar pandangan
atthafri = ujung/mata
atraabun = sebaya
3. fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun, ka-annahunna alyaaquutu waalmarjaanu
"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin". (QS 55 : 56)
"Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan". (QS 55 : 58)
fiihinna = didalamnya mereka
qaasiratu = pendek/menundukkan
athafri = ujung/mata
lam yathmitshunna = tidak/belum menyentuh mereka
insun = manusia
4. fiihinna khayraatun hisaanun, huurun maqshuuraatun fii alkhiyaami
"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik". (QS 55 :70)
(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah". (QS 55 : 72)
fiihinna = didalamnya mereka
khayraatun = baik-baik
hisaanun =bagus-bagus/cantik-cantik
huurun = yang putih/jelita
maqsuuraatun = tersimpan/terpingit
filkhiyaami = dalam mahligai/rumah
5. innaa ansya/naahunna insyaan, faja’alnaahunna abkaaraan, ‘uruban atraabaan
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya". (QS 56 : 36-37)
inna = sesungguhnya Kami
ansya’naahunna = Kami jadikan mereka
insyaa’an = dengan kejadian
faja’alnaahunna = maka kami jadikan mereka
abkaaran = gadis-gadis perawan
Dari kelima kelompok ayat tersebut hanya nomor 5 yang secara jelas menyebut objek yang dimaksud adalah berjenis kelamin wanita, sedangkan keempat ayat lainnya tidak secara jelas mengindikasikan apakah yang dimaksud adalah wanita atau bukan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kelompok ayat nomer 5 dibuat penjelasan dalam tanda kurung ‘bidadari’. Tafsir Jalalain juga memberikan penjelasan bahwa makhluk yang diciptakan tersebut adalah bidadari sekalipun Al-Qur’an tidak menyebut objeknya, dan kata ‘insyaa’an’ diartikan dengan kata ‘langsung’ yaitu yang diciptakan tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu, sedangkan Tafsir Al-Mishbah tidak mengartikannya sebagai ‘bidadari’ dan tetap memakai kata ganti ‘mereka’, sedangkan kata ‘insyaa’an’ ditafsirkan dengan kata ‘sempurna’, sehingga bunyinya :”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan sempurna..”, suatu penafsiran yang belum tentu berarti ‘diciptakan tanpa melalui proses kelahiran’.
Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam Tafsir Al Misbah, kalimat ‘lagi sebaya umurnya’ dengan menyampaikan hadist diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW memohon dido’akan agar masuk surga. Nabi menjawabnya dengan bersabda (dengan tujuan bergurau sambil mengajar) :”Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua. Sesungguhnya Allah berfirman (lalu beliau membacakan ayat-ayat diatas) . Hadist ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani, namun oleh Ibnu Hajar dinilai merupakan hadist lemah. Kalau kita merujuk kepada penjelasan ini maka ‘diduga keras’ wanita yang dimaksud QS 56:35-37 adalah manusia biasa yang mendapat anugerah surga dan bukan bidadari seperti yang dimaksud dengan kata ‘huurin ‘iin’ dalam QS 44:54, QS 52:20, QS 56:22.
Dalam keempat kelompok ayat yang lain, Al-Qur’an menyampaikan adanya ‘sesuatu’ di Jannah yang mempunyai ciri-ciri : punya pandangan yang tidak liar, jelita matanya ibarat telur burung unta, berumur sebaya, sopan dan selalu menundukkan pandangan, belum pernah disentuh manusia, seperti permata yakut dan marjan, yang cantik (atau bagus) , putih dan tersimpan dalam mahligai. Kita tentunya boleh saja mengartikan ciri-ciri ini secara fisik dan harfiah dan itu mempunyai ‘peluang besar’ menuju kepada sosok wanita.
Namun tidak salah juga kalau para ahli hakekat mengartikan ciri-ciri tersebut secara majaazi, yaitu istilah kata ”Huurin 'iin” sebenarnya terdiri dua kata yaitu Huuri atau haura yang artinya ”tampak sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam)”. Bisa juga ia berarti "bulat", ada juga yang mengartikan "sipit" atau " lonjong". Sedangkan kata ‘iin’ adalah jamak dari kata ‘aina’ dan ‘ain’ yang berarti " mempunyai mata yang besar dan indah". Berdasarkan arti kata tersebut, "huurin ‘iin" secara hakekat adalah Penampakan (Tajalli) Nur Ilahi yang Wujudnya seperti Misykat yang di dalamnya ada Al Misbah, seperti yang diisyaratkan dalam Surat An Nuur 24 ayat 35 dan Hadits Nabi Muhammad Saw.
"Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat) , yang di dalamnya ada pelita besar (misbah). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS 24 : 35)
“Kemudian Jibril mengantar aku ke Sidratul Muntaha, yang diliputi oleh Cahaya berwarna-warni yang sulit dilukiskan keindahannya. Kemudian aku masuk ke dalam Jannah, yang Cahayanya seperti Cahaya Mutiara” (HR Bukhari)

Selasa, 12 Juli 2016

Wafat Adalah Mati Dalam Keadaan Muslim

"Dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan muslim” (QS. Ali Imran 3 :102).
Muslim seakar dengan kata Islam mempunyai arti Damai, Pasrah dan Lunas Hutang.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika diri kita menghadapi kematian, maka kondisi batin kita harus dalam keadaan Islam yaitu dalam keadaan damai, pasrah dan telah melunasi hutang kita. Hutang kita itu terbagi dua :
1. Hutang kepada sesama manusia.
2. "Hutang" kepada Allah.

"Hutang" kita kepada Allah adalah lupa atau tidak ingat kepada Allah. Padahal sebelum kita dilahirkan kita sudah menyaksikan keberadaan Allah dengan mata rohani kita, tapi sayangnya ketika lahir di dunia, kita lebih senang menikmati keindahan dunia melalui inderwi kita, sehingga kita lupa akan Wajah Allah.
Untuk mengobati penyakit lupa kepada Allah, kita harus mengingat Allah kembali, dengan cara bertemu kembali dengan Allah selagi kita masih hidup di dunia. Setelah kita bertemu kembali dengan Allah dan saat itu kita menyaksikan kehadiran Allah, maka barulah kita bisa mengingat Allah kembali. Karena mustahil kita bisa mengingat Allah, kalau kita belum pernah melihat Allah, paling hanya bisa menyebut-nyebut Nama Allah, sedangkan batin melayang-layang entah kemana. Ketika kita sudah bertemu dan melihat Allah, barulah kita disebut dengan orang Islam yaitu orang telah melunasi hutangnya kepada Allah. Dan ketika meninggal dunia, kita bisa kembali kepada Allah dengan pasrah dan damai. Karena dengan melihat dan bertemu dengan Allah, batin kita menjadi mutmainah.
” Wahai jiwa yang tenang. Kembali kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi” (QS 89 : 27-28)

Senin, 11 Juli 2016

Menghadap Allah Dalam Keadaan Miskin

Allahumma ahyini misykin wa amitni misykin wahsturni fi dzumrotil masyakin”

”Ya Allah, hidupkanlah aku (dalam Cahaya-Mu) dalam keadaan miskin dan matikanlah aku (dalam Cahaya-Mu) dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku (dalam Cahaya-Mu) bersama orang-orang miskin" (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim)
Bagaimana mau dapat Pencerahan yang sempurna, lha wong melakukannya dalam keadaan kaya, bawa ini, bawa itu, merasa punya ini, merasa punya itu, malah ada yang bawa mobil, bawa duit dalam batinnya. Padahal Allah menegaskan bahwa jika ingin mendapatkan pengalaman pencerahan yang sempurna dalam Liqa’ dengan-Nya, jangan membawa harta kekayaan dalam pikiran dan perasaannya. Justru kita harus menjadi misykin, tidak memiliki apapun seperti ketika kita lahir waktu menjadi bayi tanpa sehelai benangpun.
"Dan sesungguhnya kamu datang menemui Kami dengan sendirian (harus dalam keadaan misykin) sebagaimana Kami jadikan kamu pada awal mula kejadian (seperti bayi yang misykin) dan kamu (harus) tinggalkan (dunia) di belakangmu (jadi misykin), apa yang telah Kami karuniakan kepada kamu........... (QS 6 : 94)
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS 26:88 dan 89)
”Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sekedar permainan dan senda gurau, dan jika kamu beriman dan bertaqwa, allah memberikan ”Pahala” dan Dia tidak meminta kepada kamu harta-harta kamu”. (QS QS 47 : 36)
"Dan jika Dia mengambil (harta) kamu dengan secara paksa, niscaya kamu menolaknya (kikir) dan Dia menampakkan rasa ketidaksukaanmu ". (QS 47 : 37)
Berdasarkan Hadits tersebut, di mata Rasulullah Saw, ternyata "materi" hanyalah dunia ilusi dari "La'ibun dan Lahwun" nya Sang Maha Cahaya, Dan beliau menegaskan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sekedar ”Dunia ilusi/bayangan/ persepsi” dari refleksi Sang Maha Cahaya, sehingga beliau berdoa agar dunia ilusi tersebut tidak terbawa ketika beliau melakukan Liqa’ kepada Sang Maha Cahaya.
Jadi ber mi'raj lah kepada Nya dalam keadaan miskin.