Tampilkan postingan dengan label Surah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2016

Al-Hujurat

Peristiwa yang menyebabkan turunnya Surat Al Hujurat akan terus terjadi, tentunya dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Dan ayat tersebut akan selalu mengingatkan semua umat Islam, tentang bagaimana kita bersikap sesama umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Surah Al-Hujurat adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an. Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.

Dinamakan Al-Hujurat yang berarti kamar-kamar, diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat tersebut.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah saw. utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata, "Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata, "Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih. Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya,



"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S. Al Hujurat : 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S. Al Hujurat : 5).

Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah saw. bila berbicara dengannya, maka Allah swt. segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S. Hujurat 2).

Apakah hakekatnya meninggikan suara atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah ? Selama hal ini belum difahami, maka peristiwa yang menyebabkan turunnya surat Al Hujurot akan terus terulang dan terulang kembali !

Jumat, 05 Agustus 2016

Estafet Tongkat Kemusyidan

Estafet "tongkat" kemusyidan dalam satu Paguron atau Tarekat di dunia tasawuf, merupakan faktor terpenting bagi kesinambungan pewarisan keilmuan dari generasi ke generasi berikutnya. Tapi dalam sejarah tasawuf, hampir seluruh tarekat atau paguron banyak yg mengalami "keguncangan" ketika melalui fase ini. 


Begitu juga, dalam paguron Isbatuliyah, sependek pengetahuan saya, juga sempat mengalami "keguncangan" ketika memasuki fase peralihan kemursyidan, pasca wafatnya GBM alm. Eyang Niti Prana. Belajar dari pengalaman tersebut, GBM alm. Ki. Empu Penitis DW, jauh sebelum beliau wafat, sudah menunjuk penerus kemursyidan beliau di tahun 2002. 

Sehingga masalah estafet tongkat kemursyidan di Az Zukhruf berjalan dengan baik tanpa ada masalah ketika beliau wafat pada tanggal 27 Februari 2016 lalu.

Sabtu, 30 Juli 2016

Mengenali Kebenaran Yang Hakiki

Seluruh umat manusia di muka bumi ini telah menyadari bahwa ada Satu Kekuatan Yang Maha Besar, yang telah menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta ini beserta segala isinya. Tetapi sayangnya, keyakinan itu tidak diteruskan dengan upaya untuk membuktikan sekaligus mengenal kepada keberadaan Dzat yang mempunyai Kekuatan Yang Maha Besar tersebut, sehingga pada akhirnya keyakinan akan adanya Sang Maha Pencipta itu, hanya sekedar menjadi kepercayaan yang bersifat “lipstick” atau sebatas di mulut saja, tanpa mengakar di dalam rohani dan aktivitas kehidupan umat manusia.


“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya sebatas huruf atau tulisan … “. ( QS Al Hajj 22 : 11 )

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya….,” (QS Al Hajj 22 : 74)

“….. kecuali hanya menyembah Asma-Nya yang kamu dan nenek moyangmu kamu buat-buat….” (QS Yusuf 12 : 40 )
Ketika terlahir di atas dunia, kita sudah dihadapkan oleh nilai-nilai kemasyarakatan, agama, dan moral yang mau tidak mau kita telah berada di dalamnya dan kita dituntut untuk mengambil sikap, apakah sikap menerima, menolak ataupun sikap netral terhadap nilai-nilai tersebut. Tetapi harus diingat, bahwa kita terlahir di atas dunia ini sebagai salah satu dari suku atau ras bangsa tertentu yang ada di dunia ini, yang yang menentukannya adalah bukan diri kita sendiri.

Begitu pula tentang kelahiran kita sebagai seorang anak bayi di dalam sebuah keluarga, apakah keluarga itu beragama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha ataupun sebuah keluarga yang tidak beragama, proses itu semuanya yang menentukan bukan diri kita sendiri. Setelah kita lahir dan menginjak usia akhil baligh barulah kita secara perlahan-lahan menyadari bahwa kita telah ditakdirkan menjadi apakah itu orang Eropa, Asia, Amerika, Australia atau orang Afrika. Begitu pula dengan agama orang tua kita. Dan biasanya, orang tua kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai agama yang dianutnya kepada kita (anaknya) sedini mungkin, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar kita telah memeluk agama yang dianut oleh orang tua kita. Inilah yang disebut bahwa kita beragama karena keturunan.

Setelah menginjak dewasa, barulah kita menggunakan akal dan kehendak yang merdeka untuk mencermati kembali agama yang kita anut sejak kecil, sehingga saat itulah kita memulai proses pencarian terhadap kebenaran yang Absolut. Tetapi sayangnya, sebagian besar manusia sudah puas dengan agama yang dianutnya tanpa mau mencermati kebenaran agama yang dianutnya, bahkan yang lebih parah lagi mereka terjebak dalam sikap fanatik buta terhadap agamanya masing-masing, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap saling membenarkan agamanya masing-masing dan menyalahkan agama orang lain, padahal umat manusia itu sebenarnya adalah umat yang satu.

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (QS Yunus 10 : 19)

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran, untuk memberikan keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman tentang hal yang mereka perselisihan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada Jalan yang Lurus”. (QS Al Baqarah 2 : 213)

Beda pendapat diantara manusia tentang kebenaran adalah suatu hal yang manusiawi dan wajar, hal ini sesuai dengan firman Allah, yakni :

Sesungguhnya kamu sekalian selalu dalam keadaan berbeda-beda pendapat”. (QS Adz Azariyaat 51 : 8)

Perbedaan pendapat tentang suatu kebenaran, diantara umat manusia sangat dimaklumi oleh Allah. Bahkan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda :

“Perbedaan pendapat di dalam umatku adalah rahmat”. (Al Hadits)

Tetapi perbedaan pendapat yang menjurus kepada perpecahan dan permusuhan, sangatlah dibenci Allah.

“….…janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar Ruum 30 : 32)

Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat simpulkan bahwa salah satu sifat orang yang menyekutukan Allah adalah orang-orang yang suka memecah belah agamanya dan ia merasa paling benar, paling suci dari golongan lainnya. Seluruh golongan di luar golongannya dianggapnya sebagai golongan batil dan ia bangga atas kebenaran golongannya. Padahal, Yang Paling Haq, Yang Paling Suci adalah Allah Swt sajalah sebagai satu-satunya Dzat yang menjadi sesembahan umat manusia.

“….sesungguhnya Allah adalah kebenaran (Al Haq) dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. (QS Luqman 31 : 30)

“…kebenaran itu datangnya dari Allah….” ( QS Al Baqarah 2 : 147 )

Ayat-ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa Al Haq yang sebenarnya adalah Allah sendiri. Jadi sangatlah keliru apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar, atau mereka mengaku bahwa golongannya yang paling benar. Bahkan berdasarkan ayat tersebut di atas, orang atau golongan yang mengklaim atau mengaku paling benar, sebenarnya justru telah menyekutukan Allah, karena ia atau mereka telah mensejajarkan dirinya atau golongannya setara dengan Allah. Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’an :

“….tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS An Najm 53 : 32)

Jadi, janganlah kita mengklaim bahwa diri atau golongan kitalah yang paling benar, haq dan suci, sedangkan orang lain atau golongan lain dianggap batil, salah, tidak suci dan kafir. Sebab, yang paling mengetahui siapa yang haq, benar dan siapa yang termasuk kafir atau batil, adalah hanya Allah Swt sajalah yang dapat mengetahuinya.

“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in dan orang-orang musyrik, sesungguhnya Allah akan memberi keputusan antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. (QS Al hajj 22 : 17)

Rabu, 20 Juli 2016

Sempurna yang Menyempurnakan

Ketahuilah bahwa sesungguhnya hakikat dari istilah “Sempurna” itu mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun. Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Allah SWT itu sendiri. Apa yang diciptakan Allah di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya :

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang”?. (QS Al Mulk 67 : 3).


“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapa orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS Shad 38 : 27).

“…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran 3 : 191).

Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurnaan yang tidak sia-sia, baik sifat maupun bentuknya. Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya. Jadi suatu kesempurnaan adalah satu keseimbangan antara dua sifat atau unsure yang dikotomis atau bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.

Minggu, 17 Juli 2016

Menyempurnakan Cahaya Bulan Ramadhan Menjadi Cahaya Syawal

Menyempurnakan Cahaya Bulan Ramadhan Menjadi Cahaya Syawal Tanpa Batas

"Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan Cahaya) al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu berpuasa, (akan) menyaksikan bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu membesarkan (Nur) Allah (yang telah) ditunjukkan-Nya kepadamu, supaya (Nur Allah yang) kamu (saksikan semakin) terbuka.” (QS. Al-Baqarah: 185)



“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun” (HR. Muslim no. 1164, Abu Dawud no. 2433, At-Tirmidzi no. 759)

Puasa itu berasal dari bahasa sankrit dari kata upaviyasa/Viyasa/Vuyasa/Upavasa yang mempunyai beberapa arti antara lain :

a. Menetap, tetap berdiam di suatu tempat.
b. Tetap bergeming, tidak bergerak.
c. Tetap bertekun melakukan sesuatu.
d. Tetap bertekun melaksanakan sesuatu komitmen dengan segala konsekuensinya.
e. Tetap bertekun melaksanakan tuntutan/ syarat ritual dengan menyangkal nafsu-nafsu badani (mengkebiri); tidak makan/minum dalam jangka waktu yang ditentukan oleh aturan agama (khususnya Hindu)

Sedangkan kata shaum atau shiyam itu artinya mengekang, mengendalikan atau menahan.
Jadi dalam berpuasa, yang di tahan atau dikekang atau dikendalikan adalah hawa nafsu atau aliran kesadaran yang ada atau mengalir melalui 9 lubang inderawi yang ada dalam diri.

Sedangkan tujuan shiyam itu tergantung dari berapa banyak lubang yang ditahan/dikekang.
Tingkatan Shiyam yang tertinggi adalah menahan ke 9 lubang tersebut secara bersamaan sekaligus, yang bertujuan untuk liqo dengan Allah.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw :
"Shaum itu untuk Ku dan Akulah yang berhak memberi ganjarannya".
Apa ganjaran bagi yg bershiyam level seperti itu? Ganjarannya adalah kegembiraan saat bertemu dengan Tuhannya, sesuai dengan hadits : "Setiap orang yang bershaum akan mendapatkan 2 farhat / kegembiraan yaitu saat ifthar/berbuka dan saat liqo robbihi"

Dalam Al Quran di informasikan bahwa Allah itu adalah Nur Langit dn Bumi (QS 24 : 35) yang kalau dihubungkan dengan ganjaran orang yang bershiyam akan menyaksikan dan bertemu dengan Nya, maka didalam surat 2 ayat 185 peristiwa itu di simbolkan dengan kalimat " faman syahida minkumusy syahra falya shumhu = maka barang siapa diantara kamu bershiyam maka kamu akan melihat Syahr (bulan = Cahaya Allah tingkat 2)

Syahrun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 2 . Hilalun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 1 . Qomarun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 3 . Badrun adalah simbol dari penampakan Nur Allah yang sinarnya berada di tingkat 4.

Orang yang bershaum harus terus menyempurnakan kadar Cahaya Allah yang terlihat itu sampai tingkat Badrun atau Purnama. Yang dikiaskan dengan berpuasa sebulan penuh. Dalam Al Quran Surat 2 : 185, hal ini di kiaskan dengan kalimat : Wa litukmilul idatta = dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya.

Kalau sudah menyempurnakan Cahaya Allah dengan Cahaya Penuh, maka kita harus meningkatkan lagi kesempurnaannya, yang dikiaskan dengan melakukan Shiyam Syawal selama 1 Ahad (6 hari). Syawal = Meningkat.

Hal ini dikiaskan dalam surat 2 : 185, dengan kalimat : "wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum" = Dan hendaklah kalian membesarkan Nur Allah yang telah ditunjukkan Nya kepadamu.

Kalau itu sudah terlaksana dangan baik, maka Insya Allah kita memasuki peningkatan (Syahrul Syawal) dalam menyaksikan kehadiran Nur Allah saat bershiyam, yang diibaratkan dengan tingkatan yang lebih baik dari shaum selama setahun. Hal ini dikiaskan dengan kalimat: "wa la'alakum tasykurun" = dan semoga (Rahasia Tingkatan Nur Ilahi yang) kalian (saksikan semakin) terbuka. Syukur = Terbuka. Kufur = tertutup.

Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan shiyam kita dengan Shiyamul Syawal agar Cahaya Ilahi yang kita saksikan lebih meningkat lagi tingkat keterangannya dan semakin terbuka rahasia alam keTuhanan dan ayat-ayat Nya yang tergelar di dalam Al Quran (ayat Qauliyah), ayat yang ada di Alam Semesta (ayat Kauniyah) dan ayat yang ada dalam diri (ayat nafsiyah)

Kamis, 30 Juni 2016

Bersaksi Palsu

"Maukah aku kabarkan kepada kalian sebesar-besarnya dosa besar ? Itulah syirik, durhaka kepada kedua orang tua, dan memberi kesaksian palsu. Rasulullah Saw terus mengulang ucapannya, hingga kami pun berharap agar beliau berhenti mengulang“(HR. Bukhari).

"Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.'' (QS Yusuf 12 : 81)

Yang tidak mengetahui, dilarang bersaksi ya, nanti bisa masuk kategori saksi palsu.


Selasa, 21 Juni 2016

Ujian Hidup Dari Sang Maha Hidup


"Sesungguhnya BERSERTA kesulitan itu ada kemudahan". (QS Al Insyirah 94 :6)
Setiap manusia hidup pasti akan mengalami banyak ujian. Ujian itu bisa berupa kebaikan atau kemudahan, bisa juga berupa keburukan atau kesulitan. Kedua duanya dinamakan ujian, yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan fitnah. Jadi musibah dan anugrah itu selalu bergandengan, ketika diturunkan kepada kita dalam bentuk satu ujian. Ibarat mata uang, ada dua sisi, yang sebenarnya satu.
Kadang kita hanya melihat ujian dari satu sisi saja, sebagai sisi keburukan. Sehingga muncul keluhan bahkan umpatan terhadap Sang Penguji. Padahal dibalik sisi lainnya justru terdapat kebaikan. Akibatnya, kita jadi turun kelas, bukan naik kelas ketika menjalani satu ujian dari Sang Penguji.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS. Al Ankabut 29 : 2)